Jumat, 01 Januari 2010

Ahli Ibadah di dalam Neraka

Belum tentu dalam suatu periode itu Allah mesti mengutus seorang nabi kepada ummat tertentu, bahkan seringkali terjadi fatrah (kekosongan nabi), sebagaimana setelah nabi Isa As. diangkat ke langit sampai kedatangan Rasulullah Saw adalam masa fatrah. Namun ketika nabi Musa diutus, pada dekade itu juga diutus nabi Syu’aib kepada bangsa Madyan, nabi Harun diutus untuk mendampingi nabi Musa. Jadi dalam satu periode terdapat tiga orang nabi yang diutus Allah.
Akan halnya nabi Musa merupakan nabi yang termasuk jajaran ulul ‘azmi, artinya seorang nabi yang betul-betul memiliki kesabaran yang prima, kendati berbagai ujian dan rintangan mengahalangi perjuangannya. Bahkan beliau bisa melejit dengan mendapat gelar Kalimullah, dan kisah beliau banyak disebut dalam Al-Qur’an, baik ketika masih orok, dewasa atau pun akhir perjuangannya.
Puatu suatu hari beliau berjalan-jalan melihat keadaan ummatnya, ketika itulah beliau melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun, memang dia termasuk seorang yang ahli ibadah. Beliau pun menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak, ahli ibadah itu bertanya kepada nabi Musa:
“Wahai nabi Musa!, aku telah beribadah kepada Allah selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Aku ingin mengetahui, kiranya di manakah Allah akan menempatkan diriku di surga nanti? Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah,” betitu si abid memprediksikan dirinya sudah pasti menjadi penghuni surga.
Nabi Musa mengabulkan permintaan orang itu, kemudian beliau bermunajat memohon kepada Allah agar memberitahukan kepadanya, di mana ummatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Namun amat mengejutkan, ternyata Allah berfirman:
“Wahai Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraka-Ku yang paling bawah.”
Mendengar firman seperti ini, sebenarnya nabi Musa amat terkejut, namun sebagai pemegang amanah, beliau menyam,paikan juga kabar itu kepada orang tersebut. Begitu pula alang kepalang keterkejutan ahli ibadah itu sendiri Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan nabi Musa. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan dirinya. Ia juga mulai terfikir bagaimana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat. Keesokan harinya ia menjumpai nabi Musa kembali, kemudian ia mengatakan kepada beliau:
“Wahai nabi Musa, aku rela Allah memasukkan aku ke dalam neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku, sehingga tidak akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya.”
Nabi Musa pun menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh nabi Musa maka Allah berfirman:
“Wahai Musa, sampaikanlah kepada ummatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di Surga-Ku yang paling tinggi.”
Hidup ini ternyata penuh dengan misteri, acapkali seseorang tampak sebagai ahli ibadah sehingga setiap orang berkeyakinan bahwa ia akan memasuki surga dengan tanpa kesukaran yang berarti, namun dalam kondisi tersebut acapkali Allah mengeluarkan kebijaksanaan lain, sehingga orang tersebut berbalik menjadi penghuini neraka dengan tanpa bisa sdiselamatkan lagi. itulah yang bernama suul khatimah. Sebaliknya, seringkali seseorang terlihat beramal buiruk yang tampak tidak bisa ditolelir lagi, namun dalam kondisi itu Allah mengeluarkan kebijaksanaan lain sehingga orang itu berbalik arah, kini menjadi seorang yang rajin beribadah sampai kematian menjemputnya. Inilah yang disebut. husnul khatimah. Namun, baik suul khatimah atau husnul khatimah keduanya memiliki tanda-tanda khusus yang pada lazimnya kita dapat melihat lahiriah masing-masing.
Sebagai misal, orang-orang yang rajin beribadah, pada dasarnya mereka belum dapat memastikan bagaimana akhir hayatnya nanti apakah akan berhasil mendapatkan khusnul khatimah atau yang lain. Jadi walaupun mereka tetap tekun beribadah namun masih juga merasa khawatir bagaimana jika amalnya tidak diterima di sisi Allah, karena yang mereka jadikan pegangan selama ini masih merupakan husnu zhan [baik sangka] sehingga ada sinyalemen dalam Al-Qur’an ;
Dan orang-orang yang telah mau memberikan apa yang mereka berikan, dimana hati mereka begitu takut[karena tahu] bahwa mereka akan kembali kepada Tuhannya (QS. Al-Mu’minun : 60).
Demikian pula halnya mengenai tenaga kerja yang ada di dunia ini, mereka mau bekerja karena adanya persepsi bahwa dengan melaksanakan pekerjaan tersebut akan mendapat hasil yang memuaskan, padahal apa yang mereka harapkan itu belum tentu adanya dan belum tentu dapat diterima oleh tangan mereka. Jadi secara prinsip mereka masih berpegang pada zhan bahwa segala sesuatu itu akan berhasil bila sebab-sebabnya telah direalisir. Begitu pula para pedagang dimana mereka sanggup bepergian yang begitu jauh karena punya i’tikad [zhan] bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan serta selamat diperjalanan. Para kuli pergi keluar rumah karena adanya zhan bahwa mereka akan dipekerjakan sehingga mendapatkan hasil yang akan dapat dirasakan manfaatnya. Para petani, mereka menanam dan membajak sawah karena adanya zhan bahwa dengan begitu mereka akan beroleh hasil bumi. Para penggembala pun begitu, mereka menyediakan diri demi disewa dengan upah tertentu sebagai imbalan jasa yang telah mereka curahkan. Demikian pula raja-raja di dunia ini, mereka bersusah payah membentuk kesatuan militer dan angkatan perang di mana mereka memprediksi bahwa dengan tindakan itu negara mereka akan menjadi aman. Begitu pun para ulama, mereka mengevaluasi dan mendalami perbagai macam bidang ilmiah di mana mereka berasumsi bahwa dengan demikian mereka akan selamat di dunia dan akhirat serta mendapat keridhaan Allah. Demikian juga halnya para mujtahid atau orang yang mengevaluasi dalil-dalil ahkam, mereka berkeyakinan akan berhasil menemukan apa yang mereka butuhkan. Mereka yang sakit berduyun-duyun mengobati penyakitnya dengan berprasangka bahwa penyakitnya akan berangsur sembuh dengan tindakannya itu.
Sebagian besar prasangka, hipotesa, persepsi tadi akan benar adanya, juga tidak menyalahi adat yang berlaku. Dengan demikian tidak dibenarkan meninggalkan kemaslahatan yang telah lazim dan biasa terjadi, juga telah bertendensi pada zhan, hanya karena khawatir akan kegagalan akan terwjudnya kemaslahatan. Yang berpegangan semacam ini hanyalah mereka yang tidak mengerti. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar