Senin, 04 Januari 2010

Isteri Sama Dengan Ayam

Pada suatu hari seorang lelaki yang bernama Shadiq berkunjung ke rumah kawannya yang terkenal sebagai ahli hikmah itu, ia bernama Abdul Hakim. Pertemuan kali ini dirasakan begitu hangat sehingga sampai beberapa waktu terlewatkan tidak terasa jenuh.
Ketika hari sudah agak sore, Abdul Hakim menyempatkan diri pergi ke sebuah kedai sekedar memperoleh berbagai kudapan yang akan dijadikan sebagai jamuan. Dan setelah semua didapatkan, segera saja Abdul Hakim menata begitu rapi di dalam piring-piring porselen indah. Namun dari belakang, sang isteri Abdul hakim ternyata semenjak tadi telah mengintip aktivitas suaminya itu dengan menahan amarah yang meluap-luap.
“Betapa kecewa hati ini,” gumam sang isteri dalam hati, “Isteri hanya satu, namun tidak pernah mendapatkan makanan begitu mengundang selera dari suamiku sendiri, malah orang lain yang dimanjakan begitu rupa. Memang tidak salah jika saja ada pepatah, anak sendiri dilepaskan, beruk di hutan disusukan,” begitu kata sang isteri dengan wajah ditekuk.
Dengan tanpa disangka-sangka, isteri itu mengangkat seluruh makanan yang telah tertata di meja, kemudian dimasukkan begitu saja dalam almari kemudian dikunci rapat-rapat seraya ngeloyor pergi.
Mendapat perlakuan seperti ini, Abdul Hakim ternyata seorang yang begitu dapat menahan diri. Ia tampak tidak marah sama sekali. Hal inilah yang membuat naik pitam karibnya.
“Isteri seperti itu masih ditolerir begitu rupa, betapa kau memang keterlaluan, Abdul Hakim!. Memalukan, seorang suami harus berada di ketiak seorang isteri.” ucap Shadiq dengan penuh kekecewaan.
Bukan begitu saja si Shadiq bersikap, ia malah segera beranjak pergi dengan tanpa mau mengucapkan salam untuk berpamitan. Maka dengan segera Abdul Hakim mengejarnya seraya mengatakan:
“Adakah kau sudah lupa, wahai kawan. Dulu ketika aku bertandang ke rumahmu, kau menjamuku dengan berbagai makanan cair. Namun ketika itu tiba-tiba saja seekor ayam milikmu terbang ke meja makan itu dan memporak porandakan seluruh makanan jamuan sehingga kita tidak sempat mencicipi barang sedikit pun. Atas kejadian itu, aku pun tidak pernah marah, kau juga biasa-biasa saja. Namun mengapa kini setelah hal yang serupa terjadi di rumahku, kau begitu marah. Anggaplah isteriku itu sebagai ayam milikmu yang telah menumpahkan seluruh makananmu dulu.”
Mendapat keterangan seperti ini, tawa Shadiq tak dapat ditahan lagi. Dengan terkekeh-kekeh ia pun berpamitan begitu cantik. Eealaah!.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar