Jumat, 01 Januari 2010

Minuman di Belantara Kiamat

Seorang Abid yang bernama Abdullah mengatakan:
“Ketika pada awal aku menapak jalan sufi ini setiap hari aku disibukkan oleh syahwat penisku. Derita menahan syahwat itu seakan tidak tertanggungkan lagi sehingga sering setiap malam aku berteriak-teriak memanjatkan do’a kepada Allah agar panasnya syahwat itu dapat dileraikan. Maka pada suatu malam aku bermimpi melihat seorang lelaki yang mengatakan kepadaku:
“Mengapa kau berteriak-terik seperti orang gila begitu?”
“Aku segera mengutarakan penderitaan syahwatku yang tidak tertanggung itu,”demikian kata Abdullah.
“Cobalah kau maju sedikit!,” begitu ia menuruhku.
“Aku pun segera maju. Kemudian lelaki itu manaruhkan tangannya ke atas dadaku sehingga rasa dingin terasa merayap ke dalam hatiku kemudian merambah ke seluruh tubuhku. Ketika bangun pagi, syahwat itu seakan telah hilang. Ketenteraman ini berlangsung sampai satu tahun. Namun ketika menginjak tahun berikutnya, syahwatku itu kambuh lagi sehingga setiap malam aku kembali berteriak-teriak memanjatkan do’a agar penderitaan itu terobati. Maka lelaki itu datang lagi dalam mimpiku seraya mengatakan:
“Apakah engkau suka jika syahwatmu itu hilang, namun lehermu yang akan menjadi taruhannya,” tawar lelaki itu delemmatis.
dalamm kondisi aku sudah tidak mampu lagi untuk menahan syahwat, segera saja aku mengatakan, “Ya, silakan kau menebas leherku.”
“Silakan sekarang kau julurkan lehermu,” pinta lelaki tersebut.
“Aku segera menjulurkan leher. Ketika itu ia langsung menghunuskan pedang dari nur dan menebas leherku. Maka ketika aku bangun pagi, syahwat itu tampak sudah mereda dan seakan hilang tanpa bekas. Hal ini aku jalani sampai genap setahun. Namun menginjak tahun berikutnya, ternyata syahwat itu kembali lagi, malah lebih dahsyat ketimbang tahun-tahun yang lalu. Hal ini menjadikan nafsuku seakan sulit dikendalikan lagi, aku betul-betul kebingungan dibuatnya. Maka pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengan lelaki itu lagi, ketika itu seakan dia berada di dekat lambung dan dadaku seraya mengatakan:
“Betapa celaka dirimu, sudah berapa kali engkau memohon kepada Allah untuk menghilangkan syahwat, padahal Dia tidak menghendaki yang demikian itu.”
“Setelah aku pikirkan dengan cermat, tampaknya tiada obat yang paling mujarab terkecuali harus kawin. Maka pada tahun itu pula aku segera mencari pasangan hidup dan menikah. Ternyata setelah aku menikah syahwat itu dapat terobati dan kehidupanku malah tampak normal dengan tanpa mengurangi aktivitas ibadahku.
Ternyata perkawinan dalam suatu sisi memang dapat mencegah perbuatan yang terlarang dan mengobati penderitaan batin.
Sa’id bin Musaiyab mengatakan:
“Jika saja Iblis itu telah berputusasa untuk menjerumuskan seseorang, ia mesti datang menggodanya dengan memakai umpan seorang wanita.” ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar