Kamis, 07 Januari 2010

Tiga Serangkai Menguak Takdir

Tiga orang lelaki itu berangkat menelusuri hutan rawan untuk berburu hewan yang telah menjadi kegemaran mereka. Begitu asyiknya mereka membidik beberapa hewan liar, namun tampaknya nasib belum berpihak pada mereka.
Hari telah begitu siang namun belum seekorpun yang didapatkan. Dan cuaca pagi tadi yang begitu cerah, kini telah berganti awan hitam kelam yang bergulung-gulung dimana sebentar lagi hujan lebat segera akan mengguyur bumi. Beberapa saat kemudian hujan betul-betul tumpah ruah hingga terpaksa tiga orang itu berlari mencari perlindungan untuk berteduh. Kebetulan sekali mereka cepat sampai pada suatu gua yang telah menjadi kebiasaan sebagai tempat istirahat mereka. Maka masuklah mereka dengan segera kedalam gua seraya melepas penat dan memperbaiki peralatannya.
Namun hujan tampaknya malah bertambah lebat dan tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh yang menakutkan, ternyata puncak gunung yang tepat diatas gua mereka itu longsor dan sebuah batu besar meluncur kebawah dan berhenti tepat dimulut gua hingga menutup rapat-rapat.
“Tamat sudah riwayat kita,” gumam si botak.
Badan mereka lunglai seketika. Anak-anak dan isterinya selalu terbayang dipelupuk mata mereka seakan mengiringi kepergian arwahnya.
Lama sudah mereka memikirkan, bagaimana cara mendapatkan jalan keluar. Berteriak juga tidak akan berguna, peralatan pun tidak membawa. Jalan satu-satunya hanya menyerahkan diri kepada Allah, namun sikap ini pun masih mengandung dua alternatif, boleh jadi gua ini akan menjadi kuburan hidup-hidup bagi mereka atau akan selamat jikalau Allah menghendaki.
Tiba-tiba saja salah satu dari mereka mempunyai ide yang dirasakan akan membawa manfaat. Ia bisiki dua temannya yang sudah tampak pucat pasi itu :
“Wahai kawan-kawan, dalam kondisi seperti ini kita tidak akan bisa selamat kecuali hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan memakai amal shalih kita. Adakah kawan-kawan pernah beramal yang amat berkesan sekali dihati,” begitu tanya si jambul.
“Saya rasa ada, oh benar ada,” jawab si gendut.
“Aku juga begitu,” sambung si botak
“Sekarang siapa dulu yang akan berdo’a,” tanya si gendut.
“Baiklah saya akan berdo’a, namun saya minta kalian mengamini dengan khusyuk agar batu ini terbuka.” sahut si botak.
Maka segera saja si botak itu menuturkan amalnya sebagai pijakan untuk berdo’a.”
“Ya Allah, dulu saya masih sempat menjumpai kedua orang tua saya yang telah renta. Mereka begitu aku muliakan, selalu kupenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Setiap hari aku sendiri yang memberi dan membuatkan minuman susu mereka, dimana anak isteriku sendiri aku larang untuk minum mendahului mereka sebelum mereka minum sepuas-puasnya.
Pada suatu pagi ketika aku akan mencari kayu bakar, aku tidak tega meninggalkan pergi sebelum mereka itu tertidur pulas. Dan pada biasanya ketika mereka tidur itulah aku baru beranjak untuk memerah susu sebagai minuman mereka. Seringkali aku menunggui disamping mereka dengan membawa minuman itu sampai mereka bangun sendiri.
Dan sekali-kali anak isteriku tetap aku larang untuk minum mendahului mereka kendati anak-anakku itu masih kercil hingga seringkali berteriak minta minuman. Pendeknya aku selalu berusaha berbakti kerpada keduanya dengan sebaik-baiknya.
Ya Allah, jika saja perbuatan itu termasuk kebajikan yang Engkau ridhai, singkirkanlah batu yang menghalangi jalan keluar kami ini, amin.”
Sejenak mereka terperangah dimana batu itu bergerak-gerak dan beringsut dan hanya bergeser sedikit dimana hanya cukup untuk jalan cahaya dan angin namun belum bisa sebagai jalan keluar.
“Sekarang ganti kau yang berdo’a wahai si gendut,” kata si botak.
“Ya, namun aku juga minta kalian mengamini do’aku,” sahut si gendut.
Maka mulailah dia berdo’a:
“Ya Allah, aku pernah jatuh cinta pada wanita anak pamanku sendiri hingga seolah-olah tidak ada wanita lain yang kukasihi selain dirinya. Namun pada suatu hari aku ingin sekali berbuat mesum dengannya, untung saja dia tidak mau.
Hingga datanglah masa paceklik dan resesi yang memukul perekonomian masyarakat, dimana rumah tangga pamanku tidak luput dari bencana ini. Pada suatu pagi wanita itu datang padaku untuk untuk meminta bantuan berupa apa pun yang bisa mengganjal perutnya, namun keadaan ini malah aku jadikan sebagai kesempatan untuk melampiaskan maksud jahatku.
Ia kuberi uang lebih dahulu seratus duapuluh dinar dengan syarat aku diperbolehkan berbuat apa saja terhadap dirinya. Tampaknya dia pun paserah menghadapi nasib malang yang menimpanya. Maka segera saja dia kubimbing ke dalam kamar dan kulentangkan sedemikian rupa, namun ketika aku akan melampiaskan maksud yang terakhir itu, tiba-tiba saja dia mengatakan:
“Wahai kanda!, takutlah kanda kepada Allah, carilah jalan yang benar untuk merenggut kegadisanku ini,” begitu nasehat yang diucapkannya dengan gemetar.
Sekonyong-konyong nafsuku yang telah membara itu lenyap seketika hingga dia kulepaskan dan segera kutinggalkan, namun uang yang telah kuberikan itu tidak kuambil kembali bahkan kuikhlaskan sebagai sedekah. Ya Allah, jika saja amal seperti ini mengandung ridhaMu, kami mohon agar batu ini Engkau singkirkan, Engkau Maha Pemurah, lagi pula Maha Kuasa.”
Seketika itu pula batu itu bergeser lagi, namun hanya sedikit dan belum bisa untuk jalan keluar.
“Sekarang ganti kamu mbul,” kata si botak.
“Sebagaimana kalian, do’aku nanti harus kalian amini pula,” sahut Jambul.
Maka mulailah Jambul berdo’a:
“Ya Allah, saya pernah menjadi seorang majikan yang seringkali menyewa beberapa orang untuk menyelesaikan pekerjaan yang aku hadapi. Dan belum sampai keringat mereka kering, upah mereka sudah kubagikan agar mereka merasa dihargai selain ada kepuasan tersendiri.
Namun ada satu orang yang terlihat aneh dimana setiap kali aku beri upah, dia selalu mengatakan:“Biar saja agar berkumpul dulu.”
Hal ini sampai berjalan beberapa tahun. Dan akhirnya dia malah pergi entah kemana dengan meninggalkan upah itu masih berada ditanganku. Maka aku pun mengambil kebijaksanaan, upah si buruh tadi aku jumlah kemudian kubelikan onta, sapi, kambing dan budak yang menggembalakannya sekali.
Pada suatu hari, si buruh itu pun datang untuk mengambil upah yang dititipkan padaku itu. Dengan segera saja kukatakan:
“Lihatlah dibelakang rumah!, seluruh hewan dan budak yang merawatnya itu semua milikmu.”
Maka dia segera kebelakang rumah dan kembali lagi menghadapku.
“Tuan menghina saya ya!,” tukas dia dengan muka masam.
“Tidak, memang itu milikmu,” sahutku.
Kemudian kuterangkan duduk persoalannya hingga dia menjadi paham dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Maka dia pun berpamitan pulang seraya menggiring seluruh ternak beserta budaknya tadi dengan tanpa tersisa sedikit pun.
Ya Allah, jika saja perbuatan itu merupakan amal yang Engkau ridhai, singkirkanlah batu itu agar kami bisa keluar.
Maka segera saja batu itu terlempar jauh menggelinding ke bawah dengan gemuruh disaksikan sendiri oleh ketiga kawanan itu hingga terhenti disebuah lembah.
Demikianlah kurang lebih saduran hadits Muttafaq ‘Alaih dari Abdullah Ibnu Umar bin Khathab. Dan para ulama mengatakan bahwa perbuatan seperti ini merupakan bentuk tawasul dengan amal-amal shalih dan telah disepakati atas jawaznya.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar