Melihat penderitaan Rasullah Saw. dan kaum Muslimin yang terisolir di Syi’ib (kawasan di kaki gunung) dari komunitas kaumnya, maka karena sudah tidak tahan lagi, Zuhair bin Umaiyah beserta kawan-kawannya dari pihak Quraisy sendiri sepakat untuk mencabut piagam pemboikotan yang kejam itu. Mula-mula Abu Jahal memprotes tidak menyetujui, namun pada akhirnya mengalah dan bungkam berhadapan dengan sikap Zuhair yang keras dan tegas dan didukung oleh lima orang kawannya.
Sejak itu kaum Muslimin terlepas dari pemboikotan dan boleh kembali ke tengah masyarakat, boleh mengadakan jual beli atau perkawinan dan berbagai aktivitas lainnya setelah tiga tahun mengalami kehidupan di celah gunung dengan menanggung kelaparan dan penderitaan.
Tetapi orang-orang Quraisy kembali merasa jengkel dengan kegiatan Rasulullah Saw. yang menyebarkan dakwah Islam seperti sediakala, bahkan lebih giat lagi. Permusuhan dan dendam lama tidak dapat dielakkan lagi. Orang-orang Quraisy terus menerus mengganggu dan merintangi perjuangan Rasulullah Saw. Pada hari-hari selanjutnya, pihak Quraisy mendapatkan angin segar ketika tahun itu juga Rasulullah kehilangan dua orang yang sangat dicintainya dan yang selalu mendukung perjuangannya..
Peristiwa menyedihkan ini terjadi beberapa bulan setelah terhapusnya piagam pemboikotan, yakni pada tahun ke 10 dari Kenabian. Abu Thalib yang telah berumur 87 tahun, selaku paman yang dihormatinya dan selalu melindunginya meninggal pada tanggal, 12 Ramadhan 620 M. Belum lagi habis kesedihannya, tiga hari kemudian, yakni tanggal, 15 Ramadhan, 10 Kenabian, Siti Khadijah selaku isteri yang sangat dicintainya juga meninggal dunia dalam usia 65 tahun. Maka tahun itu disebut ‘Amul Huzni atau tahun kesedihan.
Tidak mengherankan jika kaum Quraisy semakin menjadi-jadi dalam menghalangi dakwah beliau. Namun Rasulullah semakin menabahkan hatinya dan semakin membaja tekadnya, sebab beliau telah meyakinkan bahwa yang diperjuangkan itu sebuah kebenaran. Bukan memperjuangkan perut, pangkat atau pun kekuasaan.
Lihatlah ketika Abu Lahab, Hakam bin Ash dan Uqbah bin Abi Muith menimpakan kotoran-kotoran di tubuh Rasulullah Saw. ketika beliau melakukan shalat. Perlakuan seperti itu dihadapinya dengan sabar tanpa dendam. Pada kesempatan yang lain ketika beliau sedang shalat juga, beliau dicekik lehernya hingga matanya terbelalak. Untung segera ada Abu Bakar yang menolongnya. Pernah pula seorang pandir dari suku Quraisy mencegat Rasulullah di tengah jalan, kemudian menyiramkan abu panas ke tubuh Rasulullah, namun beliau hanya diam dan terus berjalan pulang. Dan ketika sampai di rumah, seorang putrinya yang bernama Fatimah membersihkannya sambil menangis. Namun Rasulullah malah menghibur putrinya itu dengan kalimat yang amat terkenal :
“Janganlah menangis, anakku, Allah akan melindungi ayahmu.”
Karena berbagai tekanan dahsyat kaumnya itu, akhirnya beliau mempunyai inisiatif untuk pergi ke Thaif, menemui kabilah Tsaqif untuk mencari dukungan dan harapan agar mereka sudi menerima Islam. Thaif terletak kira-kira 60 Km. di arah timur laut kota Makkah. Kabilah Tsaqif itu sendiri masih termasuk famili yang dekat dengan Rasulullah. Kekuasaan di Thaif ketika itu dipegang oleh tiga orang dari anak Amr bin Umair bin Auf Ats-Tsaqafi. Mereka adalah Kinanah yang bergelar Abu Yalil, Mas’ud dengan gelar Abu Kulal dan Habib.
Rasulullah Saw. pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Namun setelah sampai di sana, harapan beliau tinggal harapan belaka, sebab mereka menolak dengan cara yang kasar sekali. Mereka mendustakan Rasulullah. Dengan angkuhnya pula, mereka bersumpah akan melepas kelambu Ka’bah dan melemparkannya jika benar Allah telah mengutusnya. Kendati sampai puncak pergolakan itu, Rasulullah masih berharap kebaikan hati mereka agar kedatangannya itu dirahasiakan. Sebab jika saja orang-orang Quraisy mendengarnya pasti akan mengejeknya habis-habisan.
Permintaan Rasulullah itu ternyata juga tidak diperhatikan oleh mereka. Bahkan mereka menyoraki beliau dan melemparinya dengan batu. Kaki Rasulullah pun mengucurkan darah dengan derasnya hingga kesulitan berjalan. Sementara itu Zaid bin Haritsah juga menderita luka yang parah. Ketika itulah Jibril As datang diutus Allah menawarkan apa yang dikehendaki Rasulullah Saw. niscaya akan segera diperkenankan-Nya. Karena berliau berjiwa besar, ketika itu malah berdo’a:
“Ya Allah, berilah petunjuk kaumku, karena sesungguhnya mereka itu belum mengerti.”
Pada akhirnya Rasulullah duduk beristirahat di dalam kebun milik dua orang bersaudara, Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin rabi’ah. Kedua bersaudara itu sangat terharu melihat nasib yang menimpa Rasulullah Saw. Maka segera mereka mengutus sahayanya yang bernama Addas yang beragama Nasrani itu untuk memberikan buah anggur kepadanya. Setelah terjadi percakapan sebentar, Addas sangat tertarik dan menghormati Rasulullah Saw sekalipun tidak masuk Islam.
Sebelum Utbah dan Syaibah melihat Rasulullah berlindung dalam kebun mereka, Rasulullah telah mengucapkabn sebuah do’a yang terkenal dengan do’a Thaif:
“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuan dan kehinaanku di hadapan para manusia. Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah pelindungku. Kepada siapa hendak Kau serahkan diriku. Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku. Asalkan saja Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak akan peduli, sebab sesungguhnya sangat luas nikmat yang telah Engkau limpahkan padaku. Aku berlindung kepada Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya telah membawa kebaikan dunia dan akherat dari pada murka-Mu yang Engkau timpakan padaku. Eengkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau pula.”
Setelah satu bulan di Thaif dengan menanggung penderitaan dan penghinaan, Rasulullah dan Zaid bin Haritsah kembali ke Makkah.
Rangkaian seluruh peristiwa ini mendekati tahun ke 11 Kenabian. Pada akhirnya beliau mendapatkan kehormatan dan mengalami peristiwa dahsyat yang sangat menentukan dalam sejarah Islam, yaitu Isra’ dan Mi’raj ◙
Kamis, 31 Desember 2009
Pohon Sadranan
Sebuah desa di pagi itu tampak begitu asri. Masyarakat berlalu-lalang, sebagian mereka banyak yang pergi ke sawah dan ladangnya, banyak pula yang menuju ke pasar memperjualbelikan barang-barang hasil bumi mereka, anak-anak pun mulai banyak yang berangkat ke sekolah. Anehnya, di kampung itu tidak sebuah masjid atau pun tempat ibadah lain yang berada di sana, sehingga kehidupan religius di situ tampak kering. Ternyata mereka hanya asyik memburu kehidupan duniawi dengan tanpa mementingkan kehidupan yang lebih kekal lagi, yakni keabadian ukhrawi.
Sebenarnya kepincangan ruhani ini telah lama direspon oleh seorang lelaki yang menjadi warga desa itu pula, namun sampai kini ia belum bertindak secara maksimal. Kehidupan warga itu ternyata bertumpu pada sebuah pohon besar yang sering mereka puja, mereka beri sesajen dan mereka bakari menyan dan berbagai ubo rampi yang menurut keyakinan mereka sebagai prasyarat agar apa yang menjadi maksud kehidupan mereka berhasil. Kini telah terbukti bahwa kehidupan mereka bertumpu pada keyakinan yang salah, keyakinan paganisme. Padahal segala apa pun yang terwujud di persada ini, baik mengenai kehidupan, kematian, datangnya manfaat, mudharat, ekbahagiaan, penderitaan, itu semua hanya Allah yang menciptakan. Tidak ada kekuatan lain yang akan bisa menandinginya. Sedangkan jika syetan mengaku bisa mendatangkan semuanya itu, itu hanya pengakuannya saja untuk menyesatkan kehidupan manusia agar bisa dijadikan jembatan atau sahabatnya menuju neraka yang kekal abadi selamanya.
“Untuk menyelamatkan keyakinan warga desa itu, tindakan pertama,” kata lelaki tersebut, “Adalah dengan membabat habis pohon pujaan itu, sesuai dengan keyakinannya bahwa menghilangkan kemungkaran harus diprioritaskan daripada menghasilkan kemaslahatan atau kebajikan.”
Kini dengan niat yang mukhlis dia mulai mempersiapkan peralatan untuk menebang pohon. Ia sandarkan niat itu demi mengagungkan agama tauhid. Ia bulatkan tekad untuk mengajak kaumnya agar bersama-sama menuju surga Allah.
Pada suatu malam, ia pun berusaha mewujudkan maksudnya itu dengan mengajak tetangga kiri-kanan untuk bertauhid, yang kemudian baru diringi dengan berbagai ibadah sebagai bukti atas kesaksian mereka. Namun terbukti tidak mendapatkan tanggapan yang memadai, malah olokan yang sering keluar dari ucapan mereka. Hal ini malah sebagai pemicu yang kuat untuk mewujudkan maksud lelaki itu segera menebang pohon sentral paganisme atau perbuatan syirik yang menurut Allah merupakan dosa yang tidak akan bisa diampuni, berlainan dengan dosa-dosa selain syirik, yang Dia janjikan masih bisa diampuni jika dikehendaki-Nya.
Siang hari, ketika matahari sedang garang-garangnya membakar bumi, lelaki itu berangkat dengan membawa berbagai peralatan menuju ke pohon itu. Ketika di perjalanan itulah dia disapa seseorang:
“Wahai tuan, kiranya ke mana engkau hendak pergi!,” begitu sapaan itu terasa amat halus di telinga.
Dengan sopannya lelaki itu pun menjawab:
“Aku hendak menebang pohon sesembahan masyarakat. Pohon itu telah menyesatkan keyakinan masyarakat sehingga Tuhan malah dienyahkan, mencukupkan diri dengan kemauan Iblis.”
Mendapat jawaban sedemikian itu, si penanya langsung mengatakan:
“Aku sendiri adalah Iblis yang menjadi pendukung penyembahan itu, hendaklah tuan mengurungkan niat itu, sebelum tuan menemui bencana dalam kehidupan,” begitu Iblis mulai mempertakuti.
Suasana mulai memanas, sang Iblis menghendaki agar lelaki itu segera balik kucing mengurungkan niatnya, sedangkan lelaki ityu tetap ngotot mempertahankan prinsipnya. Iblis mengatakan pula:
“Biarkan saja pohon itu berdiri, asal kamu tidak ikut-ikutan menyembah, itu tidak syirik.”
Ucapan ini segera ditanggapi:
“Membiarkan kemungkaran dalam kondisi masih bisa mengubahnya adalah laksana menyepakati atas keberlangsungan kemungkaran itu sendiri. Ia sama saja dengan membiarkan dosa berlangsung dengan tanpa pihak yang memberhentikannya. Dan orang yang bisa menghentikan, namun enggan berbuat adalah sama-sama memndapatkan dosa,” begitu kilah lelaki ersebut.
Mendapat jawababan seperti ini, Iblis tampaknya hilang kesabarannya. ia banting lelaki itu, namun ternyata ia bukan lelaki sembarangan, silatnya tampak mumpuni, kini kedua pihak itu saling mengincar peluang agar segera dapat menghabisi lawannya. Setelah beberapa saat, terbukti pedang dan peralatan bekelai keduanya kini sudah tidak bisa dipergunakan lagi, patah-patah dan remuk. Maka keduanya pun sepakat untuk berduel dengan tangan kosong. kali inilah baru terbukti bahwa Iblis itu pada pihak yang keok, ia menderita luka yang cukup parah, kendati pun tidak akan menemui ajal sampai nanti datang waktu yang dijanjikan.
kalah dengan fisik, kini Iblis memutar otak yang pada biasanya sebagai senjata pamungkas untuk memperdayai manusia. Ia pun mengatakan:
“Tuan, saya mengaku kalah, untuk itu kini aku akan berusaha untuk menjadi sahabat tuan yang baik. Begini tuan, setiap aku akan sanggup untuk menyediakan kebutuhan hidup tuan, aku sanggub menjadi pelayan tuan, sanggup pula mengerjakan apa pun yang menjadi perintah tuan, terutama pada setiap pagi aku akan mepersiapkan uang untuk keperluan tuan, kendati pun tidak besar jumlahnya, hanya empat dinar tuan. Uang itu bisa tuan dapatkan setiap pagi di bawah tikar tempat tuan melaksanakan shalat Shubuh, itu setiap pagi tuan,” begitu kata Iblis. Padahal satu keping dinar saja akan sama dengan emas 12 gram lebih. Taruh saja jika satu gram seharga duaratus ribu rupiah, bukankah akan berjumlah delapan ratus ribu rupiah. Bisa-bisa malah lebih, sampai satu juta.
Mendengar tawaran Iblis sedemikian ini, lelaki itu tampak menghentikan serangannya, ia memikir-mikir, dan ujung-ujungnya ternyata ia mengatakan: “Ya,ya,ya….
Ironis memang, ternyata ketegaran iman yang menyala-nyala itu ketika berhadapan dengan uang, iman menjadi lunglai, duniawi terbukti menjadi senjata yang ampuh bagi mereka yang tidak pernah mengenal uang besar. Matanya menjadi hijau ketika berhadapan dengan duit. Dari peristiwa itu kita dapat menarik kesimpulan, mestinya dalam memperjuangkan agama Allah ini, seorang tokoh harus memikirkan pula kehidupan duniawi agar tidak silau pada pihak lain yang bergelimang dengan uang. Tidak pula berkecil hati bila pihak musuh tampak tebal kantungnya. Namun perihal ini memang amat sulit dilakukan, hanya mudah diucapkan, sehingga diakui pula oleh al-Ghazali yang mengatakan bahwa antara dunia dan akhirat adalah laksana timur dan barat. Jika Anda pergi ke barat, maka akan menjauhi belahan timur. Sebaliknya jika Anda pergi ke timur, maka akan menjauhi belahan barat. dari itu kita banyak melihat orang yang dalam agamanya, namun amat sulit kehidupannya. Sedangkan orang yang luas kehidupannya, pada lazimnya tidak mengerti urusan agama, atau kehidupan religius mereka teramat dangkal. Untuk menggabungkan keduanya, sebagaimana dalam do’a atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, memang sulitnya bukan main. Perlu siasat yang lebih cermat dan kemauan yang prima agar bisa menggapainya. Perlu pula persiapan yang matang sejak dini.
Akan halnya lelaki tadi, setelah mendapat janji Iblis, ia pun pulang dengan hati berbunga-bunga. Ia tidak memikirkan lagi, dari mana Iblis mendapatklan uang, apakah itu uang halal atau uang haram, adakah Iblis pernah bekerja membanting tulang untuk mendapatkan uang? Bukankah ia mesti mencuri dengan mengutus para tuyul bawahannya!. Ia tidak memikirkan sejauh itu, yang semua itu tersebab himpitan ekonomi.
Di pagi hari setelah menunaikan shalat Shubuh, ia pun membuka alas shalatnya, ternyata memang benar, uang dinar sebanyak empat keping bersinar menghijaukan matanya. Betapa girang lelaki itu mendapatkan uang yang selama ini pada biasanya hanya memiliki uang receh. Sejak pagi ia pun sibuk melengkapi kebutuhan rumah, dari peralatan dapur sampai perihal kecil lainnya. Kini kehidupannya mulai berubah drastis. Dari kondisi zuhud yang terasa amat menyiksa beralih kapada kehidupan konsumtif yang menjanjikan kebahagiaan sesaat. Di rumahnya mulai ada kendaraan yang nongkrong, dan segala perabot mewah pun bertengger gagah di dalamnya.
Hal ini dijalaninya dalam beberapa minggu. namun tampaknya, kini Iblis mulai jemu untuk mengirimkan uang setiap hari, ia mulai mengingkari traktat yang telah disepakati antara keduanya, karena memang tidak bermeterai. Pagi-pagi sekali, setelah melaksanakan shalat Shubuh, lelaki itu pun membuka lagi alas shalatnya, namun betapa terkejutnya, ia tidak mendapatkan lagi uang upeti yang pada biasanya ia peroleh. Amarahnya pun menggelegak, dengan sumpah serapah ia segera pergi lagi dengan membawa peralatan penebangan pohon menuju tempat sesembahan yang selama ini telah menguntungkannya pula. Dan di tengah jalan, ia pun segera dihadang Iblis dengan pertanyaan garang:
“Akan kau kemanakan langkah kakimu?”
“Kau kini sebagai penipu, uang itu sudah tidak aku temukan di bawah alas shalatku,” begitu jawab lelaki yang kini berpakaian jin belel dan tampak gaul.
Tiba-tiba saja Iblis menyerang dengan begitu cepat sehingga lelaki itu pun menghindar dari sabetan pedangnya. Keduanya kini terlibat pada pergulatan yang seru sampai persenjataan masing-masing pihak patah semuanya dengan tidak ada pihak yang terkalahkan. Namun Iblis kini tampak berlari menjauh, lelaki itu mengiranya sebagai tanda kekalahan, tetapi ternyata ia kembali bagaikan domba yang mundur untuk melibas lawannya. Lelaki itu terlengah, kini ia dapat dicekik Iblis sampai matanya terbeliak. Segera saja lelaki itu mngangkat tangannya sebagai tanda keok, sebelum nyawanya tidak tertolong. Maih dengan menahan rasa sakit, lelaki itu mengatakan: “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”
Dengan bangga Iblis menjawab:
“Kemenanganmu dulu, tiada lain karena niatmu yang pertama adalah ikhlas karena Allah. dalam kondisi seperti itu, siapa pun yang menghadapi kekuatanmu, tentulah akan segera sirna dan binasa. Namun kini kamu bermaksud menebang pohon itu tidak dengan motivasi yang benar, niatmu sudah melenceng jauh jika dibandngkan dengan niat terdahulu. Kini kamu keluar rumah karena uang, dengan demikian jika saja kamu mengeluarkan kekuatan apa pun yang ada pada dirimu, tidak akan mungkin kamu bisa mengalahkan aku. Akan lebih baik jika kamu sekarang segera pulang sebelum aku patahkan batang lehermu.
Mendengar ucapan Iblis ini, lelaki itu hanya tertunduk lesu. Ia pun kemudian melangkahkan kaki untuk pulang, dijalaninya kembali hidup seperti sediakala, yakni berangsur-angsur ia menjadi melarat kembali, namun dengan martabat yang berbeda. dahulu kemelaratannya dihiasi dengan kemuliaan, namun kini kemelaratannya dihinggapi kehinaan. Kali ini ia menyadari kesalahannya, namun kesalahan yang berakibat fatal, paganisme tidak mungkin lagi bisa diubahnya, peluang mendapatkan kemenangan telah berlalu, padahal pada lazimnya, sebuah kesempatan emas hanya datang sekali dalam seumur hidup, dan tidak mungkin dapat diulangi. Maka pada tubuh lelaki itu dengan kekalahan lima poin, kalah bertarung melawan Iblis, kalah dalam membenahi tauhid ummatnya, kalah pula dalam meraih kekayaan harta, juga kalah mentalitasnya, belum nanti ketika menghadap Allah yang akan memurkainya.
Allahumma, tegakkanlah tauhid kami, tegakkan agama kami dan dunia kami sebagai penghantar beribadah kepada-Mu ya Allah. Selamatkan pula jiwa kami sampai nanti bertemu dengan-Mu dalam kondisi mendapat ridha-Mu, amin.
Demikian keterangan yang dapat kami sadur dari hadits Muslim, semoga bermanfaat adanya. ◙
Sebenarnya kepincangan ruhani ini telah lama direspon oleh seorang lelaki yang menjadi warga desa itu pula, namun sampai kini ia belum bertindak secara maksimal. Kehidupan warga itu ternyata bertumpu pada sebuah pohon besar yang sering mereka puja, mereka beri sesajen dan mereka bakari menyan dan berbagai ubo rampi yang menurut keyakinan mereka sebagai prasyarat agar apa yang menjadi maksud kehidupan mereka berhasil. Kini telah terbukti bahwa kehidupan mereka bertumpu pada keyakinan yang salah, keyakinan paganisme. Padahal segala apa pun yang terwujud di persada ini, baik mengenai kehidupan, kematian, datangnya manfaat, mudharat, ekbahagiaan, penderitaan, itu semua hanya Allah yang menciptakan. Tidak ada kekuatan lain yang akan bisa menandinginya. Sedangkan jika syetan mengaku bisa mendatangkan semuanya itu, itu hanya pengakuannya saja untuk menyesatkan kehidupan manusia agar bisa dijadikan jembatan atau sahabatnya menuju neraka yang kekal abadi selamanya.
“Untuk menyelamatkan keyakinan warga desa itu, tindakan pertama,” kata lelaki tersebut, “Adalah dengan membabat habis pohon pujaan itu, sesuai dengan keyakinannya bahwa menghilangkan kemungkaran harus diprioritaskan daripada menghasilkan kemaslahatan atau kebajikan.”
Kini dengan niat yang mukhlis dia mulai mempersiapkan peralatan untuk menebang pohon. Ia sandarkan niat itu demi mengagungkan agama tauhid. Ia bulatkan tekad untuk mengajak kaumnya agar bersama-sama menuju surga Allah.
Pada suatu malam, ia pun berusaha mewujudkan maksudnya itu dengan mengajak tetangga kiri-kanan untuk bertauhid, yang kemudian baru diringi dengan berbagai ibadah sebagai bukti atas kesaksian mereka. Namun terbukti tidak mendapatkan tanggapan yang memadai, malah olokan yang sering keluar dari ucapan mereka. Hal ini malah sebagai pemicu yang kuat untuk mewujudkan maksud lelaki itu segera menebang pohon sentral paganisme atau perbuatan syirik yang menurut Allah merupakan dosa yang tidak akan bisa diampuni, berlainan dengan dosa-dosa selain syirik, yang Dia janjikan masih bisa diampuni jika dikehendaki-Nya.
Siang hari, ketika matahari sedang garang-garangnya membakar bumi, lelaki itu berangkat dengan membawa berbagai peralatan menuju ke pohon itu. Ketika di perjalanan itulah dia disapa seseorang:
“Wahai tuan, kiranya ke mana engkau hendak pergi!,” begitu sapaan itu terasa amat halus di telinga.
Dengan sopannya lelaki itu pun menjawab:
“Aku hendak menebang pohon sesembahan masyarakat. Pohon itu telah menyesatkan keyakinan masyarakat sehingga Tuhan malah dienyahkan, mencukupkan diri dengan kemauan Iblis.”
Mendapat jawaban sedemikian itu, si penanya langsung mengatakan:
“Aku sendiri adalah Iblis yang menjadi pendukung penyembahan itu, hendaklah tuan mengurungkan niat itu, sebelum tuan menemui bencana dalam kehidupan,” begitu Iblis mulai mempertakuti.
Suasana mulai memanas, sang Iblis menghendaki agar lelaki itu segera balik kucing mengurungkan niatnya, sedangkan lelaki ityu tetap ngotot mempertahankan prinsipnya. Iblis mengatakan pula:
“Biarkan saja pohon itu berdiri, asal kamu tidak ikut-ikutan menyembah, itu tidak syirik.”
Ucapan ini segera ditanggapi:
“Membiarkan kemungkaran dalam kondisi masih bisa mengubahnya adalah laksana menyepakati atas keberlangsungan kemungkaran itu sendiri. Ia sama saja dengan membiarkan dosa berlangsung dengan tanpa pihak yang memberhentikannya. Dan orang yang bisa menghentikan, namun enggan berbuat adalah sama-sama memndapatkan dosa,” begitu kilah lelaki ersebut.
Mendapat jawababan seperti ini, Iblis tampaknya hilang kesabarannya. ia banting lelaki itu, namun ternyata ia bukan lelaki sembarangan, silatnya tampak mumpuni, kini kedua pihak itu saling mengincar peluang agar segera dapat menghabisi lawannya. Setelah beberapa saat, terbukti pedang dan peralatan bekelai keduanya kini sudah tidak bisa dipergunakan lagi, patah-patah dan remuk. Maka keduanya pun sepakat untuk berduel dengan tangan kosong. kali inilah baru terbukti bahwa Iblis itu pada pihak yang keok, ia menderita luka yang cukup parah, kendati pun tidak akan menemui ajal sampai nanti datang waktu yang dijanjikan.
kalah dengan fisik, kini Iblis memutar otak yang pada biasanya sebagai senjata pamungkas untuk memperdayai manusia. Ia pun mengatakan:
“Tuan, saya mengaku kalah, untuk itu kini aku akan berusaha untuk menjadi sahabat tuan yang baik. Begini tuan, setiap aku akan sanggup untuk menyediakan kebutuhan hidup tuan, aku sanggub menjadi pelayan tuan, sanggup pula mengerjakan apa pun yang menjadi perintah tuan, terutama pada setiap pagi aku akan mepersiapkan uang untuk keperluan tuan, kendati pun tidak besar jumlahnya, hanya empat dinar tuan. Uang itu bisa tuan dapatkan setiap pagi di bawah tikar tempat tuan melaksanakan shalat Shubuh, itu setiap pagi tuan,” begitu kata Iblis. Padahal satu keping dinar saja akan sama dengan emas 12 gram lebih. Taruh saja jika satu gram seharga duaratus ribu rupiah, bukankah akan berjumlah delapan ratus ribu rupiah. Bisa-bisa malah lebih, sampai satu juta.
Mendengar tawaran Iblis sedemikian ini, lelaki itu tampak menghentikan serangannya, ia memikir-mikir, dan ujung-ujungnya ternyata ia mengatakan: “Ya,ya,ya….
Ironis memang, ternyata ketegaran iman yang menyala-nyala itu ketika berhadapan dengan uang, iman menjadi lunglai, duniawi terbukti menjadi senjata yang ampuh bagi mereka yang tidak pernah mengenal uang besar. Matanya menjadi hijau ketika berhadapan dengan duit. Dari peristiwa itu kita dapat menarik kesimpulan, mestinya dalam memperjuangkan agama Allah ini, seorang tokoh harus memikirkan pula kehidupan duniawi agar tidak silau pada pihak lain yang bergelimang dengan uang. Tidak pula berkecil hati bila pihak musuh tampak tebal kantungnya. Namun perihal ini memang amat sulit dilakukan, hanya mudah diucapkan, sehingga diakui pula oleh al-Ghazali yang mengatakan bahwa antara dunia dan akhirat adalah laksana timur dan barat. Jika Anda pergi ke barat, maka akan menjauhi belahan timur. Sebaliknya jika Anda pergi ke timur, maka akan menjauhi belahan barat. dari itu kita banyak melihat orang yang dalam agamanya, namun amat sulit kehidupannya. Sedangkan orang yang luas kehidupannya, pada lazimnya tidak mengerti urusan agama, atau kehidupan religius mereka teramat dangkal. Untuk menggabungkan keduanya, sebagaimana dalam do’a atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, memang sulitnya bukan main. Perlu siasat yang lebih cermat dan kemauan yang prima agar bisa menggapainya. Perlu pula persiapan yang matang sejak dini.
Akan halnya lelaki tadi, setelah mendapat janji Iblis, ia pun pulang dengan hati berbunga-bunga. Ia tidak memikirkan lagi, dari mana Iblis mendapatklan uang, apakah itu uang halal atau uang haram, adakah Iblis pernah bekerja membanting tulang untuk mendapatkan uang? Bukankah ia mesti mencuri dengan mengutus para tuyul bawahannya!. Ia tidak memikirkan sejauh itu, yang semua itu tersebab himpitan ekonomi.
Di pagi hari setelah menunaikan shalat Shubuh, ia pun membuka alas shalatnya, ternyata memang benar, uang dinar sebanyak empat keping bersinar menghijaukan matanya. Betapa girang lelaki itu mendapatkan uang yang selama ini pada biasanya hanya memiliki uang receh. Sejak pagi ia pun sibuk melengkapi kebutuhan rumah, dari peralatan dapur sampai perihal kecil lainnya. Kini kehidupannya mulai berubah drastis. Dari kondisi zuhud yang terasa amat menyiksa beralih kapada kehidupan konsumtif yang menjanjikan kebahagiaan sesaat. Di rumahnya mulai ada kendaraan yang nongkrong, dan segala perabot mewah pun bertengger gagah di dalamnya.
Hal ini dijalaninya dalam beberapa minggu. namun tampaknya, kini Iblis mulai jemu untuk mengirimkan uang setiap hari, ia mulai mengingkari traktat yang telah disepakati antara keduanya, karena memang tidak bermeterai. Pagi-pagi sekali, setelah melaksanakan shalat Shubuh, lelaki itu pun membuka lagi alas shalatnya, namun betapa terkejutnya, ia tidak mendapatkan lagi uang upeti yang pada biasanya ia peroleh. Amarahnya pun menggelegak, dengan sumpah serapah ia segera pergi lagi dengan membawa peralatan penebangan pohon menuju tempat sesembahan yang selama ini telah menguntungkannya pula. Dan di tengah jalan, ia pun segera dihadang Iblis dengan pertanyaan garang:
“Akan kau kemanakan langkah kakimu?”
“Kau kini sebagai penipu, uang itu sudah tidak aku temukan di bawah alas shalatku,” begitu jawab lelaki yang kini berpakaian jin belel dan tampak gaul.
Tiba-tiba saja Iblis menyerang dengan begitu cepat sehingga lelaki itu pun menghindar dari sabetan pedangnya. Keduanya kini terlibat pada pergulatan yang seru sampai persenjataan masing-masing pihak patah semuanya dengan tidak ada pihak yang terkalahkan. Namun Iblis kini tampak berlari menjauh, lelaki itu mengiranya sebagai tanda kekalahan, tetapi ternyata ia kembali bagaikan domba yang mundur untuk melibas lawannya. Lelaki itu terlengah, kini ia dapat dicekik Iblis sampai matanya terbeliak. Segera saja lelaki itu mngangkat tangannya sebagai tanda keok, sebelum nyawanya tidak tertolong. Maih dengan menahan rasa sakit, lelaki itu mengatakan: “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”
Dengan bangga Iblis menjawab:
“Kemenanganmu dulu, tiada lain karena niatmu yang pertama adalah ikhlas karena Allah. dalam kondisi seperti itu, siapa pun yang menghadapi kekuatanmu, tentulah akan segera sirna dan binasa. Namun kini kamu bermaksud menebang pohon itu tidak dengan motivasi yang benar, niatmu sudah melenceng jauh jika dibandngkan dengan niat terdahulu. Kini kamu keluar rumah karena uang, dengan demikian jika saja kamu mengeluarkan kekuatan apa pun yang ada pada dirimu, tidak akan mungkin kamu bisa mengalahkan aku. Akan lebih baik jika kamu sekarang segera pulang sebelum aku patahkan batang lehermu.
Mendengar ucapan Iblis ini, lelaki itu hanya tertunduk lesu. Ia pun kemudian melangkahkan kaki untuk pulang, dijalaninya kembali hidup seperti sediakala, yakni berangsur-angsur ia menjadi melarat kembali, namun dengan martabat yang berbeda. dahulu kemelaratannya dihiasi dengan kemuliaan, namun kini kemelaratannya dihinggapi kehinaan. Kali ini ia menyadari kesalahannya, namun kesalahan yang berakibat fatal, paganisme tidak mungkin lagi bisa diubahnya, peluang mendapatkan kemenangan telah berlalu, padahal pada lazimnya, sebuah kesempatan emas hanya datang sekali dalam seumur hidup, dan tidak mungkin dapat diulangi. Maka pada tubuh lelaki itu dengan kekalahan lima poin, kalah bertarung melawan Iblis, kalah dalam membenahi tauhid ummatnya, kalah pula dalam meraih kekayaan harta, juga kalah mentalitasnya, belum nanti ketika menghadap Allah yang akan memurkainya.
Allahumma, tegakkanlah tauhid kami, tegakkan agama kami dan dunia kami sebagai penghantar beribadah kepada-Mu ya Allah. Selamatkan pula jiwa kami sampai nanti bertemu dengan-Mu dalam kondisi mendapat ridha-Mu, amin.
Demikian keterangan yang dapat kami sadur dari hadits Muslim, semoga bermanfaat adanya. ◙
Kemuliaan Bismillah
Dalam kitab Sirri Al-Basmalah karya Al-Buni dikatakan bahwasannya tatkala Allah menurunkan Bismillahirrahmanirrahim maka gunung-gunung yang kokoh bergoncang, pada tujuh lapis bumi dan langit pun terjadi gempa, para malaikat bertambah imannya, dan para makhluk bertambah yakin, sedangkan para jin terjungkal pada wajah-wajahnya, seluruh cakrawala bergerak. Dari situ kemudian seluruh planet pun berputar. Basmalah itu tertulis pada kening nabi Adam As. limaratus tahun sebelum beliau diciptakan. Dan ketika nabi Ibrahim dibakar, Basmalah berada di sayap malaikat Jibril, yang ketika itu segerta turun dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim, wahai api, hendaklah engkau padam dan membawa keselamatan kepada Ibrahim. Basmalah juga tertulis di tongkat nabi Musa As dengan bahasa Ibrani. Andaikan tidak begitu, beliau tidak akan mungkin bisa membelah samudera. Basmalah juga tertulis pada lisan nabi Isa As. ketika beliau berucap dalam buaian waktu masih orok. Dengan Basmalah nabi Isa mengajak bicara orang yang telah meninggal dunia, menyembuhkan orang buta dan sopak dengan seizin Allah. Juga tertulis pada cincin nabi Sulaiman As.
Dalam kitab Syams al-Ma’arif diterangkan bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa membaca Bismillahirrahmanirrahim dalam keadaan mengimaninya, maka gunung-gunung membaca tasbih besertanya, hanya saja ia tidak mendengar tasbih mereka.”
Masih dalam kitab Syams al-Ma’arif, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang membaca Bismillahirrahmanirrahim maka surga mengatakan: Labbaik wa Sa’adaik, aku sambut undangan-Mu ya Allah, aku sambut pula kebahagiaan-Mu. Wahai Tuhanku, hamba-Mu si fulan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, jauhkanlah dia dari neraka dan masukkanlah ke dalam surga.”
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya dari ummatku itu ada kaum yang nanti ketika datang hari Kiamat, mereka selalu mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini yang menyebabkan kebajikan mereka lebih berat daripada keburukannya. Maka ummat lain pun mengatakan, Subhanallah, apa yang menyebabkan amal-amal ummat Muhammad Saw menjadi amat berat? Para nabi mereka pun mengatakan: Yang demikian itu karena permulaan ucapan mereka berupa tiga asma dari beberapa asma Allah SWT, yang jika saja ditaruhkan dalam Mizan, kemudian seluruh langit dan bumi dan apa pun yang berada di antara keduanya ditaruhkan dalam cawan yang kedua, sungguh asma itu akan menjadikan lebih berat dari keseluruhannya. Tiga asma itu adalah Bismillahirrahmanirrahim. Dengan Basmalah itulah mereka aman dari berbagai bencana, tersembuhkan dari bermacam penyakit, terpelihara dari godaan syetan yang terkutuk. Juga menyebabkan ummat itu aman dari tertelan bumi atau dihujani batu dan tenggelam. Maka hendaklah kalian memantapkannya, pergunakanlah untuk bertaqarrub kepada Dia Yang Mahaagung dan Mahamulia.”
Diriwayatkan bahwa Allah pernah memberi wahyu kepada nabi Isa As: “Wahai Isa ibnu Maryam, adakah engkau tahu, ayat apa yang akan Aku turunkan kepadamu, apa pula keutamaannya? Nabi Isa pun mengatakan: Wahai Tuhan, aku tidak mengerti! Allah pun berfirman: Mengertilah Isa, Aku akan menurunkan kepadamu ayat yang membawa aman, yaitu Bismillahirrahmanirrahim. Hendaklah engkau rajin membaca di waktu malam dan siangmu dan dalam seluruh keadaanmu. Karena barang siapa datang di hari Kiamat nanti, yang dalam buku catatan amalnya tertulis Bismillahirrahmanirrahim delapanratus kali, ia pun beriman dan meyakinkan dengan ketuhanan-Ku, maka ia Aku merdekakan dari neraka, kemudian aku masukkan ke dalam surga Dar al-Qarar.
Dikisahkan bahwa seorang perempuan yang taat beragama memiliki suami yang fasik, yakni selalu enggan mengerjakan perintah agama, malah disertai setring melakukan dosa-dosa besar. Dua insan yang tampak kontras, bagaikan antara langit dan bumi, siang dan malam. Si lelaki sering meracau dan mengoceh dengan umpatan-umpatan yang tidak beradab, sedangkan si wanita amat sering menyebut keagungan Allah, mentaqdiskan dan mengagungkannya. Bukan itu saja, pada setiap aktivitas yang hendak dikerjakannya, ia selalu membaca Basmalah. Inilah yang tampaknya membuat jengkel sang suami, sehingga kehidupan keduanya bagaikan api dalam sekam, di luar tampak onggokan kokoh, namun di dalamnya penuh bara yang setiap saat bisa membubarkan maghligai bahtera rumah tangganya. Seringkali setiap isteri membaca Basmalah, namun segera diiringi oleh olokan sang suami dengan ucapan-ucapan kotor. Namun dalam menghadapi perangai yang tidak layak ini, si isteri tampaknya memang sudah membulatkan tekad untuk bersabar yang di dalamnya jelas mengandung kepatuhan seorang isteri terhadap suaminya, di samping bernilai ibadah di sisi Allah. Adapun ucapan kotornya, itu bukan urusannya, itu urusan dia dengan sang Pencipta. Didiamkan oleh sang isteri, bukan kesadaran yang ditunai, namun malah ngelunjak, sungguh lelaki yang sikapnya sudah tidak bisa ditolerir tampaknya.
Pada suatu hari ia membuat jebakan dengan maksud akan mempermalukan sang isteri. Kini ia membuat siasat dengan menitipkan uang yang cukup banyak kepada sang isteri agar disimpan sebaik mungkin. “Nanti kalau ada kebutuhan mendadak,” kata suami, “Aku akan mengambilnya kembali.
Mendapat amanah sedemikian itu, sang isteri yang salihah itu betul-betul memperhatikan ucapan sang suami. Disimpannya uang itu sebaik-baiknya ditempat yang diperkirakan orang lain tidak akan mengerti. Namun sang suami bertindak licik, ia mengintip ketika sang isteri menaruhkan uangnya itu. Dan setelah mendapatkan kesempatan, sang suami mencurinya dengan tanpa sepengetahuan isteri sama sekali. Kemudian uang itu segera dilemparkan dalam sumur, dengan maksud nanti ketika ia menagih uang itu, dan ternyata sang isteri tidak bisa memberikannya, ia akan memperlakukan sang isteri lebih sadis lagi. Ia akan menghajar dan mempermalukan sampai puas, agar tidak usah menyebut-nyebuit asma Allah.
Dengan pura-pura bertindak sopan, sang suami pada suatu hari mengatakan kepada isterinya:
“Dinda, hendaklah sekarang engkau ambil uang yang aku titipkan dulu, kini aku membutuhkan sekali uang itu untuk keperluan rumah tangga kita.”
Mendapat permintaan seperti ini, sang isteri segera menuju tempat penyimpanan uang, di mana sang suami segera mengikuti dari belakang. Dan dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim ia membuka tempat uang itu. Ketika itulah Allah segera mengutus Jibril As. untuk segera meluncur ke sumur tempat uang itu dibuang, kemudian dengan takdir Allah, uang itu dalam sekejap pun dikembalikan lagi ke tempat penyimpanan uang sang isteri dalam keadaan kering, tanpa setetes pun air yang menempel pada kumpulan uang tersebut. Dengan sopannya sang isteri menyerahkan uang titipan itu pada suaminya.
dalam peristiwa ini, sang suami tampak gemetar, seluruh persendian tubuhnya seolah lunglai seketika, raut wajahnya tampak pucat pasi tanda terlanda keterkejutan yang tiada tara. Dan seketika itu pula dia menyatakan bertaubat di depan isteri dari segala tindak durjananya. Ia berjanji bahwa di masa yang akan datang akan selalu mengikuti peribadatan yang selama ini tercermin dari sikap isterinya. Melihat semua kejadian ini, sang isteri hanya terbengong-bengong, tidak mengerti rangkaian peristiwa apa yang dialami sang suami. Baru setelah keadaan sudah kondusif, sang suami pun menceritakan segala kelakuan buruknya, bahkan ingin mempermalukan isterinya sendiri. Setelah semuanya menjadi jelas, keduanya pun melakukan sujud syukur atas karunia hidayah yang diberikan Allah kepada sang suami, sedangkan sang isteri ternyata mendapatkan kemuliaan (karamah) yang tidak diperkirakan sama sekali. Itulah karamah yang muncul dari sikap istiqamah dalam beribadah, selalu bertawakal kepada Allah, baik dalam kondisi suka atau pun duka, sehingga Allah sendiri memuliakannya begitu rupa. ◙
Dalam kitab Syams al-Ma’arif diterangkan bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa membaca Bismillahirrahmanirrahim dalam keadaan mengimaninya, maka gunung-gunung membaca tasbih besertanya, hanya saja ia tidak mendengar tasbih mereka.”
Masih dalam kitab Syams al-Ma’arif, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika seseorang membaca Bismillahirrahmanirrahim maka surga mengatakan: Labbaik wa Sa’adaik, aku sambut undangan-Mu ya Allah, aku sambut pula kebahagiaan-Mu. Wahai Tuhanku, hamba-Mu si fulan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, jauhkanlah dia dari neraka dan masukkanlah ke dalam surga.”
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya dari ummatku itu ada kaum yang nanti ketika datang hari Kiamat, mereka selalu mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini yang menyebabkan kebajikan mereka lebih berat daripada keburukannya. Maka ummat lain pun mengatakan, Subhanallah, apa yang menyebabkan amal-amal ummat Muhammad Saw menjadi amat berat? Para nabi mereka pun mengatakan: Yang demikian itu karena permulaan ucapan mereka berupa tiga asma dari beberapa asma Allah SWT, yang jika saja ditaruhkan dalam Mizan, kemudian seluruh langit dan bumi dan apa pun yang berada di antara keduanya ditaruhkan dalam cawan yang kedua, sungguh asma itu akan menjadikan lebih berat dari keseluruhannya. Tiga asma itu adalah Bismillahirrahmanirrahim. Dengan Basmalah itulah mereka aman dari berbagai bencana, tersembuhkan dari bermacam penyakit, terpelihara dari godaan syetan yang terkutuk. Juga menyebabkan ummat itu aman dari tertelan bumi atau dihujani batu dan tenggelam. Maka hendaklah kalian memantapkannya, pergunakanlah untuk bertaqarrub kepada Dia Yang Mahaagung dan Mahamulia.”
Diriwayatkan bahwa Allah pernah memberi wahyu kepada nabi Isa As: “Wahai Isa ibnu Maryam, adakah engkau tahu, ayat apa yang akan Aku turunkan kepadamu, apa pula keutamaannya? Nabi Isa pun mengatakan: Wahai Tuhan, aku tidak mengerti! Allah pun berfirman: Mengertilah Isa, Aku akan menurunkan kepadamu ayat yang membawa aman, yaitu Bismillahirrahmanirrahim. Hendaklah engkau rajin membaca di waktu malam dan siangmu dan dalam seluruh keadaanmu. Karena barang siapa datang di hari Kiamat nanti, yang dalam buku catatan amalnya tertulis Bismillahirrahmanirrahim delapanratus kali, ia pun beriman dan meyakinkan dengan ketuhanan-Ku, maka ia Aku merdekakan dari neraka, kemudian aku masukkan ke dalam surga Dar al-Qarar.
Dikisahkan bahwa seorang perempuan yang taat beragama memiliki suami yang fasik, yakni selalu enggan mengerjakan perintah agama, malah disertai setring melakukan dosa-dosa besar. Dua insan yang tampak kontras, bagaikan antara langit dan bumi, siang dan malam. Si lelaki sering meracau dan mengoceh dengan umpatan-umpatan yang tidak beradab, sedangkan si wanita amat sering menyebut keagungan Allah, mentaqdiskan dan mengagungkannya. Bukan itu saja, pada setiap aktivitas yang hendak dikerjakannya, ia selalu membaca Basmalah. Inilah yang tampaknya membuat jengkel sang suami, sehingga kehidupan keduanya bagaikan api dalam sekam, di luar tampak onggokan kokoh, namun di dalamnya penuh bara yang setiap saat bisa membubarkan maghligai bahtera rumah tangganya. Seringkali setiap isteri membaca Basmalah, namun segera diiringi oleh olokan sang suami dengan ucapan-ucapan kotor. Namun dalam menghadapi perangai yang tidak layak ini, si isteri tampaknya memang sudah membulatkan tekad untuk bersabar yang di dalamnya jelas mengandung kepatuhan seorang isteri terhadap suaminya, di samping bernilai ibadah di sisi Allah. Adapun ucapan kotornya, itu bukan urusannya, itu urusan dia dengan sang Pencipta. Didiamkan oleh sang isteri, bukan kesadaran yang ditunai, namun malah ngelunjak, sungguh lelaki yang sikapnya sudah tidak bisa ditolerir tampaknya.
Pada suatu hari ia membuat jebakan dengan maksud akan mempermalukan sang isteri. Kini ia membuat siasat dengan menitipkan uang yang cukup banyak kepada sang isteri agar disimpan sebaik mungkin. “Nanti kalau ada kebutuhan mendadak,” kata suami, “Aku akan mengambilnya kembali.
Mendapat amanah sedemikian itu, sang isteri yang salihah itu betul-betul memperhatikan ucapan sang suami. Disimpannya uang itu sebaik-baiknya ditempat yang diperkirakan orang lain tidak akan mengerti. Namun sang suami bertindak licik, ia mengintip ketika sang isteri menaruhkan uangnya itu. Dan setelah mendapatkan kesempatan, sang suami mencurinya dengan tanpa sepengetahuan isteri sama sekali. Kemudian uang itu segera dilemparkan dalam sumur, dengan maksud nanti ketika ia menagih uang itu, dan ternyata sang isteri tidak bisa memberikannya, ia akan memperlakukan sang isteri lebih sadis lagi. Ia akan menghajar dan mempermalukan sampai puas, agar tidak usah menyebut-nyebuit asma Allah.
Dengan pura-pura bertindak sopan, sang suami pada suatu hari mengatakan kepada isterinya:
“Dinda, hendaklah sekarang engkau ambil uang yang aku titipkan dulu, kini aku membutuhkan sekali uang itu untuk keperluan rumah tangga kita.”
Mendapat permintaan seperti ini, sang isteri segera menuju tempat penyimpanan uang, di mana sang suami segera mengikuti dari belakang. Dan dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim ia membuka tempat uang itu. Ketika itulah Allah segera mengutus Jibril As. untuk segera meluncur ke sumur tempat uang itu dibuang, kemudian dengan takdir Allah, uang itu dalam sekejap pun dikembalikan lagi ke tempat penyimpanan uang sang isteri dalam keadaan kering, tanpa setetes pun air yang menempel pada kumpulan uang tersebut. Dengan sopannya sang isteri menyerahkan uang titipan itu pada suaminya.
dalam peristiwa ini, sang suami tampak gemetar, seluruh persendian tubuhnya seolah lunglai seketika, raut wajahnya tampak pucat pasi tanda terlanda keterkejutan yang tiada tara. Dan seketika itu pula dia menyatakan bertaubat di depan isteri dari segala tindak durjananya. Ia berjanji bahwa di masa yang akan datang akan selalu mengikuti peribadatan yang selama ini tercermin dari sikap isterinya. Melihat semua kejadian ini, sang isteri hanya terbengong-bengong, tidak mengerti rangkaian peristiwa apa yang dialami sang suami. Baru setelah keadaan sudah kondusif, sang suami pun menceritakan segala kelakuan buruknya, bahkan ingin mempermalukan isterinya sendiri. Setelah semuanya menjadi jelas, keduanya pun melakukan sujud syukur atas karunia hidayah yang diberikan Allah kepada sang suami, sedangkan sang isteri ternyata mendapatkan kemuliaan (karamah) yang tidak diperkirakan sama sekali. Itulah karamah yang muncul dari sikap istiqamah dalam beribadah, selalu bertawakal kepada Allah, baik dalam kondisi suka atau pun duka, sehingga Allah sendiri memuliakannya begitu rupa. ◙
Perang Quraizah
Setelah pihak Ahzab berangkat pulang, Rasulullah Saw kembali memikirkan keadaannya. Tuhan telah menyelamatkannya dari musuh yang selama ini mengancamnya. Tetapi sungguhpun begitu pihak Yahudi dapat saja mengulang kembali peristiwa semacam itu, dapat saja mereka mencari kesempatan lain, tidak lagi pada musim dingin yang begitu dahsyat seperti dalam tahun ini, yang telah merupakan bantuan Tuhan dalam menghancurkan pihak musuh. Di samping itu, kalaupun tidak karena Azhab telah pergi, dan peristiwa perpecahan di pihaknya sendiri telah terjadi, niscaya Banu Quraizah itu sudah siap-siap pula turun ke Medinah, akan menghantam dan akan memberikan segala macam bantuan dalam menghancurkan kaum Muslimin.
Jadi, jangan membiarkan ekor ular yang sudah dipotong. Atas perbuatannya itu Banu Quraizah harus dibasmi. Dalam hal ini Nabi a.s. memerintahkan supaya diserukan kepada segenap orang, yakni: Barangsiapa yang tetap setia, bersembahyang Asar supaya dilakukan di perkampungan Banu Quraizah. Lalu Ali diberangkatkan lebih dulu dengan membawa bendera ke tempat itu. Sungguhpun pihak Muslimin sudah begitu payah akibat pengepungan Quraisy dan Ghatafan yang cukup lama, namun mereka segera bergegas ke medan perang lagi. Mereka yakin bahwa mereka akan mendapat kemenangan. Memang benar, bahwa Banu Quraizah tinggal dalam benteng-benteng yang begitu kukuh seperti perbentengan Banu Nadhir, tetapi kendatipun benteng-benteng itu dapat melindungi mereka, namun mereka tidak akan dapat tahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan bahan makanan kini berada di tangan penduduk Medinah, setelah pihak Ahzab meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena itu, pihak Muslimin pun dengan perasaan gembira bergegas pula berangkat di belakang Ali, menuju ke tempat Banu Quraizah.
Ternyata mereka itu - juga Huyay bin Akhtab dari Banu Nadhir ada di tempat itu - melemparkan kata-kata yang tidak senonoh dialamatkan kepada Rasulullah Saw. Mereka mendustakannya dan memakinya serta mau mencemarkan nama baik isterinya. Setelah kekalahan pasukan Ahzab di Medinah, seolah mereka memang sudah merasakan apa yang akan terjadi terhadap diri mereka.
Ketika Rasul kemudian sampai ke tempat itu Ali segera menemuinya dan dimintanya supaya jangan ia mendekati perbentengan Yahudi itu.
“Kenapa?" tanya Rasulullah Saw. "Rupanya kau mendengar mereka memaki-maki aku."
"Ya" jawab Ali.
Kalau mereka melihat aku" kata Rasulullah, "tentu mereka tidak akan mengeluarkan kata-kata itu."
Setelah berada dekat dari perbentengan itu mereka dipanggil-panggil:
“Hai, golongan kera. Tuhan sudah menghinakan kamu bukan, dan sudah menurunkan murkaNya kepada kamu sekalian.
“Wahai Abu'l-Qasim," kata mereka. "Tentu engkau bukan tidak mengetahui."
Sepanjang hari itu kaum Muslimin terus berdatangan ke tempat Banu Quraizah, sehingga mereka dapat berkumpul di sana. Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan supaya tempat itu dikepung.
Pengepungan demikian itu terjadi selama duapuluh lima malam. Sementara itu terjadi pula beberapa kali bentrokan dengan saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu Banu Quraizah samasekali tidak berani keluar dari kubu-kubu mereka. Setelah terasa lelah dan yakin pula bahwa mereka tidak akan dapat tertolong dari bencana dan mereka pasti akan jatuh ke tangan kaum Muslimin apabila masa pengepungan berjalan lama, maka mereka mengutus orang kepada Rasul dengan permintaan "supaya mengirimkan Abu Lubabah kepada kami untuk kami mintai pendapatnya sehubungan dengan masalah kami ini." Sebenarnya Abu Lubabah ini golongan Aus yang termasuk sahabat baik mereka.
Begitu mereka melihat kedatangan Abu Lubabah, mereka memberikan sambutan yang luarbiasa. Kaum wanita dan anak-anak segera meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Ia merasa iba sekali melihat mereka.
"Abu Lubabah," kata mereka kemudian. "Apa kita harus tunduk kepada keputusan Rasulullah Saw.”
"Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan kelehernya "Kalau tidak berarti potong leher.”
Beberapa buku sejarah Nabi mengatakan, bahwa Abu Lubabah merasa sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.
Setelah Abu Lubabah pergi, Ka’ab bin Asad menyarankan kepada mereka, supaya mereka mau menerima agama Rasulullah Saw dan menjadi orang Islam. Mereka serta harta-benda dan anak-anak mereka akan hidup lebih aman. Tetapi saran itu ditolak oleh teman Ka’ab: "Kami tidak akan meninggalkan ajaran Taurat tidak akan menggantikannya dengan yang lain.”
Kemudian disarankannya lagi supaya kaum wanita dan anak-anak itu dibunuh saja, dan mereka boleh melawan Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya dengan pedang terhunus tanpa meninggalkan suatu beban di belakang. Biar nanti Tuhan menentukan, kalah atau menang melawan Rasulullah Saw. Kalau mereka hancur, tidak ada lagi turunan nanti yang akan dikuatirkan. Sebaliknya, kalau menang mereka akan memperoleh wanita-wanita dan anak-anak lagi.
"Kasihan kita membunuhi mereka. Apa artinya hidup tanpa mereka itu."
"Kalau begitu tak ada jalan lain kita harus tunduk kepada keputusan Rasulullah Saw. Kita sudah mendengar, apa sebenarnya yang sedang menunggu kita." Demikian kata Ka’ab kemudian kepada mereka.
Mereka sekarang berunding antara sesama mereka.
“Nasib mereka tidak akan lebih buruk dari Banu Nadhir," kata salah seorang dari mereka. "Wakil-wakil mereka dari kalangan Aus akan membela. Kalau mereka mengusulkan supaya mereka dibolehkan pergi ke Adhri'at di wilayah Syam, tentu terpaksa Rasulullah Saw mengabulkan.
“Banu Quraizah mengirimkan utusan kepada Rasulullah Saw dengan menyarankan bahwa mereka akan pergi ke Adhri'at dengan meninggalkan harta-benda mereka. Tetapi ternyata usul ini ditolak. Mereka harus tunduk kepada keputusan. Dalam hal ini mereka lalu mengirim orang kepada Aus dengan pesan: Tuan-tuan hendaknya dapat membantu saudara-saudaramu ini; seperti yang pernah dilakukan oleh Khazraj terhadap saudara-saudaranya.
Sebuah rombongan dari kalangan Aus segera berangkat hendak menemui Rasulullah Saw.
“Ya Rasulullah," kata mereka memulai, "dapatkah permintaan kawan-kawan sepersekutuan kami itu dikabulkan seperti permintaan kawan-kawan sepersekutuan Khazraj dulu yang juga sudah dikabulkan.”
“Saudara-saudara dari Aus," kata Rasulullah Saw, "Dapatkah kamu menerima kalau kuminta salah seorang dari kamu menengahi persoalan dengan teman-teman sepersekutuanmu itu.”
“Tentu sekali," jawab mereka.
"Kalau begitu," katanya lagi, "katakan kepada mereka memilih siapa saja yang mereka kehendaki.”
Dalam hal ini pihak Yahudi lalu memilih Sa’ad bin Mu'adh. Mata mereka seolah-olah sudah tertutup dari nasib yang sudah ditentukan bagi mereka itu, sehingga mereka samasekali lupa akan kedatangan Sa’ad tatkala pertama kali mereka melanggar perjanjian, lalu diberi peringatan, juga tatkala mereka memaki-maki Rasulullah Saw di depannya serta mencerca kaum Muslimin tidak pada tempatnya.
Sa’ad lalu membuat persetujuan dengan kedua belah pihak itu. Masing-masing hendaknya dapat menerima keputusan yang akan diambilnya. Setelah persetujuan demikian diberikan, kepada Banu Quraizah diperintahkan supaya turun dan meletakkan senjata. Keputusan ini mereka laksanakan. Seterusnya Sa’ad memutuskan, supaya mereka yang terjun melakukan kejahatan perang dijatuhi hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan anak-anak supaya ditawan.
Mendengar keputusan itu Rasulullah Saw berkata:
"Demi Yang menguasai diriku. Keputusanmu itu diterima oleh Tuhan dan oleh orang-orang beriman, dan dengan itu aku diperintahkan.”
Sesudah itu ia keluar ke sebuah pasar di Medinah. Diperintahkannya supaya digali beberapa buah parit di tempat itu. Orang-orang Yahudi itu dibawa dan disana leher mereka dipenggal, dan didalam parit-parit itu mereka dikuburkan. Sebenarnya Banu Quraizah tidak menduga akan menerima hukuman demikian dari Said bin Mu'adh teman sepersekutuannya itu. Bahkan tadinya mereka mengira ia akan bertindak seperti Abdullah bin Ubayy terhadap Banu Qainuqa.' Mungkin teringat oleh Said, bahwa kalau pihak Ahzab yang menang karena pengkhianatan Banu Quraizah itu, kaum Muslimin pasti akan dikikis habis, akan dibunuh dan dianiaya. Maka balasannya seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.
Keuletan orang-orang Yalmudi menghadapi maut dapat kita lihat dalam percakapan Huyay bin Akhtab ini ketika ia dihadapkan untuk menjalani hukuman potong leher, Nabi telah menatapnya seraya berkata:
"Huyay, bukankah Tulman sudah membuat kau jadi hina.”
"Setiap orang merasakan kematian," kata Huyay. "Umurku juga tidak akan dapat kulampaui. Aku tidak akan menyalahkan diriku dalam memusuhimu ini."' Lalu ia menoleh kepada orang banyak sambil katanya lagi: "Saudara-saudara. Tidak apa kita menjalani perintah Tuhan, yang telah mentakdirkan kepada Banu Israil menghadapi perjuangan ini.”
Kemudian juga peristiwa yang terjadi dengan Zubair bin Bata dari Banu Quraizah. Ia pernah berjasa kepada Tsabit bin Qais ketika terjadi perang Bu'ath, sebab ia telah membebaskannya dari tawanan musuh. Sekarang Tsabit ingin membalas dergan tangannya sendiri budi orang itu, setelah Sa’ad ibn Mu'adh menjatuhkan keputusannya terhadap orang-orang Yahudi. Disampaikannya kepada Rasulullah tentang jasa Zubair kepadanya dulu dan ia mempertaruhkan diri minta persetujuannya akan menyelamatkan nyawa Zubair. Rasulullah mengabulkan pernmintaannya itu. Tetapi setelah Zubair mengetahui usaha Tsabit itu ia berkata: Orang yang sudah setua aku ini, tidak lagi ada isteri, tidak lagi ada anak; buat apa lagi aku hidup.
Sekali lagi Tsabit mempertaruhkan diri minta supaya isteri dan anak-anaknya dibebaskan. Ini pun dikabulkan juga. Selanjutnya dimintanya supaya hartanya juga diselamatkan. Juga ini dikabulkan.
Setelah Zubair merasa puas tentang isteri, anak dan hartanya itu, ia bertanya lagi tentang Ka’ab bin Asad, tentang Huyay bin Akhtab dan 'Azzal bin Samu'al serta pemimpin-pemimpin Quraizah yang lain. Sesudah diketahuinya, bahwa mereka sudah menjalani hukuman mati, ia berkata:
"Tsabit, dengan budiku kepadamu itu aku minta, susulkanlah aku kepada mereka. Sesudah mereka tidak ada, juga tidak berguna aku hidup lagi. Aku sudah tidak betah hidup lama-lama lagi. Biarlah aku segera bertemu dengan orang-orang yang kucintai itu!”
Dengan demikian hukuman potong leher dijalankan juga atas permintaannya sendiri.
Pada dasarnya dalam perang itu pihak Muslimin tidak akan membunuh wanita atau anak-anak. Tetapi pada waktu itu mereka sampai membunuh seorang wanita juga yang telah lebih dulu membunuh seorang Muslim dengan mempergunakan batu giling. Dalam hal ini Aisyah pernah berkata:
"Tentang dia sungguh suatu hal yang aneh tidak pernah akan saya lupakan. Dia seorang orang yang periang dan banyak tertawa, padahal dia mengetahui akan dibunuh mati.”
Waktu itu ada empat orang pihak Yahudi yang masuk Islam. Mereka ini terhindar dari maut.
Menurut hemat kami terbunuhnya Banu Quraizah itu berada di tangan Huyay bin Akhtab, meskipun dia sendiri juga turut terbunuh. Dia telah melanggar janji yang dibuat oleh golongannya sendiri, oleh Banu Nadhir, yang oleh Rasulullah Saw telah dikeluarkan dari Medinah dengan tiada seorang pun yang dibunuh, setelah keputusannya itu mereka terima. Tetapi dengan tindakannya menghasut pihak Quraisy dan Ghatafan, kemudian menyusun masyarakat dan kabilah-kabilah Arab semua supaya memerangi Rasulullah Saw, hal ini telah memperbesar rasa permusuhan antara golongan Yahudi dengan kaum Muslimin, sehingga mereka itu berkeyakinan, bahwa kaum Israil itu tidak akan merasa puas sebelum dapat mengikis habis Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Dia juga lagi yang kemudian mengajak Banu Quraizah melanggar perjanjian dan meninggalkan sikap kenetralannya. Sekiranya Banu Quraizah tetap bertahan, tentu mereka takkan mengalami nasib seburuk itu. Dia juga yang kemudian datang ke benteng Banu Quraizah - setelah kepergian pihak Ahzab dan mengajak mereka melawan kaum Muslimin. Sekiranya dari semula mereka sudah bersedia pula menerima keputusan Rasulullah Saw serta mengakui kesalahannya yang telah melanggar janjinya sendiri itu, pertumpahan darah dan pemotongan leher niscaya takkan terjadi. Akan tetapi, permusuhan itu sudah begitu berakar dalam jiwa Huyay dan kemudian menular pula ke dalam hati orang-orang Quraizah, sehingga Sa’ad bin Mu'adh sendiri sebagai kawan sepersekutuan mereka yakin bahwa kalau mereka dibiarkan hidup, keadaan tidak akan pernah jadi tenteram. Mereka akan menghasut lagi golongan Ahzab, akan mengerahkan kabilah-kabilah dan orang-orang Arab supaya memerangi Muslimin, dan akan mengikis sampai ke akar-akarnya kalau mereka dapat mengalahkan. Keputusan yang telah diambilnya dengan begitu keras, hanyalah karena terdorong oleh sikap hendak mempertahankan diri, dengan pertimbangan bahwa adanya atau lenyapnya orang-orang Yahudi itu berarti hidup atau matinya kaum Muslimin.
Kaum wanita, anak-anak serta harta-benda Banu Quraizah oleh Nabi di bagi-bagikan kepada kaum Muslimin, setelah seperlimanya dikeluarkan, Setiap seorang dari pasukan berkuda mendapat dua pucuk panah, untuk kudanya sepucuk panah.
Prajurit yang berjalan kaki mendapat sepucuk panah. Jumlah kuda dalam peristiwa Quraizah itu sebanyak tigapuluh enam ekor.
Setelah itu, Sa’ad bin Zaid kemudian mengirimkan tawanan-tawanan Banu Quraizah itu ke Najd. Dengan demikian dibelinya beberapa ekor kuda dan senjata untuk lebih memperkuat angkatan perang Muslimin.
Raihana adalah salah seorang tawanan Banu Quraizah. Ia jatuh menjadi bagian Rasulullah Saw. Kepadanya ditawarkan kalau-kalau ia bersedia menjadi orang Islam. Tetapi ia tetap bertahan dengan agama Yahudinya. Juga ditawarkan kepadanya kalau-kalau ia mau di kawini. Tetapi dia menjawab: "Biar sajalah saya dibawah tuan. Ini akan lebih ringan buat saya, juga buat tuan.”
Barangkali juga, melekatnya ia kepada agama Yahudi dan penolakannya akan dikawin, berpangkal pada fanatisma kegolongan, serta sisa-sisa kebencian yang masih tertanam dalam hatinya terhadap kaum Muslimin dan terhadap Nabi. Tetapi tidak ada orang yang bicara tentang kecantikan Raihana seperti yang pernah disebut-sebut orang tentang Zainab bt. Jahsy, sekalipun ada juga yang menyebutkan bahwa dia juga cantik. Buku-buku sejarah dalam hal ini berbeda-beda pendapat: Adakah ia juga menggunakan tabir seperti terhadap isteri-isteri Nabi, atau masih seperti wanita-wanita Arab umumnya pada waktu itu, yang memang tidak menggunakan tutup muka. Sampai pada waktu Raihana wafat di tempat Nabi, ia tetap sebagai miliknya.
Adanya serbuan Ahzab serta hukuman yang telah di jatuhkan kepada Banu Quraizah, telah memperkuat kedudukan Muslimin di Medinah. Orang-orang golongan Munafik sudah samasekali tidak bersuara lagi. Semua masyarakat dan kabilah-kabi]ah Arab sudah mulai bicara tentang kekuatan dan kekuasaan Muslimin, disamping posisi dan kewibawaan Rasulullah Saw yang ada. Akan tetapi ajaran itu bukan hanya buat Medinah saja, meiainkan buat seluruh dunia. Jadi Nabi dan sahabat-sahabatnya masih harus terus meratakan jalan dalam menjalankan perintah Allah, dalam mengajak orang menganut agama yang benar, dengan terus membendung setiap usaha yang hendak melanggarnya. Dan memang inilah yang mereka lakukan. ◙
Jadi, jangan membiarkan ekor ular yang sudah dipotong. Atas perbuatannya itu Banu Quraizah harus dibasmi. Dalam hal ini Nabi a.s. memerintahkan supaya diserukan kepada segenap orang, yakni: Barangsiapa yang tetap setia, bersembahyang Asar supaya dilakukan di perkampungan Banu Quraizah. Lalu Ali diberangkatkan lebih dulu dengan membawa bendera ke tempat itu. Sungguhpun pihak Muslimin sudah begitu payah akibat pengepungan Quraisy dan Ghatafan yang cukup lama, namun mereka segera bergegas ke medan perang lagi. Mereka yakin bahwa mereka akan mendapat kemenangan. Memang benar, bahwa Banu Quraizah tinggal dalam benteng-benteng yang begitu kukuh seperti perbentengan Banu Nadhir, tetapi kendatipun benteng-benteng itu dapat melindungi mereka, namun mereka tidak akan dapat tahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan bahan makanan kini berada di tangan penduduk Medinah, setelah pihak Ahzab meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena itu, pihak Muslimin pun dengan perasaan gembira bergegas pula berangkat di belakang Ali, menuju ke tempat Banu Quraizah.
Ternyata mereka itu - juga Huyay bin Akhtab dari Banu Nadhir ada di tempat itu - melemparkan kata-kata yang tidak senonoh dialamatkan kepada Rasulullah Saw. Mereka mendustakannya dan memakinya serta mau mencemarkan nama baik isterinya. Setelah kekalahan pasukan Ahzab di Medinah, seolah mereka memang sudah merasakan apa yang akan terjadi terhadap diri mereka.
Ketika Rasul kemudian sampai ke tempat itu Ali segera menemuinya dan dimintanya supaya jangan ia mendekati perbentengan Yahudi itu.
“Kenapa?" tanya Rasulullah Saw. "Rupanya kau mendengar mereka memaki-maki aku."
"Ya" jawab Ali.
Kalau mereka melihat aku" kata Rasulullah, "tentu mereka tidak akan mengeluarkan kata-kata itu."
Setelah berada dekat dari perbentengan itu mereka dipanggil-panggil:
“Hai, golongan kera. Tuhan sudah menghinakan kamu bukan, dan sudah menurunkan murkaNya kepada kamu sekalian.
“Wahai Abu'l-Qasim," kata mereka. "Tentu engkau bukan tidak mengetahui."
Sepanjang hari itu kaum Muslimin terus berdatangan ke tempat Banu Quraizah, sehingga mereka dapat berkumpul di sana. Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan supaya tempat itu dikepung.
Pengepungan demikian itu terjadi selama duapuluh lima malam. Sementara itu terjadi pula beberapa kali bentrokan dengan saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu Banu Quraizah samasekali tidak berani keluar dari kubu-kubu mereka. Setelah terasa lelah dan yakin pula bahwa mereka tidak akan dapat tertolong dari bencana dan mereka pasti akan jatuh ke tangan kaum Muslimin apabila masa pengepungan berjalan lama, maka mereka mengutus orang kepada Rasul dengan permintaan "supaya mengirimkan Abu Lubabah kepada kami untuk kami mintai pendapatnya sehubungan dengan masalah kami ini." Sebenarnya Abu Lubabah ini golongan Aus yang termasuk sahabat baik mereka.
Begitu mereka melihat kedatangan Abu Lubabah, mereka memberikan sambutan yang luarbiasa. Kaum wanita dan anak-anak segera meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Ia merasa iba sekali melihat mereka.
"Abu Lubabah," kata mereka kemudian. "Apa kita harus tunduk kepada keputusan Rasulullah Saw.”
"Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan kelehernya "Kalau tidak berarti potong leher.”
Beberapa buku sejarah Nabi mengatakan, bahwa Abu Lubabah merasa sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.
Setelah Abu Lubabah pergi, Ka’ab bin Asad menyarankan kepada mereka, supaya mereka mau menerima agama Rasulullah Saw dan menjadi orang Islam. Mereka serta harta-benda dan anak-anak mereka akan hidup lebih aman. Tetapi saran itu ditolak oleh teman Ka’ab: "Kami tidak akan meninggalkan ajaran Taurat tidak akan menggantikannya dengan yang lain.”
Kemudian disarankannya lagi supaya kaum wanita dan anak-anak itu dibunuh saja, dan mereka boleh melawan Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya dengan pedang terhunus tanpa meninggalkan suatu beban di belakang. Biar nanti Tuhan menentukan, kalah atau menang melawan Rasulullah Saw. Kalau mereka hancur, tidak ada lagi turunan nanti yang akan dikuatirkan. Sebaliknya, kalau menang mereka akan memperoleh wanita-wanita dan anak-anak lagi.
"Kasihan kita membunuhi mereka. Apa artinya hidup tanpa mereka itu."
"Kalau begitu tak ada jalan lain kita harus tunduk kepada keputusan Rasulullah Saw. Kita sudah mendengar, apa sebenarnya yang sedang menunggu kita." Demikian kata Ka’ab kemudian kepada mereka.
Mereka sekarang berunding antara sesama mereka.
“Nasib mereka tidak akan lebih buruk dari Banu Nadhir," kata salah seorang dari mereka. "Wakil-wakil mereka dari kalangan Aus akan membela. Kalau mereka mengusulkan supaya mereka dibolehkan pergi ke Adhri'at di wilayah Syam, tentu terpaksa Rasulullah Saw mengabulkan.
“Banu Quraizah mengirimkan utusan kepada Rasulullah Saw dengan menyarankan bahwa mereka akan pergi ke Adhri'at dengan meninggalkan harta-benda mereka. Tetapi ternyata usul ini ditolak. Mereka harus tunduk kepada keputusan. Dalam hal ini mereka lalu mengirim orang kepada Aus dengan pesan: Tuan-tuan hendaknya dapat membantu saudara-saudaramu ini; seperti yang pernah dilakukan oleh Khazraj terhadap saudara-saudaranya.
Sebuah rombongan dari kalangan Aus segera berangkat hendak menemui Rasulullah Saw.
“Ya Rasulullah," kata mereka memulai, "dapatkah permintaan kawan-kawan sepersekutuan kami itu dikabulkan seperti permintaan kawan-kawan sepersekutuan Khazraj dulu yang juga sudah dikabulkan.”
“Saudara-saudara dari Aus," kata Rasulullah Saw, "Dapatkah kamu menerima kalau kuminta salah seorang dari kamu menengahi persoalan dengan teman-teman sepersekutuanmu itu.”
“Tentu sekali," jawab mereka.
"Kalau begitu," katanya lagi, "katakan kepada mereka memilih siapa saja yang mereka kehendaki.”
Dalam hal ini pihak Yahudi lalu memilih Sa’ad bin Mu'adh. Mata mereka seolah-olah sudah tertutup dari nasib yang sudah ditentukan bagi mereka itu, sehingga mereka samasekali lupa akan kedatangan Sa’ad tatkala pertama kali mereka melanggar perjanjian, lalu diberi peringatan, juga tatkala mereka memaki-maki Rasulullah Saw di depannya serta mencerca kaum Muslimin tidak pada tempatnya.
Sa’ad lalu membuat persetujuan dengan kedua belah pihak itu. Masing-masing hendaknya dapat menerima keputusan yang akan diambilnya. Setelah persetujuan demikian diberikan, kepada Banu Quraizah diperintahkan supaya turun dan meletakkan senjata. Keputusan ini mereka laksanakan. Seterusnya Sa’ad memutuskan, supaya mereka yang terjun melakukan kejahatan perang dijatuhi hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan anak-anak supaya ditawan.
Mendengar keputusan itu Rasulullah Saw berkata:
"Demi Yang menguasai diriku. Keputusanmu itu diterima oleh Tuhan dan oleh orang-orang beriman, dan dengan itu aku diperintahkan.”
Sesudah itu ia keluar ke sebuah pasar di Medinah. Diperintahkannya supaya digali beberapa buah parit di tempat itu. Orang-orang Yahudi itu dibawa dan disana leher mereka dipenggal, dan didalam parit-parit itu mereka dikuburkan. Sebenarnya Banu Quraizah tidak menduga akan menerima hukuman demikian dari Said bin Mu'adh teman sepersekutuannya itu. Bahkan tadinya mereka mengira ia akan bertindak seperti Abdullah bin Ubayy terhadap Banu Qainuqa.' Mungkin teringat oleh Said, bahwa kalau pihak Ahzab yang menang karena pengkhianatan Banu Quraizah itu, kaum Muslimin pasti akan dikikis habis, akan dibunuh dan dianiaya. Maka balasannya seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.
Keuletan orang-orang Yalmudi menghadapi maut dapat kita lihat dalam percakapan Huyay bin Akhtab ini ketika ia dihadapkan untuk menjalani hukuman potong leher, Nabi telah menatapnya seraya berkata:
"Huyay, bukankah Tulman sudah membuat kau jadi hina.”
"Setiap orang merasakan kematian," kata Huyay. "Umurku juga tidak akan dapat kulampaui. Aku tidak akan menyalahkan diriku dalam memusuhimu ini."' Lalu ia menoleh kepada orang banyak sambil katanya lagi: "Saudara-saudara. Tidak apa kita menjalani perintah Tuhan, yang telah mentakdirkan kepada Banu Israil menghadapi perjuangan ini.”
Kemudian juga peristiwa yang terjadi dengan Zubair bin Bata dari Banu Quraizah. Ia pernah berjasa kepada Tsabit bin Qais ketika terjadi perang Bu'ath, sebab ia telah membebaskannya dari tawanan musuh. Sekarang Tsabit ingin membalas dergan tangannya sendiri budi orang itu, setelah Sa’ad ibn Mu'adh menjatuhkan keputusannya terhadap orang-orang Yahudi. Disampaikannya kepada Rasulullah tentang jasa Zubair kepadanya dulu dan ia mempertaruhkan diri minta persetujuannya akan menyelamatkan nyawa Zubair. Rasulullah mengabulkan pernmintaannya itu. Tetapi setelah Zubair mengetahui usaha Tsabit itu ia berkata: Orang yang sudah setua aku ini, tidak lagi ada isteri, tidak lagi ada anak; buat apa lagi aku hidup.
Sekali lagi Tsabit mempertaruhkan diri minta supaya isteri dan anak-anaknya dibebaskan. Ini pun dikabulkan juga. Selanjutnya dimintanya supaya hartanya juga diselamatkan. Juga ini dikabulkan.
Setelah Zubair merasa puas tentang isteri, anak dan hartanya itu, ia bertanya lagi tentang Ka’ab bin Asad, tentang Huyay bin Akhtab dan 'Azzal bin Samu'al serta pemimpin-pemimpin Quraizah yang lain. Sesudah diketahuinya, bahwa mereka sudah menjalani hukuman mati, ia berkata:
"Tsabit, dengan budiku kepadamu itu aku minta, susulkanlah aku kepada mereka. Sesudah mereka tidak ada, juga tidak berguna aku hidup lagi. Aku sudah tidak betah hidup lama-lama lagi. Biarlah aku segera bertemu dengan orang-orang yang kucintai itu!”
Dengan demikian hukuman potong leher dijalankan juga atas permintaannya sendiri.
Pada dasarnya dalam perang itu pihak Muslimin tidak akan membunuh wanita atau anak-anak. Tetapi pada waktu itu mereka sampai membunuh seorang wanita juga yang telah lebih dulu membunuh seorang Muslim dengan mempergunakan batu giling. Dalam hal ini Aisyah pernah berkata:
"Tentang dia sungguh suatu hal yang aneh tidak pernah akan saya lupakan. Dia seorang orang yang periang dan banyak tertawa, padahal dia mengetahui akan dibunuh mati.”
Waktu itu ada empat orang pihak Yahudi yang masuk Islam. Mereka ini terhindar dari maut.
Menurut hemat kami terbunuhnya Banu Quraizah itu berada di tangan Huyay bin Akhtab, meskipun dia sendiri juga turut terbunuh. Dia telah melanggar janji yang dibuat oleh golongannya sendiri, oleh Banu Nadhir, yang oleh Rasulullah Saw telah dikeluarkan dari Medinah dengan tiada seorang pun yang dibunuh, setelah keputusannya itu mereka terima. Tetapi dengan tindakannya menghasut pihak Quraisy dan Ghatafan, kemudian menyusun masyarakat dan kabilah-kabilah Arab semua supaya memerangi Rasulullah Saw, hal ini telah memperbesar rasa permusuhan antara golongan Yahudi dengan kaum Muslimin, sehingga mereka itu berkeyakinan, bahwa kaum Israil itu tidak akan merasa puas sebelum dapat mengikis habis Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Dia juga lagi yang kemudian mengajak Banu Quraizah melanggar perjanjian dan meninggalkan sikap kenetralannya. Sekiranya Banu Quraizah tetap bertahan, tentu mereka takkan mengalami nasib seburuk itu. Dia juga yang kemudian datang ke benteng Banu Quraizah - setelah kepergian pihak Ahzab dan mengajak mereka melawan kaum Muslimin. Sekiranya dari semula mereka sudah bersedia pula menerima keputusan Rasulullah Saw serta mengakui kesalahannya yang telah melanggar janjinya sendiri itu, pertumpahan darah dan pemotongan leher niscaya takkan terjadi. Akan tetapi, permusuhan itu sudah begitu berakar dalam jiwa Huyay dan kemudian menular pula ke dalam hati orang-orang Quraizah, sehingga Sa’ad bin Mu'adh sendiri sebagai kawan sepersekutuan mereka yakin bahwa kalau mereka dibiarkan hidup, keadaan tidak akan pernah jadi tenteram. Mereka akan menghasut lagi golongan Ahzab, akan mengerahkan kabilah-kabilah dan orang-orang Arab supaya memerangi Muslimin, dan akan mengikis sampai ke akar-akarnya kalau mereka dapat mengalahkan. Keputusan yang telah diambilnya dengan begitu keras, hanyalah karena terdorong oleh sikap hendak mempertahankan diri, dengan pertimbangan bahwa adanya atau lenyapnya orang-orang Yahudi itu berarti hidup atau matinya kaum Muslimin.
Kaum wanita, anak-anak serta harta-benda Banu Quraizah oleh Nabi di bagi-bagikan kepada kaum Muslimin, setelah seperlimanya dikeluarkan, Setiap seorang dari pasukan berkuda mendapat dua pucuk panah, untuk kudanya sepucuk panah.
Prajurit yang berjalan kaki mendapat sepucuk panah. Jumlah kuda dalam peristiwa Quraizah itu sebanyak tigapuluh enam ekor.
Setelah itu, Sa’ad bin Zaid kemudian mengirimkan tawanan-tawanan Banu Quraizah itu ke Najd. Dengan demikian dibelinya beberapa ekor kuda dan senjata untuk lebih memperkuat angkatan perang Muslimin.
Raihana adalah salah seorang tawanan Banu Quraizah. Ia jatuh menjadi bagian Rasulullah Saw. Kepadanya ditawarkan kalau-kalau ia bersedia menjadi orang Islam. Tetapi ia tetap bertahan dengan agama Yahudinya. Juga ditawarkan kepadanya kalau-kalau ia mau di kawini. Tetapi dia menjawab: "Biar sajalah saya dibawah tuan. Ini akan lebih ringan buat saya, juga buat tuan.”
Barangkali juga, melekatnya ia kepada agama Yahudi dan penolakannya akan dikawin, berpangkal pada fanatisma kegolongan, serta sisa-sisa kebencian yang masih tertanam dalam hatinya terhadap kaum Muslimin dan terhadap Nabi. Tetapi tidak ada orang yang bicara tentang kecantikan Raihana seperti yang pernah disebut-sebut orang tentang Zainab bt. Jahsy, sekalipun ada juga yang menyebutkan bahwa dia juga cantik. Buku-buku sejarah dalam hal ini berbeda-beda pendapat: Adakah ia juga menggunakan tabir seperti terhadap isteri-isteri Nabi, atau masih seperti wanita-wanita Arab umumnya pada waktu itu, yang memang tidak menggunakan tutup muka. Sampai pada waktu Raihana wafat di tempat Nabi, ia tetap sebagai miliknya.
Adanya serbuan Ahzab serta hukuman yang telah di jatuhkan kepada Banu Quraizah, telah memperkuat kedudukan Muslimin di Medinah. Orang-orang golongan Munafik sudah samasekali tidak bersuara lagi. Semua masyarakat dan kabilah-kabi]ah Arab sudah mulai bicara tentang kekuatan dan kekuasaan Muslimin, disamping posisi dan kewibawaan Rasulullah Saw yang ada. Akan tetapi ajaran itu bukan hanya buat Medinah saja, meiainkan buat seluruh dunia. Jadi Nabi dan sahabat-sahabatnya masih harus terus meratakan jalan dalam menjalankan perintah Allah, dalam mengajak orang menganut agama yang benar, dengan terus membendung setiap usaha yang hendak melanggarnya. Dan memang inilah yang mereka lakukan. ◙
Kewaspadaan Rasulullah Saw
Setelah Madinah dikosongkan dari Banu Nadhir, dan setelah peristiwa Badar Terakhir dan sesudah ekspedisi-ekspedisi Ghatafan dan Dumat al-Jandal berlalu, tiba waktunya kaum Muslimin sekarang merasakan hidup yang lebih tenang di Madinah. Mereka sudah dapat mengatur hidup, sudah tidak begitu banyak mengalami kesulitan berkat adanya rampasan perang yang mereka peroleh dari peperangan selama itu, meskipun dalam banyak hal kejadian ini telah membuat mereka lupa terhadap masalah-masalah pertanian dan perdagangan. Tetapi di samping ketenangan itu Rasulullah Saw selalu waspada terhadap segala tipu-muslihat dan gerak-gerik musuh. Mata-mata selalu disebarkan ke seluruh pelosok jazirah, mengumpulkan berita-berita sekitar kegiatan masyarakat Arab yang hendak berkomplot terhadap dirinya. Dengan demikian ia selalu dalam siap-siaga, sehingga kaum Muslimin dapat selalu mempertahankan diri.
Tidak begitu sulit orang menilai betapa perlunya harus bersikap waspada dan berhati-hati selalu setelah kita melihat adanya segala macam tipu-muslihat Quraisy dan yang bukan Quraisy terhadap kaum Muslimin, juga karena negeri-negeri masa itu - juga sesudah itu sebagian besar dalam perkembangan sejarahnya masing-masing mereka itu merupakan sekumpulan republik-republik kecil, yang satu sama lain berdiri sendiri-sendiri. Mereka masing-masing menggunakan sistem organisasi yang lebih dekat pada cara-cara kabilah. Hal ini memaksa mereka harus berlindung pada adat-lembaga dan tradisi yang ada, yang tidak mudah dapat kita bayangkan seperti halnya pada bangsa-bangsa yang sudah teratur. Dalam hal ini Rasulullah Saw pun sebagai orang Arab sangat waspada mengingat nafsu hendak membalas dendam yang ada dalam naluri orang-orang Arab itu besar sekali. Baik Quraisy maupun Yahudi Banu Qainuqa' dan Yahudi Banu Nadhir, demikian juga kabilah-kabilah Arab Ghatafan, Hudhail dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan Syam, mereka saling menunggu, bahwa Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya itu akan binasa. Kalaupun mereka akan mendapat kesempatan, masing-masing berharap akan dapat mengadakan balas dendam terhadap laki-laki yang sekarang datang mencerai-beraikan masyarakat Arab dengan kepercayaan mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Mekah, mengungsi dalam keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman yang telah memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun sekarang orang ini sudah kuat, sudah mempunyai kemampuan, sehingga kota-kota dan kabilah-kabilah Arab yang terkuat sekalipun, merasa segan kepadanya.
Orang-orang Yahudi adalah musuh Rasulullah Saw yang paling tajam memperhatikan ajaran-ajaran dan cara berdakwahnya. Dengan kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan nasib yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid (monotheisme). Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan dapat mengalahkan lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih condong pada pengertian monotheisme. Sementara ajaran trinitas Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh jiwa Semit. Dan sekarang Rasulullah Saw, orang yang berasal dari pusat Arab dan dari pusat orang-orang Semit sendiri, menganjurkan ajaran tauhid dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan sekali, dapat menjelajahi dan merasuk sampai ke lubuk hati orang, dan mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu Qainuqa' dari Madinah, mengusir Banu Nadhir dari daerah koloni mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka sendiri pergi ke Syam atau pulang ke tanah air mereka yang pertama, ke Baitul-Maqdis (Yerusalem) di Negeri yang Dijanjikan – Ardhil Mi'ad - (Palestina), ataukah mereka harus berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat membalas dendam kepada Rasulullah Saw.
Rencana hendak menghasut orang-orang Arab adalah yang paling terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka Banu Nadhir. Untuk melaksanakan rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka pergi hendak menemui Quraisy di Mekah. Mereka terdiri dari Huyay bin Akhtab Sallam bin Abi al-Huqaiq dan Kinana bin al-Huqaiq, bersama-sama dengan beberapa orang dari Banu Wa'il Hawadha bin Qais dan Abu 'Ammar. Ketika oleh pihak Mekah, Huyay ditanya mengenai golongannya itu ia menjawab: "Mereka saya biarkan mondar-mandir ke Khaibar dan ke Madinah sampai tuan-tuan nanti datang ke tempat mereka dan berangkat bersama-sama menghadapi Rasulullah Saw dan sahabatsahabatnya.”
Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraizhah, ia menjawab:
“Mereka tinggal di Madinah sekedar mau mengelabui Rasulullah Saw. Kalau tuan-tuan sudah datang mereka akan bersama-sama dengan tuan-tuan.” Pihak Quraisy jadi ragu-ragu akan maju, atau mundur saja. Mereka dengan Rasulullah Saw tidak berselisih apa-apa, selain ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat dan tinggi juga. Yahudi lebih mengutamakan paganisme daripada Islam.
“Tuan-tuan dari golongan Yahudi," kata pihak-Quraisy. “Tuan-tuan adalah ahli kitab yang mula-mula dan sudah mengetahui pula apa yang menjadi pertentangan antara kami dengan Rasulullah Saw. Soalnya sekarang: manakah yang lebih baik, agama kami atau agamanya.”
“Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan lebih benar dari dia.”
Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan
“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah diberi sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala dan mereka berkata kepada orang-orang kafir: 'Jalan mereka lebih benar dari orang yang beriman.' Mereka itulah yang dikutuk oleh Tuhan. Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya takkan ada penolong.” (QS. 4: 51-52).
Dalam posisi orang-orang Yahudi menghadapi Quraisy ini dengan sikap lebih mengutamakan paganisme mereka daripada tauhid Rasulullah Saw. Seharusnya mereka itu tidak boleh sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang begitu kotor, dan jangan pula berkata dengan terus-terang di depan pemuka-pemuka Quraisy, bahwa cara menyembah berhala itu lebih baik daripada tauhid seperti yang diajarkan Islam, meskipun hal itu akan mengakibatkan permintaan mereka tidak akan dipenuhi. Oleh karena orang-orang Israil sejak berabad-abad lamanya atas nama nenek-moyang dahulu kala sebagai pengemban panji tauhid (monotheisme) di antara bangsa-bangsa di dunia, dan telah pula mengalami berbagai macam penderitaan, pembunuhan dan penindasan hanya karena iman mereka kepada Tuhan Yang Tunggal itu, yang mereka alami dalam berbagai zaman selama dalam perkembangan sejarah, maka sudah seharusnya mereka itu bersedia mengorbankan hidup mereka, mengorbankan segala yang mereka cintai dalam menghadapi dan menaklukan kaum musyrik itu. Apalagi dengan minta perlindungan kepada pihak penyembah berhala, itu berarti mereka telah memerangi diri sendiri serta menentang ajaran-ajaran Taurat yang meminta mereka menjauhi penyembah-penyembah berhala dan dalam menghadapi mereka supaya bersikap seperti menghadapi musuh.
Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang sepaham dengan dia, yang telah mengatakan kepada Quraisy bahwa paganisme mereka lebih baik daripada tauhid Rasulullah Saw dengan maksud supaya mereka sudi memeranginya, dan yang akan mereka laksanakan setelah sekian bulan disiapkan, tampaknya tidak cukup sampai di situ saja. Malah orang-orang Yahudi itu pergi lagi menemui kabilah Ghatafan yang terdiri dari Qais 'Ailan, Banu Fazara, Asyja' Sulaim, Banu Sa’ad dan Asad, serta semua pihak yang ingin menuntut balas kepada Muslimin. Mereka ini aktif sekali mengerahkan orang supaya menuntut balas dengan menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi Rasulullah Saw. Paganisme Quraisy mereka puji dan mereka menjanjikan, bahwa mereka pasti akan mendapat kemenangan.
Kelompok-kelompok yang sudah diorganisasikan oleh pihak Yahudi itu kini berangkat hendak memerangi Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Dari pihak Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan sudah disiapkan 4000 orang prajurit, tiga ratus ekor kuda dan 1500 orang dengan unta. Pimpinan brigade yang disusun di Darun Nadwah diserahkan kepada Utsman bin Talha. Ayah orang ini telah mati terbunuh dalam memimpin pasukan di Uhud. Banu Fazara yang dipimpin oleh 'Uyainah bin Hishn bin Hudhaifa telah siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja' dan Murrah masing-masing membawa 400 prajurit. Pihak Murrah dipimpin oleh Al-Harits bin 'Auf dan dari pihak Asyja' oleh Misiar ibn Rukhaila. Menyusul pula Sulaim, biangkeladi peristiwa Bi'ir Ma'una, dengan 700 orang. Mereka itu semua berkumpul, yang kemudian datang pula Banu Sa'ad dan Asad menggabungkan diri. Jumlah mereka kurang lebih semuanya menjadi 10.000 orang. Semua mereka itu berangkat menuju Madinah di bawah pimpinan Abu Sufyan. Setelah mereka sampai, selama dalam perang, pemuka-pemuka kabilah itu saling bergantian pimpinan, masing-masing sehari mendapat giliran.
Berita keberangkatan mereka ini sampai juga kepada Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah. Mereka merasa gentar. Ya, sekarang seluruh kabilah Arab sudah bersatu sepakat hendak menumpas dan memusnahkan mereka, sudah datang dengan perlengkapan dan jumlah manusia yang besar, suatu hal yang dalam sejarah peperangan Arab secara keseluruhannya belum pernah terjadi. Apabila dalam perang Uhud Quraisy telah mendapat kemenangan atas mereka, ketika mereka keluar menyongsong keluar Madinah, padahal baik jumlah perlengkapan maupun jumlah manusia jauh di bawah pasukan sekutu ini, apa lagi yang dapat dilakukan kaum Muslimin sekarang dalam menghadapi jumlah pasukan yang terdiri dari beribu-ribu rnanusia itu - barisan berkuda, unta, persenjataan serta perlengkapan lainnya?! Tidak ada jalan lain, hanya bertahan di Yatsrib yang masih perawan ini, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Ubay.
Salman al-Farisi adalah orang yang banyak mengetahui seluk-beluk peperangan, yang belum dikenal di daerah-daerah Arab. Ia menyarankan supaya di sekitar Madinah itu digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran ini segera dilaksanakan oleh kaum Muslimin. Ketika menggali parit itu Nabi Saw juga dengan tangannya sendiri ikut bekerja. Ia turut mengangkat tanah dan sambil terus memberi semangat, dengan menganjurkan kepada mereka supaya terus melipatgandakan kegiatan. Pihak Muslimin sudah membawa alat-alat yang diperlukan, terdiri dari sekop, cangkul dan keranjang pengangkut tanah dari tempat orang-orang Yahudi Quraizhah yang masih berada di bawah pihak Islam. Dengan bekerja giat terus-menerus penggalian parit itu selesai dalam waktu enam hari. Dalam pada itu dinding-dinding rumah yang menghadap ke arah datangnya musuh, yang jaraknya dengan parit itu kira-kira dua farsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di belakang parit itu dikosongkan. Wanita dan anak-anak ditempatkan dalam rumah-rumah yang sudah diperkuat, dan di samping parit dari arah Madinah ditaruh pula batu supaya di waktu perlu dapat dilemparkan sebagai senjata.
Tatkala pihak Quraisy dan kelompok-kelompoknya itu datang dengan harapan akan menemui Rasulullah Saw di Uhud, ternyata tempat itu kosong. Mereka meneruskan perjalanan ke Madinah; tapi mereka dikejutkan oleh adanya parit. Di luar dugaan semula, mereka heran sekali melihat jenis pertahanan yang masih asing bagi mereka itu. Dibawa oleh perasaan jengkel, mereka pun menganggap bahwa berlindung di balik parit semacam itu adalah suatu perbuatan pengecut yang belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arabi Pasukan Quraisy dan sekutu-sekutunya lalu bermarkas di Mujtama’ As-yal di daerah Ruma, dan pasukan Ghatafan serta pengikut-pengikutnya dari Najd, bermarkas di Dzanab Naqama. Sedang Rasulullah Saw sekarang berangkat dengan tiga ribu orang Muslimin, dengan membelakangi bukit Salu’ dan dijadikannya parit itu sebagai batas dengan pihak musuh. Di tempat inilah ia bermarkas dan memasang kemahnya yang berwarna merah.
Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat, bahwa tidak mungkin mereka menerobos parit itu. Dengan demikian selama beberapa hari mereka hanya saling melemparkan anak panah. Abu Sufyan sendiri dengan pengikut-pengikutnya pun yakin bahwa akan sia-sia saja mereka lama-lama menghadapi kota Yatsrib dengan paritnya itu, karena tidak akan dapat mereka menerobosnya
Pada waktu itu sedang terjadi musim dingin yang luarbiasa disertai angin badai yang bertiup kencang, sehingga sewaktu-waktu dikawatirkan hujan lebat akan turun. Kalau orang-orang Mekah dan orang-orang Ghatafan dengan mudah saja dapat berlindung dalam rumah-rumah mereka di Mekah atau di Ghatafan, maka kemah-kemah yang mereka pasang sekarang di depan kota Yatsrib itu sama-sekali takkan dapat melindungi mereka. Di samping itu tadinya memang mereka mengharap akan memperoleh kemenangan secara lebih mudah, tidak perlu susah-payah seperti pada waktu di Uhud. Mereka akan kembali pulang dengan menyanyikan lagu-lagu kemenangan serta menikmati adanya pembagian barang-barang jarahan dan rampasan perang. Jadi apalagi kalau begitu yang masih menahan Ghatafan buat kembali pulang?! Mereka ikut melibatkan diri dalam perang itu hanya karena pihak Yahudi pernah menjanjikan mereka dengan buah-buahan hasil pertanian dan perkebunan Khaibar, apabila mereka memperoleh kemenangan. Tetapi sekarang mereka melihat untuk memperoleh kemenangan itu tampaknya tidak mudah, atau setidak-tidaknya sudah di luar kenyataan. Dalam musim dingin yang begitu hebat rupanya diperlukan kerja keras yang luarbiasa yang akan membuat mereka lupa segala buah-buahan berikut kebun-kebunnya itu!
Sebaliknya pihak Quraisy yang hendak menuntut balas karena peristiwa Badar dan kekalahan-kekalahan lain sesudah Badar, pada suatu waktu masih akan dapat mengejar dengan harapan parit itu tidak akan selamanya berada dalam genggaman Rasulullah Saw dan selama pihak Banu Quraizhah masih bersedia memberikan bantuan kepada penduduk Yatsrib, yang akan memperpanjang perlawanan mereka sampai berbulan-bulan. Bukankah lebih baik pihak Ahzab itu kembali pulang saja? Ya! Akan tetapi mengumpulkan kembali kelompok-kelompok itu nanti buat memerangi Rasulullah Saw lagi bukanlah soal yang mudah. Sebenarnya orang-orang Yahudi itu, terutama Huyay bin Akhtab sebagai pemimpin mereka, sekali itu telah berhasil mengumpulkan kabilah-kabilah itu untuk membalas dendam golongannya dan golongan Banu Qainuqa' terhadap Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Apabila kesempatan itu sudah hilang, maka jangan diharap ia akan kembali, dan bilamana Rasulullah Saw mendapat kemenangan dengan ditariknya pihak Ahzab itu, maka bahaya besar akan mengancam pihak Yahudi.
Semua itu sudah diperhitungkan oleh Huyay bin Akhtab. Ia kuatir akan akibatnya. jalan lain tidak ada. Ia harus mempertaruhkan nasib terakhir. Kepada pihak Ahzab itu ia membisikkan, bahwa ia sudah dapat meyakinkan Banu Quraizhah supaya membatalkan perjanjian perdamaiannya dengan Rasulullah Saw dan pihak Muslimin, dan selanjutnya akan menggabungkan diri dengan mereka, dan bahwa begitu Banu Quraizhah melaksanakan hal ini, maka dari suatu segi terputuslah semua perbekalan dan bala bantuan kepada Rasulullah Saw itu, dan dari, segi lain jalan masuk ke Yatsrib akan terbuka. Quraisy dan Ghatafan merasa gembira atas keterangan Huyay itu. Huyay sendiri cepat-cepat berangkat hendak menemui Ka'ab bin Asad, orang yang berkepentingan dengan adanya perjanjian Banu Quraizhah itu. Tetapi begitu mengetahui kedatangannya itu Ka'ab sudah menutup pintu bentengnya, dengan perhitungan bahwa pembelotan Banu Quraizhah terhadap Rasulullah Saw dan membatalkan perjanjiannya secara sepihak kemudian menggabungkan diri dengan musuhnya, adakalanya memang akan menguntungkan pihak Yahudi kalaupun pihak Muslimin yang dapat dihancurkan. Tetapi sebaliknya sudah seharusnya pula mereka akan habis samasekali bila pihak Ahzab itu yang mengalami kekalahan dan kekuatan mereka hilang dari Madinah. Sungguh pun begitu Huyay terus juga berusaha, hingga akhirnya pintu benteng itu dibuka.
“Ka'ab, sungguh celaka,” katanya kemudian, “Saya datang pada waktu yang tepat dan membawa tenaga yang tepat pula. Saya datang membawa Quraisy dan Ghatafan dengan pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka. Mereka sudah berjanji kepadaku, bahwa mereka tidak akan beranjak sebelum dapat mengikis habis Rasulullah Saw dan kawan-kawannya itu.”
Tetapi Ka'ab masih juga maju mundur. Disebutnya kejujuran serta kesetiaan Rasulullah Saw kepada perjanjian itu. Ia kuatir akan akibatnya atas apa yang diminta oleh Huyay itu. Tetapi Huyay masih terus menyebut-nyebut bencana yang dialami orang-orang Yahudi karena Rasulullah Saw itu, dan juga bencana yang akan mereka alami sendiri nanti bilamana Ahzab tidak berhasil mengikisnya. Diuraikannya juga kekuatan pihak Ahzab itu serta perlengkapan dan jumlah orangnya. Yang sekarang masih merintangi mereka untuk menumpas semua orang-orang Islam dalam sekejap mata itu, hanyalah parit itu saja. Sekarang Ka’ab sudah mulai lunak.
“Kalau pasukan Ahzab itu berbalik?" tanyanya kemudian. Di sini Huyay memberikan jaminan, bahwa kalau Quraisy dan Ghatafan sampai kembali dan tidak berhasil menghantam Rasulullah Saw ia pun akan tinggal dalam benteng itu dan akan tetap bersama-sama dalam seperjuangan. Dalam hati Ka'ab nafsu Yahudinya sudah mulai bergerak-gerak. Permintaan Huyay itu diterimanya, perjanjian dengan Rasulullah Saw dan kaum Muslimin mulai dilanggarnya dan ia sudah keluar dari sikap kenetralannya.
Berita-berita penggabungan Quraizhah dengan pihak Ahzab itu sampai juga kepada Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkejut dan kuatir juga akan akibat yang mungkin terjadi. Rasulullah Saw segera mengutus Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin Aus dan Sa'ad bin 'Ubadah, pemimpin Khazraj, disertai pula oleh Abdullah bin Rawahah dan Khawat bin Jubair dengan tujuan supaya mempelajari duduk perkara yang sebenarnya. Bilamana mereka kembali pulang, hendaknya dapat memberikan isyarat kalau memang hal itu benar, supaya jangan nanti sampai mematahkan semangat orang.
Tetapi sesampainya para utusan itu ke sana, mereka melihat keadaan Quraizhah justeru lebih jahat lagi dari apa yang pernah mereka dengar semula. Diusahakan juga oleh utusan itu supaya mereka mau menghormati perjanjian yang ada. Tetapi Ka'ab berkata kepada mereka, supaya orang-orang Yahudi Banu Nadhir dikembalikan ke kampung halaman mereka. Ketika itu Said bin Mu'adz - yang juga bersahabat baik dengan pihak Quraizhah - mencoba meyakinkan supaya jangan sampai mereka mengalami nasib seperti yang pernah dialami oleh Banu Nadhir, atau yang lebih parah lagi dari itu. Pihak Yahudi sekarang mau terus melancarkan serangan kepada Rasulullah Saw.
“Siapa Rasulullah itu!?" kata Ka'ab, ‘”Kami dengar Rasulullah Saw tidak terikat oleh sesuatu persahabatan atau perjanjian apa pun!” Kedua belah pihak itu lalu saling adu mulut.
Utusan-utusan Rasulullah Saw pulang. Mereka melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Bencana besar kini mengancam. Kekuatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Madinah kini melihat pihak Quraizhah telah membukakan jalan bagi Ahzab, yang akan memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar khayal dan illusi saja. Terbukti Banu Quraizhah sekarang sudah memutuskan segala bantuan dan bahan makanan kepada mereka. Juga terbukti sekembalinya Huyay bin Akhtab yang memberitahukan kepada mereka, bahwa Quraizhah telah tergabung dengan pihak Quraisy dan Ghatafan - jiwa mereka sudah berubah dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Soalnya lagi pihak Quraizhah telah memperpanjang waktu selama sepuluh hari lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan persiapan, asal Ahzab selama sepuluh hari itu benar-benar mau menyerbu kaum Muslimin. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka telah menyusun tiga buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah pasukan di bawah pimpinan Ibn al-A'war as-Sulami didatangkan dari jurusan sebelah atas wadi, pasukan yang dipimpin oleh 'Uyaina bin Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit. Dalam peristiwa inilah ayat berikut ini turun:
“Tatkala mereka datang kepadamu dari jurusan atas dan bawah, dan pandangan mata sudah jadi kabur, hati pun naik menyekat di kerongkongan (sangat gelisah), ketika itu kamu berprasangka tentang Tuhan, prasangka yang salah belaka. Saat itulah orang-orang yang beriman mendapat cobaan dan mereka mengalami keguncangan yang hebat sekali. Dan ingat! ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya itu berkata: Apa yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kami hanyalah tipu daya belaka. Juga ketika ada satu golongan diantara mereka itu berkata: "Wahai penduduk Yatsrib! Tak ada tempat buat kamu. Kembalilah kamu pulang." Dan ada sebagian dari mereka itu yang meminta ijin kepada Nabi seraya berkata: 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.' Tetapi sebenarnya tidak terbuka. Hanya saja mereka itu ingin melarikan diri." (QS. Al-Ahzab: 10-13).
Tetapi buat penduduk Yatsrib masih dapat dimaafkan kalau mereka sampai begitu takut dan hati mereka terguncang karenanya. Mereka yang masih dapat dimaafkan itu ialah yang berpendapat: Dulu Rasulullah Saw menjanjikan kami, bahwa kami mendapat harta kekayaan Kisra dan Kaisar Romawi. Tetapi sekarang orang sudah merasa tidak aman lagi sekalipun hanya akan pergi ke kebun. Pandangan mata mereka yang jadi kabur pun dapat dimaafkan. Demikian juga mereka yang merasa sangat gelisah dalam ketakutan dapat juga dimaafkan. Bukankah maut juga yang sekarang sedang menari-nari di depan matanya, menjilat-jilat menyala keluar dari mata pedang yang di tangan Quraisy dan Ghatafan, menyusup-nyusup ke dalam hati sebagai ancaman, dan juga yang datang dari rumah-rumah Banu Quraizhah yang berkhianat itu? Sungguh celaka orang-orang Yahudi. Sungguh patut sekali kalau Rasulullah Saw mengikis habis saja Banu Nadhir itu daripada hanya sekedar membiarkan mereka pergi dalam keadaan berkecukupan, serta membiarkan Huyay dan antek-anteknya menghasut masyarakat dan kabilah-kabilah Arab supaya menghantam kaum Muslimin. Ya, sungguh suatu bencana besar, suatu ancaman besar. "Tak ada daya upaya kalau tidak dengan Allah juga.”
Dari segi moril pihak Ahzab sudah merasa begitu tinggi, sehingga ada beberapa orang ksatria dari Quraisy yang sudah berani maju ke depan, seperti 'Amr bin 'Abdi Wudd, 'Ikrimah bin Abi Jahl dan Dhirar bin al-Khattab. Mereka langsung menyerbu parit itu, mereka menuju ke suatu bagian yang agak sempit. Dipacunya kuda mereka itu sehingga mereka dapat menyeberangi parit dan sampai di Sabkha yang terletak antara parit dengan bukit Salu'. Ketika itu juga Ali bin Abi Talib keluar dengan beberapa orang dari kalangan Muslimin, terus cepat-cepat merebut sebuah rongga dalam parit yang telah diserbu oleh pasukan berkuda mereka. Ketika itu 'Amr bin 'Abd. Wudd memanggil-manggil.
“Siapa berani bertanding!”
Setelah ajakannya itu disambut oleh Ali bin Abi Talib, ia berkata lagi dengan congkak sekali:
“Oh kemenakanku! Aku tidak ingin membunuhmu!”
“Tapi aku ingin membunuhmu,” sahut Ali.
Kemudian duel itu terjadi, dan Ali berhasil membunuhnya. Saat itu juga pasukan berkuda pihak Ahzab lari kocar-kacir, sehingga mereka terbentur sekali lagi ke dalam parit sambil lari terus tanpa melihat kekanan-kiri.
Tatkala matahari sudah terbenam, ketika itu datang pula Naufal bin Abdullah bin al-Mughirah dengan menunggang kudanya hendak menyeberangi parit itu, tapi saat itu juga ia mendapat pukulan hebat sehingga ia berikut kudanya itu mati dan hancur di tempat tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan menyampaikan tawaran hendak menebus mayat kawannya itu dengan seratus ekor unta, tetapi itu oleh Rasulullah Saw ditolak, seraya berkata:
“Ambillah mayat itu. Barang yang kotor tebusannya kotor juga.”
Dengan cara yang berlebih-lebihan pihak Ahzab sekarang mulai lagi hendak mengobarkan api permusuhannya dengan maksud menakut-nakuti dan melemahkan jiwa kaum Muslimin. Orang-orang Quraizhah yang bersemangat mulai turun dari benteng-benteng dan kubu-kubu mereka. Mereka memasuki rumah-rumah di Madinah yang terdekat pada mereka. Maksud mereka mau menakut-nakuti penduduk.
Pada waktu itu Shafian binti Abdul Muttalib sedang berada dalam Fari', benteng Hassan bin Tsabit. Juga Hassan ketika itu di sana dengan kaum wanita dan anak-anak. Waktu itu ada seorang orang Yahudi yang mondar-mandir sekeliling benteng itu seraya mengatakan:
“Kalian lihat bukan?,” kata Shafia kepada Hassan, "Orang Yahudi itu mondar-mandir sekeliling benteng kita. Sungguh aku tidak mempercayainya. Ia akan menunjukkan rahasia kita kepada pihak Yahudi. Sedang Rasulullah dan sahabat-sahabat sedang sibuk. Turunlah kau dan bunuh orang itu.
“Semoga Tuhan mengampunimu, Shafia,” jawab Hassan, “Engkau tahu, aku bukan orang yang akan melakukan itu.”
Mendengar itu Shafia langsung mengambil sebatang tongkat. Ia turun dari benteng itu dan orang Yahudi tadi dipukulnya Sampai ia menemui ajalnya.
“Hassan, turunlah dan lucuti dia. Sayang dia laki-laki; kalau tidak aku sendiri yang akan melakukannya,” seru Shafia lagi.
"Shafia, tidak perlu aku melucuti dia," jawab Hassan. Penduduk Madinah masih dalam ketakutan, hati mereka masih gelisah selalu. Dalam kondisi itu yang selalu menjadi pikiran Rasulullah Saw adalah bagaimana caranya mencari jalan keluar, harus ada suatu taktik. Dikirimnya utusan kepada pihak Ghatafan dengan menjanjikan sepertiga hasil buah-buahan Madinah untuk mereka asal mereka mau pergi meninggalkan tempat itu.
Usaha gemilang yang perlu dicatat dengan tinta emas adalah penyebaran intrik dari pihak Muslim yang dilancarkan oleh Nu’aim pada kalangan Ahzab dan Quraizhah. Pihak Ghatafan sendiri sebenarnya sudah mulai jemu. Mereka sudah memperlihatkan perasaan muak, karena begitu lama mereka mengadakan pengepungan dengan segala jerih payah yang mereka hadapi selama itu. Soalnya hanyalah karena mau memenuhi ajakan Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang menjadi pengikutnya. Di samping itu, Nu'aim bin Mas'ud, dengan perintah Rasul telah pergi hendak menemui pihak Quraizhah, yang ketika itu belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam. Pada zaman jahiliah ia bergaul rapat sekali dengan pihak Quraizhah. Diingatkannya kembali hubungan dan persahabatan mereka masa dahulu itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah mendukung Quraisy dan Ghatafan dalam menghadapi Rasulullah Saw, sedang baik Quraisy maupun Ghatafan mungkin tidak akan tahan lama tinggal di tempat itu. Kedua kabilah ini tentu akan berangkat pulang, dan mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi Rasulullah Saw yang tentunya nanti akan menghajar mereka pula. Oleh karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau ikut golongan itu sebelum mendapat jaminan beberapa orang sebagai sandera dari kedua golongan itu. Dengan demikian Quraisy dan Ghatafan tidak akan meninggalkan mereka. Quraizhah merasa puas dengan keterangan Nu'aim itu. Ini merupakan intrik yang amat jitu.
Selanjutnya ia (Nu’aim) pergi lagi kepada Quraisy dengan membisikkan, bahwa sebenarnya pihak Quraizhah merasa menyesal sekali atas tindakannya melanggar perjanjian dengan Rasulullah Saw dan bahwa mereka sekarang berusaha hendak mengambil hatinya dan mengadakan tali persahabatan lagi dengan jalan hendak menyerahkan pemimpin-pemimpin Quraisy kepadanya supaya dibunuh. Oleh karena itu lalu disarankannya, bahwa bilamana nanti pihak Yahudi mengutus orang meminta jaminan berupa pemimpin-pemimpin mereka, jangan dikabulkan. Seperti terhadap Quraisy, kemudian Nu'aim melakukan hal yang sama pula terhadap Ghatafan. Keterangan Nu'aim ini telah menimbulkan keraguan dalam hati Quraisy dan Ghatafan.
Pemimpin-pemimpin mereka segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui Ka'ab, pemimpin Banu Quraizhah dengan pesan: "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung orang itu. Menurut hemat kami besok kamu harus sudah menyerbu Rasulullah Saw dan kami dibelakangmu.
Tetapi utusan Abu Sutyan itu kembali dengan membawa jawaban pemimpin Quraizhah: "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.”
Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Benar juga kata Nu'aim kalau begitu. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak Quraizhah: "Cari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok, sebab besok Rasulullah Saw harus sudah diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Rasulullah Saw sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar, dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Rasulullah Saw."
Pernyataan Abu Sufyan itu oleh Quraizhah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.
Mendengar permintaan semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi akan keterangan yang telah diberikan Nu'aim itu. Terpikir olehnya sekarang apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini dibicarakan dengan pihak Ghatafan ternyata mereka juga masih maju-mundur hendak memerangi Rasulullah Saw. Mereka terpengaruh oleh janji yang pernah diberikan kepada mereka, bahwa sepertiga hasil buah-buahan kota Madinah nanti untuk mereka, tapi janji tersebut belum terlaksana karena masih mendapat tantangan dari Sa’id bin Mu'adz dan pemuka-pemuka Madinah, baik kalangan Aus dan Khazraj maupun dari sahabat-sahabat Rasulullah.
Namun yang amat menggembirakan, pada malam harinya angin topan bertiup kencang sekali, disertai oleh hujan yang turun dengan lebatnya. Bunyi petir menderu-deru dan sambung-menyambung. Tiba-tiba angin topan itu bertiup kencang sekali dan periuk-periuk tempat mereka masak terbalik belaka. Sekarang timbul rasa takut dalam hati. Terbayang oleh mereka bahwa kaum Muslimin akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang dan menghantam mereka. Ketika itu Tulaihah bin Khuailid tampil seraya berteriak: "Rasulullah Saw telah mendahului menyerang kita. Selamatkan dirimu! Selamatkan!”
"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan kita yang terdiri dari kuda dan unta sudah binasa, Banu Quraizhah sudah tidak menepati janjinya lagi dengan kita, bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat. Maka lebih baik pulang sajalah. Saya pun akan berangkat pulang.”
Di tengah-tengah angin yang masih bertiup kencang, rombongan itu berangkat dengan membawa perbekalan seringan mungkin, diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya. Keesokan harinya sudah tidak seorang juga yang dijumpai oleh Rasulullah Saw di tempat itu. Ia pun lalu kembali pulang ke Madinah bersama-sama umat Islam yang lain. Mereka bersama-sama menyatakan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah, karena mereka telah terhindar dari segala mara bahaya, orang-orang beriman itu tidak sampai terlibat dalam pertempuran. ◙
Tidak begitu sulit orang menilai betapa perlunya harus bersikap waspada dan berhati-hati selalu setelah kita melihat adanya segala macam tipu-muslihat Quraisy dan yang bukan Quraisy terhadap kaum Muslimin, juga karena negeri-negeri masa itu - juga sesudah itu sebagian besar dalam perkembangan sejarahnya masing-masing mereka itu merupakan sekumpulan republik-republik kecil, yang satu sama lain berdiri sendiri-sendiri. Mereka masing-masing menggunakan sistem organisasi yang lebih dekat pada cara-cara kabilah. Hal ini memaksa mereka harus berlindung pada adat-lembaga dan tradisi yang ada, yang tidak mudah dapat kita bayangkan seperti halnya pada bangsa-bangsa yang sudah teratur. Dalam hal ini Rasulullah Saw pun sebagai orang Arab sangat waspada mengingat nafsu hendak membalas dendam yang ada dalam naluri orang-orang Arab itu besar sekali. Baik Quraisy maupun Yahudi Banu Qainuqa' dan Yahudi Banu Nadhir, demikian juga kabilah-kabilah Arab Ghatafan, Hudhail dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan Syam, mereka saling menunggu, bahwa Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya itu akan binasa. Kalaupun mereka akan mendapat kesempatan, masing-masing berharap akan dapat mengadakan balas dendam terhadap laki-laki yang sekarang datang mencerai-beraikan masyarakat Arab dengan kepercayaan mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Mekah, mengungsi dalam keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman yang telah memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun sekarang orang ini sudah kuat, sudah mempunyai kemampuan, sehingga kota-kota dan kabilah-kabilah Arab yang terkuat sekalipun, merasa segan kepadanya.
Orang-orang Yahudi adalah musuh Rasulullah Saw yang paling tajam memperhatikan ajaran-ajaran dan cara berdakwahnya. Dengan kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan nasib yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid (monotheisme). Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan dapat mengalahkan lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih condong pada pengertian monotheisme. Sementara ajaran trinitas Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh jiwa Semit. Dan sekarang Rasulullah Saw, orang yang berasal dari pusat Arab dan dari pusat orang-orang Semit sendiri, menganjurkan ajaran tauhid dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan sekali, dapat menjelajahi dan merasuk sampai ke lubuk hati orang, dan mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu Qainuqa' dari Madinah, mengusir Banu Nadhir dari daerah koloni mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka sendiri pergi ke Syam atau pulang ke tanah air mereka yang pertama, ke Baitul-Maqdis (Yerusalem) di Negeri yang Dijanjikan – Ardhil Mi'ad - (Palestina), ataukah mereka harus berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat membalas dendam kepada Rasulullah Saw.
Rencana hendak menghasut orang-orang Arab adalah yang paling terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka Banu Nadhir. Untuk melaksanakan rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka pergi hendak menemui Quraisy di Mekah. Mereka terdiri dari Huyay bin Akhtab Sallam bin Abi al-Huqaiq dan Kinana bin al-Huqaiq, bersama-sama dengan beberapa orang dari Banu Wa'il Hawadha bin Qais dan Abu 'Ammar. Ketika oleh pihak Mekah, Huyay ditanya mengenai golongannya itu ia menjawab: "Mereka saya biarkan mondar-mandir ke Khaibar dan ke Madinah sampai tuan-tuan nanti datang ke tempat mereka dan berangkat bersama-sama menghadapi Rasulullah Saw dan sahabatsahabatnya.”
Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraizhah, ia menjawab:
“Mereka tinggal di Madinah sekedar mau mengelabui Rasulullah Saw. Kalau tuan-tuan sudah datang mereka akan bersama-sama dengan tuan-tuan.” Pihak Quraisy jadi ragu-ragu akan maju, atau mundur saja. Mereka dengan Rasulullah Saw tidak berselisih apa-apa, selain ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat dan tinggi juga. Yahudi lebih mengutamakan paganisme daripada Islam.
“Tuan-tuan dari golongan Yahudi," kata pihak-Quraisy. “Tuan-tuan adalah ahli kitab yang mula-mula dan sudah mengetahui pula apa yang menjadi pertentangan antara kami dengan Rasulullah Saw. Soalnya sekarang: manakah yang lebih baik, agama kami atau agamanya.”
“Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan lebih benar dari dia.”
Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan
“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah diberi sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala dan mereka berkata kepada orang-orang kafir: 'Jalan mereka lebih benar dari orang yang beriman.' Mereka itulah yang dikutuk oleh Tuhan. Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya takkan ada penolong.” (QS. 4: 51-52).
Dalam posisi orang-orang Yahudi menghadapi Quraisy ini dengan sikap lebih mengutamakan paganisme mereka daripada tauhid Rasulullah Saw. Seharusnya mereka itu tidak boleh sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang begitu kotor, dan jangan pula berkata dengan terus-terang di depan pemuka-pemuka Quraisy, bahwa cara menyembah berhala itu lebih baik daripada tauhid seperti yang diajarkan Islam, meskipun hal itu akan mengakibatkan permintaan mereka tidak akan dipenuhi. Oleh karena orang-orang Israil sejak berabad-abad lamanya atas nama nenek-moyang dahulu kala sebagai pengemban panji tauhid (monotheisme) di antara bangsa-bangsa di dunia, dan telah pula mengalami berbagai macam penderitaan, pembunuhan dan penindasan hanya karena iman mereka kepada Tuhan Yang Tunggal itu, yang mereka alami dalam berbagai zaman selama dalam perkembangan sejarah, maka sudah seharusnya mereka itu bersedia mengorbankan hidup mereka, mengorbankan segala yang mereka cintai dalam menghadapi dan menaklukan kaum musyrik itu. Apalagi dengan minta perlindungan kepada pihak penyembah berhala, itu berarti mereka telah memerangi diri sendiri serta menentang ajaran-ajaran Taurat yang meminta mereka menjauhi penyembah-penyembah berhala dan dalam menghadapi mereka supaya bersikap seperti menghadapi musuh.
Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang sepaham dengan dia, yang telah mengatakan kepada Quraisy bahwa paganisme mereka lebih baik daripada tauhid Rasulullah Saw dengan maksud supaya mereka sudi memeranginya, dan yang akan mereka laksanakan setelah sekian bulan disiapkan, tampaknya tidak cukup sampai di situ saja. Malah orang-orang Yahudi itu pergi lagi menemui kabilah Ghatafan yang terdiri dari Qais 'Ailan, Banu Fazara, Asyja' Sulaim, Banu Sa’ad dan Asad, serta semua pihak yang ingin menuntut balas kepada Muslimin. Mereka ini aktif sekali mengerahkan orang supaya menuntut balas dengan menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi Rasulullah Saw. Paganisme Quraisy mereka puji dan mereka menjanjikan, bahwa mereka pasti akan mendapat kemenangan.
Kelompok-kelompok yang sudah diorganisasikan oleh pihak Yahudi itu kini berangkat hendak memerangi Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Dari pihak Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan sudah disiapkan 4000 orang prajurit, tiga ratus ekor kuda dan 1500 orang dengan unta. Pimpinan brigade yang disusun di Darun Nadwah diserahkan kepada Utsman bin Talha. Ayah orang ini telah mati terbunuh dalam memimpin pasukan di Uhud. Banu Fazara yang dipimpin oleh 'Uyainah bin Hishn bin Hudhaifa telah siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja' dan Murrah masing-masing membawa 400 prajurit. Pihak Murrah dipimpin oleh Al-Harits bin 'Auf dan dari pihak Asyja' oleh Misiar ibn Rukhaila. Menyusul pula Sulaim, biangkeladi peristiwa Bi'ir Ma'una, dengan 700 orang. Mereka itu semua berkumpul, yang kemudian datang pula Banu Sa'ad dan Asad menggabungkan diri. Jumlah mereka kurang lebih semuanya menjadi 10.000 orang. Semua mereka itu berangkat menuju Madinah di bawah pimpinan Abu Sufyan. Setelah mereka sampai, selama dalam perang, pemuka-pemuka kabilah itu saling bergantian pimpinan, masing-masing sehari mendapat giliran.
Berita keberangkatan mereka ini sampai juga kepada Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah. Mereka merasa gentar. Ya, sekarang seluruh kabilah Arab sudah bersatu sepakat hendak menumpas dan memusnahkan mereka, sudah datang dengan perlengkapan dan jumlah manusia yang besar, suatu hal yang dalam sejarah peperangan Arab secara keseluruhannya belum pernah terjadi. Apabila dalam perang Uhud Quraisy telah mendapat kemenangan atas mereka, ketika mereka keluar menyongsong keluar Madinah, padahal baik jumlah perlengkapan maupun jumlah manusia jauh di bawah pasukan sekutu ini, apa lagi yang dapat dilakukan kaum Muslimin sekarang dalam menghadapi jumlah pasukan yang terdiri dari beribu-ribu rnanusia itu - barisan berkuda, unta, persenjataan serta perlengkapan lainnya?! Tidak ada jalan lain, hanya bertahan di Yatsrib yang masih perawan ini, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Ubay.
Salman al-Farisi adalah orang yang banyak mengetahui seluk-beluk peperangan, yang belum dikenal di daerah-daerah Arab. Ia menyarankan supaya di sekitar Madinah itu digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran ini segera dilaksanakan oleh kaum Muslimin. Ketika menggali parit itu Nabi Saw juga dengan tangannya sendiri ikut bekerja. Ia turut mengangkat tanah dan sambil terus memberi semangat, dengan menganjurkan kepada mereka supaya terus melipatgandakan kegiatan. Pihak Muslimin sudah membawa alat-alat yang diperlukan, terdiri dari sekop, cangkul dan keranjang pengangkut tanah dari tempat orang-orang Yahudi Quraizhah yang masih berada di bawah pihak Islam. Dengan bekerja giat terus-menerus penggalian parit itu selesai dalam waktu enam hari. Dalam pada itu dinding-dinding rumah yang menghadap ke arah datangnya musuh, yang jaraknya dengan parit itu kira-kira dua farsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di belakang parit itu dikosongkan. Wanita dan anak-anak ditempatkan dalam rumah-rumah yang sudah diperkuat, dan di samping parit dari arah Madinah ditaruh pula batu supaya di waktu perlu dapat dilemparkan sebagai senjata.
Tatkala pihak Quraisy dan kelompok-kelompoknya itu datang dengan harapan akan menemui Rasulullah Saw di Uhud, ternyata tempat itu kosong. Mereka meneruskan perjalanan ke Madinah; tapi mereka dikejutkan oleh adanya parit. Di luar dugaan semula, mereka heran sekali melihat jenis pertahanan yang masih asing bagi mereka itu. Dibawa oleh perasaan jengkel, mereka pun menganggap bahwa berlindung di balik parit semacam itu adalah suatu perbuatan pengecut yang belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arabi Pasukan Quraisy dan sekutu-sekutunya lalu bermarkas di Mujtama’ As-yal di daerah Ruma, dan pasukan Ghatafan serta pengikut-pengikutnya dari Najd, bermarkas di Dzanab Naqama. Sedang Rasulullah Saw sekarang berangkat dengan tiga ribu orang Muslimin, dengan membelakangi bukit Salu’ dan dijadikannya parit itu sebagai batas dengan pihak musuh. Di tempat inilah ia bermarkas dan memasang kemahnya yang berwarna merah.
Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat, bahwa tidak mungkin mereka menerobos parit itu. Dengan demikian selama beberapa hari mereka hanya saling melemparkan anak panah. Abu Sufyan sendiri dengan pengikut-pengikutnya pun yakin bahwa akan sia-sia saja mereka lama-lama menghadapi kota Yatsrib dengan paritnya itu, karena tidak akan dapat mereka menerobosnya
Pada waktu itu sedang terjadi musim dingin yang luarbiasa disertai angin badai yang bertiup kencang, sehingga sewaktu-waktu dikawatirkan hujan lebat akan turun. Kalau orang-orang Mekah dan orang-orang Ghatafan dengan mudah saja dapat berlindung dalam rumah-rumah mereka di Mekah atau di Ghatafan, maka kemah-kemah yang mereka pasang sekarang di depan kota Yatsrib itu sama-sekali takkan dapat melindungi mereka. Di samping itu tadinya memang mereka mengharap akan memperoleh kemenangan secara lebih mudah, tidak perlu susah-payah seperti pada waktu di Uhud. Mereka akan kembali pulang dengan menyanyikan lagu-lagu kemenangan serta menikmati adanya pembagian barang-barang jarahan dan rampasan perang. Jadi apalagi kalau begitu yang masih menahan Ghatafan buat kembali pulang?! Mereka ikut melibatkan diri dalam perang itu hanya karena pihak Yahudi pernah menjanjikan mereka dengan buah-buahan hasil pertanian dan perkebunan Khaibar, apabila mereka memperoleh kemenangan. Tetapi sekarang mereka melihat untuk memperoleh kemenangan itu tampaknya tidak mudah, atau setidak-tidaknya sudah di luar kenyataan. Dalam musim dingin yang begitu hebat rupanya diperlukan kerja keras yang luarbiasa yang akan membuat mereka lupa segala buah-buahan berikut kebun-kebunnya itu!
Sebaliknya pihak Quraisy yang hendak menuntut balas karena peristiwa Badar dan kekalahan-kekalahan lain sesudah Badar, pada suatu waktu masih akan dapat mengejar dengan harapan parit itu tidak akan selamanya berada dalam genggaman Rasulullah Saw dan selama pihak Banu Quraizhah masih bersedia memberikan bantuan kepada penduduk Yatsrib, yang akan memperpanjang perlawanan mereka sampai berbulan-bulan. Bukankah lebih baik pihak Ahzab itu kembali pulang saja? Ya! Akan tetapi mengumpulkan kembali kelompok-kelompok itu nanti buat memerangi Rasulullah Saw lagi bukanlah soal yang mudah. Sebenarnya orang-orang Yahudi itu, terutama Huyay bin Akhtab sebagai pemimpin mereka, sekali itu telah berhasil mengumpulkan kabilah-kabilah itu untuk membalas dendam golongannya dan golongan Banu Qainuqa' terhadap Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Apabila kesempatan itu sudah hilang, maka jangan diharap ia akan kembali, dan bilamana Rasulullah Saw mendapat kemenangan dengan ditariknya pihak Ahzab itu, maka bahaya besar akan mengancam pihak Yahudi.
Semua itu sudah diperhitungkan oleh Huyay bin Akhtab. Ia kuatir akan akibatnya. jalan lain tidak ada. Ia harus mempertaruhkan nasib terakhir. Kepada pihak Ahzab itu ia membisikkan, bahwa ia sudah dapat meyakinkan Banu Quraizhah supaya membatalkan perjanjian perdamaiannya dengan Rasulullah Saw dan pihak Muslimin, dan selanjutnya akan menggabungkan diri dengan mereka, dan bahwa begitu Banu Quraizhah melaksanakan hal ini, maka dari suatu segi terputuslah semua perbekalan dan bala bantuan kepada Rasulullah Saw itu, dan dari, segi lain jalan masuk ke Yatsrib akan terbuka. Quraisy dan Ghatafan merasa gembira atas keterangan Huyay itu. Huyay sendiri cepat-cepat berangkat hendak menemui Ka'ab bin Asad, orang yang berkepentingan dengan adanya perjanjian Banu Quraizhah itu. Tetapi begitu mengetahui kedatangannya itu Ka'ab sudah menutup pintu bentengnya, dengan perhitungan bahwa pembelotan Banu Quraizhah terhadap Rasulullah Saw dan membatalkan perjanjiannya secara sepihak kemudian menggabungkan diri dengan musuhnya, adakalanya memang akan menguntungkan pihak Yahudi kalaupun pihak Muslimin yang dapat dihancurkan. Tetapi sebaliknya sudah seharusnya pula mereka akan habis samasekali bila pihak Ahzab itu yang mengalami kekalahan dan kekuatan mereka hilang dari Madinah. Sungguh pun begitu Huyay terus juga berusaha, hingga akhirnya pintu benteng itu dibuka.
“Ka'ab, sungguh celaka,” katanya kemudian, “Saya datang pada waktu yang tepat dan membawa tenaga yang tepat pula. Saya datang membawa Quraisy dan Ghatafan dengan pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka. Mereka sudah berjanji kepadaku, bahwa mereka tidak akan beranjak sebelum dapat mengikis habis Rasulullah Saw dan kawan-kawannya itu.”
Tetapi Ka'ab masih juga maju mundur. Disebutnya kejujuran serta kesetiaan Rasulullah Saw kepada perjanjian itu. Ia kuatir akan akibatnya atas apa yang diminta oleh Huyay itu. Tetapi Huyay masih terus menyebut-nyebut bencana yang dialami orang-orang Yahudi karena Rasulullah Saw itu, dan juga bencana yang akan mereka alami sendiri nanti bilamana Ahzab tidak berhasil mengikisnya. Diuraikannya juga kekuatan pihak Ahzab itu serta perlengkapan dan jumlah orangnya. Yang sekarang masih merintangi mereka untuk menumpas semua orang-orang Islam dalam sekejap mata itu, hanyalah parit itu saja. Sekarang Ka’ab sudah mulai lunak.
“Kalau pasukan Ahzab itu berbalik?" tanyanya kemudian. Di sini Huyay memberikan jaminan, bahwa kalau Quraisy dan Ghatafan sampai kembali dan tidak berhasil menghantam Rasulullah Saw ia pun akan tinggal dalam benteng itu dan akan tetap bersama-sama dalam seperjuangan. Dalam hati Ka'ab nafsu Yahudinya sudah mulai bergerak-gerak. Permintaan Huyay itu diterimanya, perjanjian dengan Rasulullah Saw dan kaum Muslimin mulai dilanggarnya dan ia sudah keluar dari sikap kenetralannya.
Berita-berita penggabungan Quraizhah dengan pihak Ahzab itu sampai juga kepada Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkejut dan kuatir juga akan akibat yang mungkin terjadi. Rasulullah Saw segera mengutus Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin Aus dan Sa'ad bin 'Ubadah, pemimpin Khazraj, disertai pula oleh Abdullah bin Rawahah dan Khawat bin Jubair dengan tujuan supaya mempelajari duduk perkara yang sebenarnya. Bilamana mereka kembali pulang, hendaknya dapat memberikan isyarat kalau memang hal itu benar, supaya jangan nanti sampai mematahkan semangat orang.
Tetapi sesampainya para utusan itu ke sana, mereka melihat keadaan Quraizhah justeru lebih jahat lagi dari apa yang pernah mereka dengar semula. Diusahakan juga oleh utusan itu supaya mereka mau menghormati perjanjian yang ada. Tetapi Ka'ab berkata kepada mereka, supaya orang-orang Yahudi Banu Nadhir dikembalikan ke kampung halaman mereka. Ketika itu Said bin Mu'adz - yang juga bersahabat baik dengan pihak Quraizhah - mencoba meyakinkan supaya jangan sampai mereka mengalami nasib seperti yang pernah dialami oleh Banu Nadhir, atau yang lebih parah lagi dari itu. Pihak Yahudi sekarang mau terus melancarkan serangan kepada Rasulullah Saw.
“Siapa Rasulullah itu!?" kata Ka'ab, ‘”Kami dengar Rasulullah Saw tidak terikat oleh sesuatu persahabatan atau perjanjian apa pun!” Kedua belah pihak itu lalu saling adu mulut.
Utusan-utusan Rasulullah Saw pulang. Mereka melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Bencana besar kini mengancam. Kekuatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Madinah kini melihat pihak Quraizhah telah membukakan jalan bagi Ahzab, yang akan memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar khayal dan illusi saja. Terbukti Banu Quraizhah sekarang sudah memutuskan segala bantuan dan bahan makanan kepada mereka. Juga terbukti sekembalinya Huyay bin Akhtab yang memberitahukan kepada mereka, bahwa Quraizhah telah tergabung dengan pihak Quraisy dan Ghatafan - jiwa mereka sudah berubah dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Soalnya lagi pihak Quraizhah telah memperpanjang waktu selama sepuluh hari lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan persiapan, asal Ahzab selama sepuluh hari itu benar-benar mau menyerbu kaum Muslimin. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka telah menyusun tiga buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah pasukan di bawah pimpinan Ibn al-A'war as-Sulami didatangkan dari jurusan sebelah atas wadi, pasukan yang dipimpin oleh 'Uyaina bin Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit. Dalam peristiwa inilah ayat berikut ini turun:
“Tatkala mereka datang kepadamu dari jurusan atas dan bawah, dan pandangan mata sudah jadi kabur, hati pun naik menyekat di kerongkongan (sangat gelisah), ketika itu kamu berprasangka tentang Tuhan, prasangka yang salah belaka. Saat itulah orang-orang yang beriman mendapat cobaan dan mereka mengalami keguncangan yang hebat sekali. Dan ingat! ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya itu berkata: Apa yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kami hanyalah tipu daya belaka. Juga ketika ada satu golongan diantara mereka itu berkata: "Wahai penduduk Yatsrib! Tak ada tempat buat kamu. Kembalilah kamu pulang." Dan ada sebagian dari mereka itu yang meminta ijin kepada Nabi seraya berkata: 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.' Tetapi sebenarnya tidak terbuka. Hanya saja mereka itu ingin melarikan diri." (QS. Al-Ahzab: 10-13).
Tetapi buat penduduk Yatsrib masih dapat dimaafkan kalau mereka sampai begitu takut dan hati mereka terguncang karenanya. Mereka yang masih dapat dimaafkan itu ialah yang berpendapat: Dulu Rasulullah Saw menjanjikan kami, bahwa kami mendapat harta kekayaan Kisra dan Kaisar Romawi. Tetapi sekarang orang sudah merasa tidak aman lagi sekalipun hanya akan pergi ke kebun. Pandangan mata mereka yang jadi kabur pun dapat dimaafkan. Demikian juga mereka yang merasa sangat gelisah dalam ketakutan dapat juga dimaafkan. Bukankah maut juga yang sekarang sedang menari-nari di depan matanya, menjilat-jilat menyala keluar dari mata pedang yang di tangan Quraisy dan Ghatafan, menyusup-nyusup ke dalam hati sebagai ancaman, dan juga yang datang dari rumah-rumah Banu Quraizhah yang berkhianat itu? Sungguh celaka orang-orang Yahudi. Sungguh patut sekali kalau Rasulullah Saw mengikis habis saja Banu Nadhir itu daripada hanya sekedar membiarkan mereka pergi dalam keadaan berkecukupan, serta membiarkan Huyay dan antek-anteknya menghasut masyarakat dan kabilah-kabilah Arab supaya menghantam kaum Muslimin. Ya, sungguh suatu bencana besar, suatu ancaman besar. "Tak ada daya upaya kalau tidak dengan Allah juga.”
Dari segi moril pihak Ahzab sudah merasa begitu tinggi, sehingga ada beberapa orang ksatria dari Quraisy yang sudah berani maju ke depan, seperti 'Amr bin 'Abdi Wudd, 'Ikrimah bin Abi Jahl dan Dhirar bin al-Khattab. Mereka langsung menyerbu parit itu, mereka menuju ke suatu bagian yang agak sempit. Dipacunya kuda mereka itu sehingga mereka dapat menyeberangi parit dan sampai di Sabkha yang terletak antara parit dengan bukit Salu'. Ketika itu juga Ali bin Abi Talib keluar dengan beberapa orang dari kalangan Muslimin, terus cepat-cepat merebut sebuah rongga dalam parit yang telah diserbu oleh pasukan berkuda mereka. Ketika itu 'Amr bin 'Abd. Wudd memanggil-manggil.
“Siapa berani bertanding!”
Setelah ajakannya itu disambut oleh Ali bin Abi Talib, ia berkata lagi dengan congkak sekali:
“Oh kemenakanku! Aku tidak ingin membunuhmu!”
“Tapi aku ingin membunuhmu,” sahut Ali.
Kemudian duel itu terjadi, dan Ali berhasil membunuhnya. Saat itu juga pasukan berkuda pihak Ahzab lari kocar-kacir, sehingga mereka terbentur sekali lagi ke dalam parit sambil lari terus tanpa melihat kekanan-kiri.
Tatkala matahari sudah terbenam, ketika itu datang pula Naufal bin Abdullah bin al-Mughirah dengan menunggang kudanya hendak menyeberangi parit itu, tapi saat itu juga ia mendapat pukulan hebat sehingga ia berikut kudanya itu mati dan hancur di tempat tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan menyampaikan tawaran hendak menebus mayat kawannya itu dengan seratus ekor unta, tetapi itu oleh Rasulullah Saw ditolak, seraya berkata:
“Ambillah mayat itu. Barang yang kotor tebusannya kotor juga.”
Dengan cara yang berlebih-lebihan pihak Ahzab sekarang mulai lagi hendak mengobarkan api permusuhannya dengan maksud menakut-nakuti dan melemahkan jiwa kaum Muslimin. Orang-orang Quraizhah yang bersemangat mulai turun dari benteng-benteng dan kubu-kubu mereka. Mereka memasuki rumah-rumah di Madinah yang terdekat pada mereka. Maksud mereka mau menakut-nakuti penduduk.
Pada waktu itu Shafian binti Abdul Muttalib sedang berada dalam Fari', benteng Hassan bin Tsabit. Juga Hassan ketika itu di sana dengan kaum wanita dan anak-anak. Waktu itu ada seorang orang Yahudi yang mondar-mandir sekeliling benteng itu seraya mengatakan:
“Kalian lihat bukan?,” kata Shafia kepada Hassan, "Orang Yahudi itu mondar-mandir sekeliling benteng kita. Sungguh aku tidak mempercayainya. Ia akan menunjukkan rahasia kita kepada pihak Yahudi. Sedang Rasulullah dan sahabat-sahabat sedang sibuk. Turunlah kau dan bunuh orang itu.
“Semoga Tuhan mengampunimu, Shafia,” jawab Hassan, “Engkau tahu, aku bukan orang yang akan melakukan itu.”
Mendengar itu Shafia langsung mengambil sebatang tongkat. Ia turun dari benteng itu dan orang Yahudi tadi dipukulnya Sampai ia menemui ajalnya.
“Hassan, turunlah dan lucuti dia. Sayang dia laki-laki; kalau tidak aku sendiri yang akan melakukannya,” seru Shafia lagi.
"Shafia, tidak perlu aku melucuti dia," jawab Hassan. Penduduk Madinah masih dalam ketakutan, hati mereka masih gelisah selalu. Dalam kondisi itu yang selalu menjadi pikiran Rasulullah Saw adalah bagaimana caranya mencari jalan keluar, harus ada suatu taktik. Dikirimnya utusan kepada pihak Ghatafan dengan menjanjikan sepertiga hasil buah-buahan Madinah untuk mereka asal mereka mau pergi meninggalkan tempat itu.
Usaha gemilang yang perlu dicatat dengan tinta emas adalah penyebaran intrik dari pihak Muslim yang dilancarkan oleh Nu’aim pada kalangan Ahzab dan Quraizhah. Pihak Ghatafan sendiri sebenarnya sudah mulai jemu. Mereka sudah memperlihatkan perasaan muak, karena begitu lama mereka mengadakan pengepungan dengan segala jerih payah yang mereka hadapi selama itu. Soalnya hanyalah karena mau memenuhi ajakan Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang menjadi pengikutnya. Di samping itu, Nu'aim bin Mas'ud, dengan perintah Rasul telah pergi hendak menemui pihak Quraizhah, yang ketika itu belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam. Pada zaman jahiliah ia bergaul rapat sekali dengan pihak Quraizhah. Diingatkannya kembali hubungan dan persahabatan mereka masa dahulu itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah mendukung Quraisy dan Ghatafan dalam menghadapi Rasulullah Saw, sedang baik Quraisy maupun Ghatafan mungkin tidak akan tahan lama tinggal di tempat itu. Kedua kabilah ini tentu akan berangkat pulang, dan mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi Rasulullah Saw yang tentunya nanti akan menghajar mereka pula. Oleh karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau ikut golongan itu sebelum mendapat jaminan beberapa orang sebagai sandera dari kedua golongan itu. Dengan demikian Quraisy dan Ghatafan tidak akan meninggalkan mereka. Quraizhah merasa puas dengan keterangan Nu'aim itu. Ini merupakan intrik yang amat jitu.
Selanjutnya ia (Nu’aim) pergi lagi kepada Quraisy dengan membisikkan, bahwa sebenarnya pihak Quraizhah merasa menyesal sekali atas tindakannya melanggar perjanjian dengan Rasulullah Saw dan bahwa mereka sekarang berusaha hendak mengambil hatinya dan mengadakan tali persahabatan lagi dengan jalan hendak menyerahkan pemimpin-pemimpin Quraisy kepadanya supaya dibunuh. Oleh karena itu lalu disarankannya, bahwa bilamana nanti pihak Yahudi mengutus orang meminta jaminan berupa pemimpin-pemimpin mereka, jangan dikabulkan. Seperti terhadap Quraisy, kemudian Nu'aim melakukan hal yang sama pula terhadap Ghatafan. Keterangan Nu'aim ini telah menimbulkan keraguan dalam hati Quraisy dan Ghatafan.
Pemimpin-pemimpin mereka segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui Ka'ab, pemimpin Banu Quraizhah dengan pesan: "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung orang itu. Menurut hemat kami besok kamu harus sudah menyerbu Rasulullah Saw dan kami dibelakangmu.
Tetapi utusan Abu Sutyan itu kembali dengan membawa jawaban pemimpin Quraizhah: "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.”
Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Benar juga kata Nu'aim kalau begitu. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak Quraizhah: "Cari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok, sebab besok Rasulullah Saw harus sudah diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Rasulullah Saw sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar, dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Rasulullah Saw."
Pernyataan Abu Sufyan itu oleh Quraizhah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.
Mendengar permintaan semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi akan keterangan yang telah diberikan Nu'aim itu. Terpikir olehnya sekarang apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini dibicarakan dengan pihak Ghatafan ternyata mereka juga masih maju-mundur hendak memerangi Rasulullah Saw. Mereka terpengaruh oleh janji yang pernah diberikan kepada mereka, bahwa sepertiga hasil buah-buahan kota Madinah nanti untuk mereka, tapi janji tersebut belum terlaksana karena masih mendapat tantangan dari Sa’id bin Mu'adz dan pemuka-pemuka Madinah, baik kalangan Aus dan Khazraj maupun dari sahabat-sahabat Rasulullah.
Namun yang amat menggembirakan, pada malam harinya angin topan bertiup kencang sekali, disertai oleh hujan yang turun dengan lebatnya. Bunyi petir menderu-deru dan sambung-menyambung. Tiba-tiba angin topan itu bertiup kencang sekali dan periuk-periuk tempat mereka masak terbalik belaka. Sekarang timbul rasa takut dalam hati. Terbayang oleh mereka bahwa kaum Muslimin akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang dan menghantam mereka. Ketika itu Tulaihah bin Khuailid tampil seraya berteriak: "Rasulullah Saw telah mendahului menyerang kita. Selamatkan dirimu! Selamatkan!”
"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan kita yang terdiri dari kuda dan unta sudah binasa, Banu Quraizhah sudah tidak menepati janjinya lagi dengan kita, bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat. Maka lebih baik pulang sajalah. Saya pun akan berangkat pulang.”
Di tengah-tengah angin yang masih bertiup kencang, rombongan itu berangkat dengan membawa perbekalan seringan mungkin, diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya. Keesokan harinya sudah tidak seorang juga yang dijumpai oleh Rasulullah Saw di tempat itu. Ia pun lalu kembali pulang ke Madinah bersama-sama umat Islam yang lain. Mereka bersama-sama menyatakan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah, karena mereka telah terhindar dari segala mara bahaya, orang-orang beriman itu tidak sampai terlibat dalam pertempuran. ◙
Anjing Informan
Mubasyir ar-Rumy menceritakan bahwa dia pernah mendengar kisah mantan budaknya yang dikenal dengan Abu ‘Utsman Zakaria al-Madany. Ia seorang pedagang yang mulia, banyak harta, terkenal murah hati, dapat dipercaya, orang yang memegang amanah dan juga suka meriwayatkan hadits.
Di dekat rumahnya, di Baghdad ia bertetangga dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang yang taat beribadah. Ia sendiri merupakan pribadi yang suka bermain dengan anjing. Suatu hari ia pergi sampai larut malam untuk suatu kepentingan, lalu diikuti anjing kesayangannya. Sebenarnya ia telah mengusirnya, tetapi anjingnya ini tidak mau pulang sehingga terpaksa dibiarkan ikut. Ia terus berjalan hingga berhenti di tempat ‘mangkal’ beberapa orang yang memendam rasa permusuhan terhadapnya. Mengetahui kehadirannya di situ apalagi dirinya tanpa bersenjata, mereka pun menangkapnya. Sementara anjingnya yang ikut membuntuti sang majikan melihat apa yang dilakukan mereka. Rupanya, mereka membawanya masuk ke rumah diikuti anjing dengan diam-diam. Di sana, mereka membunuh majikannya tersebut lalu menguburkannya di sebuah sumur di dalam rumah itu. Karena melihat ada anjing, mereka pun menggebuknya, untung saja anjing itu bisa lari sekali pun terluka. Anjing yang dalam keadaan terluka ini mendatangi rumah majikannya sembari menggonggong namun penghuni rumah tidak menghiraukan. Sementara itu, sang ibu tua merasa kehilangan putranya karena seharian ini belum juga tampak. Namun akhirnya ia dapat mengetahuinya melalui kondisi anjingnya yang mengalami luka cukup parah. Ia berpikir bahwa ini pasti perbuatan orang yang membunuh putranya dan tentu sudah dihabisi. Karena itu, ia pun mengadakan undangan makan dan mengusir anjingnya itu dari pintu. Akan tetapi, anjing itu tidak beranjak dari pintu dan tidak lari. Mereka biasanya dalam beberapa kesempatan selalu mencarinya.
Suatu hari, beberapa orang yang membunuh majikan anjing itu lewat di depan pintu rumahnya sementara anjing saat itu sedang berbaring. Melihat wajah orang-orang tersebut, ia langsung mengenalnya. Seketika ia melukai betis salah seorang dari mereka, menggigit sembari menggelayut di tubuhnya.
Orang-orang itu berusaha menyelamatkan teman mereka dari gigitan anjing namun tidak berhasil sehingga suasana pun jadi gaduh. Kemudian datanglah penjaga rumah untuk melihat keadaan seraya bergumam, “Anjing ini tidak akan bergelayutan pada orang ini kecuali karena ia punya kisah dengannya. Barangkali dia lah yang telah melukainya.”
Tak berapa lama, keluarlah ibu majikan anjing tersebut dan ketika ia melihat wajah orang yang digigit itu sedang digelayuti anjing dan mendengar ucapan penjaga rumah, ia kemudian melihatnya secara teliti dan mengamatinya. Setelah itu, barulah ia teringat bahwa orang tersebut adalah salah seorang yang pernah bermusuhan dengan putranya dan selalu mencarinya. Bahkan dalam diri sang ibu timbul kecurigaan bahwa dialah yang telah membunuh putranya. Akhirnya, ia memastikan hal itu dan menuduh orang tersebut sebagai pelaku pembunuhan. Sang ibu ini lalu memperkarakan orang tersebut kepada pihak kepolisian yang kemudian menahannya setelah sebelumnya dipukul terlebih dahulu agar mau mengaku, tetapi sayang ia tidak mau mengaku. Maka, anjing itu pun tetap berada di pintu sel setia menunggui orang tersebut. Setelah beberapa hari berlalu, orang itu pun dibebaskan. Ketika ia keluar, sang anjing kembali menggelayutinya seperti sebelum-sebelumnya, maka orang-orang pun merasa aneh dengan tingkah anjing tersebut.
Menyikapi kejadian aneh itu, kepala kepolisian merencanakan sesuatu untuk menjebak para pembunuh majikan anjing itu. Ia secara rahasia berbisik kepada beberapa anak buahnya agar memisahkan anjing itu dari orang tersebut, lalu membuntuti ke mana orang itu pergi untuk mengetahui kediamannya dan agar dapat terus memantaunya. Maka, perintah itu pun dipatuhi anak buahnya.
Sementara anjing terus berjalan di belakang orang yang dituduh membunuh itu, diikuti anak buah kepala kepolisian yang juga membuntuti dari belakang hingga sampai ke kediaman para penjahat tersebut. Kemudian polisi yang dikirim atasannya itu mendobrak kediaman tersebut secara mendadak, namun tidak menemukan apa-apa. Lalu anjing yang turut masuk melolong dan mencari-cari letak sumur di mana majikannya dikubur dan dibuang. Sang polisi berkata, “Gali tempat yang telah digali anjing ini!” Maka tempat itu pun digali, dan ternyata mayat korban dapat ditemukan.
Kemudian penjahat itu dibawa dan dipukuli. Setelah berkali-kali digebuki, barulah ia mengaku bahwa dirinya dan teman-temannya yang melakukan pembunuhan itu. Akhirnya, ia pun dieksekusi mati, sementara teman-temanya yang lain masih terus diburu karena berhasil melarikan diri.
Allah berfirman:
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah, dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa’: 92). ◙
Di dekat rumahnya, di Baghdad ia bertetangga dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang yang taat beribadah. Ia sendiri merupakan pribadi yang suka bermain dengan anjing. Suatu hari ia pergi sampai larut malam untuk suatu kepentingan, lalu diikuti anjing kesayangannya. Sebenarnya ia telah mengusirnya, tetapi anjingnya ini tidak mau pulang sehingga terpaksa dibiarkan ikut. Ia terus berjalan hingga berhenti di tempat ‘mangkal’ beberapa orang yang memendam rasa permusuhan terhadapnya. Mengetahui kehadirannya di situ apalagi dirinya tanpa bersenjata, mereka pun menangkapnya. Sementara anjingnya yang ikut membuntuti sang majikan melihat apa yang dilakukan mereka. Rupanya, mereka membawanya masuk ke rumah diikuti anjing dengan diam-diam. Di sana, mereka membunuh majikannya tersebut lalu menguburkannya di sebuah sumur di dalam rumah itu. Karena melihat ada anjing, mereka pun menggebuknya, untung saja anjing itu bisa lari sekali pun terluka. Anjing yang dalam keadaan terluka ini mendatangi rumah majikannya sembari menggonggong namun penghuni rumah tidak menghiraukan. Sementara itu, sang ibu tua merasa kehilangan putranya karena seharian ini belum juga tampak. Namun akhirnya ia dapat mengetahuinya melalui kondisi anjingnya yang mengalami luka cukup parah. Ia berpikir bahwa ini pasti perbuatan orang yang membunuh putranya dan tentu sudah dihabisi. Karena itu, ia pun mengadakan undangan makan dan mengusir anjingnya itu dari pintu. Akan tetapi, anjing itu tidak beranjak dari pintu dan tidak lari. Mereka biasanya dalam beberapa kesempatan selalu mencarinya.
Suatu hari, beberapa orang yang membunuh majikan anjing itu lewat di depan pintu rumahnya sementara anjing saat itu sedang berbaring. Melihat wajah orang-orang tersebut, ia langsung mengenalnya. Seketika ia melukai betis salah seorang dari mereka, menggigit sembari menggelayut di tubuhnya.
Orang-orang itu berusaha menyelamatkan teman mereka dari gigitan anjing namun tidak berhasil sehingga suasana pun jadi gaduh. Kemudian datanglah penjaga rumah untuk melihat keadaan seraya bergumam, “Anjing ini tidak akan bergelayutan pada orang ini kecuali karena ia punya kisah dengannya. Barangkali dia lah yang telah melukainya.”
Tak berapa lama, keluarlah ibu majikan anjing tersebut dan ketika ia melihat wajah orang yang digigit itu sedang digelayuti anjing dan mendengar ucapan penjaga rumah, ia kemudian melihatnya secara teliti dan mengamatinya. Setelah itu, barulah ia teringat bahwa orang tersebut adalah salah seorang yang pernah bermusuhan dengan putranya dan selalu mencarinya. Bahkan dalam diri sang ibu timbul kecurigaan bahwa dialah yang telah membunuh putranya. Akhirnya, ia memastikan hal itu dan menuduh orang tersebut sebagai pelaku pembunuhan. Sang ibu ini lalu memperkarakan orang tersebut kepada pihak kepolisian yang kemudian menahannya setelah sebelumnya dipukul terlebih dahulu agar mau mengaku, tetapi sayang ia tidak mau mengaku. Maka, anjing itu pun tetap berada di pintu sel setia menunggui orang tersebut. Setelah beberapa hari berlalu, orang itu pun dibebaskan. Ketika ia keluar, sang anjing kembali menggelayutinya seperti sebelum-sebelumnya, maka orang-orang pun merasa aneh dengan tingkah anjing tersebut.
Menyikapi kejadian aneh itu, kepala kepolisian merencanakan sesuatu untuk menjebak para pembunuh majikan anjing itu. Ia secara rahasia berbisik kepada beberapa anak buahnya agar memisahkan anjing itu dari orang tersebut, lalu membuntuti ke mana orang itu pergi untuk mengetahui kediamannya dan agar dapat terus memantaunya. Maka, perintah itu pun dipatuhi anak buahnya.
Sementara anjing terus berjalan di belakang orang yang dituduh membunuh itu, diikuti anak buah kepala kepolisian yang juga membuntuti dari belakang hingga sampai ke kediaman para penjahat tersebut. Kemudian polisi yang dikirim atasannya itu mendobrak kediaman tersebut secara mendadak, namun tidak menemukan apa-apa. Lalu anjing yang turut masuk melolong dan mencari-cari letak sumur di mana majikannya dikubur dan dibuang. Sang polisi berkata, “Gali tempat yang telah digali anjing ini!” Maka tempat itu pun digali, dan ternyata mayat korban dapat ditemukan.
Kemudian penjahat itu dibawa dan dipukuli. Setelah berkali-kali digebuki, barulah ia mengaku bahwa dirinya dan teman-temannya yang melakukan pembunuhan itu. Akhirnya, ia pun dieksekusi mati, sementara teman-temanya yang lain masih terus diburu karena berhasil melarikan diri.
Allah berfirman:
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah, dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa’: 92). ◙
Do'a Mustajabah
Sayidina Ali bin Abi Thalib Karamallaahu Wajhah, merupakan kemenakan Rasulullah Saw. Ayah Rasulullah Saw, yakni Abdullah adalah saudara sekandung dengan Abu Thalib. Ali bin Abi Thalib telah masuk Islam sejak mudanya dan yang telah memegang jabatan khalifah ke empat setelah Utsman bin Affan Ra. Beliau telah diberi gelar Rasulullah Saw dengan gerbang ilmu. Memang beliau berlidah amat petah, banyak nasihat dan petuahnya yang bermanfaat bagi ummat. Juga banyak khutbah-khutbahnya yang dikumpulkan oleh para ulama, sebagaimana Sayid Radhi, Ibnu Duraid, Mufadhal dan lain sebagainya.
Pernah pada sebuah kesempatan, Sayidina Ali mengutarakan khutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami terasa tidak pernah diperkenankan? Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Ud’uuni astajib lakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu).
Sayidina Ali menjawab: Bagaimana do’a Anda akan diperkenankan. Allah jelas tidak sudi mendengarkan do’a kalian, apalagi mau mengabulkannya, karena hati kalian telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu:
Kalian beriman kepada Allah, mengetahui dan meyakini adanya Allah, tetapi tidak sepenuh hati melaksanakan kewajiban kalian kepada-Nya. Inilah sebuah kondisi yang amat sedikit mamfaatnya dalam mempengaruhi kekuatan iman kalian.
≈ Kalian mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi kalian enggan dan kadang malah menentang sunnahnya, serta mematikan syari’atnya. Ini juga merupakan sikap yang amat berseberangan dengan iman, malah memandulkan buah dari keimanan kalian itu?
≈ Kalian membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak amat minim dari kalian yang mau mengamalkannya secara sungguh-sungguh.
≈ Kalian berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi sikap hidup kalian tampak selalu berseberangan dengan ajaran yang tersurat dan tersirat dalam ayat-ayat-Nya.
≈ Kalian menginginkan surga, ironisnya, pada setiap saat kalian tampak melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga, bahkan malah mendekatklan kepada neraka. Mana bukti keinginanmu itu?
≈ Setiap saat kalian merasakan kenikmatan yang diberikan Allah, namun sangat ironis, kalian ingkari, kalian kufuri nikmat-nikmat itu. dan terbukti kalian tidak bersyukur kepada-Nya.
≈ Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir: 6). Relitasnya, kalian selalu bersahabat dengan syetan, selalu memperturutkan ajakannya, dan malah menentang perintah-perintah Allah. Ternyata syetan tidak kalian musuhi, namun malah kalian jadikan sebagai sahabat.
≈ Kalian jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kalian sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada mereka.
dalam kondisi nmencengkeram delapam poin ini, bagaimana mungkin do’a kalian bisa diterima. Artinya, hakikatnya kalian sendiri yang telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a untuk menuju kepada Allah dengan berbagai delapan poin penentangan itu. Dengan demikian sudah untung ketika Allah mendengar do’a kalian, Dia tidak melaknat, tidak mengutuk kalian. Ringkasnya, agar do’a kalian selau didengar Allah, hendaklah mantapkan delapan poin yang positif itu, yakni bertaqwalah kepada Allah sebatas maksimal, perbaiki amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan begitu, semoga Allah memperkenankan do’a kalian itu.
***
Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki datang kepada Imam Ja’far Shadiq, dengan mengatakan:,
“Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku pahami maksudnya?”
“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” tanya Imam Ja’far.
“Yang pertama berbunyi, “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min: 60). Namun apa yang aku alami adalah kebalikan janji itu, yakni do’aku tidak pernah diperkenankan Allah, bagaimana?,” ujar lelaki itu.
“Apakah kalian berpikir atau bahkan mencurigai bahwa Allah telah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja'far.
"Tidak," jawab orang itu.
"Lalu ayat yang kedua apa?," tanya Imam Ja'far lebih lanjut.
"Ayat yang kedua berbunyi "Wamaa anfaqtum min syai-in fahuwa yukhlifuhu, wahuwa khairun raaziqin" (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka A akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba: 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya," ujarnya.
"Apakah kamu berpikir bahwa Allah melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far lagi.
"Tidak," jawabnya.
"Lalu mengapa?" kejar Imam Ja'far.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
Imam Ja'far kemudian menjelaskan, "Akan aku kabarkan kepadamu - insya Allah - seandainya kalian mentaati apa yang diperintahkan Allah kepada kalian, kemudian kalian berdo'a kepada-Nya, niscaya Allah memperkenankan do'a kalian. Sekarang mengenaim infak kalian yang kalian katakana tidak pernah berdampak posistif. Sebenarnya begini, sahabat, jika kalian mencari harta yang halal, kemudian kalian infakkan harta itu di jalan yang benar, maka infak satu dirham niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau kalian berdo'a kepada Allah, maka berdo'alah kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh, Allah akan memperkenankan do'a kalian, kendati kalian orang yang berdosa."
"Apa yang dimaksud dengan sungguh-sungguh berdo’a?" sela orang itu.
Apabila kalian melakukan amal fardhu maka agungkanlah Allah, kemudian relakan Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Jangan lupa membaca shalawat kepada Rasulullah Saw dengan bersungguh-sungguh. Sampaikan pula salam kepada beliau selaku pimpinanmu yang memberi petunjuk. Setelah kalian membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah kalian peroleh. Ingat-ingat pula dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu di hadapan Allah. Akuilah apa yang kalian ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tidak engkau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang engkau perbuat dan niatkan bahwa kalian tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan, dengan penuh keikhlasan, serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.
Kemudian panjatkan do’a, "Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku memohon ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku, antarkan diriku pada segala hal yang Engkau ridhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan apap pun, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Dengan begitu aku berharap Allah tidak akan menyiakan do'amu."
Demikian Imam Ja'far mengakhiri nasihatnya. Semogalah kita diciptakan sebagai hamba yang didengar, diluluskan dan diperkenankan segala do’anya, amin. ◙
Pernah pada sebuah kesempatan, Sayidina Ali mengutarakan khutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami terasa tidak pernah diperkenankan? Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Ud’uuni astajib lakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu).
Sayidina Ali menjawab: Bagaimana do’a Anda akan diperkenankan. Allah jelas tidak sudi mendengarkan do’a kalian, apalagi mau mengabulkannya, karena hati kalian telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu:
Kalian beriman kepada Allah, mengetahui dan meyakini adanya Allah, tetapi tidak sepenuh hati melaksanakan kewajiban kalian kepada-Nya. Inilah sebuah kondisi yang amat sedikit mamfaatnya dalam mempengaruhi kekuatan iman kalian.
≈ Kalian mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi kalian enggan dan kadang malah menentang sunnahnya, serta mematikan syari’atnya. Ini juga merupakan sikap yang amat berseberangan dengan iman, malah memandulkan buah dari keimanan kalian itu?
≈ Kalian membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak amat minim dari kalian yang mau mengamalkannya secara sungguh-sungguh.
≈ Kalian berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi sikap hidup kalian tampak selalu berseberangan dengan ajaran yang tersurat dan tersirat dalam ayat-ayat-Nya.
≈ Kalian menginginkan surga, ironisnya, pada setiap saat kalian tampak melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga, bahkan malah mendekatklan kepada neraka. Mana bukti keinginanmu itu?
≈ Setiap saat kalian merasakan kenikmatan yang diberikan Allah, namun sangat ironis, kalian ingkari, kalian kufuri nikmat-nikmat itu. dan terbukti kalian tidak bersyukur kepada-Nya.
≈ Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir: 6). Relitasnya, kalian selalu bersahabat dengan syetan, selalu memperturutkan ajakannya, dan malah menentang perintah-perintah Allah. Ternyata syetan tidak kalian musuhi, namun malah kalian jadikan sebagai sahabat.
≈ Kalian jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kalian sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada mereka.
dalam kondisi nmencengkeram delapam poin ini, bagaimana mungkin do’a kalian bisa diterima. Artinya, hakikatnya kalian sendiri yang telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a untuk menuju kepada Allah dengan berbagai delapan poin penentangan itu. Dengan demikian sudah untung ketika Allah mendengar do’a kalian, Dia tidak melaknat, tidak mengutuk kalian. Ringkasnya, agar do’a kalian selau didengar Allah, hendaklah mantapkan delapan poin yang positif itu, yakni bertaqwalah kepada Allah sebatas maksimal, perbaiki amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan begitu, semoga Allah memperkenankan do’a kalian itu.
***
Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki datang kepada Imam Ja’far Shadiq, dengan mengatakan:,
“Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku pahami maksudnya?”
“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” tanya Imam Ja’far.
“Yang pertama berbunyi, “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min: 60). Namun apa yang aku alami adalah kebalikan janji itu, yakni do’aku tidak pernah diperkenankan Allah, bagaimana?,” ujar lelaki itu.
“Apakah kalian berpikir atau bahkan mencurigai bahwa Allah telah melanggar janji-Nya?” tanya Imam Ja'far.
"Tidak," jawab orang itu.
"Lalu ayat yang kedua apa?," tanya Imam Ja'far lebih lanjut.
"Ayat yang kedua berbunyi "Wamaa anfaqtum min syai-in fahuwa yukhlifuhu, wahuwa khairun raaziqin" (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka A akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba: 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya," ujarnya.
"Apakah kamu berpikir bahwa Allah melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far lagi.
"Tidak," jawabnya.
"Lalu mengapa?" kejar Imam Ja'far.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
Imam Ja'far kemudian menjelaskan, "Akan aku kabarkan kepadamu - insya Allah - seandainya kalian mentaati apa yang diperintahkan Allah kepada kalian, kemudian kalian berdo'a kepada-Nya, niscaya Allah memperkenankan do'a kalian. Sekarang mengenaim infak kalian yang kalian katakana tidak pernah berdampak posistif. Sebenarnya begini, sahabat, jika kalian mencari harta yang halal, kemudian kalian infakkan harta itu di jalan yang benar, maka infak satu dirham niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau kalian berdo'a kepada Allah, maka berdo'alah kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh, Allah akan memperkenankan do'a kalian, kendati kalian orang yang berdosa."
"Apa yang dimaksud dengan sungguh-sungguh berdo’a?" sela orang itu.
Apabila kalian melakukan amal fardhu maka agungkanlah Allah, kemudian relakan Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Jangan lupa membaca shalawat kepada Rasulullah Saw dengan bersungguh-sungguh. Sampaikan pula salam kepada beliau selaku pimpinanmu yang memberi petunjuk. Setelah kalian membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah kalian peroleh. Ingat-ingat pula dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu di hadapan Allah. Akuilah apa yang kalian ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tidak engkau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang engkau perbuat dan niatkan bahwa kalian tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan, dengan penuh keikhlasan, serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.
Kemudian panjatkan do’a, "Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku memohon ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku, antarkan diriku pada segala hal yang Engkau ridhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan apap pun, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Dengan begitu aku berharap Allah tidak akan menyiakan do'amu."
Demikian Imam Ja'far mengakhiri nasihatnya. Semogalah kita diciptakan sebagai hamba yang didengar, diluluskan dan diperkenankan segala do’anya, amin. ◙
Langganan:
Postingan (Atom)
