Minggu, 03 Januari 2010

Atabah yang Merindukan Syahid

Diantara para pejuang Islam di masa lalu, ada seseorang yang bemama Atabah bin Rabiah al-Mas'ud. Ia adalah seorang lelaki shaleh yang memiliki semangat jihad yang tinggi. Dalam setiap pertempuran fi sabilillah yang diikutinya, cita-cita Atabah hanya satu: mempersembahkan kemenangan bagi agama Allah dan memperoleh rezeki mati syahid. Tak heran bila setiap peperangan melawan musuh Allah selalu diikuti Atabah dengan penuh semangat dan pengharapan.
Akan tetapi pada suatu kali terjadi peristiwa yang sangat aneh. Saat itu Atabah baru saja kembali dari sebuah peperangan. Dan tak lama tampak ia bergegas-gegas menuju Ka'bah untuk berthawaf. Di depan Ka'bah inilah Atabah berdoa: "Ya Tuhanku, ampunilah orang yang malang, Ya Rabbku ampunilah orang yang malang"
Doa itu diulang-ulangnya terus sepanjang ia melakukan thawaf. Orang-orang yang mendengamya tentu saja merasa heran sekali. Salah seorang dari mereka menghampiri Atabah dan bertanya: "Atabah, kedengarannya doamu itu aneh sekali. Siapa sih yang kau maksudkan sebagai orang yang malang?"
"Orang yang malang itu adalah aku,"jawab Atabah dengan sendu.
Temannya bertambah heran. "Kamu orang yang malang? Bukankah kamu adalah orang yang berbahagia?" Memang, arti dari al-Mas'ud adalah orang yang berbahagia.
Atabah menggeleng. `ridak, kini aku orang yang malang."
Mengapa begitu?" tanya sahabatnya lagi. Bukankah kamu baru saja dibebaskan dari tawanan tentara Romawi dan dapat kembali bersama-sama kami lagi?
Dalam peperangan yang baru lalu itu, pasukan Atabah memang sempat terlawan musuh. Dan Atabah adalah satu-satunya anggota pasukan yang bisa kembali ke perkampungan orang mu'min dengan selamat.
"Justru karena itulah aku menjadi orang yang malang," desis Atabah. Sahabatnya terdiam menunggu kelanjutan ucapan Atabah.
"Awalnya begini," tutur Atabah. 'Dalam peperangan kemarin, aku termasuk dalam sepuluh orang pasukan berkuda yang bertugas menuju kamp musuh untuk memantau gerak-gerik dan keadaan mereka. Namun rupanya musuh mengetahui kedatangan kami dan mulai menyerang. Kami melawan semaksimal mungkin dengan segala kekuatan kami. Tetapi musuh telah menyiapkan kekuatan besar dengan ratusan tentara yang siap mengepung kami. Setelah berjuang habis-habisan, kami pun tertawan."
"Selama dalam penawanan mereka kami hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah agar pasukan kaum muslimin yang lain diberi kemangan." Lanjut Atabah. "Lalu suatu hari berita kemenangan kaum muslimin pun sampai juga. Bahkan diketahui pula balnwa seorang anak paman Raja Romawi telah terbunuh dalam peperangan itu."
"Raja Romawi menjadi sangat marah atas kekalahan itu. Ia segera memutuskan menghukum kami, para tawanan. Kami digiring menuju lapangan terbuka untuk dibantai. Sebelum pelaksanaan hukuman itu kami sempatkan untuk shalat dan terus menerus memanjatkan dzikir dan doa pada Allah. Tak lama, kami pun dikat dan mata kami ditutup dengan kain. Raja Romawi pun datang untuk menyaksikan langsung pembunuhan pada kami, namun seorang menterinya sempat berkata:
“Wahai Raja, bagaimana kalau kita buka ikat mata mereka agar mereka dapat saling melihat ketika kawannya kita bunuh. Raja Romawi pun menyetujui hal itu dan dimulailah pembantaian kepada kami."
Suara Atabah bertambah parau, terlihat kesedihan di wajahnya saat mengenang pembantaian atas diri teman-temannya. Sahabat Atabah yang mendengarkan kisah itu pun ikut menunduk sedih.
'Tetapi subhanallah, sahabat," kata Atabah melanjutkan. "Setiap kali pedang menebas leher teman-teman pasukanku, maka setiap kali pula aku melihat langit terbuka. Lalu tampaklah olehku para malaikat turun dengan segala keceriaan dan kegembiraan. Mereka menyambut arwah para syuhada itu dengan sebuah penyambutan yang sangat meriah dan mengagumkan. Pemandangan itu berlangsung terus selama sembilan kali, dan aku begitu menanti-nantikan saat datangnya kesempatan bagi diriku untuk menjadi seorang syuhada di mata Allah.”
"Lalu," ujar Atabah dengan airmata berlinang, “Tiba-tiba saja menteri Raja berkata lagi, Wahai Raja, bagaimana kalau kita biarkan saja tawanan Muslim terakhir ini bebas kembali ke perkampungan orang-orang Muslim. Supaya ia bisa menceritakan kepada teman-temannya apa yang sudah kita lakukan pada teman-temannya, dimaksudkan agar pasukan Muslim gentar ketika mendengar keperkasaan kita.”
Raja Romawi kembali menyetujui usulan itu dan mereka tertawa terbahak-bahak karena mengira telah berhasil menghinakan umat Islam. Tetapi teman, aku sungguh menyesal, mengapa pula aku harus bebas dan kembali, sementara teman-temanku telah mendapatkan kesyahidannya? Karena itu mungkin engkau mengerti kini mengapa aku menyebut diriku sebagai orang yang malang. Karena memang aku merasakan kemalangan karena belum mendapat kesempatan mendapatkan syahid di jalan-Nya."
Sahabat Atabah bin Rabi'ah al-Mas'ud kini mengerti apa yang disedihkan Atabah. Sungguh, pembebasan dirinya bukanlah sebuah berita kegembiraan bagi Atabah. Di saat kesempatan syahid telah muncul di hadapan matanya, cita-cita suci yang teiah lama diidam-idamkannya itu temyata belum juga dapat terlaksana. Subhanallah, Atabah rupanya benar-benar seorang yang selalu rindu akan syahid.
Akan tetapi, Allah yang penuh rahmat, akhirnya mengabulkan doa dan impian Atabah. Pada peperangan berikutnya Atabah mendapatkan kesyahidan yang disongsongnya dengan senyum penuh kegembiraan. Barakallah Atabah, yang selalu mencari syahid dan akhimya mendapatkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar