Selasa, 05 Januari 2010

Ketika Musibah Mendera Diri

Pada suatu hari Abdullah berjalan di pinggiran kota Bashrah. Tiba-tiba saja penglihatannya terantuk pada seorang wanita separoh baya yang terlihat begitu cantik dengan wajah berbinar bagaikan sinar rembulan.
“Wajah-wajah seperti ini tiada lain karena refleksi kehidupannya yang penuh kebahagiaan, dalam arti cukup hiburan dan tidak terlalu sering dilanda kesusahan,” begitu kata Abdullah yang sebenarnya tidak terlalu keras.
Namun tanpa diduga, wanita itu mendengar ucapan tersebut. Dan ternyata dugaan seperti itu meleset jauh, jauh sekali. Bahkan wanita itu segera menyergah:
“Wahai Abdullah, kau tidak merasakan bahwa diriku betul-betul merasakan penderitaan yang tak terperikan dan tidak pernah terbagi.”
Jawaban ini membuat Abdullah terkejut bercampur malu. Mengapa ucapan yang seakan tak disengajanya itu terdengar dan ditangkap dengan jelas oleh sasaran. Namun sudah kepalang basah, Abdullah pun lantas melanjutkan saja pembicaraan itu dengan mengutarakan pertanyaan lebih klanjut.
“Wahai ibu, bagaimana hal itu bisa terjadi, betapa tampak berbalik jika saja seseorang memandang wajah ibu yang seakan selalu berhias dengan kebahagiaan?.”
“Mengertilah wahai Abdullah, pada suatu hari Tasyriq (Idul Adhha) suamiku menyembelih seekor domba sebagai ibadah kurban. Ketika itu dua anakku menyaksikan pula bersamaku dengan saudara-saudara wanita yang lain. Namun pada hari yang lain, salah seorang anak tersebut mengatakan pada adiknya:
“Mari dik, kita bermain menirukan ayah ketika menyembelih domba pada waktu hari raya kemarin,” begitu ajak sang kakak.
“Anehnya sang adik menurut saja ketika sang kakak membaringkan dengan pisau terhunus yang sudah diarahkan pada lehernya. Maka terjadilah apa yang terjadi. Sang adik menjadi korban betulan dan menemui ajalnya dengan tanpa sepengetahuan seorang pun.
Dan ketika sang adik meregang nyawa dengan suara mendengkur begitu nyaring, maka sang kakak baru menyadari perbuatan biadabnya. Ia pun merasa takut lantas melarikan diri di kaki sebuah gunung dan tak berani pulang ke rumah.
Sebenarnya seluruh keluarga telah dikerahkan untuk mencari ke sana ke mari, namun dasar nasib tidak berpihak pada kami, anak tersebut belum juga dapat di ketemukan.
Keesokan harinya sang ayah mencari dengan sekuat kemampuan untuk menemukan anak laki-laki yang tinggal satu-satunya dengan tanpa membawa perbekalan sama sekali. Karena begitu semangatnya, jarak yang ditempuh cukup jauh sehingga dia kehausan di tengah belantara itu. Akhirnya terbetik kabar bahwa suamiku itu juga mati, dimana jenazahnya segera diusung ke rumahku.
Pada keesokan harinya, seorang lelaki yang terbiasa mencari kayu bakar di kaki gunung itu telah menemukan mayat anakku dengan luka bekas diterkam serigala. Maka seketika itu dua orang anak dan suamiku telah menemui ajal sehingga membuat air mataku seakan kering tak mau menetes lagi karena memang telah terlalu banyak yang tumpah.
Tiga jenazah orang-orang tercinta silih berganti berangkat dari rumahku menuju pemakaman. Dengan demikian tahun ini memang sebuah penderitaan yang tak terperikan telah mendera diriku,” begitu tutur wanita tersebut.
Ketika Abdullah mendengar penuturan itu, tertegun ia dibuatnya sehingga tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Setelah wanita itu mengucapkan salam perpisahan, ia baru menyadari bahwa kecantikan wanita itu betul-betul berlawanan dengan semua apa yang telah dialami.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar