Minggu, 03 Januari 2010

Integritas Ulama

Pada saat musim haji tiba, Hisyam bin ‘Abdul Malik, sang penguasa Bani Umayah itu datang ke Baitullah, Ka’bah untuk melakukan manasik haji. Ketika masuk ke Masjid al-Haram, dia berkata:
“Tolong hadirkan ke hadapanku salah seorang dari kalangan para shahabat!”
“Wahai Amirul Mukminin, mereka semua sudah meninggal dunia,” jawab seorang pengawal.
Hisyam berkata lagi:
“Kalau begitu, dari kalangan tabi’in saja.”
Maka dihadirkanlah Thawus al-Yamany. Tatkala menemui sang penguasa, dia mencopot kedua sandalnya di pinggir permadaninya dengan tidak memberi salam terlebih dahulu dan tidak pula memanggilnya dengan panggilan kehormatannya, lantas duduk di sampingnya tanpa izin pula seraya berujar:
“Bagaimana kabarmu wahai Hisyam?”
Mendengar ucapan ini, meledaklah kemarahan sang penguasa sehingga ia hampir saja berkeinginan untuk membunuhnya, namun kemudian ada yang mencegahnya seraya berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, engkau saat ini berada di kawasan Haram Allah dan Rasul-Nya yang tidak boleh menumpahkan darah.”
Maka Hisyam berkata:
“Wahai Thawus, apa yang mendorongmu untuk berbuat seperti itu tadi?”
“Apa gerangan yang telah aku perbuat,?” balas Thawus yang tidak merasa melakukan kesalahan sedikitpun.
“Engkau telah mencopot kedua sandalmu di pinggir permadaniku, tidak memberi salam dengan menyapa, ‘Wahai Amirul Mukminin,’ tidak memanggilku dengan julukanku lalu duduk di sampingku tanpa izin,” kata Hisyam.
“Adapun kenapa aku mencopot kedua sandalku di pinggir permadanimu, karena aku sudah biasa mencopotnya kala berada di hadapan Allah setiap hari sebanyak lima kali. Akan tetapi Dia tidak mencela ataupun marah kepadaku. Adapun ucapanmu, “engkau tidak memberi salam kepadaku dengan menyapa, ‘Wahai Amirul Mukminin’ karena tidak setiap Muslim setuju atas naiknya engkau ke tampuk kekuasaan. Jadi, aku takut kalau menjadi seorang pendusta Mengenai perkataanmu ‘engkau tidak memanggilku dengan julukanku’ karena Allah juga menamai para Nabi-Nya, lalu memanggi mereka; wahai Daud, wahai Yahya, wahai Isa bahkan Dia malah menyebut musuh-musuh-Nya dengan memekai gelar. Periksa dalam firman-Nya, ‘Celakalah tangan Abu Lahab.’ Padahal nama Abu Lahab sebenarnya adalah Abdul Uzza. Sedangkan ucapanmu, ‘kamu duduk di sampingku tanpa izin, maka hal itu karena aku telah mendengar Ali bin Abi Thalib Ra., berkata, “Bila kamu ingin melihat salah seorang penghuni neraka, maka lihatlah kepada seorang yang duduk sementara orang-orang di sekitarnya berdiri menghormatinya,” jawab Thawus
Mendengar ceceran Thawus ini, Hisyam berkata:
“Kalau begitu, nasehatilah aku.”
Maka Thawus berkata, “Aku mendengar ‘Ali bin Abi Thalib Ra, berkata, ‘Sesungguhnya di neraka Jahanam terdapat ular-ular dan kalajengking seperti baghal (peranakan antara kuda dan keledai) yang mematuk setiap penguasa yang tidak berlaku adil terhadap rakyatnya.”
Kemudian Thawus pun beringsut dengan tanpa memperhatikan Hisyam lagi. Dan Hisyam seolah terpaku berdiri tanpa mampu berucap apa pun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar