Kamis, 07 Januari 2010

Kesendirian Seorang Rahib

Dikisahkan oleh Abdul Wahid bin Zaid bahwa pada suatu hari ia menjumpai seorang Rahib yang bertepatan berada di sebuah gereja. Pada kesempatan itulah ia mengutarakan berbagai pertanyaan:
“Wahai Rahib, mengapa tuan lebih suka menyendiri?.”
“Jika saja kau telah merasakan kenikmatan dalam menyendiri, dirimu malah akan berkeluh kesah ketika tidak dapat mengalaminya. Kesendirian merupakan modal utama untuk beribadah kepada Allah,” jawab Rahib dengan begitu sopan.
“Apa saja yang bisa Tuan peroleh dalam kesendirian itu?,” tanya Abdul Wahid lebih lanjut.
“Minimal aku bisa beristirahat dari pengaruh buruk orang lain, dan terjauh dari sikap dibuat-buat agar tampak baik, juga terlepas dari kekhawatiran menyinggung perasaan mereka ketika berbicara dan mereka tidak akan bisa lagi menyakiti hatiku.” begitu tukas Rahib.
“Wahai Rahib, bilakah seseorang akan bisa merasakan kelezatan bersama Allah SWT.?” tanya Abdul Wahid lagi.
“Seseorang akan bisa merasakan itu ketika cintanya kepada Allah betul-betul telah bersih dari hal lain yang akan mengeruhkannya, dan ditunjang dengan berbagai ibadah yang ikhlas karena Dia saja,”sahut rahib lagi.
“Kapan sebuah hati bisa menjadi bersih seperti yang Tuan maksudkan itu, padahal martabat seperti itu akan sangat sulit untuk dicapai?,” tanya Abdul Wahid lebih lanjut.
“Jika saja berbagai kemauan bisa terkumpulkan menjadi satu sehingga mengerucut menjadi satu kemauan saja, yakni kemauan untuk membaktikan diri kepada-Nya, itu saja,” begitu jawab rahib terakhir.
Abdul Wahid pun tampak puas, kemudian berpamitan untuk meneruskan perjalanannya.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar