Minggu, 03 Januari 2010

Bogem untuk Abu Lahab

Wajah Thulaib bin Umair terlihat berseri-seri. Kehidupan baru yang jauh lebih baik menanti di depannya. Bagaimana tidak, hari itu ia telah meninggalkan kemusyrikannya. berganti dengan ajaran tauhid yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah.
Usai bersyahadat, Thulaib pulang menemui ibunya, Arwah binti Abdul Muthalib. Sungguh, ia sangat ingin ibunya mengikuti jejaknya memeluk agama Islam. Apalagi Arwah adalah bibi Rasulullah.
"Ibu, aku telah berbaiat kepada Muhammad dan patuh pada Allah," ujar Thulaib sesaat ia bertemu ibunya.
Arwah yang sesungguhnya bersimpati pada Muhammad, keponakannya. dan mengenal seluruh perilaku mulianya. menyambut baik pengakuan Thulaib.
"Jika sekiranya aku mampu, akupun akan menjadi pendukung dan pembelanya," ujarnya.
"Lantas mengapa Ibu tidak segera memeluk Islam, padahal paman Hamzah telah melakukannya,” tanya Thulaib.
"Setelah bibi-bibimu masuk Islam, baru Ibu akan mengikuti mereka," jawab Arwah.
"Demi Allah, tidak maukah Ibu segera mendatangi Rasulullah dan bersyahadat di hadapannya?" kejar Thulaib menyemangati ibunya.
Dorongan anaknya membuat Arwah berpikir. Ia sadar tak ada yang bisa memastikan apakah saudara-saudara perempuan akan segera bersyahadat. Sampai kapan? Tak baik menunda suatu kebaikan. Maka Arwah memutuskan untuk segera berada di barisan Muhammad.
Keluarga Abdul Muthalib. kakek Rasulullah. memang telah terpecah. Sebagian memusuhi Muhammad. seperti Abu Lahab dan Abu Jahal. Sebagian lagi mendukung risalah keponakan mereka. seperti Hamzah. Bahkan Hamzah telah secara terang-terangan menyatakan keislamannya dan memberi perlindungan penuh kepada Muhammad. Ia tak gentar berhadapan dengan seluruh kafir Mekah Perpecahan dalam keluarga besar Rasulullah bahkan telah menimbulkan pertikaian di antara mereka.
Suatu hari, Abu Jahal dan sejumlah pembesar Quraisy mendatangi Muhammad dan melukai beliau. Mendengar kejadian itu, Thulaib bangkit amarahnya. Tanpa pikir panjang ia mendatangi pamannya. Dipukulnya pamannya itu hingga kulit kepalanya sobek dan terlihat tulang kepalanya. Akibat perbuatannya itu. Thulaib ditangkap can diikat dengan rantai. Abu Lahab yang membebaskan Thulaib, kemudian menyuruh orang untuk membawanya kepada Arwah.
Orang-orang utusan itu berkata:
“Lihatlah anakmu, ia telah menjadikan dirinya sebagai tumbal Muhammad!"
Arwah menjawab dengan tenang:
“Hari-hari terbaiknya adalah hari-hari ketika ia membela anak pamannya, Muhammad. yang membawa kebenaran dari Allah.”
"Jadi engkau juga telah memeluk Islam?" sahut mereka.
"Ya!" jawab Arwah mantap.
Utusan itu segera melapor kepada Abu Lahab. Dengan rasa malu yang menggunung, Abu Lahab mendatangi saudara perempuannya itu.
"Aku malu karena kau telah mengikuti agama Muhammad dan meninggalkan agama Abdul Muthalib!" serunya pada Arwah.
Arwah balik membalas:
“Seharusnya engkaulah yang membela keponakanmu!"
"Kau pikir, kita punya kekuatan melawan seluruh Arab?" kata Abu Lahab geram sambil meninggalkan Arwah. Sedangkan Arwah memandang kepergian Abu Lahab dengan perasaan puas.
Sebagai bukti keislaman mereka, ia dan anaknya telah melakukan pembelaan pada Rasulullah, kerabat sekaligus pemimpin mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar