Minggu, 03 Januari 2010

Kontradiksi Kehidupan

Asiah adalah puteri seorang raja Kerajaan Mesir Kuno. Ia dibesarkan dalam lingkungan istana yang penuh kemegahan. Ketika beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan sepupunya yang kemudian menjadi raja bergelar Fir'aun. Raja Fir'aun ini memerintah dengan tangan besi. Ia sangat sewenang-wenang dalam memerintah rakyatnya. Kemungkaran terbesarnya adalah memaksa semua orang untuk mengakui dirinya sebagai tuhan.
Asiah binta Mazahim sendiri memiliki hati yang lurus, karena hidayah Allah selalu menyertainya. Maka, meskipun Fir'aun memerintah semua orang untuk menyembahnya, Asiah mampu menghindar dari perintah itu. Asiah pun seringkali menasehati Fir'aun untuk bertobat dan berbuat baik, tetapi Fir'aun menolak mentah-mentah. Bahkan kekejamannya semakin menjadi-jadi semenjak ia bermimpi kekuasaannya akan dihancurkan seorang anak yang berasal dari kalangan Bani Israil.
Sejak mimpinya itu, Fir'aun menyuruh kepada semua pengawal istana untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir dari bani Israil. Dan Asiah pun berusaha menyadarkan Fir'aun untuk menghentikan pembunuhan bayi-bayi itu, tetapi Fir'aun sudah buta mata hati, baginya kekuasaan adalah segalagalanya. Asiah pun kesal pada suaminya ini.
Suatu hari, muncullah seorang bayi laki-laki di sungai taman tempat Asiah beristirahat. Hati Asiah langsung jatuh hati melihat bayi laki-laki yang kemudian diberinya nama Musa. Melihat Asiah sangat gembira dan sangat mencintai Musa, maka untuk mengambil hati Asiah, Fir'aun membolehkannya memelihara Musa.
Asiah selalu berusaha memenuhi kebutuhan bayi Musa. Untuk mencari ibu susu bagi Musa, Asiah mengumumkan ke seluruh negeri. Takdir Allah menentukan Musa bertemu kembali dengan ibundanya, Yukabid. Dari sekian banyak ibu susu yang datang kepada Asiah, hanya kepada Yukabid saja Musa mau menyusu. Maka Musa pun tumbuh dalam lingkungan kasih sayang ibunya dan Asiah.
Meskipun Musa dibesarkan dalam istana Fir'aun, budi pekertinya halus. Ia pun menyadari bahwa Fir'aun adalah raja yang kejam, terutama pada kaumnya, bani Israel. Setelah dewasa, Musa menunjukkan sikap bencinya pada kekejian Fir'aun.
Suatu ketika, satu kecelakaan menyebabkan Fir'aun memerintah untuk menangkap dan menghukum Musa, tetapi Musa berhasil melarikan diri. Dalam hal ini pun Asiah berusaha membela Musa. Setelah meninggalkan Mesir dalam waktu yang lama, Musa yang telah menjadi Nabi, kembali ke Mesir dengan maksud mengajak Fir'aun untuk bertobat pada Allah. Tetapi Fir'aun menolaknya mentahmentah.
Asiah yang memang dari semula berbudi pekerti lurus, langsung mengakui kerasulan Musa. Ia pun semakin mengokohkan keimanannya dengan mengikuti Musa membaca firman Allah yang berbunyi: "Rabb yang menguasai timur dan barat serta segala yang ada di antara keduanya, bila kamu mau memikirkannya:" (QS. Asy-Syu'ara:28).
Mendengar perkataan Asiah, Fir'aun marah besar, ia memerintahkan pengawal istana untuk menyiksa Asiah supaya taat padanya. Segala upaya penyiksaan dari mulai yang ringan sampai terberat dilaksanakan, tetapi Asiah tak bergeming. Akhirnya Asiah pun menemui berbagai tindakan buas Fir’aun dengan dilentangkan di atas padang pasir panas. Kemudian tubuhnya ditidih dengan batu besar sampai menemui ajalnya. Tetapi keimanannya tetap tegak tak tergouyahkan Ketika akan meninggal itulah, ia sempat memanjatkan doa kepada Allah, di mana doa itu diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai penghormatan perjuangannya:
Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim" (QS. At-Tahrim: 11).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar