Jumat, 01 Januari 2010

Dua Figur Ulama Terhormat

Abu Ja’far Al-Mansur merupakan seorang Khalifah Bani Abbasiyah yang cukup masyhur. Pada zaman itulah kota yang begitu indah di bangun di antara Sungai Eufrat dan Tigris dengan nama Baghdad. Baginda termasuk seorang yang sangat memperhatikan ilmu pengetahuan, sehingga kota Baghdad menjadi pusat peradaban dan berbagai disiplin ilmu, terutama dengan melakukan penterjemahan ilmu-ilmu dari Persia, Yunani dan India.
Imam Syafi’i mengisahkan mengenai pengalaman pamannya yang bernama Muhammad bin Ali. Pada suatu hari,” kata Muhammad bin Ali, “Aku menghadiri undangan Baginda Abu Ja’far. Di situ telah hadir pula Syeikh Ibnu Abi Dzuaib selaku ulama yang kharismatik, duduk pula Gubernur Madinah yang bernama Hasan bin Zaid. Belum berselang lama kemudian datang orang-orang dari suku Ghiffar untuk mengadukan ulah Gubernur Madinah itu di hadapan Baginda.
Mengetahui gelagat yang tidak menguntungkan ini, sang Gubernur mengatakan pada Baginda:
“Wahai Amiril Mukminin, hendaknya Baginda mengkonfirmasikan dulu sikap suku Ghiffar itu kepada Ibnu Abi Dzuaib, agar ia menilai secara proporsional.”
Segera saja Baginda bertanya kepada Ibnu Abi Dzuaib:
“Bagaimana pendapatmu mengenai orang-orang dari Ghiffar itu?”
“Mereka merupakan kelompok yang suka mengumpat pihak-pihak yang berseberangan pendapat, juga suka menyakiti hati orang lain,” begitu jawab Ibnu Abi Dzuaib.
“Kamu dengar itu, wahai suku Ghiffar!,” hardik Al-Mansur.
Agar keadilan tampak seimbang, segera saja orang-orang Ghiffar mengatakan:
“Wahai Baginda, hendaknya Ibnu Abi Dzuaib ditanya pula mengenai sikap Muhammad bin Ali terhadap rakyatnya,” begitu orang-orang Ghiffar segera menukas.
“Bagaimana pendapatmu,” kata Baginda, “Mengenai Muhammad bin Ali, wahai Ibnu Abi Dzuaib!”
“Aku bersaksi bahwa ia telah melaksanakan hukum yang tidak benar dan sering memperturutkan hawanafsunya,” jawab Ibnu Abi Dzuaibbegitu lugas.
“Kau mendengar jawaban itu, wahai Hasan!,” begitu Al-Mansur memojokkannya.
“Agar lebih terasa adil, hendaknya Baginda bertanya pula kepada Ibnu Abi Dzuaib mengenai kepribadian Baginda sendiri,” begitu Hasan Bin Ali seakan menelikung Al-Mansur.
Segera saja Al-Mansur mengatakan: “Bagaimana pendapatmu mengenai diriku, wahai Ibnu Abi Dzuaib,” dengan tegas Baginda mencari masukan mengenai kepribadiannya.
“Hendaknya Baginda tidak usah memeperturutkan kemauan itu agar tidak terjadi kesenjangan antara ulama dan umara,” tukas Ibnu Abi Dzuaib berusaha menghindar.
“Demi Allah, aku ingin mengetahui pandangan orang lain terhadap diriku,” sambung Baginda lagi.
“Kalau begitu aku akan mengatakan sejujurnya. Wahai Baginda, aku bersaksi bahwa Baginda telah menarik berbagai harta yang menjadi kontribusi kerajaan dengan tanpa alasan yang benar, ironisnya harta itu ternyata dibagikan kepada mereka yang tidak berhak menerimanya. Apalagi perbagai kezaliman telah marak di kalangan istana,” begitu Ibnu Abi Dzuaib seakan mencekik leher Baginda.
Mendengar uraian ini, Baginda langsung mendekati Ibnu Abi Dzuaib seraya memegangi lehernya. Dengan geram Baginda mengatakan:
“Demi Allah, jika saja aku tidak menjadi penguasa daerah ini, akan segera kukerahkan bala tentara orang kafir dari Persia, Romawi, Dailami dan Turki untuk segera melenyapkanmu, kemudian aku gantikan dengan mereka.”
“Wahai Amiril Mukminin,” sambung Ibnu Abi Dzuaib tanpa gentar, “ketika Abu Bakar dan Umar menjadi penguasa, keduanya betul-betul bertindak sesuai dengan kebenaran dan memerintah dengan penuh keadilan. Keduanya telah berhasil menghinakan orang-orang Persia dan Romawi hingga mereka tidak bernyali lagi menghadapi kekuatan Islam, sedangkan Baginda sendiri…. !”
Mendapat jawaban seperti ini, Al-Mansur segera melepaskan cengkeramannya pada leher Ibnu Abi Dzuaib seraya mengatakan:
“Demi Allah, jika saja kalimat yang kau ucapkan itu tidak benar, kau jelas segera menghadapi tiang gantungan.”
“Wahai Amiril Mukminin,” sergah Ibnu Abi Dzuaib lagi, “Dalam menyampaikan kalimat seperti ini, kalau Baginda menyadari, akan sangat jelas bahwa diriku lebih memperhatikan Baginda daripada putra Baginda sendiri, Al-Mahdi.”
Mendapat jawaban seperti ini, Baginda hanya diam. Kemudian Ibnu Abi Dzuaib segera berpamitan. Namun ketika di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan Syeikh Sufyan Tsauri. Tiba-tiba saja Ats-Tsauri mengatakan:
“Wahai Ibnu Abi Dzuaib, aku sangat bersuka cita mendengarkan keberanianmu di muka Baginda yang sangat congkak itu. Namun mengapa engkau masih mau mengatakan kalimat ‘Al-Mahdi’. Dengan demikian menurut pandanganmu, Al-Mahdi itu masih memiliki sisi baik. Padahal mereka sama saja,” begitu saran Ats-Tsauri dengan sengit.
Dengan tertawa kecut, Ibnu Abi Dzuaib berkata dengan dipelintir:
“Wahai Ats-Tsauri, semoga kita mendapat ampunan Allah. Maksudku dalam mengucapkan kalimat Al-Mahdi tadi bukan aku tujukan pada putra Baginda yang bernama Al-Mahdi, namun pada diri kita sendiri. Bukankah setiap kita itu sebagai Al-Mahdi, artinya ketika kecil mesti mengalami diayun oleh orang yang merawat kita (mahdiyyun = diayun)?”
Mendengar jawaban ini, Ats-Tsauri hanya bisa manggut-manggut seraya mengatakan: “Ternyata kau cerdik juga.”◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar