Minggu, 03 Januari 2010

Wanita Pembunuh Sembilan Musuh

Asma' binti Yazid adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang terkemuka. Ia dikenal sebagai perempuan cerdas yang kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya. Tidak kurang dari 81 hadits berasal dari riwayat Asma.
Salah satu peristiwa yang tercatat dalam sejarah adalah keberanian Asma' menjadi juru bicara kaum perempuan di hadapan Nabi Muhammad Saw. Saat itu Asma' menyampaikan pendapat para muslimah mengenai peran mereka di rumah tangga dan kesempatan untuk beramal soleh.
Suatu ketika, Asma' datang ke majelis Rasulullah seraya berkata:
"Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu, Ya Rasulullah! Aku adalah utusan kaum perempuan kepadamu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Namun sesungguhnya, kami kaum perempuan sangat terpenjara dan terbatas dalam beraktivitas. Kami hanya menjadi tiang penyangga keluarga bagi kaum laki-laki, tempat pemuasan syahwat kaum laki-laki dan mengandung anak mereka selama berbulan-bulan. Sedangkan kaum laki-laki diberi kelebihan atas kami semua. Mereka diperbolehkan melakukan shalat Jumat, shalat berjamaah, mengunjungi orang sakit, mengantarkan jenazah, menunaikan ibadah haji berkali-kali, bahkan berperang di jalan Allah SWT. Jika salah seorang mereka pergi berhaji, berumrah atau berjihad, maka kami yang memelihara hartanya. Kami memintal baju mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka, apakah kami mendapat pahala dan kebaikan seperti mereka?"
Pertanyaan Asma' yang begitu lugas membuat beberapa sahabat yang hadir dalam majelis itu tersentak. Mereka terdiam. Nabi Saw kemudian menoleh dan membalikkan tubuh ke arah para sahabat seraya berkata;
“Pernahkah kalian mendengar pertanyaan yang lebih baik daripada pertanyaan perempuan tadi mengenai agamanya?"
Para sahabat menggelengkan kepala seraya mengatakan:
"Ya Rasulullah, kami tidak menyangka ada perempuan yang bertanya seperti itu."
Kemudian Rasulullah Saw berkata kepada Asma' dan menjawab pertanyaannya.
“Pahamilah olehmu wahai kaum perempuan, kemudian beritahukanlah kepada
generasi perempuan setelah dirimu, bahwa pengabdian seorang perempuan kepada suaminya, upaya seorang perempuan untuk mencari keridhaan suaminya, dan ketaatan seorang perempuan terhadap perintah suaminya, sama dengan seluruh pahala yang diperoleh suaminya." Mendengar jawaban tersebut, legalah hati Asma' Binti Yazid. Ia kembali kepada kaumnya dengan membawa berita gembira.
Rasulullah Saw ternyata tidak membatasi peluang seorang perempuan untuk memperoleh pahala. Islam ternyata tidak memandang rendah aktivitas perempuan di dalam rumahnya. Sambil membaca tahlil, Asma' kemudian menjelaskan jawaban Rasulullah Saw tersebut. Merekapun bergembira dengan jawaban yang diberikan Rasulullah. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa Islam tidak pernah memasung hak perempuan untuk menyampaikan persoalan yang dihadapinya.
Berdasarkan catatan sejarah, sampai usia lanjut ia masih hidup. Dan ketika terjadi pertempuran di Yarmuk, dalam sebuah riwayat, seorang muslimah yang turut berjuang bercerita bahwa Asma' telah membunuh sembilan orang Romawi dengan sebilah kayu yang disembunyikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar