Jumat, 01 Januari 2010

Ketika Bumi Memuntahkan Janazah

Abu Qudamah, salah seorang komandan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang Romawi berkisah, “Ketika aku jadi komandan pasukan, aku pernah memerintahkan kaum Muslimin agar berpartisipasi dalam jihad di jalan Allah. Lalu datanglah seorang wanita membawa secarik kertas dan bungkusan, lalu aku buka kertasnya untuk membaca dan melihat apa isinya, ternyata di dalam kertas itu tertulis, ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim, dari seorang wanita, hamba Allah kepada Amir (komandan) pasukan kaum Muslimin. Salaamullah ‘alaika, amma ba’du: Sesungguhnya engkau telah memerintahkan kami agar berpartisipasi dalam jihad di jalan Allah sedangkan aku tidak punya daya upaya untuk berjihad atau pun berperang. Karena itu, aku titipkan kantong ini yang berisi rambutku. Silahkan ambil agar diikatkan ke kudamu, semoga saja Allah mencatatkan bagiku sesuatu dari pahala para mujahidin.”
Abu Qudamah melanjutkan, “Aku pun bersyukur kepada Allah karena telah memebri anugerah dan taufik kepada wanita itu. Tahu pula aku bahwa kaum Muslimin ikut merasakan betapa besar kewajiban yang harus diemban dan bersatu padu untuk menghadapi musuh-musuh mereka. Tatkala kami sudah menghadapi musuh, aku melihat seorang anak yang masih ingusan, yang aku pikir belum layak untuk ikut berperang karena usianya yang terlalu muda. Karenanya, aku pun menghardiknya karena kasihan terhadapnya. namun dia malah berkata, ‘Bagaimana bisa kamu menyuruhku kembali, padahal Allah telah berfirman, ‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (QS. At-Taubah: 41).
Kemudian ia aku tinggalkan, namun segera saja dia menyongsongku seraya berkata, ‘Tolong pinjamkan aku tiga buah anak panah.” Mendapat permintaan ini aku amat kagum kepadanya sekaligus kasihan, kemudian aku katakan:
“Aku akan pinjamkan kepadamu apa yang kamu mau asalkan nanti bila Allah menganugerahimu mati syahid, kamu tidak lupa meminta syafa’at (pertolongan) untukku, bagaimana?”
Ketika aku berbicara dengannya, seakan aku merasa begitu mencintai dan menghormatinya. Ia pun segera mengatakan:
‘Ya, insya Allah,’ katanya.
Aku pun memberinya tiga buah anak panah tersebut, kemudian ia menyongsong musuh dengan gagah dan bersemangat. Dia terus menghantam musuh-musuhnya, sementara musuh-musuh pun berhasil melukainya, yang pada akhirnya dia tersungkur jatuh di medan peperangan. Sepanjang jalannya peperangan, mataku tidak berhenti menatapnya karena begitu terkagum-kagum sekaligus kasihan terhadapnya.
Tatkala dia sudah jatuh tersungkur, aku menghampirinya dan berkata kepadanya:
“Apakah kamu mau makan atau minum?”
‘Tidak, aku malah bersyukur kepada Allah atas apa yang aku alami, namun aku ingin menitipkan pesan kepadamu,” sambung pemuda itu lagi.
“Dengan senang hati wahai anakku, perintahkan kepadaku apa yang kamu maui,” jawabku
“Tolong sampaikan salamku untuk ibuku, kemudian berikanlah barang-barang ini kepadanya,” begitu pesannya dalam detik-detik terakhir menghembuskan nafasnya.
“Siapa ibumu, wahai pemuda,” tanyaku kembali.
“Ibuku adalah wanita yang telah memberimu rambutnya itu agar diikatkan ke kudamu ketika ia tidak mampu untuk ikut berperang di jalan Allah,” sahutnya lagi.
“Semoga Allah memberkahi keluargamu.”
Setelah ucapan yang terakhir ini, dia pun berpisah dengan alam dunia yang fana ini. Lalu aku lakukan apa yang semestinya, namun tatkala telah aku kuburkan, tiba-tiba bumi memuntahkan jasadnya, lalu aku ulangi lagi sekali lagi, namun bumi kembali memuntahkannya. Lalu aku gali sedalam-dalamnya kemudian menguburkannya kembali, tetapi tetap saja bumi memuntahkannya lagi. Aku berkata dalam hati, ‘barangkali saja ketika keluar untuk berjihad, dia tidak mendapat restu dari ibunya.’ Lantas aku melakukan shalat dua raka’at dan berdoa kepada Allah agar menyingkap rahasia mengenai si anak ini. Tiba-tiba aku mendengar ada yang berkata:
“Wahai Abu Qudamah, tinggalkan urusan wali Allah tersebut!”
Dari suara ini aku mengetahui bahwa dia terikat janju dengan Allah, alias ada jaminan dari Allah bersamanya. Tatkala kami sedang terpaku mencermati peristiwa ini, tiba-tiba datang seekor burung menyongsong lalu memakannya. Aku pun heran dengan kejadian itu.
Setelah semuanya berlalu, aku pun pulang dan segera menemui ibunya untuk melaksanakan wasiat putranya tersebut. Tatkala dia melihatku, ia mengatakan:
“Wahai Abu Qudamah, apa yang ada di balik kedatanganmu; adakah engkau ingin melawat atau sekedar mengucapkan selamat?”
Aku malah balik bertanya kepadanya:
“Apa maksud pertanyaan itu, ibu?”
“Jika putraku telah meninggal dengan cara yang biasa, berarti kamu datang untuk berta’ziah. Tetapi jika ia terbunuh di jalan Allah dan mati syahid, berarti kamu datang untuk mengucapkan selamat,” katanya dengan mantap.
Lalu aku menceritakan kepadanya kisah putranya tersebut; aku ceritakan perihal burung dan apa yang dilakukannya terhadapnya. Ketika mendengar uraianku ini, sang ibu malah berkata:
“Sungguh, Allah telah mengabulkan doanya.”
“Apa doanya?,” tanyaku.
“Sesungguhnya dia selalu berdoa kepada Allah di dalam semua shalatnya, dalam kesendiriannya, di pagi dan sore harinya, “Ya Allah, kumpulkanlah aku di dalam tembolok burung.” Dengan demikian segala puji bagi Allah yang telah merealisasikan cita-citanya dan mengabulkan doanya,” tutur sang ibu lebih lanjut.
Abu Qudamah mengakhiri kisah itu dengan mensitir firman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya (QS. Al-Baqarah: 154). ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar