Kamis, 07 Januari 2010

Si Juling Menantang Tuhan

Nabi Musa As merupakan seorang Nabi yang termasuk jajaran Ulul ‘Azmi dan bergelar pula dengan Kalimul’Lah. Nabi yang pernah diwawancarai Allah secara langsung, tidak melalui malaikat Jibril atau mediator yang lain.
Dalam sekali kesempatan, pernah beliau dituduh berbuat zina oleh Qarun berhubung beliau mengumumkan kewajiban zakat. Pernah pula dituduh pelirnya besar sebelah karena tidak mau beramai-ramai mandi bersama laki-laki dan perempuan dengan telanjang.
Namun ditepis oleh Allah dengan cara pakaian beliau dibawa lari oleh batu yang menjadi tempat menaruh pakaiannya ketika mandi. Kemudian batu itu pun dikejarnya, namun anehnya arah lari batu itu menuju keramaian hingga banyak orang tahu bahwa Nabi Musa bukan termasuk orang yang cacat.
Batu itu pula yang akhirnya membalas budi bertandang di hadapan Nabi Musa ketika kaumnya kehausan di padang Taih. Lantas Allah menyuruh beliau untuk memukul batu tersebut hingga memancar dua belas mata air.
Seorang Nabi yang betul-betul telah kenyang penderitaan dan begitu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan sehingga ketika Rasulullah Saw. membagi harta ghanimah dimana ada sementara pihak yang mengatakan bahwa pembagian beliau tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan Allah. Maka beliau tersentak dengan rona wajah merah padam, namun segera saja teringat pada Nabi Musa As hingga beliau bersabda seraya menekan gemuruh dadanya:
“Semoga rahmat Allah tetap terlimpahkan pada Nabi Musa, dia lebih banyak disakiti oleh kaumnya namun tetap bersabar.”
Di dalam Al-Qur’an sendiri sering kita menjumpai, bagaimana cara kaum Nabi Musa memanggil beliau, biasanya langsung saja menyebut nama “ya Musa” tidak dengan “ ya Nabiyal’Lah atau ya Rasulal’Lah” Hal ini sebagai petunjuk bahwa kaum Nabi Musa tidak begitu mengacuhkan, tidak pula respek terhadap kredibilitas seorang Nabi, padahal beliau bukanlah figur yang lemah bahkan sangat-sangat tegas. Sebagai seorang manusia, Nabi Musa sampai pernah meratap:“Wahai kaumku, mengapa kalian seringkali menyakitiku padahal kalian telah mengerti bahwa diriku ini merupakan utusan Allah.”
Penjelasan ini tidak bermaksud menggiring pikiran kita untuk mengkultus individukan seseorang, namun secara proporsional kita wajib menghormat figur yang dihormati Allah ( wa man yu’adhdhim sya’airal’Lah ), dimana para Nabi Allah itu sendiri termasuk tanda agungnya agama Allah.
Itulah sikap Bani Israil, sebuah kaum yang sering berbuat onar, bukan sekarang saja, sejak dahulu memang demikian perilakunya hingga ketika telah sampai klimaksnya, Allah pun mengirim bencana yang memporak porandakan mereka.
Namun sekali-kali kita tidak boleh bertopang dagu membiarkan kebiadaban mereka dengan hanya mengandalkan atau menunggu saja Allah berbuat. Itu bukan tawakal namanya, namun lebih pantas disebut malas.
Sebaliknya mereka pula yang paling besar menerima karunia Allah dimana banyak sekali para Nabi yang diutus dari kalangan mereka.
Daerah Timur Tengah kebanyakan merupakan kawasan kering dan padang pasir tandus yang sering kita dengar bala keparan melanda daerah tersebut hingga menelan beribu-ribu korban.
Tersebutlah dalam suatu kisah bahwa Bani Israil tertimpa kekeringan yang panjang, langit seolah-olah hamparan merah jingga dan bumi beralih fungsi bagaikan logam penghantar panas ketika tidak pernah tersiram hujan. Dalam kondisi seperti ini seluruh penduduk mengadukan perihalnya kepada Nabi Musa agar beliau memohon hujan kepada Allah SWT. Demi melihat kaumnya yang tertimpa bala itu, Nabi Musa menyuruh mereka untuk keluar rumah, pergi bersama menuju sebuah bukit dan berkumpul disana.
Mereka segera menurut apa yang telah diperintahkan Nabinya itu, hingga bukit itu pun tampak bagaikan hamparan manusia. Namun tiba-tiba saja Nabi Musa mengumandangkan maklumat:
“Barang siapa yang pernah berbuat dosa tiga kali selama hidupnya, hendaklah sekarang juga segera pulang!.”
Seluruh yang hadir tersentak kaget alang kepalang padahal keringat pun belum kering, dan dengan menggerutu akhirnya sebagian besar dari mereka pun beranjak pulang, dimana memang Nabi Musa juga segera mengusir hingga hanya tinggal beberapa kelompok kecil yang kebanyakan mereka terdiri dari para rahib.
Kemudian Nabi Musa meneruskan maklumatnya lagi:
“Barang siapa yang pernah berbuat dosa dua kali selama hidupnya, hendaklah segera pulang sekarang juga.”
Demi mendengar maklumat ini, manusia yang tinggal sedikit itu pun beranjak pulang kendati hati mereka betul-betul kebingungan, tidak mengerti apa yang berada di benak Nabi Musa. Kali ini pengikut Nabi Musa tinggal lima atau sepuluh orang dengan perasan kecut.
“Sekarang, barang siapa yang pernah berbuat dosa sekali saja dalam hidupnya, saya minta dengan tidak hormat supaya segera pulang,” serunya lagi.
Maka seluruh pengikutnya tadi dengan hanya bisa tolah-toleh akhirnya juga pulang kecuali seorang laki-laki juling, hilang sebelah bola matanya, dia Barkhu namanya.
“Mengapa kau tidak ikut pulang, tidakkah kau mendengar ucapanku tadi!,” begitu hardik Nabi Musa.
“Apakah kau belum pernah berbuat dosa!,” cecar Nabi Musa lagi.
Akhirnya dengan tenang Barkhu itu pun menjawab:
“Aku pernah melakukan suatu perbuatan, namun belum jelas benar bagiku, apakah termasuk dosa atau tidak.”
“Apa itu, segera sebutkan!,” desak Nabi Musa lagi.
“Pada suatu hari aku melintasi suatu jalan perkampungan dimana ada sebuah rumah yang pintunya terkuak. Ketika itulah mataku yang telah hilang ini melirik bayangan sosok tubuh, namun aku sendiri belum mengetahui, apakah sosok itu merupakan seorang wanita atau pria. Di saat itulah hatiku mengatakan kepada mata yang jalang ini:
“Kau merupakan bagian tubuhku, mengapa kau rakus benar untuk berbuat kesalahan, sekarang kau harus lepas dariku.” Maka segera saja jariku ini aku masukkan ke dalam rongga mata kemudian aku tarik sedemikian rupa hingga bola mata itu terlepas. Maka jika saja lirikanku tadi sudah merupakan maksiat, sekarang juga aku akan pulang wahai Kalimullah,” demikian Barkhu beralasan.
“Lirikanmu itu belum termasuk dosa, sekarang cukup kamu saja yang memohon hujan kepada Allah,” begitu desak Nabi Musa.
Dengan segera Barkhu berdo’a dengan Nabi Musa yang mengamini dari belakang, maka terdengarlah dia berkata:
“Quddus – Quddus, wahai Yang Maha Suci, sebenarnya apa yang ada disisi-Mu tidak akan pernah habis, simpanan karunia-Mu juga tidak pernah sirna, tidak pula Engkau bisa dituduh pelit. Apakah Engkau belum tahu kondisi kami, sekarang juga Engkau harus, ya harus menurunkan hujan pada mereka.”
Demi mendengar do’a Barkhu yang kasar ini, hampir saja Nabi Musa lepas kendali menumpahkan kemarahannya, dan Barkhu pun akan ditinju. Namun sejenak kemudian dilihatnya awan beriringan dan kilat bersahutan, hingga belum sampai di rumah, kedua pembesar itu telah basah kuyup terguyur hujan.
Memang dalam kondisi tertentu, seseorang yang betul-betul telah dekat kepada Allah, acapkali memperlakukan Allah sebagaimana karibnya sendiri hingga keluar ucapan yang tidak layak menurut pandangan orang lain sebagaimana ucapan Barkhu tadi. Demikian Imam Ghazali menjelaskan dalam Ihya’nya.



■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar