Minggu, 03 Januari 2010

Keadilan Ali bin Abi Thalib

Suatu ketika, menjelang hari raya, Zainab binti Ali bin Abi Thalib tengah mematut diri di kamamya. Ia memandangi dirinya di cermin dan berpikir:
“Alangkah baiknya bila pada hari raya nanti, ada sesuatu yang istimewa yang bisa dikenakannya,”
Tetapi, meskipun pada saat itu Ali bin Abi Thalib adalah seorang kepala negara, tidak berarti kehidupan keluarganya diliputi kemewahan. Keluarga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib justru hidup dalam kondisi amat sederhana. Tak heran bila Zainab, putrinya pun tidak memiliki perhiasan apa-apa.
Saat tengah mematut diri itu, Zainab teringat akan sebuah kalung indah yang tersimpan di Baitul Mal. Kaung itu terbuat dari mutiara dan mahal harganya. Namun, sebagaimana harta lain yang berada di Baitul Mal, maka kalung itu sesungguhnya adalah milik kaum Muslimin secara keseluruhan. Zainab tidak boleh menggunakannya dan ia tahu ayahnya tentu tidak mengizinkannya mengambil sesuatu apapun dari Baitul Mal. Tetapi, pikir Zainab, bagaimana kalau ia hanya meminjamnya saja? Meminjam untuk dipakai selama Hari Raya dan kemudian sesegera mungkin mengembalikannya kepada Baitul Mal.
Tak lama kemudian Zainab pun bergegas menuju Baitul Mal dan menemui Ibnu Abi Rafi’, Kepala Baitul Mal. Di sana Zainab mengutarakan maksudnya untuk meminjam kalung mutiara itu selama tiga hari, sekedar untuk digunakannya di Hari Raya. "Setelah tiga hari, aku akan langsung mengembalikannya," janji Zainab.
lbnu Abi Rafi’ tidak berkeberatan dengan maksud Zainab. Bukankah Zainab adalah putri Ali bin Abi Thalib, sang khalifah? Maka ia pun membolehkan saja Zainab meminjam kalung itu selama tiga hari. Hati Zainab pun menjadi senang karenanya.
Sesampainya di rumah, Zainab pun mencoba kalung tersebut. Benar saja, kalung yang indah itu memang nampak cantik sekali. Tetapi, ketika sedang mematut diri dengan menggunakan kalung pinjaman itu, ayahnya, Ali bin Abi Thalib datang. Ia memandangi putrinya dengan penuh kasih sayang sebelum melihat ke arah lehernya. Seketika air mukanya berubah, wajahnya kini tampak memerah menahan marah.

"Zainab!" tegur Ali bin Abi Thalib seraya berupaya keras menahan kemarahannya, "darimana engkau mendapatkan kalung itu?"
Seketika Zainab menjadi pucat pasi. Ia amat takut melihat nuansa kemarahan yang terpancar dari wajah ayahnya. Zainab pun menjawab dengan lirih.
"Saya mendapatkannya dari lbnu Abi Rafi’, setelah saya mengatakan kepadanya untuk meminjamkan kalung ini dari Baitul Mal. Saya hanya meminjamnya, Ayah. Selama tiga hari di Hari Raya. Setelah itu, saya akan langsung mengembalikannya."
Ali bin Abi Thalib menggeleng dengan keras tanda tidak setuju. Tetapi sebagai ayah dan kepala negera yang bijak, ia tidak menumpahkan kemarahan begitu saja. Ia ingin memberi tahu bahwa kemarahannya beralasan dan ia juga ingin setiap persoalan diselesaikan dihadapan orang-orang yang terlibat. Karena itu ia menyuruh seseorang pergi menemui lbnu Abi Rafi' dan memintanya untuk menemui Amril Mukminin di rumah.
Sesampainya 1bnu Abi Rafi’ di rumahnya, di depan Zainab, Ali bertanya kepada Ibnu Abi Rafi’, "Siapa yang telah menyuruhmu memberikan kalung ini kepada putriku, dan mengkhususkannya dari anak-anak kaum Muslimin yang lain? Apakah engkau mendapatkan perintah dari kaum muslimin untuk mempergunakan harta Baitul Mal sekehendakmu?"
"Wahai Amirul Mukminin, tetapi dia ini adalah putrimu sendiri," jawab lbnu Abi Rafi’ mencoba melunakkan hati Ali.
Tetapi Ali tetap pada pendiriannya. Sekalipun Zainab itu adalah putrinya sendiri, dan maksudnya pun hanya sekedar meminjam harta Baitul Mal, Ali tidak mengizinkannya. Ia takut telah berlaku tidak adil pada kaum Muslimin yang lain bila mendahulukan kepentingan keluarganya.
"Wahai Ibnu Abi Raf’," tegas Ali, "apakah putriku bisa meringankan siksa Allah padaku di hari akhir nanti? Dan apakah ia dapat memikul dosa-dosaku di hari akhir nanti?"
Ibnu Abi Rafi' terdiam sebelum menjawab. "Tentu tidak dapat ya Amirul Mukminin."
"Nah, kalau begitu, ambil kembali kalung ini dari putriku dan kembalikan segera ke Baitul Mal. Jangan pernah lagi mengulang perbuatan semacam ini, kalau tidak ingin mendapat sanksi dariku," perintah Ali bin Abi Thalib.

Maka Ibnu Abi Rafi'pun segera mengambil kembali kalung itu dari Zainab dan mengembalikannya ke dalam Baitul Mal. Lewat cara itu, Zainab pun memperoleh pelajaran berharga, bahwa ia tak boieh sekehendak hati menggunakan harta milik kaum Muslimin, dan memperturutkan segala keinginan hatinya hanya karena ia anak seorang Kepala Negara.
Betapa luarbiasanya perilaku Ali bin Abi Thalib yang sangat berhati-hati menjaga diri dan keluarganya dari segala tindakan tidak adil yang dapat membawanya pada kemurkaah Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar