Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sebuah ungkapan yang dipandang oleh Islam bukan sebagai lipstik pemanis bibir saja namun perlu dihayati dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan diarahkan untuk mencari ridha Allah. Dengan demikian akan dicatat sebagai amal yang mengandung kebajikan di sisi Allah. Persaudaraan yang sangat kental itulah yang telah mengikat hati generasi permulaan Islam, yakni antara kaum Muhajirin dan Anshar sehingga berupa ummatan wahidan, ummat yang satu. Berdiri sama tinggi dan duduk pun sama rendah, seiring sejalan dalam kebahagiaan dan penderitaan, tidak ada lagi pembatas dan jurang pemisah antara the have dan the have not, seluruhnya bahu membahu dalam menjunjung tinggi agama Allah. Bukan sebuah generasasi yang ketika seorang tetangga telah bisa menjangkau mobil, tetangga lainnya segera disingkirkan dari peredaran. Juga bukan pribadi yang ketika merk teve yang dimiliki lebih unggul, kemudian hatinya dirayapi sikap congkak, sedangkan jiwa-jiwa mereka ternyata kosong dari nilai-nilai agama.
Persaudaraan adalah cerminan kekuatan Islam itu sendiri, sebagaimana apa yang telah diungkapkan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan At-Tirmidzi:
“Mereka yang berkasih sayang karena Allah akan berada di sebuah tiang yakut merah, dimana di bagian atas tiang itu bertengger tujuh puluh ribu istana. Para penghuni istana itu dengan ceria selalu melihat para penduduk surga, sedangkan cahaya ketampanan mereka akan menyinari penduduk surga itu sendiri sebagaimana matahari menyinari penduduk dunia. Ketika itulah para penduduk surga mengatakan: “Marilah kita berangkat menemui orang-orang yang ketika hidupnya saling berkasih sayang karena Allah. Maka seketika itu pula sinar ketampanan penghuni istana tersebut menyinari para penduduk surga itu bagaikan matahari. Penduduk istana itu mengenakan pakaian sutera hijau. Sedangkan di kening mereka bertuliskan: “Orang yang berkasih sayang karena Allah.”
Rasulullah Saw. mengatakan pula:
“Barang siapa dikehendaki Allah beroleh kebaikan, maka ia diberi Allah seorang kawan yang baik, yang ketika ia lupa, maka kawan itu akan segera memperingatkan. Dan ketika ia ingat, maka kawan itu akan membantu untuk mengerjakannya.”
Berkata Abu Idris Al-Khaulany kepada Mu’adz:
“Wahai Mu’adz, aku sangat menyintaimu hanya karena Allah semata”.
“Bahagialah wahai Abu Idris, sebab saya telah mendengar Rasulullah Saw. mengatakan:
“Nanti ketika hari kiamat telah tiba, di sekitar Arsy akan dipasang kursi-kursi yang berderet untuk sebuah golongan yang wajahnya tampak sebagai rembulan di malam purnama. Mereka tidak pernah merasa takut ketika orang-orang lain dilanda ketakutan. Mereka merupakan para kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut, tidak pernah pula dihinggapi keresahan.” Salah seorang sahabat bertanya:
“Siapa mereka itu, wahai Rasulullah?”
“Mereka adalah orang-orang yang saling mengikat kasih sayang hanya karena Allah semata.”
(Hadits shahih riwayat Al-Hakim).
Begitu pun Nabi Isa As. pernah mengatakan:
“Berkasih sayanglah kalian hanya karena Allah dengan jalan membenci para pelaku maksiat. Mendekatlah kalian kepada-Nya dengan cara menjauhkan diri dari pelaku maksiat itu. Kejarlah ridha Allah dengan cara membenci mereka.”
Para pengikut Nabi Isa kemudian menanyakan:
“Kalau demikian, kami harus berkawan dengan siapa?”
“Berkawanlah kepada mereka yang ketika engkau melihat sosok tubuhnya segera akan mendorong untuk ingat Allah, dan mereka yang ucapannya selalu menambah amal kebajikanmu, atau mereka yang amal perbuatannya selalu mendorong hatimu untuk lebih menyintai akhirat.”
Abdullah bin Umar Ra. pernah mengatakan:
“Demi Allah, jika saja saya selalu berpuasa di siang hari dengan tidak pernah berbuka, dan selalu shalat sunnah di malam hari sehingga tidak pernah tidur, dan selalu mendermakan harta ke jalan Allah dengan begitu ikhlas, kemudian ajal menjemputku dalam kedaan aku tidak pernah menyayangi pada orang-orang yang tekun beribadah, atau tidak pernah membenci mereka yang sering melakukan kedurhakaan, maka semua peribadatanku itu tidak akan memberi manfaat sedikit pun kepadaku.”
Begitu pula Al-Fudhail mengatakan:
“Aneh, banyak orang yang begitu gandrung memasuki surga Firdaus dan bisa bersebelahan dengan Allah SWT serta bersandingan dengan para Rasul, Nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Namun ironisnya amal apa yang mereka persiapkan untuk meraih semua itu. Syahwat apa pula yang telah berhasil mereka tinggalkan. Dan kemarahan mana yang telah berhasil mereka tangguhkan. Kemudian persaudaraan apa yang telah berhasil mereka pertautkan, dan kesalahan yang mana pula yang telah usai mereka maafkan. Dan musuh Allah mana yang telah berhasil mereka jauhkan atau pun kawan kekasih Allah mana yang telah berhasil mereka dekatkan!, aneh.”
Dalam berkasih sayang dan menyintai seseorang hanya karena Allah itu adakalanya dengan sepenuh hati, ada pula yang hanya ala kadarnya, dan bahkan hanya sebagai pemanis di bibir saja. Dengan demikian jika isi hati itu dicurahkan untuk menyintai seorang sahabat, maka sedikit pun tidak akan ada lagi sebuah kepentingan yang masih terselip untuk diri sendiri. Hal ini dapat dibuktikan dengan sikap Abu Bakar kepada Rasulullah Saw. Seluruh jiwa raganya, harta bendanya dan keluarganya telah digadaikan untuk kepentingan Rasulullah. Seorang puterinya telah diserahkan kepada Rasulullah, itulah Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. Seluruh hartanya tandas untuk kepentingan perjuangan Rasulullah. Tersebutlah dalam sebuah hadis dari Ibnu Umar Ra. mengatakan :
“Pada suatu kesempatan Rasulullah sedang duduk bersama Abu Bakar yang hanya mengenakan sehelai kain yang diikatkan begitu saja sampai batas dadanya. Sejenak kemudian Jibril pun datang seraya membacakan salam dari Allah. Namun Jibril segera membuka percakapan dengan mengatakan:
“Wahai Rasulullah, mengapa aku lihat Abu Bakar hanya mengenakan sehelai kain yang diikatkan sampai batas dadanya?,” begitu Jibril merasa heran.
“Itu semua tersebab dia telah menyedekahkan seluruh hartanya ke jalan Allah, wahai Jibril.”
“Kalau demikian, bacakan salam Allah kepadanya. Kemudian katakan:
“Allah telah mengatakan kepadamu, wahai Abu Bakar. Adakah engkau ridha terhadap Allah dalam keadaan papa begitu, ataukah engkau menggerutu?”
Sejenak kemudian, Rasulullah pun menengok ke arah Abu Bakar seraya mengatakan:
“Wahai Abu Bakar, sosok yang di dekatku ini adalah Jibril yang menyampaikan salam dari Allah untukmu. Allah juga bertanya kepadamu: “Adakah engkau ridha kepada Allah dalam keadaan papa seperti ini, ataukah selalu menggerutu?”
Mendapat pertanyaan seperti ini, air mata Abu Bakar tidak bisa ditahan lagi, ia hanya bisa menangis begitu panjang, setelah agak reda, ia mengatakan:
“Adakah saya patut untuk mengatakan bahwa saya menggerutu kepada Allah, bahkan saya sangat ridha kepada Allah dalam menghadapi semua ini, saya sangat ridha, wahai Rasulullah … !,” begitu kata Abu Bakar dengan air mata yang bertambah deras.
Dengan demikian jika seseorang itu menyayangi pada figur yang lebih terhormat, baik itu seorang ulama, guru atau pun ahli ibadah, hendaklah kecintaannya itu diarahkan hanya ikhlas karena Allah. Dengan demikian ia akan mendapatkan pahala sesuai dengan intensitas kasih sayangnya.
Semoga kita diberi kemampuan untuk besikap seperti itu ◙
Kamis, 31 Desember 2009
Nasihat Ibrahim bin Adham
Dikisahkan bahwa suatu hari, Ibrahim bin Adham melintas di pasar Bashrah, lalu orang-orang berkumpul mengerumuninya seraya mengatakan, “Wahai Abu Ishaq, apa sebab do’a kami tidak pernah dikabulkan.?” Dengan penuh kebijaksanaan beliau mengutarakan berbagai penyebab do’a tidak pernah terkabulkan, terutama karena hati telah mati oleh sepuluh perkara: padahal dalam diri manusia ini ada sebuah hati yang berfungsi sebagai pusat dan tempat bersemayam empat sifat khusus bagi manusia. Yaitu sifat sabu’iyah, bahimiyah, syaithaniyah dan rabbaniyah. Sehingga ketika seseorang dalam keadaan marah yang memuncak, ia akan bertindak sebagaimana hewan galak (sabu’iyah), baik itu berupa permusuhan, pendendam, mudah bertindak untuk menyiksa pada orang lain, gampang memaki dan lain-lain. Dan ketika dikuasai oleh syahwat, maka ia akan bertindak laksana hewan ternak (bahimiyah), baik berupa rakus, tamak, pengumbar libido seks dan lain sebagainya, persis perilaku babi.
Kemudian ketika dikuasai oleh sifat rabbaniyah, maka seseorang akan bertindak sebagaimana Tuhan. Ia akan senang sekali memakai gelar, berkuasa, memprioritaskan kepentingan pribadi, menyendiri dalam mengurusi berbagai kepentingan, tidak mau menghamba, mengaku berilmu tinggi, bahkan ingin tinggi sendiri dan lain-lain. Dan ketika melihat bahwa dalam diri manusia itu terdapat kecerdasan yang ditopang dengan syahwat dan pemarah tadi, maka di situ pula penetrasi sifat syaithaniyah mengkristal. Dengan sikap itu seseorang sering mengupayakan sebuah keburukan agar tanmpak menjadi baik. Bahkan mengerahkan segala cara dan upaya untuk mencapai sebuah tujuan dengan bujuk rayu. Itulah representasi dari sifat syetan.
Dengan demikian dalam hati itu seakan bertengger anjing galak yang menjadio refleksi sifat sabu’iyah. Bersemayam pula seekor babi yang menggambarkan sifat bahimiyah. Malah bercengkeram pula sosok syetan dan seorang hakim. Babi itu akan terus menarik memperturutkan syahwat, rakus dan segala jenis kemunkaran. Sedangkan anjing akan menyeret seseoranmg untuk segera marah dan bertindak zalim. Sedangkan syetan akan selalu menggerakkan kedua hewan itu agar bertindak sesuai dengan instinct masing-masing.
Sedangkan akal yang akan bertindak sebagai hakim yang selalu menghadang kebrutalan syetan dan mengekang kerakusan babi dan meredam kemarahan anjing tadi. Dengan demikian jika saja akal mampu bertindak dan mengatasi keburukan tiga sifat itu, maka kerajaan yang berada di seluruh tubuh ini akan bisa berjaya dan akan manapak pada jalan yang lurus. Namun jkika saja akal ternyata lumpuh dan tidak mampu lagi mencegah keburukan tiga sifat tadi, maka dapat dipastika kemuliaan tubuh akan segera hancur. Kehancurannya bukan terbatas di dunia ini saja, namun akan dibawa sampai di akherat nanti, kekal abadi selama-lamanya. Kehidupan manusia semacam ini seakan selalu menghamba kepada anjing dan babi, bahkan menyerahkan bulat-bulat untuk beribadah kepadanya. Inilah kondisi sebagian banyak manusia jika kehidupannya hanya untuk memuaskan kepentingan perut, kemaluan dan mengungguli mereka yang dianggap sebagai musuh. Ironis sekali jika saja orang semacam ini begitu membenci pada para penyembah patung dan berhala, padahal jika saja mata hatinya bisa melihat dengan jelas, maka ia sendiri sebenaranya selalu menjadi pengikut setia dan penyembah anjing dan babi. Ia selalu memperturutkan apa yang menjadi kemauan keduanya. Dan akan segera bangkit jika mendapatkan perintah untuk mempertuurutkan syhwat dan kemauan keduanya. Padahal jika saja seseorang mampu mengarahkan anjingnya masing-masing, maka dari situ akan timbul berbagai sifat yang amat mulia, sebagaimana pemberani, dermawan, sabar, bijaksana, pemurah dan lain-lain.
Bahkan jika mampu mengendalikan babi-babi tadi, maka akan muncul berbagai sifat amat terpuji, sebagaimana qana’ah, tenang, zuhud, wara, takwa, mempunyai rasa malu, dan suka memberi pertolongan. Dimana sifat-sifat ini jika saja secara terus-menerus berada dalam hati, maka sebuah hati akan menjadi begitu terang bercahaya. Begitu amat dekat dengan Allah SWT.
Kemudian jika saja berbagai sifat tercela tadi dibiarkan, maka semakin lama hati akan menjadi keruh dan berlanjut menjadi kerak dan daki yang akan sulit untuk dibersdihkan. Sebagaimana sinyalemen dalam firman: Sekali-kali tidak. Sebenarnya apa yang selau mereka lakukan itu menjadi daki bagi hati mereka (Al-Muthaffifin: 14)
Sepuluh perkara yanmg menyebabkan hati menjadi mati, menurut Syeikh Ibrahim bin Adham adalah: Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta Rasulullah Saw tetapi meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya. Keempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa syetan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakan bahwa surga itu adalah hak (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya. Ketujuh, kalian katakan bahwa neraka itu dalah hak (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya. Kedelapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah hak (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri. Kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”
Itulah perihal yang menyebabkan hati tertutup hidayah, sehingga dalam kondisi demikian itui jika seseorang memanjatkan do’a, ia tidak pernah didengar Allah, bahkan tidak mendapatkan murkanya saja sudah untung besar. ◙
Kemudian ketika dikuasai oleh sifat rabbaniyah, maka seseorang akan bertindak sebagaimana Tuhan. Ia akan senang sekali memakai gelar, berkuasa, memprioritaskan kepentingan pribadi, menyendiri dalam mengurusi berbagai kepentingan, tidak mau menghamba, mengaku berilmu tinggi, bahkan ingin tinggi sendiri dan lain-lain. Dan ketika melihat bahwa dalam diri manusia itu terdapat kecerdasan yang ditopang dengan syahwat dan pemarah tadi, maka di situ pula penetrasi sifat syaithaniyah mengkristal. Dengan sikap itu seseorang sering mengupayakan sebuah keburukan agar tanmpak menjadi baik. Bahkan mengerahkan segala cara dan upaya untuk mencapai sebuah tujuan dengan bujuk rayu. Itulah representasi dari sifat syetan.
Dengan demikian dalam hati itu seakan bertengger anjing galak yang menjadio refleksi sifat sabu’iyah. Bersemayam pula seekor babi yang menggambarkan sifat bahimiyah. Malah bercengkeram pula sosok syetan dan seorang hakim. Babi itu akan terus menarik memperturutkan syahwat, rakus dan segala jenis kemunkaran. Sedangkan anjing akan menyeret seseoranmg untuk segera marah dan bertindak zalim. Sedangkan syetan akan selalu menggerakkan kedua hewan itu agar bertindak sesuai dengan instinct masing-masing.
Sedangkan akal yang akan bertindak sebagai hakim yang selalu menghadang kebrutalan syetan dan mengekang kerakusan babi dan meredam kemarahan anjing tadi. Dengan demikian jika saja akal mampu bertindak dan mengatasi keburukan tiga sifat itu, maka kerajaan yang berada di seluruh tubuh ini akan bisa berjaya dan akan manapak pada jalan yang lurus. Namun jkika saja akal ternyata lumpuh dan tidak mampu lagi mencegah keburukan tiga sifat tadi, maka dapat dipastika kemuliaan tubuh akan segera hancur. Kehancurannya bukan terbatas di dunia ini saja, namun akan dibawa sampai di akherat nanti, kekal abadi selama-lamanya. Kehidupan manusia semacam ini seakan selalu menghamba kepada anjing dan babi, bahkan menyerahkan bulat-bulat untuk beribadah kepadanya. Inilah kondisi sebagian banyak manusia jika kehidupannya hanya untuk memuaskan kepentingan perut, kemaluan dan mengungguli mereka yang dianggap sebagai musuh. Ironis sekali jika saja orang semacam ini begitu membenci pada para penyembah patung dan berhala, padahal jika saja mata hatinya bisa melihat dengan jelas, maka ia sendiri sebenaranya selalu menjadi pengikut setia dan penyembah anjing dan babi. Ia selalu memperturutkan apa yang menjadi kemauan keduanya. Dan akan segera bangkit jika mendapatkan perintah untuk mempertuurutkan syhwat dan kemauan keduanya. Padahal jika saja seseorang mampu mengarahkan anjingnya masing-masing, maka dari situ akan timbul berbagai sifat yang amat mulia, sebagaimana pemberani, dermawan, sabar, bijaksana, pemurah dan lain-lain.
Bahkan jika mampu mengendalikan babi-babi tadi, maka akan muncul berbagai sifat amat terpuji, sebagaimana qana’ah, tenang, zuhud, wara, takwa, mempunyai rasa malu, dan suka memberi pertolongan. Dimana sifat-sifat ini jika saja secara terus-menerus berada dalam hati, maka sebuah hati akan menjadi begitu terang bercahaya. Begitu amat dekat dengan Allah SWT.
Kemudian jika saja berbagai sifat tercela tadi dibiarkan, maka semakin lama hati akan menjadi keruh dan berlanjut menjadi kerak dan daki yang akan sulit untuk dibersdihkan. Sebagaimana sinyalemen dalam firman: Sekali-kali tidak. Sebenarnya apa yang selau mereka lakukan itu menjadi daki bagi hati mereka (Al-Muthaffifin: 14)
Sepuluh perkara yanmg menyebabkan hati menjadi mati, menurut Syeikh Ibrahim bin Adham adalah: Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta Rasulullah Saw tetapi meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya. Keempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa syetan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakan bahwa surga itu adalah hak (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya. Ketujuh, kalian katakan bahwa neraka itu dalah hak (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya. Kedelapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah hak (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri. Kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”
Itulah perihal yang menyebabkan hati tertutup hidayah, sehingga dalam kondisi demikian itui jika seseorang memanjatkan do’a, ia tidak pernah didengar Allah, bahkan tidak mendapatkan murkanya saja sudah untung besar. ◙
Keberanian Syeikh Hasan Bashri
Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi merupakan seorang panglima Baginda raja Abdul Malik bin Marwan yang terkenal sangat kejam. Ia yang telah berhasil membunuh Abdullah bin Zubair di dekat Ka’bah hingga kepalanya dikirim ke Damaskus untuk dipersembahkan kepada pimpinannya. Pada masa itu pula hidup seorang ulama kenamaan, malah diperhitungkan sebagai figur tabi’ien yang paling utama, dan dikaruniai umur yang cukup panjang, 90 tahun. Wafat sekitar tahun 110 H. Dialah Syeikh Hasan Bashri.
Dikisahkan oleh Ibnu ‘Aisyah bahwa pada suatu hari Hajjaj bin Yusuf mengundang seluruh ulama Kufah dan Bashrah untuk bertatap muka. Maka kami,” kata Ibnu ‘Aisyah, “Bersama Hasan Bashri segera memasuki sebuah istana dan merupakan ulama terakhir yang datang. Ketika Hajjaj melihat Hasan Bashri, segera saja ia mempersilakan dengan mengatakan:
“Marhaban, bahagia sekali bertemu dengan Syeikh Hasan.”
Lantas Hajjaj memanggilnya untuk segera duduk berdampingan dengannya. Sejenak kemudian telah terjadi ramahtamah yang mengasikkan antara kami, namun pada akhirnya ucapan Hajjaj menjurus mengumpat Ali bin Abi Thalib Karramal’lahu Wajhah (dendam bebuyutan!). Sebenarnya dalam hati kami timbul keraguan untuk meneruskan pembicaraan itu, namun terasa tidak etis. Masalahnya kami merupakan pihak yang diundang, dengan demikian berkewajiban menghormati tuan rumah. Lebih tegasnya kami tidak bisa bersikap tegas melawan kehendak Hajjaj, di samping ada perasaan takut mendapat perangai jelek darinya. Namun Syeikh Hasan Bashri tampak berdiam diri dan termenung panjang. Setelah Hajjaj mengetahui sikap oposisi Hasan Bashri ini, segera saja ia menegurnya:
“Wahai Syeikh Hasan, mengapa Anda tampak berdiam diri tidak mau mengikuti alur pembicaraan kawan-kawan Anda?”.
Saat itulah Hasan Bashri mendapat kesempatan untuk menuntaskan segalanya:
“Leherku seakan tersekat,” begitu tukas Syeikh Hasan Bashri.
“Kalau begitu bagaimana pendapatmu mengenai Abi Turab (Ali bin Abi Thalib) tadi?,” kejar Hajjaj berikutnya.
“Aku sendiri,” sambung Syeikh Hasan Bashri lebih lanjut, “Telah membaca mengenai firman Allah:
“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu itu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh pengalihan kiblat itu akan terasa amat berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia ( QS . 2 : 143 ).
Kalau kita mau berfikir secara dewasa,” lanjut Hasan Bashri lagi, “Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah dan beriman pula. Apalagi ia putra paman Rasulullah, menjadi menantunya dan termasuk orang yang paling dicintai Rasulullah. Ia memiliki martabat yang begitu mulia yang telah diakui Allah. Anda atau siapa pun, tidak akan bisa menghalangi karunia Allah padanya. Dan jika saja Ali bin Abi Thalib itu termasuk orang yang berkepribadian buruk, tentulah Allah yang akan menindaknya. Setelah lama aku pikir, tampaknya tidak ada ucapan yang lebih lurus daripada apa yang telah kuucapkan tadi,” begitu Hasan Bashri mencecar telinga Hajjaj sampai berbuih-buih.
Mendengar uraian ini, keruan saja muka Hajjaj merah padam dibuatnya, ia segera bangkit dari singgasananya dengan kemarahan yang meluap-luap. Kemudian ia tampak memasuki ruangan dalam, dan kami pun segera membubarkan diri.
Setelah peristiwa itu, seorang ulama yang bernama Amir Asy-Sya’bi segera menggandeng lengan Hasan Bashri untuk keluar istana seraya mengatakan:
“Wahai Syeikh Hasan, tuan telah membuat marah Hajjaj dan menjadikan hatinya begitu panas.”
“Menyingkirlah kau dariku,” kata Hasan Bashri, “Bagaimana pendapat masyarakat bila saja mereka tahu bahwa Amir Asy-Sya’bi yang terkenal ‘alim itu telah mendatangi syetan dari jenis manusia seraya membenarkan dan mengikuti apa yang menjadi kehendaknya? Celakalah kau, Amir!, mengapa kau tidak memiliki rasa takut dosa ketika terjadi umpatan yang tak terbendung tadi, dan kau tampak malah mengikuti alur penjilat itu. Padahal jika saja kau diam, mestinya akan lebih membawa keselamatan akhiratmu,” begitu Hasan Bashri menumpahkan kemarahannya pada Amir.
“Wahai Syeikh Hasan!, tadi memang betul aku mengikuti alur umpatan Hajjaj, namun hatiku tidak sependapat dengan apa yang telah aku ucapkan,” begitu Amir berapologi.
“Celaka kau Amir! yang demikian itu malah akan menjadi bumerang yang mencelakakan dirimu kelak di muka Allah nanti, lebih berat pula dosanya. Sikap demikian itu merupakan indikasi dari berbagai sifat orang munafik,” begitu Hasan Basri mengcounter ucapan Amir.
Setelah terjadi tarik ulur yang demikian ini, keduanya lantas berpisah dengan menyimpan perasaan yang teraduk-aduk di hati masing-masing. Namun beberapa hari kemudian, Hajjaj segera mengutus seseorang untuk bertandang ke rumah Hasan Bashri seraya mengutarakan tuduhan:
“Adakah kau yang telah mengatakan: “Semoga Allah melaknat mereka (Hajjaj dan kroninya) yang memerangi kelompok lain demi uang dinar atau dirham?”
Dengan tegas saja Hasan Bashri mengatakan: “Ya, memangnya ada apa!”
“Apa yang mendorong kemauanmu untuk berbuat nekad seperti itu?,” sambung utusan Hajjaj lagi.
“Seorang ulama telah terikat janji yang teguh di hadapan Allah bahwa:
Mereka tidak akan surut dalam memberi penjelasan mengenai Kitabullah, tidak pula diperbolehkan untuk menutup-nutupi kebenaran,” 1 begitu jawab Hasan sangat tegas.
“Aku sarankan, wahai Hasan. Akan lebih baik jikalau kau menutup mulut, dengan maksud jangan sampai ada berita yang tidak mengenakkan hati Panglima Kerajaan (Hajjaj), karena bisa menjadi penyebab badanmu akan berpisah dari kepalanya,” begitu utusan itu mengancam, namun Hasan sedikit pun tidak gentar menghadapinya.
Kemudian utusan itu beranjak pergi tanpa berpamitan, dan Syeikh Hasan Bashri pun segera menutup pintunya rapat-rapat ◙
Dikisahkan oleh Ibnu ‘Aisyah bahwa pada suatu hari Hajjaj bin Yusuf mengundang seluruh ulama Kufah dan Bashrah untuk bertatap muka. Maka kami,” kata Ibnu ‘Aisyah, “Bersama Hasan Bashri segera memasuki sebuah istana dan merupakan ulama terakhir yang datang. Ketika Hajjaj melihat Hasan Bashri, segera saja ia mempersilakan dengan mengatakan:
“Marhaban, bahagia sekali bertemu dengan Syeikh Hasan.”
Lantas Hajjaj memanggilnya untuk segera duduk berdampingan dengannya. Sejenak kemudian telah terjadi ramahtamah yang mengasikkan antara kami, namun pada akhirnya ucapan Hajjaj menjurus mengumpat Ali bin Abi Thalib Karramal’lahu Wajhah (dendam bebuyutan!). Sebenarnya dalam hati kami timbul keraguan untuk meneruskan pembicaraan itu, namun terasa tidak etis. Masalahnya kami merupakan pihak yang diundang, dengan demikian berkewajiban menghormati tuan rumah. Lebih tegasnya kami tidak bisa bersikap tegas melawan kehendak Hajjaj, di samping ada perasaan takut mendapat perangai jelek darinya. Namun Syeikh Hasan Bashri tampak berdiam diri dan termenung panjang. Setelah Hajjaj mengetahui sikap oposisi Hasan Bashri ini, segera saja ia menegurnya:
“Wahai Syeikh Hasan, mengapa Anda tampak berdiam diri tidak mau mengikuti alur pembicaraan kawan-kawan Anda?”.
Saat itulah Hasan Bashri mendapat kesempatan untuk menuntaskan segalanya:
“Leherku seakan tersekat,” begitu tukas Syeikh Hasan Bashri.
“Kalau begitu bagaimana pendapatmu mengenai Abi Turab (Ali bin Abi Thalib) tadi?,” kejar Hajjaj berikutnya.
“Aku sendiri,” sambung Syeikh Hasan Bashri lebih lanjut, “Telah membaca mengenai firman Allah:
“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu itu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh pengalihan kiblat itu akan terasa amat berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia ( QS . 2 : 143 ).
Kalau kita mau berfikir secara dewasa,” lanjut Hasan Bashri lagi, “Ali bin Abi Thalib merupakan orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah dan beriman pula. Apalagi ia putra paman Rasulullah, menjadi menantunya dan termasuk orang yang paling dicintai Rasulullah. Ia memiliki martabat yang begitu mulia yang telah diakui Allah. Anda atau siapa pun, tidak akan bisa menghalangi karunia Allah padanya. Dan jika saja Ali bin Abi Thalib itu termasuk orang yang berkepribadian buruk, tentulah Allah yang akan menindaknya. Setelah lama aku pikir, tampaknya tidak ada ucapan yang lebih lurus daripada apa yang telah kuucapkan tadi,” begitu Hasan Bashri mencecar telinga Hajjaj sampai berbuih-buih.
Mendengar uraian ini, keruan saja muka Hajjaj merah padam dibuatnya, ia segera bangkit dari singgasananya dengan kemarahan yang meluap-luap. Kemudian ia tampak memasuki ruangan dalam, dan kami pun segera membubarkan diri.
Setelah peristiwa itu, seorang ulama yang bernama Amir Asy-Sya’bi segera menggandeng lengan Hasan Bashri untuk keluar istana seraya mengatakan:
“Wahai Syeikh Hasan, tuan telah membuat marah Hajjaj dan menjadikan hatinya begitu panas.”
“Menyingkirlah kau dariku,” kata Hasan Bashri, “Bagaimana pendapat masyarakat bila saja mereka tahu bahwa Amir Asy-Sya’bi yang terkenal ‘alim itu telah mendatangi syetan dari jenis manusia seraya membenarkan dan mengikuti apa yang menjadi kehendaknya? Celakalah kau, Amir!, mengapa kau tidak memiliki rasa takut dosa ketika terjadi umpatan yang tak terbendung tadi, dan kau tampak malah mengikuti alur penjilat itu. Padahal jika saja kau diam, mestinya akan lebih membawa keselamatan akhiratmu,” begitu Hasan Bashri menumpahkan kemarahannya pada Amir.
“Wahai Syeikh Hasan!, tadi memang betul aku mengikuti alur umpatan Hajjaj, namun hatiku tidak sependapat dengan apa yang telah aku ucapkan,” begitu Amir berapologi.
“Celaka kau Amir! yang demikian itu malah akan menjadi bumerang yang mencelakakan dirimu kelak di muka Allah nanti, lebih berat pula dosanya. Sikap demikian itu merupakan indikasi dari berbagai sifat orang munafik,” begitu Hasan Basri mengcounter ucapan Amir.
Setelah terjadi tarik ulur yang demikian ini, keduanya lantas berpisah dengan menyimpan perasaan yang teraduk-aduk di hati masing-masing. Namun beberapa hari kemudian, Hajjaj segera mengutus seseorang untuk bertandang ke rumah Hasan Bashri seraya mengutarakan tuduhan:
“Adakah kau yang telah mengatakan: “Semoga Allah melaknat mereka (Hajjaj dan kroninya) yang memerangi kelompok lain demi uang dinar atau dirham?”
Dengan tegas saja Hasan Bashri mengatakan: “Ya, memangnya ada apa!”
“Apa yang mendorong kemauanmu untuk berbuat nekad seperti itu?,” sambung utusan Hajjaj lagi.
“Seorang ulama telah terikat janji yang teguh di hadapan Allah bahwa:
Mereka tidak akan surut dalam memberi penjelasan mengenai Kitabullah, tidak pula diperbolehkan untuk menutup-nutupi kebenaran,” 1 begitu jawab Hasan sangat tegas.
“Aku sarankan, wahai Hasan. Akan lebih baik jikalau kau menutup mulut, dengan maksud jangan sampai ada berita yang tidak mengenakkan hati Panglima Kerajaan (Hajjaj), karena bisa menjadi penyebab badanmu akan berpisah dari kepalanya,” begitu utusan itu mengancam, namun Hasan sedikit pun tidak gentar menghadapinya.
Kemudian utusan itu beranjak pergi tanpa berpamitan, dan Syeikh Hasan Bashri pun segera menutup pintunya rapat-rapat ◙
Penyebab Tangis Umar
Penyebab Tangis Umar
Amar makruf dan nahi ‘anil munkar atau lebih mudahnya yaitu menyuruh berbuat kebajikan dan mencegah segaka keburukan merupakan perihal yang begitu pokok dalam agama (Islam). Dari padanya Allah telah mengutus para nabi dan para utusan, sehingga jika saja amar makruf dan nahi munkar itu ditiadakan, maka tidaklah diperlukan lagi kenabian atau berpegang pada agama. Hal ini akan berakibat hancurnya seluruh sektor kehidupan dan tersebarnya kebodohan dan perbuatan merusak dengan tanpa adanya penghalang sama sekali. Pembiaran seperti ini jelas akan menyeret pada lenyapnya kehidupan, kendati pun yang berperilaku buruk itu tidak merasakan segala akibatnya terkecuali nanti di hari pembalasan.
Namun demikian amar makruf dan nahi munkar itu sendiri harus memakai kebijaksanaan yang tepat agar kebaikan yang didapatkan sesuai dengan resiko yang dihadapi. Atau kalau mungkin hendaknya resiko itu ditekan sedemikian rupa agar yang didapatkan hanya kemaslahatannnya. Para ulama membagi amar makruf nahi munkar ini menjadi empat tahapan. Pertama, dengan memberi pengertian. Kedua, yaitu dengan memberikan nasihat. Dan jika saja yang diberi nasihat itu sudah tidak mengindahkan lagi, maka diteruskan pada tahapan lebih lanjut, yakni Ketiga, yaitu berlaku keras mengenai ucapan. Keempat, mencegah dengan memaksa mereka sehingga sanggup menapak pada kebenaran, kendati sampai dengan memukul atau pun menyiksanya.
Namun dalam menghadapi para penguasa, amar makruf nahi munkar ini pada biasanya yang dapat diterapkan hanyalah yang pertama dan yang kedua. Sedangkan yang keempat ini dampak madharatnya akan lebih besar dari pada manfaatnya. Namun untuk yang ke tiga, yakni berkeras dalam ucapan kepada para penguasa, sebagaimana ‘Hai orang zalim, hai orang yang tidak punya takut kepada Allah!’ dan sejenisnya. Jika saja ucapan ini mengakibatkan sebuah resiko yang akan menimpa orang lain, tindakan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan jika resiko itu hanya ditanggung yang bertindak amar makruf, maka sikap itu diperbolehkan, bahkan malah dianjurkan. Sebab banyak sekali ulama salaf yang bertindak seperti itu dengan tanpa menoleh lagi pada resiko yang akan ditanggung dirinya. Sehingga mereka dengan terang-terangan berani mencegah munkar kendati akan disiksa sedemikian rupa. Mereka berkeyakinan bahwa mati dalam menghadapi resiko ini merupakan sebuah syahadah (mati syahid). Sebagaimana dikisahkan bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan, seorang raja dan pendiri daulah Bani Umayah pernah menahan distribusi harta benda kerajaan yang menjadi hak seluruh rakyat. Dalam kondisi seperti itulah Abu Muslim Al-Khaulani segera menghadap pada Baginda seraya mengatakan:
“Wahai Muawiyah, harta kerajaan itu bukanlah hasil jerih payahmu, bukah hasil jerih payah ibumu, juga bukan dari keringat bapakmu! (mengapa tidak segera kau bagikan kepada rakyat, he.. !).”
Mendengar ucapan kasar seperti ini, Muawiyah tampak marah dan segera turun dari podium seraya mengatakan:
“Tetaplah kalian berada disini, aku akan segera kembali menemui kalian.”
Muawiyah segera pergi dari hadapan para hadirin, dan dalam waktu sekejap saja ia sudah kembali lagi, namun ia tampak baru saja mandi besar. Ketika itulah ia mengatakan:
“Perkataan Abu Muslim telah membuat saya marah besar. Padahal aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
“Marah itu dari syetan, sedangkan syetan itu diciptaan dari api neraka. Yang bisa memadamkan api tiada lain hanyalah air. Dengan demikian barang siapa yang marah, hendaknya segera mandi.”
“Aku tadi,” kata Muawiyah lagi, “segera memasuki istana untuk mandi. Dan memangnya Abu Muslim itu pada pihak yang benar, sebab harta kerajaan itu bukan hasil jerih payahku atau jerih payah bapak ibuku atau kakekku. Sekarang seluruh rakyat hendaknya segera pergi menghadapku untuk menerima pemberian harta kerajaan”. begitu hati Muawiyah segera luluh karena nasihat Abu Muslim Al-Khaulani sehingga sebuah makruf bisa mengalir sesuai dengan kebenaran.
Dikisahkan pula dari Dhabah bin Muhshan Al-‘Anzi bahwa ketika Abu Musa Al-Asy’ari menjadi gubernur Bashrah, sudah biasa jika para penguasa ketika itu juga bertindak sebagai khathib dalam melaksanakan shalat Jum’at. Abu Musa juga bertindak sebagai khathib ketika itu. Dan khutbah Abu Musa selalu diawali dengan membaca hamdalah kemudian bershalawat kepada Rasulullah yang diteruskan dengan berdo’a memberi rahmat kepada Khalifah kedua, yakni Umar bin Khathab Ra. dengan tanpa menyebut Abu Bakar sebagai Khalifah pertama. Perilaku Abu Musa itu telah berjalan kira-kira tiga Jum’at. Hal inilah yang menjadikan Dhabah naik pitam.
Maka ketika khutbah masih berlangsung, Dhabah segera berdiri memperingatkan Abu Musa:
“Bagaimana anda tidak menyebut pendahulu Umar dan malah lebih mengutamakan dia dari pada Abu Bakar.”
Sejak peristiwa itu, setiap Abu Musa naik mimbar dan membacakan khutbahnya dengan tanpa mau memperbaiki dan menyebut Abu bakar, setiap kali itu pula Dhabah selalu memperingatkan Abu Musa. Hingga Abu Musa merasa jengkel dan bertekad untuk melaporkan perilaku Dhabah pada Amiril Mukminin di Madinah. Abu Musa segera menulis surat mengenai ulah Dhabah yang selalu mengganggu khutbahnya itu kepada Umar bin Khathab. Beberapa hari selanjutnya, Abu Musa segera mendapat balasan dari Khalifah :
“Hendaklah Dhabah dihadirkan ke hadapan Khalifah di Madinah”. begitu bunyi surat itu.
“Aku pun dihadirkan,” kata Dhabah, “Oleh Abu Musa di hadapan Amiril Mukminin. Maka segera aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu Khalifah. Ketika itu pula Umar segera keluar seraya mengatakan :
“Siapa kamu?”
“Saya Dhabah,” jawabku dengan tegas.
Lebih lanjut Umar mengatakan padaku:
“Laa marhaban walaa ahlan.”
(Semoga kau tidak menemui kebahagiaan dan tidak pula ahli dalam kebajikan)1
“Adapun yang pantas memberi kebahagiaan (murahhib) itu hanya Allah semata. Sedangkan mengenai ahlan, kebetulan sekali aku tidak memiliki isteri atau keluarga, apalagi harta. Dengan demikian ucapan Khalifah tidak mengenai sasaran yang semestinya. Sekarang aku yang bertanya, wahai Khalifah:
“Mengapa Khalifah menyibukkan diriku dan memaksa aku hadir di sini dari kota tempat tinggalku yang cukup jauh, padahal aku tidak merasa mempunyai dosa, atau perilaku buruk yang aku kerjakan, ” begitu tangkis Dhabah dengan sengit.
“Mengapa terjadi pertikaian antara kau dan Gubernur bawahanku?,” begitu cecar Umar bin Khathab lagi.
“Begini, wahai Khalifah! Abu Musa setiap kali membaca khutbah mestilah membaca hamdalah yang diikuti dengan shalawat dan mendo’akan rahmat kepadamu dengan tanpa menyebut Abu Bakar sebagai pendahulumu. Hal itulah yang menjadikan diriku naik pitam. Sebenarnya aku telah berusaha memberi peringatan padanya pada setiap kali ia melakukan kesalahan, namun Abu Musa tampak tidak menghiraukan ucapanku itu sampai beberapa Jum’at berlangsung. Anehnya, malah dia malah berkirim surat kepada Baginda mengadukan perilaku diriku yang dianggapnya tidak sopan itu,” begitu Dhabah menguraikan alasannya panjang lebar.
Ketika penjelasan itu telah disampaikan, segera saja Khalifah beranjak memasuki rumah dengan suara tangis yang tidak bisa ditahan lagi sembari mengatakan:
“Wahai Dhabah, demi Allah kamu lebih mendapat petunjuk dan lebih berpihak pada kebenaran. Sekarang sudikah kau memberi maaf padaku, wahai Dhabah. Semoga kau juga diampuni Allah?,” Umar mengucapkannya dengan terputus-putus.
“Semoga Amiril Mukminin mendapat ampunan Allah,” begitu sambungku.
Mendapat jawaban ini, air mata Umar malah bertambah deras lagi. Dengan kalimat yang terbata-bata pula ia melanjutkan ucapannya:
“Demi Allah, waktu satu malam atau satu hari saja bagi Abu Bakar adalah lebih baik dari pada Umar beserta keluarganya. Maukah kau mendengarkan cerita mengenai sisi kebajikan malam atau siang Abu Bakar?,” begitu Umar menawarkan.
“Oh, itu tentu, wahai Amiril Mukminin,” tukasku kemudian.
“Ingatlah pada suatu malam,” begitu Umar mulai bercerita, “Rasulullah Saw. menghendaki untuk ke luar dari Makah melarikan diri dari orang-orang musyrik untuk berhijrah ke Madinah. Malam itu Abu Bakar segera mengikutinya. Namun Abu Bakar begitu khawatir mengenai keselamatan Rasulullah Saw. sehingga dia tampak sebentar berlari di muka Rasulullah, dan sebentar lagi berlari di belakang beliau. Dan kadang di sebelah kanan, yang sebentar lagi berpindah ke sebelah kiri. Setelah Rasulullah mengetahui perilaku Abu Bakar yang tampak aneh ini, segera beliau menanyakan:
“Sikapmu tampak aneh benar, wahai Abu Bakar, perilaku seperti ini belum pernah aku saksikan sebelumnya. Mengapa yang demikian itu terjadi?,” begitu Rasulullah memancing jawaban Abu Bakar.
“Wahai Rasulullah, aku mengkhawatirkan sekali mengenai bidikan senjata musuh. Ketika itulah aku segera berada di depanmu. Dan ketika aku teringat mereka yang akan mengejarmu. Maka aku segera ke belakang dengan maksud agar badanku dulu yang terkena sasaran mereka. Sedangkan ketika aku di arah sampingmu, itu karena sedetik pun aku tidak merasa aman terhadap bahaya yang akan menimpamu,” begitu jawab Abu Bakar mengenai pembelaan yang tiada tara.
Ketika hijrah itu pula,” lanjut Umar bin Khathab lagi, “Rasulullah berlari dengan memakai jari kakinya agar derap langkahnya tidak terdengar, namun hal ini berakibat fatal, seluruh jari-jari kakinya pecah-pecah. Setelah Abu Bakar melihat penderitaan Rasulullah, segera saja beliau digendong bergelayut di pundaknya kemudian berlari sampai di mulut gua Tsaur. Ketika itulah beliau baru diturunkan. Namun segera saja Abu Bakar mengatakan:
“Demi Allah yang diriku ada pada kekuasaan-Nya, biarlah aku dahulu yang memasukinya. Dengan maksud jika saja ada bahaya yang mengancam, biar diri saya dahulu yang menjadi sasaran.”
Sejenak kemudian Abu Bakar segera memasuki gua itu seraya memeriksa tempat di sekitarnya. Setelah dirasakan aman, barulah Rasulullah digendong untuk memasuki gua itu. Namun di dalam gua itu terdapat beberapa lobang yang diduga sebagai sarang ular. Demi keamanan dan melindungi tubuh Rasulullah, Abu Bakar segera menyumbat sebuah lubang dengan telapak kakinya yang diperkirakan jelas sebagai sarang ular. Ternyata memang di lubang itu mengeram seekor ular. Merasa arealnya terganggu, ular itu segera memagut telapak kaki Abu Bakar.
Karena ia berusaha menenteramkan hati Rasulullah, rasa sakit pagutan ular itu ditahannya saja sedemikian rupa. Namun dengan tidak disadari, air mata Abu Bakar mengalir di pipinya sebagai pelepas rasa sakit yang sejak tadi ditahannya. Setelah melihat penderitaan Abu Bakar ini, Rasulullah segera menghiburnya dengan mengatakan:
“Wahai Abu Bakar, janganlah engkau bersusah hati. Ingatlah, Allah selalu beserta kita.”
Terbukti Allah segera melimpahkan rahmat dan kebahagian-Nya kepada dua figur pilihan itu.
“Itulah kesempatan semalam,” kata Umar lagi, “Yang begitu berharga bagi Abu Bakar sehingga melebihi malam-malam yang dilalui oleh Umar beserta keluarganya. Sedangkan mengenai hari yang sangat berharga dari perilaku Abu Bakar. Ingatlah, wahai Dhabah! ketika Rasulullah Saw. wafat, maka banyak sekali kabilah-kabilah Arab yang murtad seakan tidak ada kekuatan yang akan bisa mengalahkan mereka lagi. Malah banyak dari mereka yang mengatakan: “Kita tetap menjalankan shalat, namun mengenai urusan zakat, sebaiknya kita berhentikan sementara.”
Dalam keadaan kritis seperti ini, aku (Umar) segera saja bertandang menemui Abu Bakar untuk menyampaikan sebuah pendapat yang mungkin bisa menjadikan kondisi akan lebih baik. Ketika itulah aku sampaikan pendapatku:
“Wahai Khalifah Rasulullah Saw, dalam kondisi keamanan belum stabil seperti ini, hendaklah engkau dahulukan langkah, bagaimana agar seluruh hati rakyat menaruh simpati terlebih dahulu pada kepemimpinanmu. Seketika itu Abu Bakar langsung menjawab dengan tegas:
“Adakah kita bersikap begitu garang di masa Jahiliah dulu, namun setelah kita memeluk Islam menjadi begitu lunak seakan tidak mampu berbuat! Dengan alasan apa. aku akan membuat langkah agar mereka simpati kepadaku (dengan membiarkan mereka tidak membayar zakat), padahal sudah tidak ada lagi wahyu yang turun, dan Rasulullah pun sudah wafat. Demi Allah, kalau pun meereka membangkang untuk membayarkan seekor anak onta yang pernah dibayarkan ketika Rasulullah masih hidup, mereka akan segera aku perangi karenanya,” begitu jawab Abu Bakar berapi-api.
“Abu Bakar segera bertindak,” kata Umar lebih lanjut, “Memerangi para pembangkang zakat itu sehingga mereka kembali lagi dan taat pada pemerintahan Islam. Dan terbukti memang Abu Bakar lebih berpihak pada kebenaran daripada diriku, wahai Dhabah.
“Setelah Umar bin Khathab menguraikan dan membandingkan kedua pribadi ini, yakni dirinya dan diri Abu Bakar, kemudian ia segera menulis surat untuk menasihati dan menumpahkan kemarahannya pada Abu Musa Al-Asy’ari yang menjadi gubernur Bashrah ketika itu,” begitu kata Dhabah.
Demikianlah sikap Al-Faruq dalam menghadapi sebuah kenyataan. Yang hak dikatakan hak dan yang batil pun dikatakan batil. Tidak pernah kebenaran dimanipulasi menjadi kebatilan atau sebaliknya ◙
Amar makruf dan nahi ‘anil munkar atau lebih mudahnya yaitu menyuruh berbuat kebajikan dan mencegah segaka keburukan merupakan perihal yang begitu pokok dalam agama (Islam). Dari padanya Allah telah mengutus para nabi dan para utusan, sehingga jika saja amar makruf dan nahi munkar itu ditiadakan, maka tidaklah diperlukan lagi kenabian atau berpegang pada agama. Hal ini akan berakibat hancurnya seluruh sektor kehidupan dan tersebarnya kebodohan dan perbuatan merusak dengan tanpa adanya penghalang sama sekali. Pembiaran seperti ini jelas akan menyeret pada lenyapnya kehidupan, kendati pun yang berperilaku buruk itu tidak merasakan segala akibatnya terkecuali nanti di hari pembalasan.
Namun demikian amar makruf dan nahi munkar itu sendiri harus memakai kebijaksanaan yang tepat agar kebaikan yang didapatkan sesuai dengan resiko yang dihadapi. Atau kalau mungkin hendaknya resiko itu ditekan sedemikian rupa agar yang didapatkan hanya kemaslahatannnya. Para ulama membagi amar makruf nahi munkar ini menjadi empat tahapan. Pertama, dengan memberi pengertian. Kedua, yaitu dengan memberikan nasihat. Dan jika saja yang diberi nasihat itu sudah tidak mengindahkan lagi, maka diteruskan pada tahapan lebih lanjut, yakni Ketiga, yaitu berlaku keras mengenai ucapan. Keempat, mencegah dengan memaksa mereka sehingga sanggup menapak pada kebenaran, kendati sampai dengan memukul atau pun menyiksanya.
Namun dalam menghadapi para penguasa, amar makruf nahi munkar ini pada biasanya yang dapat diterapkan hanyalah yang pertama dan yang kedua. Sedangkan yang keempat ini dampak madharatnya akan lebih besar dari pada manfaatnya. Namun untuk yang ke tiga, yakni berkeras dalam ucapan kepada para penguasa, sebagaimana ‘Hai orang zalim, hai orang yang tidak punya takut kepada Allah!’ dan sejenisnya. Jika saja ucapan ini mengakibatkan sebuah resiko yang akan menimpa orang lain, tindakan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan jika resiko itu hanya ditanggung yang bertindak amar makruf, maka sikap itu diperbolehkan, bahkan malah dianjurkan. Sebab banyak sekali ulama salaf yang bertindak seperti itu dengan tanpa menoleh lagi pada resiko yang akan ditanggung dirinya. Sehingga mereka dengan terang-terangan berani mencegah munkar kendati akan disiksa sedemikian rupa. Mereka berkeyakinan bahwa mati dalam menghadapi resiko ini merupakan sebuah syahadah (mati syahid). Sebagaimana dikisahkan bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan, seorang raja dan pendiri daulah Bani Umayah pernah menahan distribusi harta benda kerajaan yang menjadi hak seluruh rakyat. Dalam kondisi seperti itulah Abu Muslim Al-Khaulani segera menghadap pada Baginda seraya mengatakan:
“Wahai Muawiyah, harta kerajaan itu bukanlah hasil jerih payahmu, bukah hasil jerih payah ibumu, juga bukan dari keringat bapakmu! (mengapa tidak segera kau bagikan kepada rakyat, he.. !).”
Mendengar ucapan kasar seperti ini, Muawiyah tampak marah dan segera turun dari podium seraya mengatakan:
“Tetaplah kalian berada disini, aku akan segera kembali menemui kalian.”
Muawiyah segera pergi dari hadapan para hadirin, dan dalam waktu sekejap saja ia sudah kembali lagi, namun ia tampak baru saja mandi besar. Ketika itulah ia mengatakan:
“Perkataan Abu Muslim telah membuat saya marah besar. Padahal aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
“Marah itu dari syetan, sedangkan syetan itu diciptaan dari api neraka. Yang bisa memadamkan api tiada lain hanyalah air. Dengan demikian barang siapa yang marah, hendaknya segera mandi.”
“Aku tadi,” kata Muawiyah lagi, “segera memasuki istana untuk mandi. Dan memangnya Abu Muslim itu pada pihak yang benar, sebab harta kerajaan itu bukan hasil jerih payahku atau jerih payah bapak ibuku atau kakekku. Sekarang seluruh rakyat hendaknya segera pergi menghadapku untuk menerima pemberian harta kerajaan”. begitu hati Muawiyah segera luluh karena nasihat Abu Muslim Al-Khaulani sehingga sebuah makruf bisa mengalir sesuai dengan kebenaran.
Dikisahkan pula dari Dhabah bin Muhshan Al-‘Anzi bahwa ketika Abu Musa Al-Asy’ari menjadi gubernur Bashrah, sudah biasa jika para penguasa ketika itu juga bertindak sebagai khathib dalam melaksanakan shalat Jum’at. Abu Musa juga bertindak sebagai khathib ketika itu. Dan khutbah Abu Musa selalu diawali dengan membaca hamdalah kemudian bershalawat kepada Rasulullah yang diteruskan dengan berdo’a memberi rahmat kepada Khalifah kedua, yakni Umar bin Khathab Ra. dengan tanpa menyebut Abu Bakar sebagai Khalifah pertama. Perilaku Abu Musa itu telah berjalan kira-kira tiga Jum’at. Hal inilah yang menjadikan Dhabah naik pitam.
Maka ketika khutbah masih berlangsung, Dhabah segera berdiri memperingatkan Abu Musa:
“Bagaimana anda tidak menyebut pendahulu Umar dan malah lebih mengutamakan dia dari pada Abu Bakar.”
Sejak peristiwa itu, setiap Abu Musa naik mimbar dan membacakan khutbahnya dengan tanpa mau memperbaiki dan menyebut Abu bakar, setiap kali itu pula Dhabah selalu memperingatkan Abu Musa. Hingga Abu Musa merasa jengkel dan bertekad untuk melaporkan perilaku Dhabah pada Amiril Mukminin di Madinah. Abu Musa segera menulis surat mengenai ulah Dhabah yang selalu mengganggu khutbahnya itu kepada Umar bin Khathab. Beberapa hari selanjutnya, Abu Musa segera mendapat balasan dari Khalifah :
“Hendaklah Dhabah dihadirkan ke hadapan Khalifah di Madinah”. begitu bunyi surat itu.
“Aku pun dihadirkan,” kata Dhabah, “Oleh Abu Musa di hadapan Amiril Mukminin. Maka segera aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu Khalifah. Ketika itu pula Umar segera keluar seraya mengatakan :
“Siapa kamu?”
“Saya Dhabah,” jawabku dengan tegas.
Lebih lanjut Umar mengatakan padaku:
“Laa marhaban walaa ahlan.”
(Semoga kau tidak menemui kebahagiaan dan tidak pula ahli dalam kebajikan)1
“Adapun yang pantas memberi kebahagiaan (murahhib) itu hanya Allah semata. Sedangkan mengenai ahlan, kebetulan sekali aku tidak memiliki isteri atau keluarga, apalagi harta. Dengan demikian ucapan Khalifah tidak mengenai sasaran yang semestinya. Sekarang aku yang bertanya, wahai Khalifah:
“Mengapa Khalifah menyibukkan diriku dan memaksa aku hadir di sini dari kota tempat tinggalku yang cukup jauh, padahal aku tidak merasa mempunyai dosa, atau perilaku buruk yang aku kerjakan, ” begitu tangkis Dhabah dengan sengit.
“Mengapa terjadi pertikaian antara kau dan Gubernur bawahanku?,” begitu cecar Umar bin Khathab lagi.
