Minggu, 03 Januari 2010

Guru Wanita dalam Islam

As-Syifa' binti Abdillah adalah salah satu bintang dalam sejarah Islam, Kiprahnya di tengah masyarakat diakui oleh banyak orang, termasuk Rasulullah dan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab.
Sebelum masuk Islam, ia telah mengajari penduduk Makkah untuk membaca dan menulis. Aktivitas ini dilanjutkannya setelah ia masuk Islam, bahkan Asy-Syifa dikenal sebagai guru wanita pertama dari kalangan kaum Muslimin. Selain itu, iapun terkenal sebagai peruqyah yang handal. Ruqyahnya dikenal dengan nama Ruqyatun Namlah. Dengan izin Allah ia dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit cacar. Ruqyah ini disetujui oleh Rasulullah Saw dan karena keahliannya ini Rasulullah membuatkan klinik khusus pengobatan penyakit untuknya.
As-Syifa adalah guru yang ternama. Ia memiliki banyak murid, baik mereka yang ingin belajar baca tulis, meruqyah atau mempelajari ilmu agama. Di antara muridnya adalah Hafshah binti Umar bin Khattab, Istri Rasulullah.
Kiprah Asy-Syifa' di tengah masyarakat semakin meningkat di masa Umar bin Khattab. Khalifah kedua memintanya untuk menangani urusan pasar di kota Madinah dan tugasnya mengelola perdagangan ini dilaksanakannya dengan baik. Selain itu, Umar bin Khattab pun sering bertukar pendapat dengan Asy-Syifa untuk mencari solusi mengenai permasalahan yang dia hadapi. Sungguh As-Syifa’ adalah wanita cerdas yang sangat peduli terhadap kondisi masyarakat.











Ketegaran Khadijah Binti Khuwailid



Khadijah Binti Khuwailid lahir pada kira-kira 15 tahun sebelum tahun gajah. Ia berasal dari kalangan bangsawan Quraisy dan nasabnya sangat terjaga. Ia besar di kalangan keluarga yang memiliki pencarian hidup sebagai pedagang besar. Maka tak heran jika sejak kecil ia belajar bagaimana cara berbisnis yang baik dan menguntungkan namun tidak melanggar norma dan etika bisnis yang lurus.
Khadijah tumbuh menjadi bunga Quraisy yang cantik dan cerdas Kebaikan budi pekertinya yang mulia pun terkenal ke seluruh pelosok negeri. Banyak permuda yang ingin menyunting untuk r,-enjadikannya pendamping hidup. Tercatat, 'Atiq bin `Ahid dan Abu Halah pernah menikahi Khadijah. Tetapi setelah suami terakhirnya meninggal dunia, di tengah perjalanan hidup pernikahan mereka, Khadijah sempat tidak berminat untuk menikah lagi. Ia memilih mengkonsentrasikan hidupnya untuk membesarkan dan mengurus anak-anak serta bisnisnya yang semakin berkembang.
Selain harta peninggalan dari orangtua yang diwarisinya, peninggalan harta dari para suaminya pun sangat banyak. Karena itulah Khadijah menjadi pebisnis yang sibuk mengelola dan mengembangkan usaha-usahanya yang sudah meluas hingga keluar negeri Makkah.
Sebagai perempuan yang dikenal terjaga akhlak mulianya, sehingga dijuluki sebagai At-Thahirah-wanita yang suci, Khadijah sangat berhati-hati dalam berbisnis. Ia membangun jaringan bisnisnya dengan modal kepercayaan. Akhlak yang luhur dalam berbisnis ini nyatanya sangat membantunya dalam mengembangkan relasi kerja.
Selain bersikap baik pada relasi bisnisnya, Khadijah pun peduli pada para pekerjanya. Ia sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Dalam hal ini Khadijah menerapkan sistem bagi hasil pada orang-orang yang menjualkan barangnya. Keuntungan yang diperoleh dari hasil berdagangnya dibagi sesuai andil masing-masing, hingga kedua belah pihak merasa puas dengan sistem ini. Akhirnya, usaha Khadijah semakin berkembang, dan pekerjanya semakin banyak.
Salah satu karyawan yang bekerja menjualkan barang dagangan Khadijah adalah Muhammad bin Abdullah. Sejak awal Muhammad sudah dikenal dengan julukan Al-Amin yang dapat dipercaya, sehingga ketika ia membawa barang dagangan Khadijah pun ia menjadi salah satu karyawan yang sangat terpercaya. Setiap kali Muhammad membawa barang dagangan Khadijah ke luar kota, ia pasti pulang membawa hasil yang memuaskan.
Kemampuan bisnis Muhammad yang bagus, juga ahlaknya yang mulia membuat hati Khadijah tertarik. Meskipun Khadijah menolak pinangan yang sebelumnya banyak diajukan para petinggi Quraisy, hatinya tidak bisa menolak keinginan untuk meminang sang Al-Amin. Keinginannya ini pun ia sampaikan pada orang kepercayaannya, Nafisah. Orang kepercayaannya inilah yang kemudian menjadi penghubung pernikahan Khadijah dengan Muhammad.
Kebahagiaan Khadijah menikah dengan Muhammad semakin lengkap dengan hadirnya putera puteri yang meramaikan suasana rumah mereka. Muhammad pun menjadi ayah bagi anak-anak, suami dan partner bisnis yang sempurna bagi kehidupan Khadijah.
Khadijah adalah wanita yang berasal dari golongan terpandang di Mekah. Dia juga merupakan gambaran langka wanita pebisnis sukses. Bekal kebangsawanan, kecerdasan, serta harta perniagaan yang banyak membentuk pribadi Khadijah menjadi sosok yang mandiri, apalagi setelah dia mengalami masa wafatnya dua orang suami.
Ketika menikah dengan suami ketiga, yakni Muhammad bin Abdullah, pemuda yang baik akhlaknya namun miskin dan jauh lebih muda usianya. Tetapi perbedaan usia dan kekayaan tidak membuat Muhammad menjadi minder atau cemburuan dengan kesuksesan istrinya. Khadijah pun tidak menjelma menjadi istri sok tahu atau besar kepala. Bahkan rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang kokoh, saling topang, saling percaya can penuh cinta kasih.
Menjelang masa diturunkannya wahyu, Rasulullah mulai sering menyepi di Gua Hira dan bertafakur. Kadang hal ini berlangsung hingga beberapa hari dan untuk keperluan itu Khadijahlah yang mempersiapkan bekalnya.
Begitu pula pada saat misi kenabian pertama kali diterima Rasulullah Saw, dan menjadi sebuah pengalaman yang mengguncangkan hati, Khadijah memberikan reaksi supportif luar biasa. Beliau menyelimuti sang suami dengan penuh kasih sayang dan berkata:
"Jangan khawatir, bergembiralah, sesungguhnya Allah tidak akan mengecewakan dirimu selamanya. Bukankah engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahim, suka memikul beban orang lain, suka memenuhi kebutuhan orang yang tak punya, suka memuliakan tamu dan engkau senantiasa membela kebenaran."
Khadijahlah orang pertama yang beriman pada Nabiyullah Saw. Tak hanya itu, dia juga memberikan dukungan penuh atas beban dakwah yang dipanggul suaminya. Waktu, tenaga, pikiran, dan harta diberikannya bagi dakwah dengan sepenuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar