Minggu, 03 Januari 2010

Palagan Mu’tah

Palagan Mu’tah

Setelah di bagian selatan diadakan perjanjian keamanan dengan pihak Quraisy dan setelah penguasa di Yaman bersedia menerima seruannya. Jalur penyebaran dakwah Islam yang pertama setelah keluar dari semenanjung Arab sudah dibayangkannya. Dilihatnya bahwa Syam dan daerah-daerah di dekatnya itu merupakan pintu pertama jalur dakwah itu. Oleh karena itu beberapa bulan kemudian sekembalinya dari umrah beliau mengerahkan tiga ribu orang yang kemudian di Mu’tah berhadapan dengan seratus ribu orang pasukan lawan.
Ahli-ahli sejarah masih berbeda pendapat mengenai sebab-musabab terjadinya ekspedisi Mu’tah itu. Sebagian mengatakan bahwa dibunuhnya sahabat Rasulullah Saw di Dzat at-Talh itulah yang menyebabkan adanya penyerbuan sebagai hukuman atas mereka yang telah berkhianat itu, yang lain berpendapat bahwa ketika Rasulullah Saw mengirim seorang utusan kepada gubernur Heraklius di Bushra (Bostra), utusan itu dibunuh oleh orang badwi, dari Ghassan, atas nama Heraklius. Lalu Rasulullah Saw mengirimkan mereka yang sedang berperang di Mu’tah supaya memberi hukuman kepada penguasa itu dan siapa saja yang membantunya.
Kalau Perjanjian Hudaibiyah merupakan pendahuluan 'umrah qadha', lalu pembebasan Mekah, maka ekspedisi Mu’tah ini juga merupakan pendahuluan Tabuk, dan setelah Rasulullah Saw wafat kemudian terjadi pembebasan Syam. Soalnya akan sama saja; yang menimbulkan ekspedisi Mu’tah itu karena dibunuhnya utusan Rasulullah Saw kepada penguasa Bushra, atau karena lima belas orang sahabatnya yang juga dibunuh di Dzat at-Talh.
Dalam bulan Jumadilawal tahun kedelapan Hijrah [tahun 629 M.] Rasulullah Saw memanggil tiga ribu orang pilihan, dari sahabat-sahabatnya, dengan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid bin Haritsah dengan mengatakan: "Kalau Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib yang memegang pimpinan, dan kalau Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang memegang pimpinan.
Ketika pasukan tentera ini berangkat Khalid bin Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak memperlihatkan iktikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah Saw juga turut mengantarkan mereka sampai ke luar kota, dengan memberikan pesan kepada mereka: Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Rasulullah Saw mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata: Tuhan menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat.
Komandan pasukan itu semua merencanakan hendak menyergap pihak Syam secara tiba-tiba, seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sudah-sudah. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma'an di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.
Akan tetapi berita keberangkatan mereka sudah lebih dulu sampai. Syurahbil penguasa Heraklius di Syam sudah mengumpulkan kelompok-kelompok kabilah yang ada di sekitarnya. Pasukan tentara yang terdiri dari orang-orang Yunani dan orang-orang Arab sebagai bantuan dari Heraklius didatangkan pula. Beberapa keterangan menyebutkan, bahwa Heraklius sendirilah yang tampil memimpin pasukannya itu sampai bermarkas di Ma'ab di bilangan Balqa', terdiri dan seratus ribu orang Romawi, ditambah dengan seratus ribu lagi dari Lakhm, Judham, Qain, Bahra' dan Bali. Dikatakan juga bahwa Theodore saudara Heraklius itulah yang memimpin pasukan, bukan Heraklius sendiri.
Ketika pihak Muslimin berada di Ma'an, adanya kelompok-kelompok itu mereka ketahui. Dua malam mereka berada di tempat itu sambil melihat-lihat apa yang harus mereka lakukan berhadapan dengan jumlah yang begitu besar. Salah seorang dari mereka ada yang berkata:
Kita menulis surat kepada Rasulullah dengan memberitahukan jumlah pasukan musuh. Kita bisa diberi bala bantuan, atau kita mendapat perintah lain dan kita maju terus. Saran ini hampir saja diterima oleh suara terbanyak kalau tidak Abdullah ibn Rawahah, yang dikenal kesatria dan juga penyair, berkata:
"Saudara-saudara, apa yang tidak kita sukai, justeru itu yang kita cari sekarang ini, yaitu mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena perlengkapan, bukan karena kekuatan, juga bukan karena jumlah orang yang besar. Tetapi kita memerangi mereka hanyalah karena agama juga, yang dengan itu Allah telah memuliakan kita. Oleh karena itu marilah kita maju. Kita akan memperoleh satu dari dua pahala ini: menang atau mati syahid."

Rasa bangga dari penyair pemberani ini segera pula menular kepada anggota-anggota tentara yang lain. Mereka berkata: Ibn Rawahah memang benar!
Mereka lalu maju terus. Ketika sudah sampai di perbatasan Balqa', di sebuah desa bernama Masyarif, mereka bertemu dengan pasukan Heraklius, yang terdiri dari orang-orang Romawi dan Arabin Bilamana posisi musuh sudah dekat pihak Muslimin segera mengelak ke Mu’tah, yang dilihatnya sebagai kubu pertahanan akan lebih baik daripada Masyarif. Di Mu’tah inilah pertempuran sengit - antara seratus atau duaratus ribu tentara Heraklius dengan tiga ribu tentara Muslimin - mulai berkobar.
Alangkah agungnya iman, alangkah kuatnya! Bendera Rasulullah Saw dibawa oleh Zaid bin Haritsah dan dia terus maju ke tengah-tengah musuh. Ia yakin bahwa kematiannya itu takkan dapat dielakkan. Tetapi mati di sini berarti syahid di jalan Allah. Selain kemenangan, hanya ada satu pilihan, yaitu mati syahid. Dan di sinilah Zaid bertempur mati-matian sehingga akhirnya hancur luluh oleh tombak musuh. Saat itu juga benderanya disambut oleh Ja'far bin Abi Thalib dari tangannya. Ketika itu usianya baru tigapuluh tiga tahun, sebagai pemuda yang berwajah tampan dan berani, Ja'far terus bertempur dengan membawa bendera itu. Bilamana kudanya oleh musuh dikepung, diterobosnya kuda itu dan ditetaknya, dan dia sendiri terjun ke tengah-tengah musuh, menyerbu dengan mengayunkan pedangnya ke leher siapa saja yang kena.
Bendera waktu itu dipegang di tangan kanan Ja'far; ketika tangan ini terputus, dipegangnya dengan tangan kirinya; dan ketika tangan kiri ini pun terputus, dipeluknya bendera itu dengan kedua pangkal lengannya sampai ia tewas. Konon katanya yang menghantamnya orang Romawi dengan sekaligus hingga ia terbelah dua.
Setelah Ja'far tewas bendera diambil oleh Abdullah ibn Rawahah. Dia maju dengan kudanya membawa bendera itu. Sementara itu terpikir olehnya akan turun saja. Ia nmasih agak ragu-ragu. Kemudian katanya:
Oh diriku, bersumpah aku
Akan turun engkau, akan turun
Atau masih terpaksa juga
Jika orang sudah berperang
Dan genderang sudah berkumandang
Kenapa kau masih membenci surga?

Kemudian diambilnya pedangnya dan dia maju terus bertempur sampai akhirnya dia pun tewas juga. Kini Zaid, Ja'far dan Ibn Rawahah telah mati syahid di jalan Allah, dalam satu peristiwa. Tetapi setelah berita ini diketahui oleh Rasulullah Saw, ia sangat terharu sekali, terutama terhadap Zaid dan Ja'far. Beliau lantas mengatakan:
Mereka telah diangkat dan diperlihatkan kepadaku di surga - seperti mimpi orang yang sedang tidur – di atas ranjang emas. Lalu saya lihat ranjang Abdullah bin Rawahah agak miring daripada ranjang kedua temannya itu. Lalu ditanya: Kenapa begitu? Dijawabnya: Yang dua orang terus maju, tapi Abdullah agak ragu-ragu. Kemudian terus maju juga.
Memang Ibn Rawahah tewas setelah sebentar ragu-ragu lalu tampil lagi dengan keberanian yang luarbiasa. Sekali ini bendera diambil oleh Tsabit bin Arqam [Banu 'Ajlan], yang kemudian berkata:
"Saudara-saudara kaum Muslimin. Mari kita mencalonkan salah seorang dari kita."
"Engkau sajalah," jawab mereka.
"Tidak, saya tidak akan mampu,"
Orang sudah melihat teladan dan nasehat yang baik ini! Tidak lain ini artinya, bahwa seorang mukmin tidak boleh ragu-ragu atau takut mati di jalan Allah. Bahkan sebaliknya, setiap ia menghadapi sesuatu persoalan ia harus yakin bahwa itu untuk Tuhan dan tanah-air, ia harus menggenggam hidupnya di tangan, siap dilemparkan ke muka siapa saja yang akan merintanginya dari jalan itu. Salah satunya, dia menang dan berhasil mencapai kebenaran Tuhan dan tanah-air, seperti yang sudah menjadi keyakinannya, atau ia gugur sebagai syahid. Ini adalah suatu teladan yang hidup bagi angkatan kemudian, dan suatu kenangan abadi buat jiwa besar yang bisa mengerti, bahwa harga hidup itu ialah hidup yang dikorbankan untuk tujuan cita-citanya; bahwa mempertahankan hidup dalam hina seperti menyia-nyiakan hidup. Orang semacam itu tidak perlu lagi nanti dikenang dalam hidup kita.
Kemudian pilihan mereka jatuh kepada Khalid bin Walid. Diambilnya bendera itu oleh Khalid setelah dilihatnya barisan Muslimin mulai pontang-panting, kekuatan moril mereka mulai kendor. Khalid sendiri seorang jenderal yang cukup ulung, seorang penggerak militer yang tidak banyak bandingannya. Dengan demikian ia mulai memberikan komando. Barisan Muslimin dapat diaturnya kembali. Sekarang dalam menghadapi musuh itu sengaja ia membuat insiden-insiden kecil yang diulur-ulur sampai petang hari. Malamnya kedua pasukan itu tentu akan meletakkan senjata menunggu sampai pagi.
Pada saat itulah Khalid mengambil kesempatan menyusun siasat perangnya. Anak buahnya dipencar-pencar demikian rupa dengan jumlah yang tidak kecil, dalam suatu garis memanjang, yang dikerahkan maju dari barisan belakang. Pagi-pagi ketika orang sudah bangun, dirasakannya ada kesibukan dan hiruk-pikuk demikian rupa yang cukup menimbulkan perasaan gentar di kalangan musuh, dengan anggapan bahwa bala bantuan telah didatangkan dari pihak Rasulullah Saw. Kalau jumlah tiga ribu orang itu pada hari pertama telah membuat peranan begitu besar terhadap pasukan Romawi dan tidak sedikit pula jumlah mereka yang sudah terbunuh - meskipun tak dapat mereka pastikan - apa lagi yang akan dapat mereka lakukan dengan adanya bala bantuan yang baru didatangkan itu, dengan tiada orang yang mengetahui berapa besarnya!
Oleh karena itu pihak Romawi jadi menjauhkan diri dari serangan Khalid dan senang sekali mereka kalau Khalid tidak sampai menyerang mereka. Tetapi sebenarnya Khalid lebih senang lagi. Ia dapat menarik mundur pasukannya, kembali ke Medinah, setelah mengalami suatu pertempuran yang tidak membawa kemenangan buat pasukan Muslimin, dan yang juga sama tidak membawa kemenangan buat lawan mereka itu.
Ketika Khalid dan pasukannya sudah hampir sampai di Medinah, Rasulullah Saw dan kaum Muslimin yang lain sudah pula bersama-sama menyongsong mereka. Atas permintaan Rasulullah Saw kemudian Abdullah bin Ja'far dibawa dan diangkatnya di depannya. Banyak oranmg yang datang menaburkan tanah kepada pasukan tentara itu seraya berkata:
"Hei orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah!"
Tapi Rasul segera berkata: "Mereka bukan pelarian. Tetapi mereka orang-orang yang akan tampil kembali, insya Allah."
Sungguh pun sudah begitu rupa Rasulullah Saw menghibur orang-orang yang baru kembali dari Mu’tah itu, namun Muslimin belum mau juga memaafkan mereka karena penarikan mundur dan mereka kembali itu; sampai-sampai Salamah ibn Hisyam tidak mau ikut sembahyang bersama-sama dengan Muslimin yang lain, kuatir masih akan terdengar suara-suara orang bila melihatnya: "Hei orang-orang pelarian! Kamu lari dari jalan Allah."

Kalau tidak karena adanya tindakan-tindakan yang berarti dari mereka yang kembali dari Mu’tah itu, terutama tindakan Khalid sendiri, niscaya Mu’tah masih akan dianggap pecemaran dengan tuduhan pelarian yang telah dicorengkan saudara saudara seagama di kening mereka itu.
Begitu pedih perasaan duka itu menusuk hati Rasulullah Saw setelah diketahuinya Zaid dan Ja'far telah tewas. Begitu sedih ia menanggung dukacita karena mereka itu.
Setelah Ja'far mendapat malapetaka, Rasulullah Saw pergi sendiri ke rumahnya, dijumpainya isterinya Asma binti 'Umais yang pada waktu itu ia sudah membuat adonan roti, anak-anaknya sudah dimandikan, sudah diminyaki dan dibersihkan.
"Bawa kemari anak-anak Ja'far itu," kata Rasulullah Saw kepadanya.
Setelah mereka dibawa, diciuminya anak-anak itu, dengan airmata yang berlinangan.
"Rasulullah," kata Asma' gelisah; ia sudah merasa apa yang terjadi. "Demi ayah bundaku! Kenapa menangis, Rasulullah?! Ada hal-hal yang menimpa Ja'far dan kawan-kawannya barangkali?"
"Ya," jawabnya. "Hari ini mereka tewas." Berkata begitu airmatanya sudah makin tak dapat ditahan, deras berderai. Asma’, juga lalu menangis keras-keras sehingga banyak wanita-wanita yang datang berkumpul.
Ketika Rasulullah Saw pulang ia berkata kepada keluarganya: "Keluarga Ja'far jangan dilupakan. Buatkan makanan buat mereka. Mereka sekarang dalam kesusahan." Ketika dilihatnya puteri Zaid - bekas budaknya itu - datang, beliau membelai bahunya sambil menangis. Ada sahabat-sahabat yang merasa terkejut melihat Rasul menangisi orang yang mati syahid itu. Beliau pun berkata:
“Ini merupakan airmata seorang kawan yang kehilangan kawannya.”
Berita lain menyebutkan, bahwa jenazah Ja'far dibawa ke Medinah dan dikebumikan di sana tiga hari kemudian setelah Khalid dan pasukannya sampai. Sejak hari itu Rasul menyuruh orang supaya jangan lagi menangis. Kedua tangan Ja'far yang terputus, oleh Tuhan telah diganti dengan sepasang sayap yang menerbangkannya ke surga sehingga terkenal dengan gelar Ja’far at-Thaiyar, Ja’far yang selalu terbang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar