Senin, 04 Januari 2010

Cinta Tidak Mengenal Batas

Dikisahkan bahwa ketika Salim, yakni seorang bekas sahaya yang telah merdeka dikawinkan dengan Fathimah selaku saudara Abu Hudzaifah bin ‘Atabah bin Rabi’ah bin Abdi Syams. Maka banyak penduduk Quraisy yang mencibir dan memprotes pernikahan itu. Dengan tegas Abu Hudzaifah menjawab mereka.
“Memang benar aku telah menikahkan saudara perempuanku dengan Salim, mau apa!.”
Ucapan ini betul-betul membuat kemarahan yang tersimpan dalam dada orang Quraisy yang bagaikan bara dalam sekam.
“Bagaimana saudaramu sendiri kau kawinkan (korbankan!) dengan seorang yang pernah menjadi budak, adakah kau tidak menaruh kasihan?.” begitu kata orang Quraisy untuk mengendorkan kemauan Abu Hudzaifah.
“Sekali-kali kemauanku tidak akan luruh tersebab ucapan kalian itu, sebab aku pernah mendengar dengan telingaku sendiri, yakni pada suatu hari Rasulullah pernah mengatakan:
“Barang siapa bermaksud melihat seseorang yang sangat menyintai Allah dengan sepenuh hatinya, hendaklah ia melihat pada Salim.”
(HR . Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah).
Dari keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang menyintai Allah itu ada yang dengan sepenuh hati, ada pula yang terbagi, ada yang hanya dengan sebagian kecil hatinya bahkan ada yang hanya sebagai lipstik belaka.
Dengan demikian nikmat yang akan diterima ketika nanti berjumpa degan-Nya adalah sesuai dengan kadar kecintaannya itu. Sedangkan kepahitan yang dirasakan ketika mati tersebab cintanya kepada duniawi, itu juga diukur dengan kadar kecintaannya dengan duniawi itu sendiri, yakni jika saja cintanya kepada duniawi melebihi segalanya, maka ia akan sangat menderita berpisah dengannya ketika mati.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar