Dikisahkan bahwa seorang yang terkenal zuhud pada suatu hari mengungsi dan menjauh dari keramaian kota, kemudian berdiam diri di kaki sebuah bukit selama tujuh hari dengan tidak membawa bekal sama sekali seraya bergumam:
“Aku sekali-kali tidak akan meminta-minta pada seseorang, akan aku coba bagaimana Allah mendatangkan rezeki kepadaku.”
Ternyata dalam jangka tujuh hari itu tidak seorang pun memberinya makanan sehingga ia hampir saja mati kelaparan. Ketika itulah ia memanjatkan do’a kepada Allah:
“Ya Allah, jika saja aku masih Engkau beri umur, hendaklah rezeki yang sudah Engkau pastikan untukku itu Engkau datangkan. Namun jika bagianku telah habis, segeralah Engkau mencabut ruhku agar aku tidak mengalami penderitaan ini.”
Allah segera memberi ilham kepadanya:
“Demi kemuliaan zat-Ku, Aku tidak akan mengucurkan rezekimu selagi kau tidak segera kembali lagi ke kota dan meminta bantuan kepada orang lain.” demikian bunyi ilham itu.
Maka lelaki itu dengan langkah gontai kembali ke kota lagi dan segera berusaha mendapatkan makanan. Ternyata dalam jangka sekejap saja, orang-orang segera berdatangan dengan membawakan berbagai makanan dan minuman. Dengan lahapnya lelaki itu segera memakan apa yang didapat, namun batinnya belum bisa menerima mengenai perlakuan Allah kepada dirinya itu. Maka Allah segera memberitakan lagi:
“Kau menghendaki untuk menghapus segala kebijaksanaan-Ku yang Aku jalankan di dunia ini. Adakah kau belum mengerti bahwa rezekimu yang Aku sampaikan melalui tangan orang lain adalah lebih Aku sukai dari pada langsung jatuh dari langit melalui kekuasaan-Ku. Adakah kau belum mengerti bahwa seluruh apa yang berjalan di dunia ini telah Aku tetapkan dengan memakai sebab dan akibat. Dengan demikian jika saja hukum sebab-akibat itu Aku hapus, maka keberaturan dunia ini akan segera lenyap pula, mengertilah.”
Lelaki itu pun baru memahami atas kehendak Sang Penciptanya.
■■■
Sabtu, 09 Januari 2010
Sumpah Abu Musa
Sebuah keceriaan (uns) bersama Allah itu jika saja bisa kekal dan kuat intensitasnya, dalam arti tidak bercampur lagi dengan kebingungan atau masih disisipi rasa takut dan terhalang, maka sikap seperti itu akan bisa membuahkan reaksi yang positif dengan penuh kegembiraan yang berpengaruh pada ucapan dan perbuatan atau pada bisikan ketika berdo’a.
Namun kadang juga menimbulkan reaksi yang tampak negatif sehingga bisa dipandang sebagai perbuatan ‘kurang ajar’atau tidak takut lagi kepada Allah. Pada biasanya sikap yang demikian itu dibiarkan saja oleh Allah ketika seseorang telah dirasa mencapai martabat yang sedemikian itu. Sebaliknya bagi figur yang tidak dizinkan menempati martabat seperti itu, sikap tersebut kadang malah bisa menyeret pada kekafiran, tidak jarang pula bisa mencelakakan dirinya.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari beberapa rumah papan yang berada di Bashrah habis dilanda kebakaran, namun herannya ada satu rumah yang yang terletak di tengah-tengah terlihat masih utuh, sedikit pun tidak terjilat api. Abu Musa yang ketika itu menjadi Gubernur diberi tahu mengenai musibah mengenaskan ini. Segera saja ia memanggil orang yang telah tua pemilik rumah yang selamat itu.
“Mengapa hanya rumahmu yang bisa selamat?,” begitu tanya Abu Musa dengan heran.
“Aku telah bersumpah kepada Allah, hendaknya rumah ini jangan sampai terbakar,”begitu jawab orang tua tersebut.
Maka Abu Musa segera mengatakan:“Saya pernah mendengar Rasulullah Saw mengatakan bahwa pada ummatku akan ada suatu kaum yang rambutnmya tampak kusut, pakaiannya pun dekil, namun jika saja bersumpah kepada Allah, Dia akan segera memperkenakannya.” (HR. Ibnu Abid Dunia dalam kitab Auliya’).
Pernah pula pada suatu hari Abu Hafsh ketika berjalan bertemu seorang penduduk desa yang kebingungan.
“Mengapa kau tampak kebingungan,” begitu sapa Abu Hafsh.
“Aku sedang kehilangan keledai satu-satunya, padahal aku tidak punya harta apa pun selain binatang itu,” sahut orang desa tersebut.
Segera saja Abu Hafsh menghentikan langkah kemudian memanjatkan do’a:
“Ya Allah, demi kemulian-Mu, kakiku tidak akan aku langkahkan sebelum Engkau kembalikan keledai orang ini.”
Seketika itu pula keledai tersebut tampak dari kejauhan, kemudian dihela oleh pemiliknya. Dan dengan langkah biasa, Abu Hafsh pun meneruskan perjalanannya.
Begitu pula ketika Bani Israel dilanda kemarau dalam jangka tujuh tahun, maka mereka berbondong-bomdong kepada Nabi Musa agar sudi memohonkan hujan. Maka keluarlah beliau bersama kaumnya menuju sebuah tempat lapang untuk memanjatkan do’a yang dimaksud. Namun ketika di perjalanan, beliau mendapatkan wahyu:
“Bagaimana Aku akan memperkenankan do’a kalian yang bergelimang dengan berbagai dosa sehingga hati kalian begitu gelap. Kalian berdo’a dengan tanpa sebuah keyakinan, malah sikap kalian seakan tidak takut lagi dengan berbagai siksa-Ku. Untuk itu kembalilah kalian. Carilah seorang hamba yang bernama Barkhu. Suruhlah ia keluar untuk memohon hujan, Aku akan segera memperkenankannya!,” begitu bunyi wahyu
Nabi Musa As. segera menyebar informasi untuk menemukan orang tersebut, namun sampai beberapa lama belum ditemukan juga. Dan pada suatu hari ketika Nabi Musa sedang berjalan, beliau tiba-tiba saja bertemu dengan orang hitam yang keningnya masih berdebu bekas melakukan sujud. Ia memakai kain yang diikatkan begitu saja di lehernya. Nabi Musa langsung bisa mengenalinya dengan bantuan bisikan Allah. Lantas beliau mengucapkan salam.
“Siapa nama Anda?,” begitu Nabi Musa membuka sebuah dialog.
“Namaku sangat singkat, Barkhu,” sahut orang hitam itu.
“Anda telah beberapa lama aku cari untuk memohonkan hujan Bani Israel yang selama ini kekeringan. Untuk itu kau segera aku minta memanjatkan do’a sekarang juga,” begitu pinta Nabi Musa.
Segera saja Barkhu menjauh dari Nabi Musa, kemudian menengadahkan kedua belah tangannya seraya mengucapkan:
“Ya Allah, ketiadaan hujan ini tidaklah pantas jika dibangsakan kepada perbuatan-Mu, tidak pula pantas jika disebutkan sebagai kemurahan-Mu. Adakah mata air-Mu telah kering, atau kini angin selalu membangkang memperturutkan perintah-Mu. Atau apakah memang telah habis simpanan rezeki yang berada di samping-Mu, atau sekarang ini murka-Mu telah begitu memuncak terhadap mereka yang selalu berbuat durhaka. Bukankah Engkau begitu Pemberi ampun sebelum Engkau menciptakan mereka yang berlaku salah itu. Engkau telah menciptakan rahmat dan belas kasih, dan Engkau sendiri telah memerintahkan untuk selalu bersikap belas kasih. Atau Engkau memang sengaja memperllihatkan kepada kami mengenai keengganan-Mu itu. Atau Engkau sendiri yang takut jika saja kehilangan belas kasih sehingga segera mengirimkan siksaan!?.”
Sejenak kemudian awan segera beriringan dan kilat bersahutan kemudian turun hujan begitu lebatnya sehingga Bani Israel basah kuyup karenanya. Seketika itu juga Allah menumbuhkan rerumputan begitu lebat sehingga mencapai lutut.
Setelah mengetahui keberhasilan permohonannya ini, Barkhu segera beranjak untuk menemui Nabi Musa.
“Bagaimana do’a yang aku panjatkan tadi, wahai Nabi Musa?. Dimana ketika itu aku memberanikan diri untuk mengungkit-ungkit Allah dan mencerca-Nya.” begitu kata Barkhu kepada Nabi Musa.
Mendengar perkataan Barkhu yang tampak kurang ajar ini, hampir-hampir saja Nabi Musa meninju mukanya. Namun segera saja beliau menerima wahyu.
“Biarkanlah Barkhu, wahai Musa. Ia setiap hari memang sering membuat Aku tertawa sampai tiga kali.”
Sikap-sikap aneh tersebut pada biasanya hanyalah dimiliki mereka yang memang telah dekat dengan Allah sehingga hatinya selalu diliputi rasa uns (bahagia), namun orang lain tidak akan etis juga tidak akan mampu menirunya. Malah menurut Al-Junaidi, kadang mereka itu ketika menyepi mengeluarkan berbagai kalimat yang akan bisa dituduh kafir menurut ukuran orang awam.
■■■
Namun kadang juga menimbulkan reaksi yang tampak negatif sehingga bisa dipandang sebagai perbuatan ‘kurang ajar’atau tidak takut lagi kepada Allah. Pada biasanya sikap yang demikian itu dibiarkan saja oleh Allah ketika seseorang telah dirasa mencapai martabat yang sedemikian itu. Sebaliknya bagi figur yang tidak dizinkan menempati martabat seperti itu, sikap tersebut kadang malah bisa menyeret pada kekafiran, tidak jarang pula bisa mencelakakan dirinya.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari beberapa rumah papan yang berada di Bashrah habis dilanda kebakaran, namun herannya ada satu rumah yang yang terletak di tengah-tengah terlihat masih utuh, sedikit pun tidak terjilat api. Abu Musa yang ketika itu menjadi Gubernur diberi tahu mengenai musibah mengenaskan ini. Segera saja ia memanggil orang yang telah tua pemilik rumah yang selamat itu.
“Mengapa hanya rumahmu yang bisa selamat?,” begitu tanya Abu Musa dengan heran.
“Aku telah bersumpah kepada Allah, hendaknya rumah ini jangan sampai terbakar,”begitu jawab orang tua tersebut.
Maka Abu Musa segera mengatakan:“Saya pernah mendengar Rasulullah Saw mengatakan bahwa pada ummatku akan ada suatu kaum yang rambutnmya tampak kusut, pakaiannya pun dekil, namun jika saja bersumpah kepada Allah, Dia akan segera memperkenakannya.” (HR. Ibnu Abid Dunia dalam kitab Auliya’).
Pernah pula pada suatu hari Abu Hafsh ketika berjalan bertemu seorang penduduk desa yang kebingungan.
“Mengapa kau tampak kebingungan,” begitu sapa Abu Hafsh.
“Aku sedang kehilangan keledai satu-satunya, padahal aku tidak punya harta apa pun selain binatang itu,” sahut orang desa tersebut.
Segera saja Abu Hafsh menghentikan langkah kemudian memanjatkan do’a:
“Ya Allah, demi kemulian-Mu, kakiku tidak akan aku langkahkan sebelum Engkau kembalikan keledai orang ini.”
Seketika itu pula keledai tersebut tampak dari kejauhan, kemudian dihela oleh pemiliknya. Dan dengan langkah biasa, Abu Hafsh pun meneruskan perjalanannya.
Begitu pula ketika Bani Israel dilanda kemarau dalam jangka tujuh tahun, maka mereka berbondong-bomdong kepada Nabi Musa agar sudi memohonkan hujan. Maka keluarlah beliau bersama kaumnya menuju sebuah tempat lapang untuk memanjatkan do’a yang dimaksud. Namun ketika di perjalanan, beliau mendapatkan wahyu:
“Bagaimana Aku akan memperkenankan do’a kalian yang bergelimang dengan berbagai dosa sehingga hati kalian begitu gelap. Kalian berdo’a dengan tanpa sebuah keyakinan, malah sikap kalian seakan tidak takut lagi dengan berbagai siksa-Ku. Untuk itu kembalilah kalian. Carilah seorang hamba yang bernama Barkhu. Suruhlah ia keluar untuk memohon hujan, Aku akan segera memperkenankannya!,” begitu bunyi wahyu
Nabi Musa As. segera menyebar informasi untuk menemukan orang tersebut, namun sampai beberapa lama belum ditemukan juga. Dan pada suatu hari ketika Nabi Musa sedang berjalan, beliau tiba-tiba saja bertemu dengan orang hitam yang keningnya masih berdebu bekas melakukan sujud. Ia memakai kain yang diikatkan begitu saja di lehernya. Nabi Musa langsung bisa mengenalinya dengan bantuan bisikan Allah. Lantas beliau mengucapkan salam.
“Siapa nama Anda?,” begitu Nabi Musa membuka sebuah dialog.
“Namaku sangat singkat, Barkhu,” sahut orang hitam itu.
“Anda telah beberapa lama aku cari untuk memohonkan hujan Bani Israel yang selama ini kekeringan. Untuk itu kau segera aku minta memanjatkan do’a sekarang juga,” begitu pinta Nabi Musa.
Segera saja Barkhu menjauh dari Nabi Musa, kemudian menengadahkan kedua belah tangannya seraya mengucapkan:
“Ya Allah, ketiadaan hujan ini tidaklah pantas jika dibangsakan kepada perbuatan-Mu, tidak pula pantas jika disebutkan sebagai kemurahan-Mu. Adakah mata air-Mu telah kering, atau kini angin selalu membangkang memperturutkan perintah-Mu. Atau apakah memang telah habis simpanan rezeki yang berada di samping-Mu, atau sekarang ini murka-Mu telah begitu memuncak terhadap mereka yang selalu berbuat durhaka. Bukankah Engkau begitu Pemberi ampun sebelum Engkau menciptakan mereka yang berlaku salah itu. Engkau telah menciptakan rahmat dan belas kasih, dan Engkau sendiri telah memerintahkan untuk selalu bersikap belas kasih. Atau Engkau memang sengaja memperllihatkan kepada kami mengenai keengganan-Mu itu. Atau Engkau sendiri yang takut jika saja kehilangan belas kasih sehingga segera mengirimkan siksaan!?.”
Sejenak kemudian awan segera beriringan dan kilat bersahutan kemudian turun hujan begitu lebatnya sehingga Bani Israel basah kuyup karenanya. Seketika itu juga Allah menumbuhkan rerumputan begitu lebat sehingga mencapai lutut.
Setelah mengetahui keberhasilan permohonannya ini, Barkhu segera beranjak untuk menemui Nabi Musa.
“Bagaimana do’a yang aku panjatkan tadi, wahai Nabi Musa?. Dimana ketika itu aku memberanikan diri untuk mengungkit-ungkit Allah dan mencerca-Nya.” begitu kata Barkhu kepada Nabi Musa.
Mendengar perkataan Barkhu yang tampak kurang ajar ini, hampir-hampir saja Nabi Musa meninju mukanya. Namun segera saja beliau menerima wahyu.
“Biarkanlah Barkhu, wahai Musa. Ia setiap hari memang sering membuat Aku tertawa sampai tiga kali.”
Sikap-sikap aneh tersebut pada biasanya hanyalah dimiliki mereka yang memang telah dekat dengan Allah sehingga hatinya selalu diliputi rasa uns (bahagia), namun orang lain tidak akan etis juga tidak akan mampu menirunya. Malah menurut Al-Junaidi, kadang mereka itu ketika menyepi mengeluarkan berbagai kalimat yang akan bisa dituduh kafir menurut ukuran orang awam.
■■■
Fudhail Menjadi Sapi
Dikisahkan bahwa seorang khalifah telah mengirim berbagai hadiah ke seluruh para fuqaha’ Baghdad. Mereka pun menerima hadiah tersebut dengan suka cita. Malah banyak yang memuji sikap Baginda yang sudi mendekati para ulama itu. Tidak luput pula Fudhail mendapat bagian sepuluh ribu dirham, namun anehnya orang terakhir ini tidak mau menerima. Segera saja anak-anak Fudhail memprotes sikap sang ayah yang tampak aneh itu.
“Seluruh fuqaha’ telah menerima hadiah itu, wahai ayah. Mengapa ayah tetap bersikukuh untuk menolaknya,” begitu kata anak-anaknya.
Mengetahui sikap anak-anaknya yang demikian itu, Fudhail hanya bisa menangis seraya mengatakan:
“Wahai anak-anakku, aku dan diri kalian adalah semisal kaum yang memiliki seekor sapi yang kesehariannya untuk membajak sawah. Namun setelah sapi itu tua, mereka segera menyembelihnya dengan alasan untuk diambil kulitnya.
Demikian pula kalian, sikap kalian itu jelas mengarah pada penyembelihan diriku yang sudah renta ini. Kalau demikian akan lebih baik kalian mati tersebab lapar dari pada kalian mengorbankan Fudhail.”
Anak-anaknya pun diam seribu bahasa melihat ketegaran sang ayah yang besikap zuhud ini.
■■■
“Seluruh fuqaha’ telah menerima hadiah itu, wahai ayah. Mengapa ayah tetap bersikukuh untuk menolaknya,” begitu kata anak-anaknya.
Mengetahui sikap anak-anaknya yang demikian itu, Fudhail hanya bisa menangis seraya mengatakan:
“Wahai anak-anakku, aku dan diri kalian adalah semisal kaum yang memiliki seekor sapi yang kesehariannya untuk membajak sawah. Namun setelah sapi itu tua, mereka segera menyembelihnya dengan alasan untuk diambil kulitnya.
Demikian pula kalian, sikap kalian itu jelas mengarah pada penyembelihan diriku yang sudah renta ini. Kalau demikian akan lebih baik kalian mati tersebab lapar dari pada kalian mengorbankan Fudhail.”
Anak-anaknya pun diam seribu bahasa melihat ketegaran sang ayah yang besikap zuhud ini.
■■■
Onta yang Diberi Makan Roti
Ketika selepas Maghrib, Khalifah Umar bin Khathab mendengar ada seseorang yang meminta makanan dari hasil menarik zakat. Maka beliau segera mengatakan kepada salah seorang pegawainya agar segera memberinya makanan secukupnya. Namun setelah beberapa saat beliau mendengar lagi orang tersebut masih meminta makanan. Maka dengan wajah merah padam, si pegawai itu dibentaknya seraya mengatakan:
“Wahai pelayanku, bukankah tadi telah aku katakan agar orang yang minta makanan itu segera kau beri!.”
“Betul khalifah, dan dia telah aku beri secukupnya sesuai perintah khalifah,” begitu jawaban si pegawai yang mengundang keheranan Umar.
Setelah diteliti, ternyata di bawah tangan peminta itu ada sebuah kantung yang penuh berisi roti yang menjadi makanan pokok. Segera saja Umar mengatakan:
“Wahai peminta, kau bukan orang yang meminta untuk sekedar cukup, bahkan kau merupakan pedagang yang mengeruk keuntungan selagi ada kesempatan!,” begitu Umar membentaknya seraya mendekati peminta dan mengambil kantung yang penuh makanan itu. Kemudian kantung itu langsung dibukanya dan dituangkan di depan onta-onta zakat yang beberapa hari lagi akan segera dibagikan. Tidak itu saja, Umar segera mengambil cemetinya dan si peminta itu langsung disebatnya sampai merasa kesakitan.
“Awas, jangan kau ulangi lagi,” begitu bentak Umar.
Tindakan Umar dalam menyebat para penyeleweng itu dimaksudkan agar mereka jera menjalankan aksinya dalam masa-masa yang akan datang. Sedangkan mengenai penuangan makanan di depan onta-ona zakat, kendati sepintas tampak sebagai tindakan emosional, namun sikap itu sekali-kali bukanlah dianggap melampaui batas.
Cobalah kita cermati, dikarenakan si peminta itu mengambil harta dengan jalan dusta, maka pada hakikatnya dia tidak berhak menerimanya. Sedangkan untuk mengembalikan pada pemiliknya, tentu saja tindakan itu akan betul-betul mengalami kesulitan, sebab makanan itu telah bercampur dengan milik banyak para wajib zakat yang lain sehingga statusnya tidak bertuan lagi.
Dengan demikian maka wajib untuk menasarufkan pada kemaslahatan umum, dimana onta sedekah serta persediaan makanannya merupakan harta kemaslahatan. Untuk itu memberi makanan kepadanya merupakan tindakan kemaslahatan pula.
Tindakanmu betul-betul proporsional, wahai mertua Rasulullah dari seorang putrimu yang bernama Hafshah. Kendati pun sikapmu selintas tampak tidak berbelas kasih. Namun di situlah bersemayam ajaran yang kokoh dan tegas agar seluruh komunitas bersih dari berbagai manipulasi atau pun korupsi.
■■■
“Wahai pelayanku, bukankah tadi telah aku katakan agar orang yang minta makanan itu segera kau beri!.”
“Betul khalifah, dan dia telah aku beri secukupnya sesuai perintah khalifah,” begitu jawaban si pegawai yang mengundang keheranan Umar.
Setelah diteliti, ternyata di bawah tangan peminta itu ada sebuah kantung yang penuh berisi roti yang menjadi makanan pokok. Segera saja Umar mengatakan:
“Wahai peminta, kau bukan orang yang meminta untuk sekedar cukup, bahkan kau merupakan pedagang yang mengeruk keuntungan selagi ada kesempatan!,” begitu Umar membentaknya seraya mendekati peminta dan mengambil kantung yang penuh makanan itu. Kemudian kantung itu langsung dibukanya dan dituangkan di depan onta-onta zakat yang beberapa hari lagi akan segera dibagikan. Tidak itu saja, Umar segera mengambil cemetinya dan si peminta itu langsung disebatnya sampai merasa kesakitan.
“Awas, jangan kau ulangi lagi,” begitu bentak Umar.
Tindakan Umar dalam menyebat para penyeleweng itu dimaksudkan agar mereka jera menjalankan aksinya dalam masa-masa yang akan datang. Sedangkan mengenai penuangan makanan di depan onta-ona zakat, kendati sepintas tampak sebagai tindakan emosional, namun sikap itu sekali-kali bukanlah dianggap melampaui batas.
Cobalah kita cermati, dikarenakan si peminta itu mengambil harta dengan jalan dusta, maka pada hakikatnya dia tidak berhak menerimanya. Sedangkan untuk mengembalikan pada pemiliknya, tentu saja tindakan itu akan betul-betul mengalami kesulitan, sebab makanan itu telah bercampur dengan milik banyak para wajib zakat yang lain sehingga statusnya tidak bertuan lagi.
Dengan demikian maka wajib untuk menasarufkan pada kemaslahatan umum, dimana onta sedekah serta persediaan makanannya merupakan harta kemaslahatan. Untuk itu memberi makanan kepadanya merupakan tindakan kemaslahatan pula.
Tindakanmu betul-betul proporsional, wahai mertua Rasulullah dari seorang putrimu yang bernama Hafshah. Kendati pun sikapmu selintas tampak tidak berbelas kasih. Namun di situlah bersemayam ajaran yang kokoh dan tegas agar seluruh komunitas bersih dari berbagai manipulasi atau pun korupsi.
■■■
Kejayaan Orang Miskin
Rasulullah Saw mengatakan bahwa nanti ketika hari kiamat telah tiba, seorang lelaki yang miskin akan dihadapkan kepada Allah, kemudian Allah (dengan berendah hati) meminta maaf kepada lelaki itu sebagaimana seseorang meminta maaf kepada saudaranya ketika hidup di dunia. Allah lantas mengatakan:
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah Aku menjauhkan duniawi darimu itu tersebab kau begitu hina dalam pandangan-Ku. Namun karena Aku telah menyediakan berbagai kemuliaan dan keutamaan untukmu sekarang ini.
Wahai hamba-Ku, sekarang keluarlah menerobos barisan manusia itu, dan lihatlah siapa yang telah memberi makan atau memberi pakaian kepadamu dengan ikhlas karena Aku ketika di dunia. Gandenglah tangannya, ia telah aku pasrahkan kepadamu – padahal manusia ketika itu masih terbelenggu oleh keringat mereka - Maka hamba itu segera menerobos barisan manusia seraya menebarkan pandangannya, siapa dari mereka yang pernah memberi makan dan pakaian. Dan setelah ditemukannya, hamba itu pun menarik tangannya untuk diajaknya bersama memasuki surga.”
Kisah ini merupakan keterangan hadits yang diriwayatkan Abus Syeikh dari Anas bin Malik .
■■■
“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tidaklah Aku menjauhkan duniawi darimu itu tersebab kau begitu hina dalam pandangan-Ku. Namun karena Aku telah menyediakan berbagai kemuliaan dan keutamaan untukmu sekarang ini.
Wahai hamba-Ku, sekarang keluarlah menerobos barisan manusia itu, dan lihatlah siapa yang telah memberi makan atau memberi pakaian kepadamu dengan ikhlas karena Aku ketika di dunia. Gandenglah tangannya, ia telah aku pasrahkan kepadamu – padahal manusia ketika itu masih terbelenggu oleh keringat mereka - Maka hamba itu segera menerobos barisan manusia seraya menebarkan pandangannya, siapa dari mereka yang pernah memberi makan dan pakaian. Dan setelah ditemukannya, hamba itu pun menarik tangannya untuk diajaknya bersama memasuki surga.”
Kisah ini merupakan keterangan hadits yang diriwayatkan Abus Syeikh dari Anas bin Malik .
■■■
Ketinggian Nilai Al-Qur’an
Seorang yang telah hapal (Hafizh) Al-Qur’an yang terkenal miskin itu pada suatu hari mengadukan kefakirannya kepada Allah. Namun di malam harinya, ia bermimpi melihat seorang lelaki yang mengatakan:
“Adakah kau mau jika saja aku beri uang seribu dinar( 1 dengan syarat kau segera lupa terhadap surah Al-An’am, bagiamana?”
“Aku tidak akan mau.” jawab Hafizh tersebut.
“Kalau begitu kau lupa dengan surah Hud saja, itu kan lebih pendek,” begitu ledek lelaki tadi.
“Tidak mau, jangan,” tukas si Hafizh lagi.
“Jika yang harus kau segera lupa terhadap surah Yusuf, kau akan aku beri seribu dinar, bagaimana?,” tawar lelaki itu pula.
“Jangan, aku tidak mau,” sergah si Hafizh.
Selanjutnya lelaki itu terus menyebut berbagai surah sehingga genap seratus surah, namun si hafizh tetap menggelengkan kepala, tidak sudi Al-Qur’an yang telah dihapalnya itu harus segera lupa karena telah dijual dengan keduniaan. Kemudian lelaki itu mengatakan:
“Kalau demikian kau masih memiliki sesuatu yang harganya mencapai seratus ribu dinar, mengapa masih juga mengadukan kefakiran!,” begitu si lelaki itu memojokkan.
Dan ketika bangun, si Hafizh betul-betul terkesima, kemudian hari-harinya pun penuh dengan kebahagiaan.
■■■
“Adakah kau mau jika saja aku beri uang seribu dinar( 1 dengan syarat kau segera lupa terhadap surah Al-An’am, bagiamana?”
“Aku tidak akan mau.” jawab Hafizh tersebut.
“Kalau begitu kau lupa dengan surah Hud saja, itu kan lebih pendek,” begitu ledek lelaki tadi.
“Tidak mau, jangan,” tukas si Hafizh lagi.
“Jika yang harus kau segera lupa terhadap surah Yusuf, kau akan aku beri seribu dinar, bagaimana?,” tawar lelaki itu pula.
“Jangan, aku tidak mau,” sergah si Hafizh.
Selanjutnya lelaki itu terus menyebut berbagai surah sehingga genap seratus surah, namun si hafizh tetap menggelengkan kepala, tidak sudi Al-Qur’an yang telah dihapalnya itu harus segera lupa karena telah dijual dengan keduniaan. Kemudian lelaki itu mengatakan:
“Kalau demikian kau masih memiliki sesuatu yang harganya mencapai seratus ribu dinar, mengapa masih juga mengadukan kefakiran!,” begitu si lelaki itu memojokkan.
Dan ketika bangun, si Hafizh betul-betul terkesima, kemudian hari-harinya pun penuh dengan kebahagiaan.
■■■
Rezeki yang Halal
Dalam mencermati makanan yang akan kita jadikan sebagai energi tubuh, Islam begitu memperhatikan apa yang perlu dikonsumsi tubuh itu sendiri, dan bagaimana cara memperolehnya, apa pula berbagai jenis yang perlu dihindari sehingga tubuh akan betul-betul terjamin kesehatannya yang kelak akan begitu berguna untuk menghamba kepada Allah SWT.
Yang perlu diperhatikan. Pertama, makanan itu dalam keadaan bagus dan halal, dihasilkan dari usaha yang sesuai dengan tuntunan sunnah serta terhindar dari usaha yang dimakruhkan, disamping tidak untuk memperturutkan hawa nafsu. Perhatikan firman Allah :
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan batal terkecuali dengan jalan perniagaan yang berjalan dengan suka sama suka di antara kamu. Dan jangan pula kamu membunuh dirimu (An-Nisa’ : 28 ).
Dalam ayat tersebut Allah sangat memperhatikan mengenai kehalalan energi yang masuk ke dalam tubuh, kemudian melarang untuk memakan harta haram, yakni makanan yang dihasilkan dengan jalan batal, baru menghimbau untuk menjauhi perbuatan nista yang lain, yaitu bunuh diri. Hal ini tiada lain karena pengaruh dan barakah makanan halal itu sendiri sangat besar, baik untuk kepentingan kehidupan atau pun mendekatkan diri kepada Allah.
Kedua, perlu membasuh tangan terlebih dahulu agar kotoran dan daki yang melekat padanya tidak ikut masuk dalam tubuh. Sebab jika aktivitas makan itu dimaksudkan agar seseorang lebih leluasa dalam menjalankan agamanya, maka hal ini termasuk ibadah pula. Sehingga akan sebagaimana berwudhu ketika hendak menjalankan shalat. Periksa sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath:
“Membasuh tangan ketika mulai makan akan dapat menyingkirkan kefakiran. Dan ketika telah selesai makan, akan dapat menyingkirkan penyebab sakit gila.”
Ketiga, yang lebih dekat dengan ajaran Rasulullah adalah menaruhkan tempat makanan itu di lantai (lesehan), sebab yang demikian itu lebih dekat pada tindakan tawadhu’. Dalam sebuah hadits riwayat Hasan yang ditulis oleh Ahmad dalam kitab Az-Zuhud mengatakan:
Jika saja makanan datang kepada Rasulullah, beliau segera menaruhkannya di lantai.
Keempat, duduk dengan baik di depan makanan itu hingga selesai, sebagaimana perbuatan Rasulullah Saw yang diriwayatkan dari Abdullah bin Basyir.
Adalah Rasulullah Saw. terkadang membongkokkan punggungnya di atas kedua belah lututnya ketika makan. Acapkali juga duduk pada kedua belah tumitnya, dan kadang kaki sebelah kanannya ditegakkan kemudian duduk di kaki sebelah kiri.
Bersabda pula Rasulullah Saw:
Aku tidak akan makan dengan bersandar. Aku adalah seorang hamba, dengan demikian cara makanku pun sebagaimana seorang hamba. Ketika duduk pun sebagaimana seorang hamba.
Kelima, hendaklah berniat agar badan menjadi kuat untuk melaksanakan ibadah kepada Allah, dengan demikian aktivitas makan itu akan ditulis sebagai ibadah, kendati secara lahiriah tidak bergambar ibadah.
Jangan pula menyimpan maksud untuk berlezat-lezat, malah akan lebih baik jika tidak sampai batas kenyang agar tidak akan menghalang atau menjadikan malas melaksanakan berbagai ibadah itu, bahkan akan menghilangkan kenikmatan melakukan ibadah. Dan tidak akan makan terkecuali jika telah merasa lapar, sehingga tubuh akan senantiasa sehat dan tidak lagi membutuhkan pertolongan dokter.
Keenam, mencukupkan diri dengan makanan yang tersedia dan tidak perlu harus lengkap dengan perbagai lauk pauk, bahkan kalau perlu makan lebih dahulu sebelum melakukan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
Jika saja waktu makan malam dan waktu ‘Isyak datang bersamaan, maka mulailah dengan makan malam.
Ketujuh, akan lebih baik dilakukan bersama-sama dengan anak isterinya dalam satu tempat, bahkan Rasulullah tidak pernah makan dalam keadaan sendiri, sesuai dengan sabdanya:
Berkumpullah kalian dalam makan, maka akan dipenuhi berkah oleh Allah.
(Hadits dari Wahsyi bin Harb dengan isnad hasan).
Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Barang siapa memulai sarapan pagi dengan mencicipi garam terlebih dahulu, maka Allah akan menghilangkan tujuh puluh macam bahaya darinya. Dan barang siapa setiap hari memakan kurma ‘ajwah (jenis kurma Madinah) tujuh butir, maka segala ulat dan bakteri yang bersarang di tubuhnya akan segera mati. Dan barang siapa memakan anggur merah setiap hari sejumlah dua puluh satu butir, maka tidak akan ditemukan lagi apa pun yang tidak disenangi pada tubuhnya.
Memakan daging akan baik pengaruhnya bagi pertumbuhkan, sedangkan makanan tsarid (adonan gandum bercampur daging) adalah makanan favorit orang Arab. Namun basqarat (daging bercampur minyak samin) bisa membesarkan perut dan menjadikan pantat mengendor. Dan memakan daging sapi kurus akan menyebabkan datangnya penyakit, begitu pula lemaknya. Namun susunya bisa menjadi penawar.
Sedangkan bagi wanita yang sedang nifas, ia akan lebih baik memperbanyak makan kurma basah (ruthab). Dan barang siapa berkehendak panjang umur, hendaklah ia membiasakan sarapan pagi, memakai terompah akan lebih baik. Dan obat yang amat berguna tidak akan ada yang mengalahkan minyak samin. Jangan terlalu sering bersenggama dan hendaklah baju luar dibuat dari bahan yang ringan.
Pada sekali kesempatan Hajjaj bin Yusuf mengatakan pada seorang dokter:
“Terangkan masalah-masalah kesehatan yang perlu aku perhatikan!,” begitu kata Hajjaj.
“Janganlah kau kawin terkecuali dengan perawan, jangan pula memakan daging terkecuali jika kau dapatkan yang masih muda. Dalam menghadapi makanan yang perlu dimasak, jangan kau memakannya terkecuali jika telah matang benar. Jangan meminum obat terkecuali jika memang sedang sakit. Dan jika meminumnya, maka jangan kau tindak lanjuti dengan makanan-makanan lain.
Kunyahlah apa pun yang kau makan dengan sebaik-baiknya, namun jangan segera kau ikuti dengan minuman. Dan jika kau minum, hendaknya jangan segera kau ikuti dengan makanan lain. Jangan sekali-kali menahan kencing atau berak. Dan jika kau telah usai makan di siang hari, maka akan lebih baik segera tidur. Namun jika selesai makan di malam hari, maka akan lebih baik berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum tidur kendati hanya dengan seratus langkah,” begitu jawab dokter tadi.
Imam Syafi’i mengatakan:“Cara makan itu ada empat macam. Pertama, makan dengan satu jari, sikap itu akan mengundang murka Allah. Kedua, makan dengan dua jari, merupakan sikap orang-orang yang takabur. Ketiga, makan dengan tiga jari merupakan ajaran Rasulullah Saw. (sunnah). Keempat, makan dengan empat atau lima jari merupakan tindakan rakus.”
Empat macam tindakan, “kata Asy-Syafi’i lagi, “Akan bisa memperkuat tubuh, yaitu sering memakan daging, memakai minyak wangi, sering mandi yang bukan tersebab janabat dan mengenakan pakaian dari bahan kattan.
Adapun yang menyebabkan tubuh mudah merasa payah adalah memperbanyak senggama, banyak susah, sering minum ketika perut sedang lapar dan sering memakan makanan asam. Yang akan bisa memperkuat ketajaman mata yaitu melihat pada tumbuh-tumbuhan yang menghijau, pakaian selalu bersih, sering duduk dengan menghadap kiblat dan bercelak ketika akan tidur.
Perbuatan yang menyebabkan mata cepat payah yaitu sering memandang pada kotoran, memandang pada orang yang dihukum salib, memandang pada kemaluan wanita dan duduk dengan membelakangi kiblat.
Dan masih ada empat macam lagi yang akan memperkuat senggama, yaitu memakan daging burung pipit, meminum perasan buah butrawali besar, memakan buah kemiri dan memakan buah pala.
Dalam tidur pun dapat dibagi empat macam, yaitu tidur dengan menyandarkan tengkuk, yang demikian itu adalah sikap para Nabi, mereka sering berfikir mengenai apa pun yang berada di langit dan di bumi. Kedua, tidur miring ke kanan. Yang demikian itu sikap para ulama dan ahli beribadah. Ketiga, tidur miring ke kiri, yang merupakan kebiasaan seorang raja dengan maksud agar makanan di perutnya segera tercerna. Keempat, tidur dengan muka tengkurap, ini merupakan gaya syetan.
Empat sikap yang menyebabkan akal menjadi kuat. Pertama, menahan diri dari banyak ucapan. Kedua, sering bersugi (bersiwak). Ketiga, sering berdiam dalam masjid. Keempat, memberbanyak membaca Al-Qur’an.
Berkata pula Imam Syafi’i:“Mengherankan, mengapa banyak orang memaksakan diri untuk pergi ke pemandian padahal perut mereka merasa lapar. Bukankah sikap seperti ini memperpendek umur. Begitu pula amat banyak orang yang berbekam, namun segera saja mereka makan kenyang. Bukankah hal ini menyebabkan pendeknya umur pula.”
Semoga bermanfaat adanya.
■■■
Yang perlu diperhatikan. Pertama, makanan itu dalam keadaan bagus dan halal, dihasilkan dari usaha yang sesuai dengan tuntunan sunnah serta terhindar dari usaha yang dimakruhkan, disamping tidak untuk memperturutkan hawa nafsu. Perhatikan firman Allah :
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan batal terkecuali dengan jalan perniagaan yang berjalan dengan suka sama suka di antara kamu. Dan jangan pula kamu membunuh dirimu (An-Nisa’ : 28 ).
Dalam ayat tersebut Allah sangat memperhatikan mengenai kehalalan energi yang masuk ke dalam tubuh, kemudian melarang untuk memakan harta haram, yakni makanan yang dihasilkan dengan jalan batal, baru menghimbau untuk menjauhi perbuatan nista yang lain, yaitu bunuh diri. Hal ini tiada lain karena pengaruh dan barakah makanan halal itu sendiri sangat besar, baik untuk kepentingan kehidupan atau pun mendekatkan diri kepada Allah.
Kedua, perlu membasuh tangan terlebih dahulu agar kotoran dan daki yang melekat padanya tidak ikut masuk dalam tubuh. Sebab jika aktivitas makan itu dimaksudkan agar seseorang lebih leluasa dalam menjalankan agamanya, maka hal ini termasuk ibadah pula. Sehingga akan sebagaimana berwudhu ketika hendak menjalankan shalat. Periksa sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Ausath:
“Membasuh tangan ketika mulai makan akan dapat menyingkirkan kefakiran. Dan ketika telah selesai makan, akan dapat menyingkirkan penyebab sakit gila.”
Ketiga, yang lebih dekat dengan ajaran Rasulullah adalah menaruhkan tempat makanan itu di lantai (lesehan), sebab yang demikian itu lebih dekat pada tindakan tawadhu’. Dalam sebuah hadits riwayat Hasan yang ditulis oleh Ahmad dalam kitab Az-Zuhud mengatakan:
Jika saja makanan datang kepada Rasulullah, beliau segera menaruhkannya di lantai.
Keempat, duduk dengan baik di depan makanan itu hingga selesai, sebagaimana perbuatan Rasulullah Saw yang diriwayatkan dari Abdullah bin Basyir.
Adalah Rasulullah Saw. terkadang membongkokkan punggungnya di atas kedua belah lututnya ketika makan. Acapkali juga duduk pada kedua belah tumitnya, dan kadang kaki sebelah kanannya ditegakkan kemudian duduk di kaki sebelah kiri.
Bersabda pula Rasulullah Saw:
Aku tidak akan makan dengan bersandar. Aku adalah seorang hamba, dengan demikian cara makanku pun sebagaimana seorang hamba. Ketika duduk pun sebagaimana seorang hamba.
Kelima, hendaklah berniat agar badan menjadi kuat untuk melaksanakan ibadah kepada Allah, dengan demikian aktivitas makan itu akan ditulis sebagai ibadah, kendati secara lahiriah tidak bergambar ibadah.
Jangan pula menyimpan maksud untuk berlezat-lezat, malah akan lebih baik jika tidak sampai batas kenyang agar tidak akan menghalang atau menjadikan malas melaksanakan berbagai ibadah itu, bahkan akan menghilangkan kenikmatan melakukan ibadah. Dan tidak akan makan terkecuali jika telah merasa lapar, sehingga tubuh akan senantiasa sehat dan tidak lagi membutuhkan pertolongan dokter.
Keenam, mencukupkan diri dengan makanan yang tersedia dan tidak perlu harus lengkap dengan perbagai lauk pauk, bahkan kalau perlu makan lebih dahulu sebelum melakukan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
Jika saja waktu makan malam dan waktu ‘Isyak datang bersamaan, maka mulailah dengan makan malam.
Ketujuh, akan lebih baik dilakukan bersama-sama dengan anak isterinya dalam satu tempat, bahkan Rasulullah tidak pernah makan dalam keadaan sendiri, sesuai dengan sabdanya:
Berkumpullah kalian dalam makan, maka akan dipenuhi berkah oleh Allah.
(Hadits dari Wahsyi bin Harb dengan isnad hasan).
Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Barang siapa memulai sarapan pagi dengan mencicipi garam terlebih dahulu, maka Allah akan menghilangkan tujuh puluh macam bahaya darinya. Dan barang siapa setiap hari memakan kurma ‘ajwah (jenis kurma Madinah) tujuh butir, maka segala ulat dan bakteri yang bersarang di tubuhnya akan segera mati. Dan barang siapa memakan anggur merah setiap hari sejumlah dua puluh satu butir, maka tidak akan ditemukan lagi apa pun yang tidak disenangi pada tubuhnya.
Memakan daging akan baik pengaruhnya bagi pertumbuhkan, sedangkan makanan tsarid (adonan gandum bercampur daging) adalah makanan favorit orang Arab. Namun basqarat (daging bercampur minyak samin) bisa membesarkan perut dan menjadikan pantat mengendor. Dan memakan daging sapi kurus akan menyebabkan datangnya penyakit, begitu pula lemaknya. Namun susunya bisa menjadi penawar.
Sedangkan bagi wanita yang sedang nifas, ia akan lebih baik memperbanyak makan kurma basah (ruthab). Dan barang siapa berkehendak panjang umur, hendaklah ia membiasakan sarapan pagi, memakai terompah akan lebih baik. Dan obat yang amat berguna tidak akan ada yang mengalahkan minyak samin. Jangan terlalu sering bersenggama dan hendaklah baju luar dibuat dari bahan yang ringan.
Pada sekali kesempatan Hajjaj bin Yusuf mengatakan pada seorang dokter:
“Terangkan masalah-masalah kesehatan yang perlu aku perhatikan!,” begitu kata Hajjaj.
“Janganlah kau kawin terkecuali dengan perawan, jangan pula memakan daging terkecuali jika kau dapatkan yang masih muda. Dalam menghadapi makanan yang perlu dimasak, jangan kau memakannya terkecuali jika telah matang benar. Jangan meminum obat terkecuali jika memang sedang sakit. Dan jika meminumnya, maka jangan kau tindak lanjuti dengan makanan-makanan lain.
Kunyahlah apa pun yang kau makan dengan sebaik-baiknya, namun jangan segera kau ikuti dengan minuman. Dan jika kau minum, hendaknya jangan segera kau ikuti dengan makanan lain. Jangan sekali-kali menahan kencing atau berak. Dan jika kau telah usai makan di siang hari, maka akan lebih baik segera tidur. Namun jika selesai makan di malam hari, maka akan lebih baik berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum tidur kendati hanya dengan seratus langkah,” begitu jawab dokter tadi.
Imam Syafi’i mengatakan:“Cara makan itu ada empat macam. Pertama, makan dengan satu jari, sikap itu akan mengundang murka Allah. Kedua, makan dengan dua jari, merupakan sikap orang-orang yang takabur. Ketiga, makan dengan tiga jari merupakan ajaran Rasulullah Saw. (sunnah). Keempat, makan dengan empat atau lima jari merupakan tindakan rakus.”
Empat macam tindakan, “kata Asy-Syafi’i lagi, “Akan bisa memperkuat tubuh, yaitu sering memakan daging, memakai minyak wangi, sering mandi yang bukan tersebab janabat dan mengenakan pakaian dari bahan kattan.
Adapun yang menyebabkan tubuh mudah merasa payah adalah memperbanyak senggama, banyak susah, sering minum ketika perut sedang lapar dan sering memakan makanan asam. Yang akan bisa memperkuat ketajaman mata yaitu melihat pada tumbuh-tumbuhan yang menghijau, pakaian selalu bersih, sering duduk dengan menghadap kiblat dan bercelak ketika akan tidur.
Perbuatan yang menyebabkan mata cepat payah yaitu sering memandang pada kotoran, memandang pada orang yang dihukum salib, memandang pada kemaluan wanita dan duduk dengan membelakangi kiblat.
Dan masih ada empat macam lagi yang akan memperkuat senggama, yaitu memakan daging burung pipit, meminum perasan buah butrawali besar, memakan buah kemiri dan memakan buah pala.
Dalam tidur pun dapat dibagi empat macam, yaitu tidur dengan menyandarkan tengkuk, yang demikian itu adalah sikap para Nabi, mereka sering berfikir mengenai apa pun yang berada di langit dan di bumi. Kedua, tidur miring ke kanan. Yang demikian itu sikap para ulama dan ahli beribadah. Ketiga, tidur miring ke kiri, yang merupakan kebiasaan seorang raja dengan maksud agar makanan di perutnya segera tercerna. Keempat, tidur dengan muka tengkurap, ini merupakan gaya syetan.
Empat sikap yang menyebabkan akal menjadi kuat. Pertama, menahan diri dari banyak ucapan. Kedua, sering bersugi (bersiwak). Ketiga, sering berdiam dalam masjid. Keempat, memberbanyak membaca Al-Qur’an.
Berkata pula Imam Syafi’i:“Mengherankan, mengapa banyak orang memaksakan diri untuk pergi ke pemandian padahal perut mereka merasa lapar. Bukankah sikap seperti ini memperpendek umur. Begitu pula amat banyak orang yang berbekam, namun segera saja mereka makan kenyang. Bukankah hal ini menyebabkan pendeknya umur pula.”
Semoga bermanfaat adanya.
■■■
Langganan:
Postingan (Atom)