“Begini, wahai Khalifah! Abu Musa setiap kali membaca khutbah mestilah membaca hamdalah yang diikuti dengan shalawat dan mendo’akan rahmat kepadamu dengan tanpa menyebut Abu Bakar sebagai pendahulumu. Hal itulah yang menjadikan diriku naik pitam. Sebenarnya aku telah berusaha memberi peringatan padanya pada setiap kali ia melakukan kesalahan, namun Abu Musa tampak tidak menghiraukan ucapanku itu sampai beberapa Jum’at berlangsung. Anehnya, malah dia malah berkirim surat kepada Baginda mengadukan perilaku diriku yang dianggapnya tidak sopan itu,” begitu Dhabah menguraikan alasannya panjang lebar.
Ketika penjelasan itu telah disampaikan, segera saja Khalifah beranjak memasuki rumah dengan suara tangis yang tidak bisa ditahan lagi sembari mengatakan:
“Wahai Dhabah, demi Allah kamu lebih mendapat petunjuk dan lebih berpihak pada kebenaran. Sekarang sudikah kau memberi maaf padaku, wahai Dhabah. Semoga kau juga diampuni Allah?,” Umar mengucapkannya dengan terputus-putus.
“Semoga Amiril Mukminin mendapat ampunan Allah,” begitu sambungku.
Mendapat jawaban ini, air mata Umar malah bertambah deras lagi. Dengan kalimat yang terbata-bata pula ia melanjutkan ucapannya:
“Demi Allah, waktu satu malam atau satu hari saja bagi Abu Bakar adalah lebih baik dari pada Umar beserta keluarganya. Maukah kau mendengarkan cerita mengenai sisi kebajikan malam atau siang Abu Bakar?,” begitu Umar menawarkan.
“Oh, itu tentu, wahai Amiril Mukminin,” tukasku kemudian.
“Ingatlah pada suatu malam,” begitu Umar mulai bercerita, “Rasulullah Saw. menghendaki untuk ke luar dari Makah melarikan diri dari orang-orang musyrik untuk berhijrah ke Madinah. Malam itu Abu Bakar segera mengikutinya. Namun Abu Bakar begitu khawatir mengenai keselamatan Rasulullah Saw. sehingga dia tampak sebentar berlari di muka Rasulullah, dan sebentar lagi berlari di belakang beliau. Dan kadang di sebelah kanan, yang sebentar lagi berpindah ke sebelah kiri. Setelah Rasulullah mengetahui perilaku Abu Bakar yang tampak aneh ini, segera beliau menanyakan:
“Sikapmu tampak aneh benar, wahai Abu Bakar, perilaku seperti ini belum pernah aku saksikan sebelumnya. Mengapa yang demikian itu terjadi?,” begitu Rasulullah memancing jawaban Abu Bakar.
“Wahai Rasulullah, aku mengkhawatirkan sekali mengenai bidikan senjata musuh. Ketika itulah aku segera berada di depanmu. Dan ketika aku teringat mereka yang akan mengejarmu. Maka aku segera ke belakang dengan maksud agar badanku dulu yang terkena sasaran mereka. Sedangkan ketika aku di arah sampingmu, itu karena sedetik pun aku tidak merasa aman terhadap bahaya yang akan menimpamu,” begitu jawab Abu Bakar mengenai pembelaan yang tiada tara.
Ketika hijrah itu pula,” lanjut Umar bin Khathab lagi, “Rasulullah berlari dengan memakai jari kakinya agar derap langkahnya tidak terdengar, namun hal ini berakibat fatal, seluruh jari-jari kakinya pecah-pecah. Setelah Abu Bakar melihat penderitaan Rasulullah, segera saja beliau digendong bergelayut di pundaknya kemudian berlari sampai di mulut gua Tsaur. Ketika itulah beliau baru diturunkan. Namun segera saja Abu Bakar mengatakan:
“Demi Allah yang diriku ada pada kekuasaan-Nya, biarlah aku dahulu yang memasukinya. Dengan maksud jika saja ada bahaya yang mengancam, biar diri saya dahulu yang menjadi sasaran.”
Sejenak kemudian Abu Bakar segera memasuki gua itu seraya memeriksa tempat di sekitarnya. Setelah dirasakan aman, barulah Rasulullah digendong untuk memasuki gua itu. Namun di dalam gua itu terdapat beberapa lobang yang diduga sebagai sarang ular. Demi keamanan dan melindungi tubuh Rasulullah, Abu Bakar segera menyumbat sebuah lubang dengan telapak kakinya yang diperkirakan jelas sebagai sarang ular. Ternyata memang di lubang itu mengeram seekor ular. Merasa arealnya terganggu, ular itu segera memagut telapak kaki Abu Bakar.
Karena ia berusaha menenteramkan hati Rasulullah, rasa sakit pagutan ular itu ditahannya saja sedemikian rupa. Namun dengan tidak disadari, air mata Abu Bakar mengalir di pipinya sebagai pelepas rasa sakit yang sejak tadi ditahannya. Setelah melihat penderitaan Abu Bakar ini, Rasulullah segera menghiburnya dengan mengatakan:
“Wahai Abu Bakar, janganlah engkau bersusah hati. Ingatlah, Allah selalu beserta kita.”
Terbukti Allah segera melimpahkan rahmat dan kebahagian-Nya kepada dua figur pilihan itu.
“Itulah kesempatan semalam,” kata Umar lagi, “Yang begitu berharga bagi Abu Bakar sehingga melebihi malam-malam yang dilalui oleh Umar beserta keluarganya. Sedangkan mengenai hari yang sangat berharga dari perilaku Abu Bakar. Ingatlah, wahai Dhabah! ketika Rasulullah Saw. wafat, maka banyak sekali kabilah-kabilah Arab yang murtad seakan tidak ada kekuatan yang akan bisa mengalahkan mereka lagi. Malah banyak dari mereka yang mengatakan: “Kita tetap menjalankan shalat, namun mengenai urusan zakat, sebaiknya kita berhentikan sementara.”
Dalam keadaan kritis seperti ini, aku (Umar) segera saja bertandang menemui Abu Bakar untuk menyampaikan sebuah pendapat yang mungkin bisa menjadikan kondisi akan lebih baik. Ketika itulah aku sampaikan pendapatku:
“Wahai Khalifah Rasulullah Saw, dalam kondisi keamanan belum stabil seperti ini, hendaklah engkau dahulukan langkah, bagaimana agar seluruh hati rakyat menaruh simpati terlebih dahulu pada kepemimpinanmu. Seketika itu Abu Bakar langsung menjawab dengan tegas:
“Adakah kita bersikap begitu garang di masa Jahiliah dulu, namun setelah kita memeluk Islam menjadi begitu lunak seakan tidak mampu berbuat! Dengan alasan apa. aku akan membuat langkah agar mereka simpati kepadaku (dengan membiarkan mereka tidak membayar zakat), padahal sudah tidak ada lagi wahyu yang turun, dan Rasulullah pun sudah wafat. Demi Allah, kalau pun meereka membangkang untuk membayarkan seekor anak onta yang pernah dibayarkan ketika Rasulullah masih hidup, mereka akan segera aku perangi karenanya,” begitu jawab Abu Bakar berapi-api.
“Abu Bakar segera bertindak,” kata Umar lebih lanjut, “Memerangi para pembangkang zakat itu sehingga mereka kembali lagi dan taat pada pemerintahan Islam. Dan terbukti memang Abu Bakar lebih berpihak pada kebenaran daripada diriku, wahai Dhabah.
“Setelah Umar bin Khathab menguraikan dan membandingkan kedua pribadi ini, yakni dirinya dan diri Abu Bakar, kemudian ia segera menulis surat untuk menasihati dan menumpahkan kemarahannya pada Abu Musa Al-Asy’ari yang menjadi gubernur Bashrah ketika itu,” begitu kata Dhabah.
Demikianlah sikap Al-Faruq dalam menghadapi sebuah kenyataan. Yang hak dikatakan hak dan yang batil pun dikatakan batil. Tidak pernah kebenaran dimanipulasi menjadi kebatilan atau sebaliknya ◙
Pengaruh Kezaliman
Seseorang yang menjadi bawahan sebuah rezim yang berbuat zalim, mestilah dirinya berhadapan pada beberapa alternatif di bawah ini. Pertama, seseorang berusaha mendekati mereka. Hal ini merupakan suatu sikap yang amat buruk. Kedua, mereka yang mendekat kepadanya. Kondisi seperti ini keburukannya berada di bawah yang pertama. Ketiga, mereka tidak pernah mengenalnya dan dia juga tidak pernah mengenal mereka. Sikap ini yang dipandang paling selamat. Sebagaimana sinyalemen Rasulullah Saw. mengenai para penguasa zalim itu:
“Barang siapa membuang mereka jauh-jauh, maka dia akan selamat. Dan barang siapa menjauhi mereka, dia akan selamat atau minimal dapat diharapkan keselamatannya. Namun barang siapa yang jatuh dalam dunia mereka, maka ia dari kelompok mereka.”
(HR.At-Thabrani dari Ibnu Abbas).
Berkata pula sahabat Abu Dzarr kepada Salamah:
“Wahai Salamah, janganlah sekali-kali dirimu mendekat pada pintu-pintu penguasa, sebab jika saja kau memperoleh duniawi dari mereka, mereka mestilah telah berhasil menggarong agamamu dalam intensitas yang lebih banyak lagi.”
Pada suatu kesempatan, Umar bin Abdul Aziz memecat seorang pegawai yang pernah menjadi bawahan Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafy selaku panglima yang terkenal zalim itu. Namun segera saja orang tersebut menolak seraya mengatakan:
“Aku menjadi bawahannya tidaklah begitu lama, juga hanya diserahi untuk membenahi masalah-masalah ringan.”
“Cukup memberi pengaruh buruk bagimu dalam menjadi bawahan itu sehari atau dua hari,” sahut Umar dengan tegas sehingga orang tersebut langsung dilepas dari jabatannya.
Dan ketika Az-Zuhry selaku seorang ulama yang cukup harum namanya itu menjadi pegawai istana, maka segera saja seorang kawannya menasihati:
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
“Wahai Az-Zuhry, semoga Allah menyelamatkan diriku dan dirimu dari berbagai fitnah, sebab dalam kondisi bagaimana pun seseorang yang telah mengenalmu itu sekarang lebih patut untuk mendoakan dirimu kepada Allah agar rahmat dan kasih sayang-Nya selalu tercurahkan kepadamu. Kalau dicermati, sekarang dirimu itu telah renta, padahal berbagai nikmat Allah telah banyak kau peroleh, baik itu berupa kefahaman mengenai Kitab Allah atau sunnah-sunnah Nabi-Nya. Mestinya dalam menghadapi pribadi seperti dirimu selaku seorang ulama itu Allah akan mengikat janji sebagaimana apa yang telah disitir dalam Al-Qur’an:
“Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” (Ali Imran: 187 ).
Ketahuilah bahwa sikapmu itu minimal akan membuat senang dan membahagiakan kegundahan penguasa zalim, ini pada akhirnya akan menyeret melegalkan perbuatan aniaya tersebab engkau telah menjadi backing terhadap mereka yang sering tidak menunaikan perkara hak atau tidak meninggalkan kebatilan. Dengan demikian ketika mereka bisa menjaringmu, maka mereka akan menjadikanmu sebagai tumpuan, mereka akan mengitari dirimu dengan berbagai perbuatan aniaya semisal lembu yang berputar di sekitar penggilingan. Tidak cukup itu saja, mereka akan menjadikanmu sebagai jembatan yang dipergunakan untuk menyebarangkan bencana kepada masyarakat. Dirimu dipakai pula sebagai tangga untuk mendongkrak kebiadaban mereka. Bahkan engkau akan segera diperalat untuk menebarkan keraguan pada para ulama lain yang berseberangan dengan penguasa zalim itu. Di samping akan dipasang sebagai pemimpin orang-orang bodoh untuk menghapus kesan buruk diri mereka. Betapa ringan bagi mereka dalam menanggung berbagai kebutuhan hidupmu. Namun betapa besar pengorbananmu. Hasil mereka sangat besar dalam mendulang kredibilitasmu, namun mereka menyusupkan kehancuran terhadap dirimu, utamanya terhadap eksistensi agamamu. Adakah engkau tidak khawatir jika masuk dalam sinyalemen Allah dalam sebuah ayat:
Maka datanglah kepada mereka sebuah generasi yang jelek. Mereka menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan syahwat. Maka mereka kelak akan menemui kehancuran (QS. Maryam: 59 ).
Padahal posisimu ketika hidup sekarang ini adalah masih terikat kontrak untuk beribadah kepada Dia Yang tidak pernah berbuat bodoh. Dia selalu Yang mengawasimu dan tidak pernah lupa. Aku ingatkan, segeralah sembuhkan penyakit yang telah berjangkit pada agamamu itu, aku lihat agamamu sekarang ini telah terserang penyakit kronis. Kemudian persiapkan bekalmu menuju kawasan yang kekal, sebab tampaknya waktu bepergian telah begitu dekat.
Tiadalah akan samar bagi Allah mengenai apa pun yang berada di langit dan di bumi (QS. Ibrahim: 38).
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Begitu pula apa yang dilakukan oleh Hammad bin Salamah. Pada suatu hari Muhammad bin Shalih bertandang ke rumahnya. Dan setelah pintu diketuk, ia dipersilakan masuk ke dalam rumah yang hanya berisi selembar tikar sebagai tempat duduknya dan mushhaf yang ketika itu sedang dibaca serta sebuah almari kecil sebagai tempat kitab-kitabnya dan sebuah bejana tempat air wudhu. Sejenak kami beramah tamah, namun tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk orang. Dan ketika dibuka si tuan rumah, ternyata yang datang adalah seorang putra kerajaaan, yakni Muhammad bin Sulaiman (bin Abdul Malik). Segera saja tuan rumah mempersilakan untuk masuk dan duduk bersama-sama. Lantas Sulaiman mengatakan:
“Wahai guru!, mengapa setiap aku berjumpa dengan tuan guru, hati ini mesti dilanda gusar dan ketakutan,” begitu Sulaiman membuka pertayaan.
“Itu tiada lain karena Rasulullah Saw. pernah mengatakan:
“Jika seorang alim itu hanya mencari ridha Allah ketika mengamalkan ilmunya, maka segala sesuatu akan merasa takut dan gentar terhadapnya. Namun jika saja bermaksud hendak mengumpulkan berbagai harta benda, maka ia akan takut menghadapi segala sesuatu.”
Kemudian Muhammad bin Sulaiman menyodorkan uang sejumlah empat puluh ribu dirham seraya mengatakan:
“Wahai guru, silakan tuan mempergunakan uang tersebut untuk keperluan tuan.”
Tanpa diduga, Hammad bin Salamah mengatakan :
“Hendaklah uang itu segera engkau kembalikan pada orang yang telah engkau rugikan.”
“Demi Allah uang itu dari hasil bagian warisanku, bukan dari arah yang tidak terang,” begitu Muhammad merengek agar uang itu diterima.
“Aku tidak membutuhkannya,” sambung Hammad lagi.
“Kalau begitu silakan tuan mengambil, kemudian tuan bagikan kepada mereka yang membutuhkan,” sahut Sulaiman masih mendesak pula.
“Jika aku yang harus membagikannya, aku khawatir jika diprotes mereka yang tidak mendapat bagian dengan perkataan: “Ternyata Hammad tidak adil dalam membagi kendati dalam bidang yang lain dia tampak mumpuni.” Bagaimana kalau hal itu terjadi? Dengan demikian dia akan terkena dosa, sedangkan saya yang menjadi penyebabnya. Untuk itu segeralah uang itu engkau singkirkan dari tempat ini,” begitu sergah Hammad tak kalah sengit.
Begitulah para ulama salaf dalam menjaga kehormatan, baik yang menyangkut agamanya atau pun harga dirinya sendiri sehingga mereka tampak begitu agung dan mulia serta disegani berbagai lapisan masyarakat ◙
“Barang siapa membuang mereka jauh-jauh, maka dia akan selamat. Dan barang siapa menjauhi mereka, dia akan selamat atau minimal dapat diharapkan keselamatannya. Namun barang siapa yang jatuh dalam dunia mereka, maka ia dari kelompok mereka.”
(HR.At-Thabrani dari Ibnu Abbas).
Berkata pula sahabat Abu Dzarr kepada Salamah:
“Wahai Salamah, janganlah sekali-kali dirimu mendekat pada pintu-pintu penguasa, sebab jika saja kau memperoleh duniawi dari mereka, mereka mestilah telah berhasil menggarong agamamu dalam intensitas yang lebih banyak lagi.”
Pada suatu kesempatan, Umar bin Abdul Aziz memecat seorang pegawai yang pernah menjadi bawahan Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafy selaku panglima yang terkenal zalim itu. Namun segera saja orang tersebut menolak seraya mengatakan:
“Aku menjadi bawahannya tidaklah begitu lama, juga hanya diserahi untuk membenahi masalah-masalah ringan.”
“Cukup memberi pengaruh buruk bagimu dalam menjadi bawahan itu sehari atau dua hari,” sahut Umar dengan tegas sehingga orang tersebut langsung dilepas dari jabatannya.
Dan ketika Az-Zuhry selaku seorang ulama yang cukup harum namanya itu menjadi pegawai istana, maka segera saja seorang kawannya menasihati:
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
“Wahai Az-Zuhry, semoga Allah menyelamatkan diriku dan dirimu dari berbagai fitnah, sebab dalam kondisi bagaimana pun seseorang yang telah mengenalmu itu sekarang lebih patut untuk mendoakan dirimu kepada Allah agar rahmat dan kasih sayang-Nya selalu tercurahkan kepadamu. Kalau dicermati, sekarang dirimu itu telah renta, padahal berbagai nikmat Allah telah banyak kau peroleh, baik itu berupa kefahaman mengenai Kitab Allah atau sunnah-sunnah Nabi-Nya. Mestinya dalam menghadapi pribadi seperti dirimu selaku seorang ulama itu Allah akan mengikat janji sebagaimana apa yang telah disitir dalam Al-Qur’an:
“Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” (Ali Imran: 187 ).
Ketahuilah bahwa sikapmu itu minimal akan membuat senang dan membahagiakan kegundahan penguasa zalim, ini pada akhirnya akan menyeret melegalkan perbuatan aniaya tersebab engkau telah menjadi backing terhadap mereka yang sering tidak menunaikan perkara hak atau tidak meninggalkan kebatilan. Dengan demikian ketika mereka bisa menjaringmu, maka mereka akan menjadikanmu sebagai tumpuan, mereka akan mengitari dirimu dengan berbagai perbuatan aniaya semisal lembu yang berputar di sekitar penggilingan. Tidak cukup itu saja, mereka akan menjadikanmu sebagai jembatan yang dipergunakan untuk menyebarangkan bencana kepada masyarakat. Dirimu dipakai pula sebagai tangga untuk mendongkrak kebiadaban mereka. Bahkan engkau akan segera diperalat untuk menebarkan keraguan pada para ulama lain yang berseberangan dengan penguasa zalim itu. Di samping akan dipasang sebagai pemimpin orang-orang bodoh untuk menghapus kesan buruk diri mereka. Betapa ringan bagi mereka dalam menanggung berbagai kebutuhan hidupmu. Namun betapa besar pengorbananmu. Hasil mereka sangat besar dalam mendulang kredibilitasmu, namun mereka menyusupkan kehancuran terhadap dirimu, utamanya terhadap eksistensi agamamu. Adakah engkau tidak khawatir jika masuk dalam sinyalemen Allah dalam sebuah ayat:
Maka datanglah kepada mereka sebuah generasi yang jelek. Mereka menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan syahwat. Maka mereka kelak akan menemui kehancuran (QS. Maryam: 59 ).
Padahal posisimu ketika hidup sekarang ini adalah masih terikat kontrak untuk beribadah kepada Dia Yang tidak pernah berbuat bodoh. Dia selalu Yang mengawasimu dan tidak pernah lupa. Aku ingatkan, segeralah sembuhkan penyakit yang telah berjangkit pada agamamu itu, aku lihat agamamu sekarang ini telah terserang penyakit kronis. Kemudian persiapkan bekalmu menuju kawasan yang kekal, sebab tampaknya waktu bepergian telah begitu dekat.
Tiadalah akan samar bagi Allah mengenai apa pun yang berada di langit dan di bumi (QS. Ibrahim: 38).
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Begitu pula apa yang dilakukan oleh Hammad bin Salamah. Pada suatu hari Muhammad bin Shalih bertandang ke rumahnya. Dan setelah pintu diketuk, ia dipersilakan masuk ke dalam rumah yang hanya berisi selembar tikar sebagai tempat duduknya dan mushhaf yang ketika itu sedang dibaca serta sebuah almari kecil sebagai tempat kitab-kitabnya dan sebuah bejana tempat air wudhu. Sejenak kami beramah tamah, namun tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk orang. Dan ketika dibuka si tuan rumah, ternyata yang datang adalah seorang putra kerajaaan, yakni Muhammad bin Sulaiman (bin Abdul Malik). Segera saja tuan rumah mempersilakan untuk masuk dan duduk bersama-sama. Lantas Sulaiman mengatakan:
“Wahai guru!, mengapa setiap aku berjumpa dengan tuan guru, hati ini mesti dilanda gusar dan ketakutan,” begitu Sulaiman membuka pertayaan.
“Itu tiada lain karena Rasulullah Saw. pernah mengatakan:
“Jika seorang alim itu hanya mencari ridha Allah ketika mengamalkan ilmunya, maka segala sesuatu akan merasa takut dan gentar terhadapnya. Namun jika saja bermaksud hendak mengumpulkan berbagai harta benda, maka ia akan takut menghadapi segala sesuatu.”
Kemudian Muhammad bin Sulaiman menyodorkan uang sejumlah empat puluh ribu dirham seraya mengatakan:
“Wahai guru, silakan tuan mempergunakan uang tersebut untuk keperluan tuan.”
Tanpa diduga, Hammad bin Salamah mengatakan :
“Hendaklah uang itu segera engkau kembalikan pada orang yang telah engkau rugikan.”
“Demi Allah uang itu dari hasil bagian warisanku, bukan dari arah yang tidak terang,” begitu Muhammad merengek agar uang itu diterima.
“Aku tidak membutuhkannya,” sambung Hammad lagi.
“Kalau begitu silakan tuan mengambil, kemudian tuan bagikan kepada mereka yang membutuhkan,” sahut Sulaiman masih mendesak pula.
“Jika aku yang harus membagikannya, aku khawatir jika diprotes mereka yang tidak mendapat bagian dengan perkataan: “Ternyata Hammad tidak adil dalam membagi kendati dalam bidang yang lain dia tampak mumpuni.” Bagaimana kalau hal itu terjadi? Dengan demikian dia akan terkena dosa, sedangkan saya yang menjadi penyebabnya. Untuk itu segeralah uang itu engkau singkirkan dari tempat ini,” begitu sergah Hammad tak kalah sengit.
Begitulah para ulama salaf dalam menjaga kehormatan, baik yang menyangkut agamanya atau pun harga dirinya sendiri sehingga mereka tampak begitu agung dan mulia serta disegani berbagai lapisan masyarakat ◙
Si Badui yang Pemberani
Pada kurun-kurun awal yang ditengarai Rasulullah sebagai khairul Qurun, tsummal ladzina yaluunahum, tsummal ladzina yalunahum. (periode Rasulullah dan sahabat merupakan generasi terbaik, kemudian mereka yang hidup sesudahnya (tabi’in), kemudian mereka yang hidup sesudahnya lagi (tabi’inat tabi’in). Memanglah pada kurun tersebut tidak ada batas dan jurang pemisah antara pejabat dan rakyat jelata sehingga siapa pun akan leluasa untuk memberi nasihat kepada pihak-pihak yang dirasakan menyalahi aturan yang telah digariskan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Keadaan yang kondusif inilah yang menjadikan tatanan masyarakat begitu dinamis. Pihak penguasa akan segera membenahi kesalahan yang diperbuatnya ketika mendapat teguran, namun anggota masyarakat itu sendiri juga konsekuen untuk mengikuti langkah pemimpinnya jika memang telah sesuai dengan tuntunan. Bukan sebagai masyarakat yang hanya pandai mengkritisi mengenai apa yang tidak sesuai dengan aturan baku, namun ketika masyarakat itu harus melaksanakan kewajibannya, ternyata banyak yang menghindar. Sikap-sikap seperti ini tidak akan menjadikan suasana menjadi tenteram, bahkan sebaliknya malah menyeret pada keadaan yang runyam.
Tersebutlah dalam kisah bahwa seorang badui (padang pasir dan pedusunan) bertandang ke istana Baginda Sulaiman bin Abdul Malik. Dan setelah pembicaraan dimulai, maka Baginda menawarkan agar si badui itu mengutarakan berbagai maksud kepentingannya. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh si badui itu.
“Wahai Amiril Mukminin,” kata si badui, “hamba akan mengutarakan ucapan yang mungkin akan menjadikan berat hati bagi Baginda. Dengan demikian hamba harap Baginda siap menanggungnya, sebab di balik ucapan itu akan mengandung berbagai manfaat yang akan dapat Baginda petik di kemudian hari.”
“Wahai badui!, sikapku selama ini selalu berlapang dada terhadap mereka yang bersifat curang atau terhadap mereka yang sama sekali tidak aku harapkan kebajikannya. Dengan demikian sama sekali tidak akan pernah menjadi beban jika saja orang yang menghadapku itu pribadi sepertimu, yakni komunitas yang sama sekali tidak pernah aku curigai akan berbuat buruk. Maka dari itu utarakan saja apa yang menjadi maumu,” begitu Baginda mempersilakan si badui untuk segera mengutarakan maksudnya.
“Wahai Amiril Mukminin!, setelah aku mencermati keadaan Baginda, ternyata Baginda selalu dikelilingi orang-orang penjilat. Mereka selalu mencari kesempatan untuk menangguk keuntungan materi dari Baginda, malah banyak pula yang rela menjual akhiratnya demi kepentingan sesaat untuk mendapat muka dari Baginda. Banyak pula yang berani menyeberang untuk memuaskan hati Baginda, kendati jelas-jelas akan berseberangan dengan tuntunan Allah yang menjadi penyebab mengundang murka-Nya. Kebanyakan mereka tampak takut jika berhadapan dengan Baginda, namun sekali-kali mereka tidak pernah merasa takut kepada Allah. Jika sikap mereka itu tidak segera dihentikan, hal ini jelas menyeret pada perusakan akhirat dengan umpan penjarahan terhadap duniawi. Untuk itu hendaknya Baginda segera membenahi sikap mereka dengan jalan Baginda tidak mempercayai mereka lagi mengenai urusan-urusan Allah yang menjadi tanggungjawab Baginda. Sebab mereka tidaklah mempedulikan lagi terhadap tanggungjawab itu, apakah bisa terlaksana atau tidak. Di samping itu, kalau Baginda mencermati keadaan ummat, maka mereka banyak yang hidup dalam penderitaan, padahal Baginda akan ditanya di muka Allah nanti mengenai tanggungjawab Baginda dalam mengurusi rakyat, sedangkan rakyat sekali-kali tidak akan ditanya mengenai aktivitas Baginda dalam mengurusi mereka. Dengan demikian hendaklah Baginda tidak hanya memperbaiki keduniaan mereka, sedangkan keadaan akhirat Baginda terbengkelai. Sebab separah-parahnya kerugian yaitu seseorang yang menjual akhiratnya tidak terurus karena sibuk mengurusi dunia orang lain - man baa’a akhiratahu bi dunia ghairihi.”
“Wahai badui, waspadalah dan hati-hatilah dalam mengucap, sebab lisan itu merupakan senjata yang paling tajam,” begitu kata Baginda.
“Apa yang Baginda katakan memang benar, namun seluruh nasihatku itu kelak hanya akan memberi manfaat bagi langkah-langkah Baginda lebih lanjut. Dan sekali-kali tidak akan berpengaruh buruk,” begitu tangkis badui dengan sopan, namun sangat tajam.
Demikian pula apa yang disampaikan Abu Bakrah kepada Muawiyah yang ketika itu sebagai pemegang tampuk khalifah. Pada suatu kesempatan ia mengatakan:
“Wahai Muawiyah, bertakwalah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa setiap malam yang telah engkau lalui, atau siang yang engkau lewati, semua itu jelas memperpendek usiamu sehingga dirimu sedikit demi sedikit mendekati akhirat, dan tidak boleh tidak engkau mesti masuk ke sana. Padahal di belakangmu selalu bersedia sosok yang memburu nyawamu. Ia telah memasang garis finish yang tidak akan bisa engkau lintasi. Setelah aku cermati, betapa cepat larimu menuju garis finish itu, begitu pun pemburu itu hampir-hampir saja bisa menangkapmu. Sadarilah olehmu bahwa apa yang kita alami ini semuanya akan berlalu begitu saja menuju kawasan yang kekal abadi selamanya. Dengan demikian jika perbuatan kita banyak yang baik, maka akan dibalas dengan kebaikan. Namun jika banyak yang buruk, maka akan dibalas dengan keburukan pula. Resapilah apa yang telah aku katakan ini, wahai Muawiyah!,” demikian nasihat Abu Bakrah dengan tanpa tedeng aling-aling.
Begitulah sikap dan tindakan para penyandang ilmu (dahulu!) ketika berjumpa dengan para penguasa. Ilmu mereka begitu mantap dalam menghantar iman, sehingga iman itu pun selalu memberi reaksi positif dalam menghantarkan para penyandangnya untuk selalu menjunjung tinggi sebuah kebenaran. Sebaliknya jika saja yang berada di samping para penguasa itu ulama suu’, kondisi ini malah akan memperparah posisi penguasa itu sendiri. Biasanya ulama suu’ itu akan mencari muka dan menjilat hati para penguasa. Sering pula mencarikan celah-celah hukum yang akan memperingan sebuah tindakan terlarang seorang penguasa, malah hukum-hukum yang perlaku harus dikonversikan (disesuaikan) dengan kehendak hati para penguasa. Bisa pula mereka bertindak sebagaimana seorang ulama yang mukhlis, namun bertendensi lain, bukan demi memperjuangkan kebenaran, namun demi mendapatkan tempat di hati para pendengar dan para penguasa, sehingga banyak ulama sekarang yang sikapnya tidak ubah sebagaimana artis yang dikerumuni fans-fans yang menggandrunginya. Popularitas menjadi tujuan utama. Kalau sikap mereka sudah seperti itu, maka tidak diragukan lagi jelas mengandung dua tipuan. Pertama, orang seperti ini akan menampakkan bahwa tujuannya dalam memberi nasihat itu adalah memperbaiki keadaan dan perilaku publik, padahal nun jauh di relung hatinya menyimpan sebuah maksud agar dirinya dikenal dan popularitasnya terdongkrak. Padahal jika maksud dan tujuannya itu betul-betul mukhlis karena Allah, tentulah jika ada orang lain yang bertindak memperbaiki perilaku publik, dan ternyata dia diterima serta pengaruhnya begitu bagus pada jiwa mereka, orang yang pertama itu mestinya akan bersyukur kepada Allah dengan bertindaknya seseorang yang telah mencukupi kewajibannya. Hal ini dapatlah dimisalkan sebagaimana jika ditemukan si Amir yang sedang sakit dan belum ada orang yang merawatnya. Kemudian si Bakar bertindak merawatnya dan mengadakan terapi secukupnya sehingga sakit si Amir menjadi sembuh. Tentulah jika si Candra itu berhati jujur akan sangat gembira dengan tindakan si B tadi. Namun jika si Candra ini tetap menyangkal bahwa terapi yang dilaksanakan dirinya akan lebih sempurna dan lebih mujarab, maka si Candra ini adalah orang yang tertipu. Begitu pula jika seseorang yang memberi nasihat itu selalu mengatakan bahwa ucapannya lebih bisa diterima masyarakat dari pada yang lain. Asumsi seperti ini adalah salah besar. Kedua, jika saja ia mengatakan bahwa dalam memberi nasihat itu ia bermaksud memberi pertolongan bagi mereka yang terzalimi atau dirugikan, maka anggapan seperti ini keliru pula. Dan di dalamnya akan mengandung tipuan sebagaimana yang pertama tadi.
Demikian uraian yang sedikit ini semoga menjadikan manfaat adanya ◙
Tersebutlah dalam kisah bahwa seorang badui (padang pasir dan pedusunan) bertandang ke istana Baginda Sulaiman bin Abdul Malik. Dan setelah pembicaraan dimulai, maka Baginda menawarkan agar si badui itu mengutarakan berbagai maksud kepentingannya. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh si badui itu.
“Wahai Amiril Mukminin,” kata si badui, “hamba akan mengutarakan ucapan yang mungkin akan menjadikan berat hati bagi Baginda. Dengan demikian hamba harap Baginda siap menanggungnya, sebab di balik ucapan itu akan mengandung berbagai manfaat yang akan dapat Baginda petik di kemudian hari.”
“Wahai badui!, sikapku selama ini selalu berlapang dada terhadap mereka yang bersifat curang atau terhadap mereka yang sama sekali tidak aku harapkan kebajikannya. Dengan demikian sama sekali tidak akan pernah menjadi beban jika saja orang yang menghadapku itu pribadi sepertimu, yakni komunitas yang sama sekali tidak pernah aku curigai akan berbuat buruk. Maka dari itu utarakan saja apa yang menjadi maumu,” begitu Baginda mempersilakan si badui untuk segera mengutarakan maksudnya.
“Wahai Amiril Mukminin!, setelah aku mencermati keadaan Baginda, ternyata Baginda selalu dikelilingi orang-orang penjilat. Mereka selalu mencari kesempatan untuk menangguk keuntungan materi dari Baginda, malah banyak pula yang rela menjual akhiratnya demi kepentingan sesaat untuk mendapat muka dari Baginda. Banyak pula yang berani menyeberang untuk memuaskan hati Baginda, kendati jelas-jelas akan berseberangan dengan tuntunan Allah yang menjadi penyebab mengundang murka-Nya. Kebanyakan mereka tampak takut jika berhadapan dengan Baginda, namun sekali-kali mereka tidak pernah merasa takut kepada Allah. Jika sikap mereka itu tidak segera dihentikan, hal ini jelas menyeret pada perusakan akhirat dengan umpan penjarahan terhadap duniawi. Untuk itu hendaknya Baginda segera membenahi sikap mereka dengan jalan Baginda tidak mempercayai mereka lagi mengenai urusan-urusan Allah yang menjadi tanggungjawab Baginda. Sebab mereka tidaklah mempedulikan lagi terhadap tanggungjawab itu, apakah bisa terlaksana atau tidak. Di samping itu, kalau Baginda mencermati keadaan ummat, maka mereka banyak yang hidup dalam penderitaan, padahal Baginda akan ditanya di muka Allah nanti mengenai tanggungjawab Baginda dalam mengurusi rakyat, sedangkan rakyat sekali-kali tidak akan ditanya mengenai aktivitas Baginda dalam mengurusi mereka. Dengan demikian hendaklah Baginda tidak hanya memperbaiki keduniaan mereka, sedangkan keadaan akhirat Baginda terbengkelai. Sebab separah-parahnya kerugian yaitu seseorang yang menjual akhiratnya tidak terurus karena sibuk mengurusi dunia orang lain - man baa’a akhiratahu bi dunia ghairihi.”
“Wahai badui, waspadalah dan hati-hatilah dalam mengucap, sebab lisan itu merupakan senjata yang paling tajam,” begitu kata Baginda.
“Apa yang Baginda katakan memang benar, namun seluruh nasihatku itu kelak hanya akan memberi manfaat bagi langkah-langkah Baginda lebih lanjut. Dan sekali-kali tidak akan berpengaruh buruk,” begitu tangkis badui dengan sopan, namun sangat tajam.
Demikian pula apa yang disampaikan Abu Bakrah kepada Muawiyah yang ketika itu sebagai pemegang tampuk khalifah. Pada suatu kesempatan ia mengatakan:
“Wahai Muawiyah, bertakwalah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa setiap malam yang telah engkau lalui, atau siang yang engkau lewati, semua itu jelas memperpendek usiamu sehingga dirimu sedikit demi sedikit mendekati akhirat, dan tidak boleh tidak engkau mesti masuk ke sana. Padahal di belakangmu selalu bersedia sosok yang memburu nyawamu. Ia telah memasang garis finish yang tidak akan bisa engkau lintasi. Setelah aku cermati, betapa cepat larimu menuju garis finish itu, begitu pun pemburu itu hampir-hampir saja bisa menangkapmu. Sadarilah olehmu bahwa apa yang kita alami ini semuanya akan berlalu begitu saja menuju kawasan yang kekal abadi selamanya. Dengan demikian jika perbuatan kita banyak yang baik, maka akan dibalas dengan kebaikan. Namun jika banyak yang buruk, maka akan dibalas dengan keburukan pula. Resapilah apa yang telah aku katakan ini, wahai Muawiyah!,” demikian nasihat Abu Bakrah dengan tanpa tedeng aling-aling.
Begitulah sikap dan tindakan para penyandang ilmu (dahulu!) ketika berjumpa dengan para penguasa. Ilmu mereka begitu mantap dalam menghantar iman, sehingga iman itu pun selalu memberi reaksi positif dalam menghantarkan para penyandangnya untuk selalu menjunjung tinggi sebuah kebenaran. Sebaliknya jika saja yang berada di samping para penguasa itu ulama suu’, kondisi ini malah akan memperparah posisi penguasa itu sendiri. Biasanya ulama suu’ itu akan mencari muka dan menjilat hati para penguasa. Sering pula mencarikan celah-celah hukum yang akan memperingan sebuah tindakan terlarang seorang penguasa, malah hukum-hukum yang perlaku harus dikonversikan (disesuaikan) dengan kehendak hati para penguasa. Bisa pula mereka bertindak sebagaimana seorang ulama yang mukhlis, namun bertendensi lain, bukan demi memperjuangkan kebenaran, namun demi mendapatkan tempat di hati para pendengar dan para penguasa, sehingga banyak ulama sekarang yang sikapnya tidak ubah sebagaimana artis yang dikerumuni fans-fans yang menggandrunginya. Popularitas menjadi tujuan utama. Kalau sikap mereka sudah seperti itu, maka tidak diragukan lagi jelas mengandung dua tipuan. Pertama, orang seperti ini akan menampakkan bahwa tujuannya dalam memberi nasihat itu adalah memperbaiki keadaan dan perilaku publik, padahal nun jauh di relung hatinya menyimpan sebuah maksud agar dirinya dikenal dan popularitasnya terdongkrak. Padahal jika maksud dan tujuannya itu betul-betul mukhlis karena Allah, tentulah jika ada orang lain yang bertindak memperbaiki perilaku publik, dan ternyata dia diterima serta pengaruhnya begitu bagus pada jiwa mereka, orang yang pertama itu mestinya akan bersyukur kepada Allah dengan bertindaknya seseorang yang telah mencukupi kewajibannya. Hal ini dapatlah dimisalkan sebagaimana jika ditemukan si Amir yang sedang sakit dan belum ada orang yang merawatnya. Kemudian si Bakar bertindak merawatnya dan mengadakan terapi secukupnya sehingga sakit si Amir menjadi sembuh. Tentulah jika si Candra itu berhati jujur akan sangat gembira dengan tindakan si B tadi. Namun jika si Candra ini tetap menyangkal bahwa terapi yang dilaksanakan dirinya akan lebih sempurna dan lebih mujarab, maka si Candra ini adalah orang yang tertipu. Begitu pula jika seseorang yang memberi nasihat itu selalu mengatakan bahwa ucapannya lebih bisa diterima masyarakat dari pada yang lain. Asumsi seperti ini adalah salah besar. Kedua, jika saja ia mengatakan bahwa dalam memberi nasihat itu ia bermaksud memberi pertolongan bagi mereka yang terzalimi atau dirugikan, maka anggapan seperti ini keliru pula. Dan di dalamnya akan mengandung tipuan sebagaimana yang pertama tadi.
Demikian uraian yang sedikit ini semoga menjadikan manfaat adanya ◙
Kondisi Hati
Hati para kekasih Allah itu seringkali dalam menggapai kedekatannya kepada Tuhan harus dengan sebuah media yang dianggapnya efektif. Sebagaimana lagu dan syair ketuhanan. Jadi mediator yang paling berkesan, malah sering bukan melalui Al-Qur’an atau pun dengan mendengarkan pidato dan nasihat-nasihat yang lain.
Dikisahkan dari Abul Hasan Ad-Darraj bahwa pada suatu hari aku berangkat dari Baghdad bertandang ke kota Ray menuju rumah Syeikh Yusuf bin Husein Ar-Razy yang berupakan seorang ulama terkenal, di mana selama ini aku belum pernah sekalipun melihat sosok tubuhnya atau pun mendengarkan fatwa-fatwanya secara langsung. Namun setelah sampai di kota Ray, aku pun segera bertanya pada masyarakat kota itu mengenai keberadaan beliau. Betapa mengherankan, orang-orang mengatakan:
“Untuk apa kamu bertandang dan mengunjungi seorang penyandang predikat zindiq?,” begitu ucap mereka.
Dari informasi masyarakat itu dadaku terasa sesak sekali sehingga segera saja aku berkehendak untuk segera kembali ke Baghdad. Namun hati kecilku memberontak, sebab perjalanan yang telah aku tempuh memang begitu jauh, akankah aku harus kembali tanpa membawa hasil apa-apa? Selanjutnya, perjalanan aku teruskan saja sembari bertanya di sepanjang jalan mengenai keberadaan Yusuf bin Husein. Pada akhirnya aku pun dapat menemukan alamatnya dengan jelas sehingga aku berhasil memasuki halaman rumahnya. Setelah aku mengucapkan salam beberapa kali, ternyata rumah itu dalam keadaan kosong sehingga aku segera mencari informasi pada tetangga sebelah rumah itu, mereka mengatakan bahwa ia sekarang sedang berada di masjid. Segera saja aku menuju masjid yang dimaksud. Benar saja ia berada di masjid itu dalam keadaan sedang duduk di mihrab menghadapi seorang lelaki yang membawa sebuah mushhaf, dan Yusuf bin Husein sendiri asyik membaca mushhaf. Pandanganku segera aku arahkan ke sosok tubuhnya. Ternyata ia merupakan seorang yang begitu tampan, dengan janggut yang sangat indah. Maka segera saja aku ucapkan salam kepadanya, dan segera mendapat jawaban yang memuaskan.
“Anda berasal dari mana?” begitu Syeikh Yusuf bin Husein memulai pembicaraan.
“Dari Baghdad, tuan!,” sahut Abul Hasan.
“Apa yang mendorong dirimu berpayah-payah datang ke sini?,” sambung Syeikh Yusuf lagi.
“Hanya untuk berziarah dan mengucapkan salam kepada tuan,” tukas Abul Hasan lagi.
“Bagaimana pendapatmu jika saja ada seseorang yang mengatakan kepadamu:
“Segeralah engkau pergi dari depan Yusuf bin Husein! Jika saja engkau mau memperturutkan perintahku, engkau akan aku beri hadiah sebuah rumah lengkap dengan pelayannya sekali.” Adakah tawaran itu bisa menghentikan langkahmu untuk datang di hadapanku,” begitu ucap Syeikh Yusuf seakan menanggung beban yang begitu berat.
“Untunglah aku tidak mendapat ujian seberat itu. Dan jika saja Allah mengujiku seperti itu, aku sendiri belum mengerti bagaimana aku harus menentukan sikap,” sergah Abul Hasan kembali.
“Adakah kau bisa bepuisi?,” tanya Syeikh Yusuf.
“Ya, aku bisa kendati tidak begitu pandai,” tukas Abul Hasan lagi.
“Coba, segera lantunkan!,” Syeikh Yusuf mendesak.
“Akupun berucap:
Engkau pasang penyekat antara Aku.
Padahal jika saja bulat tekadmu
Engkau ‘kan robohkan penghalang itu
Aku usahakan bertemu denganmu
Namun ucapanmu hanyalah andaikan
Alangkah rapuhnya sebuah ucapan
Jika yang keluar itu hanya andaikan
“Ketika mendengar puisi ini, segera saja Syeikh Yusuf menutup mushhafnya, dan setelah aku lihat ternyata kedua belah pipinya telah dipenuhi cucuran air mata. Sebuah tangis yang betul-betul mengundang iba, sehingga jubahnya basah kuyup karenanya.”
“Wahai saudaraku, dalam puisi itu engkau memperolok penduduk Ray yang telah menuduhku sebagai seorang zindiq (kafir). Sebenarnya sejak pagi tadi sampai sekarang ini aku telah berusaha membaca mushhaf secara sungguh-sungguh dengan harapan hatiku akan timbul sebuah intuisi (wijdan), dan ternyata belum dapat aku usahakan dan air mataku juga masih terasa kesat. Namun setelah engkau bacakan puisi itu, seakan kiamat telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupanku.”
Menurut Al-Ghazaly, kendati sebuah hati itu telah dipenuhi oleh cinta Allah (hubb lillah), belum tentu pemicunya itu harus dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, malah sering lebih manjur dipicu dengan melantunkan sebuah syair atau pun mendendangkan lagu. Hal ini tiada lain karena dalam syair atau pun lagu itu sengaja digubah dengan rima yang seimbang atau pun cengkok-cengkok syahdu dan bahasa yang sangat menyentuh perasaan. Sedangkan kalimat yang ada dalam Al-Qur’an kendati mengandung i’jaz di mana manusia tidak akan mampu untuk menandinginya, namun kebanyakan susunannya keluar dari uslub kalimat yang dibiasakan oleh kebanyakan orang. Hal ini yang menjadi penyebab tangis Syeikh Yusuf tadi, ketika itu lubuk hatinya dipenuhi tanda tanya, mengapa ketika dibacakan Al-Qur’an hatinya belum juga mencair dan merasa nikmat yang dibuktikan dengan aliran air mata. Namun anehnya setelah mendengar sebuah puisi yang nota bene tidak akan dicatat sebagai ibadah ketika membacanya, namun hatinya begitu cepat tanggap dan tersentuh perasaannya? Syeikh Yusuf menangisi kebimbangannya itu.
Pernah pada suatu kali ada seseorang yang bertandang ke rumah Syeikh Israfil selaku guru Dzin Nun Al-Mishriy. Ketika itu Syeikh Israfil didapati sedang asyik menggali tanah dengan jari-jarinya sembari dengan samar mendendangkan sebuah lagu sya’ir. Setelah menyadari datangnya seorang lelaki itu, ia segera mendongakkan kepala seraya mengatakan:
“Adakah kau bisa mendendangkan sebuah lagu yang mengantarkan kepada Tuhan?”
“Tidak, suaraku tidak mendukung wahai guru!,” begitu jawab lelaki itu.
“Kalau demikian dadamu kosong, kau tidak memiliki sebuah hati,” begitu guru itu memojokkan.
Hal ini jelas mengisyaratkan bahwa syair atau pun lagu-lagu indah akan bisa menggerakkan sebuah hati dengan begitu cepat bisa mendekat kepada Allah, dan belum tentu sarana-sarana yang lain akan bisa berfungsi sedemikian rupa melampaui lagu-lagu atau syair tersebut. Namun kebanyakan orang jika mendendangkan lagu cinta dan sejenisnya, hati mereka hanya bertaut sesama makhluk atau lawan jenis yang mereka gandrungi. Betapa jika saja kecintaan seperti itu di arahkan kepada Allah, tentulah banyak pribadi-pribadi yang menjadi auliya’ dan kekasih Allah. Sayang memang… ◙
Dikisahkan dari Abul Hasan Ad-Darraj bahwa pada suatu hari aku berangkat dari Baghdad bertandang ke kota Ray menuju rumah Syeikh Yusuf bin Husein Ar-Razy yang berupakan seorang ulama terkenal, di mana selama ini aku belum pernah sekalipun melihat sosok tubuhnya atau pun mendengarkan fatwa-fatwanya secara langsung. Namun setelah sampai di kota Ray, aku pun segera bertanya pada masyarakat kota itu mengenai keberadaan beliau. Betapa mengherankan, orang-orang mengatakan:
“Untuk apa kamu bertandang dan mengunjungi seorang penyandang predikat zindiq?,” begitu ucap mereka.
Dari informasi masyarakat itu dadaku terasa sesak sekali sehingga segera saja aku berkehendak untuk segera kembali ke Baghdad. Namun hati kecilku memberontak, sebab perjalanan yang telah aku tempuh memang begitu jauh, akankah aku harus kembali tanpa membawa hasil apa-apa? Selanjutnya, perjalanan aku teruskan saja sembari bertanya di sepanjang jalan mengenai keberadaan Yusuf bin Husein. Pada akhirnya aku pun dapat menemukan alamatnya dengan jelas sehingga aku berhasil memasuki halaman rumahnya. Setelah aku mengucapkan salam beberapa kali, ternyata rumah itu dalam keadaan kosong sehingga aku segera mencari informasi pada tetangga sebelah rumah itu, mereka mengatakan bahwa ia sekarang sedang berada di masjid. Segera saja aku menuju masjid yang dimaksud. Benar saja ia berada di masjid itu dalam keadaan sedang duduk di mihrab menghadapi seorang lelaki yang membawa sebuah mushhaf, dan Yusuf bin Husein sendiri asyik membaca mushhaf. Pandanganku segera aku arahkan ke sosok tubuhnya. Ternyata ia merupakan seorang yang begitu tampan, dengan janggut yang sangat indah. Maka segera saja aku ucapkan salam kepadanya, dan segera mendapat jawaban yang memuaskan.
“Anda berasal dari mana?” begitu Syeikh Yusuf bin Husein memulai pembicaraan.
“Dari Baghdad, tuan!,” sahut Abul Hasan.
“Apa yang mendorong dirimu berpayah-payah datang ke sini?,” sambung Syeikh Yusuf lagi.
“Hanya untuk berziarah dan mengucapkan salam kepada tuan,” tukas Abul Hasan lagi.
“Bagaimana pendapatmu jika saja ada seseorang yang mengatakan kepadamu:
“Segeralah engkau pergi dari depan Yusuf bin Husein! Jika saja engkau mau memperturutkan perintahku, engkau akan aku beri hadiah sebuah rumah lengkap dengan pelayannya sekali.” Adakah tawaran itu bisa menghentikan langkahmu untuk datang di hadapanku,” begitu ucap Syeikh Yusuf seakan menanggung beban yang begitu berat.
“Untunglah aku tidak mendapat ujian seberat itu. Dan jika saja Allah mengujiku seperti itu, aku sendiri belum mengerti bagaimana aku harus menentukan sikap,” sergah Abul Hasan kembali.
“Adakah kau bisa bepuisi?,” tanya Syeikh Yusuf.
“Ya, aku bisa kendati tidak begitu pandai,” tukas Abul Hasan lagi.
“Coba, segera lantunkan!,” Syeikh Yusuf mendesak.
“Akupun berucap:
Engkau pasang penyekat antara Aku.
Padahal jika saja bulat tekadmu
Engkau ‘kan robohkan penghalang itu
Aku usahakan bertemu denganmu
Namun ucapanmu hanyalah andaikan
Alangkah rapuhnya sebuah ucapan
Jika yang keluar itu hanya andaikan
“Ketika mendengar puisi ini, segera saja Syeikh Yusuf menutup mushhafnya, dan setelah aku lihat ternyata kedua belah pipinya telah dipenuhi cucuran air mata. Sebuah tangis yang betul-betul mengundang iba, sehingga jubahnya basah kuyup karenanya.”
“Wahai saudaraku, dalam puisi itu engkau memperolok penduduk Ray yang telah menuduhku sebagai seorang zindiq (kafir). Sebenarnya sejak pagi tadi sampai sekarang ini aku telah berusaha membaca mushhaf secara sungguh-sungguh dengan harapan hatiku akan timbul sebuah intuisi (wijdan), dan ternyata belum dapat aku usahakan dan air mataku juga masih terasa kesat. Namun setelah engkau bacakan puisi itu, seakan kiamat telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupanku.”
Menurut Al-Ghazaly, kendati sebuah hati itu telah dipenuhi oleh cinta Allah (hubb lillah), belum tentu pemicunya itu harus dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, malah sering lebih manjur dipicu dengan melantunkan sebuah syair atau pun mendendangkan lagu. Hal ini tiada lain karena dalam syair atau pun lagu itu sengaja digubah dengan rima yang seimbang atau pun cengkok-cengkok syahdu dan bahasa yang sangat menyentuh perasaan. Sedangkan kalimat yang ada dalam Al-Qur’an kendati mengandung i’jaz di mana manusia tidak akan mampu untuk menandinginya, namun kebanyakan susunannya keluar dari uslub kalimat yang dibiasakan oleh kebanyakan orang. Hal ini yang menjadi penyebab tangis Syeikh Yusuf tadi, ketika itu lubuk hatinya dipenuhi tanda tanya, mengapa ketika dibacakan Al-Qur’an hatinya belum juga mencair dan merasa nikmat yang dibuktikan dengan aliran air mata. Namun anehnya setelah mendengar sebuah puisi yang nota bene tidak akan dicatat sebagai ibadah ketika membacanya, namun hatinya begitu cepat tanggap dan tersentuh perasaannya? Syeikh Yusuf menangisi kebimbangannya itu.
Pernah pada suatu kali ada seseorang yang bertandang ke rumah Syeikh Israfil selaku guru Dzin Nun Al-Mishriy. Ketika itu Syeikh Israfil didapati sedang asyik menggali tanah dengan jari-jarinya sembari dengan samar mendendangkan sebuah lagu sya’ir. Setelah menyadari datangnya seorang lelaki itu, ia segera mendongakkan kepala seraya mengatakan:
“Adakah kau bisa mendendangkan sebuah lagu yang mengantarkan kepada Tuhan?”
“Tidak, suaraku tidak mendukung wahai guru!,” begitu jawab lelaki itu.
“Kalau demikian dadamu kosong, kau tidak memiliki sebuah hati,” begitu guru itu memojokkan.
Hal ini jelas mengisyaratkan bahwa syair atau pun lagu-lagu indah akan bisa menggerakkan sebuah hati dengan begitu cepat bisa mendekat kepada Allah, dan belum tentu sarana-sarana yang lain akan bisa berfungsi sedemikian rupa melampaui lagu-lagu atau syair tersebut. Namun kebanyakan orang jika mendendangkan lagu cinta dan sejenisnya, hati mereka hanya bertaut sesama makhluk atau lawan jenis yang mereka gandrungi. Betapa jika saja kecintaan seperti itu di arahkan kepada Allah, tentulah banyak pribadi-pribadi yang menjadi auliya’ dan kekasih Allah. Sayang memang… ◙
Langganan:
Postingan (Atom)
