Minggu, 03 Januari 2010

Gubernur Miskin

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, hidup seorang sahabat bernama Said bin Amir. Said adalah sahabat yang jujur, berani berkata benar dan peduli dengan kemastahatan orang banyak. Bahkan, khalifah Umar sendiri beberapa kali mendapat nasehat dari Said agar berlaku adil, jujur dan peduk pada rakyat saat menjadi pemimpin negeri.
"Takutlah kamu kepada Allah dalam bersikap terhadap manusia wahai Umar, dan janganlah sekali-kali perbuatanmu bertentangan dengan perkataanmu karena sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah yang terbukti dengan perbuatan. Perhatikanlah dengan sungguh-sungguh urusan orang yang diamanahkan untuk menjadi tanggungjawabmu, baik yang tinggal dekat denganmu maupun yang jauh hingga ke pelosok negeri." Begitulah salah satu nasehat Said pada Umar di suatu hari.
Umar bin Khattab sangat senang dengan perilaku Said yang jujur, tulus dan berani berkata benar itu. Itu sebabnya suatu hari ketika wilayah Homs (Hamus dekat Palestina) memerlukan gubernur baru, dengan segera Umar teringat pada Said bin Amir dan merasa yakin bahwa Said adalah orang yang tepat untuk menjadi gubernur.
Tetapi Said sangat terkejut ketika mengetahui Umar memilihnya untuk menjadi gubernur di Homs. Said tidak merasa bangga dan gembira sama sekali dengan keputusan Umar itu. Dia bahkan merasa keputusan Umar merupakan sebuah musibah berat bagi dirinya karena Said tahu betapa beratnya pertanggungjawaban seorang pemimpin kelak di hadapan Allah di hari akhir.
Namun setelah berupaya beberapa kali menolak, Umar tetap kukuh menugaskan Said untuk menjadi gubernur di Homs, sehingga Said pun menerima tugas itu dan berjanji akan menjadi gubernur yang jujur, adil dan sungguh-sungguh mengurusi rakyatnya.
Waktu pun berlalu setelah Said diangkat menjadi gubernur di Homs. Umar tak lagi banyak mendengar kabar tentang Said. Namun secara berkala, Umar bertemu dengan orang-orang Homs dan mendapat kabar tentang baiknya kepemimpinan Said sehingga Umar pun merasa tenteram.
Pada suatu hari, di musim haji Umar kembali bertemu dengan orang-orang dari negeri Homs. Pada saat itu Umar tengah menganggarkan sejumlah dana untuk diberikan kepada penduduk miskin di Homs, maka dipanggilah seorang penduduk Homs yang ada untuk mendata nama-nama penduduk miskin di negerinya yang berhak diberi sedekah. Utusan itu pulang ke Homs dan kemudian kembali menghadap Umar di Madinah. Di tangannya kini ada catatan nama-nama orang miskin negeri Homs. Umar menerima catatan itu dan menelitinya. Satu demi satu nama orang miskin di dalam catatan dicontreng setelah disisihkan bagian dana untuk mereka. Sampai akhirnya Umar melihat nama Said bin Amir tercantum di bagian akhir catatan itu.
"Said bin Amir yang manakah ini? Apakah Said bin Amir Gubernur kalian?" tanya Umar
"Benar, dialah Said bin Amir, Gubernur kami," jawab utusan Homs seraya menambahkan, "Gubernur kami bahkan bisa dikatakan merupakan bagian dari golongan orang-orang termiskin di negeri kami."
"Bukankah Said berhak mendapat jatah dari Baitul Maal untuk mendukung kelancaran tugasnya sebagai Gubernur?" tanya Umar lagi
"Benar, wahai Khalifah. Namun jatahnya itu ternyata tidak mencukupi kebutuhan hidupnya," jawab utusan Homs lagi.
Berlinanglah airmata Umar mengetahui sikap sabar dan tawadhu’ gubernurnya ini. Maka, ketika pulang dibekalilah utusan Homs ini uang sebanyak 1000 dinar untuk diberikan kepada Said bin Amir sebagai bekal hidupnya.
Ketika Said menerima uang 1000 dinar itu terbelataklah matanya dan diapun berkata dengan suara keras, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun"
"Apakah Umar tertimpa musibah?" tanya keluarganya yang terkejut mendengar perkataan Said.
"Lebih buruk lagi, fitnah harta tengah mendatangiku saat ini. Padahal aku telah merasa cukup dengan apa yang kuperoleh selama ini dan masih banyak orang miskin lain di negeri ini," keluh Said sambil menjelaskan duduk persoalannya.
Segera saja keluarganya mengatakan:
“Hari ini tak akan menjadi musibah kalau engkau membagikannya kepada orang miskin yang lain," sambut keluarganya penuh perhatian.
Mendengar saran ini, Said pun tersenyum. Dan tak sampai sehari, harta itu pun telah dibagikannya kepada penduduk miskin lainnya hingga habis tak bersisa.
Begitulah Said yang lebih mementingkan kehidupan rakyatnya daripada dirinya sendiri dan keluarganya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar