Senin, 04 Januari 2010

Kemenangan Ja’far

Pada saat dakwah Islam baru berkembang di Mekah, banyak sekali orang yang tidak suka dan menyakiti kaum Muslimin di sana. Tak cuma diejek, dicemooh dan dihina, umat Islam bahkan juga disakiti secara fisik. Ada yang dipukul, ditimpuk batu, dijemur di padang pasir yang panas atau diikat dan dicambuki.
Rasulullah sangat sedih melihat kondisi umatnya yang teraniaya. Apalagi sebagian besar dari mereka adalah kaum yang lemah, yaitu mereka yang benar-benar lemah secara fisik seperti kaum perempuan dan orangtua serta kaum yang lemah secara ekonomi dan kedudukan, yaitu orang-orang miskin, para pendatang atau kelompok budak.
Setelah beberapa waktu bersabar, maka pada suatu hari, atas wahyu Allah, Rasulullah meminta umat Islam, terutama mereka yang lemah ini untuk berhijrah, pergi dan berupaya mencari perlindungan ke negeri lain, yaitu Habasyah (saat ini bernama Ethiopia) yang saat itu dipimpin seorang Raja Kristen yang baik hati, bemama Najasyi. Hijrah ke Habasyah ini diikuti sekitar 80 orang Muslim. Tua, muda, laki-laki dan perempuan yang kesemuanya dipimpin oleh sahabat Ja'far bin Abi Thalib. Namun, para pemuka Quraisy pun mendengar soal keberangkatan ini dan segera mengutus Amr bin Ash, yang pada saat itu masih musyrik, untuk menghalang-halangi keberhasilan hijrah umat Islam.
Sesampainya di Habasyah, Amr bin Ash dan rombongan mendapati bahwa Ja’far dan kaum Muslimin sudah terlebih dahulu sampai dan diterima dengan tangan terbuka oleh Raja Najasyi. Maka Amr bin Ash pun mencari jalan untuk mencelakai umat Islam dengan membuat hasutan. Dia mengatakan bahwa kaum yang datang di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib itu hanyalah sekelompok pelarian yang suka memecah belah masyarakat di Mekah. Bahkan Amr bin Ash juga menyatakan bahwa Ja’far dengan agama barunya telah merendahkan Tuhannya Raja Najasyi.
“Mereka tak layak dilindungi dan harus dipulangkan ke negeri kami," kata Amr.
Sebagian pembesar Najasyi mendukung Amr, apalagi Amr telah membawakan hadiah-hadiah untuk mereka. Perhiasan, uang emas dan barang-barang berharga lainnya. Sementara itu, Raja Najasyi yang adil lebih memilih mendengarkan semua pihak daripada hanya satu pihak saja, maka dipanggilnya Ja’far untuk menjawab tuduhan Amr dengan menjelaskan apa tujuan mereka datang serta bagaimana pandangan mereka terhadap Isa.
Ja’far pun berkata di hadapan Raja Najasyi, para pembesar negeri Habasyah dan rombongan Amr bin Ash.
"Wahai Raja, selama ini kami tenggelam dalam kebodohan. Menyembah berhala dan hidup jauh dari kesucian, berbicara mengenai hal-hal yang sangat buruk, mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, keramah-tamahan dan kehidupan bertetangga. Kami juga tidak mengenal hukum melainkan siapa yang kuat, dialah yang benar. Sampai kemudian Allah membangkitkan seorang manusia di antara kami, yang kelahiran, kejujuran dan kesuciannya kami sadari. Lelaki itu menyeru kepada keesaan Allah dan mengajarkan untuk tidak menyekutukan apapun dengan-Nya. Dia melarang kami menyembah berhala, menyuruh kami berkata jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya, menunjukkan belas kasihan, menghormati hak tetangga dan keluarga kami, melarang kami membicarakan yang buruk tentang wanita, memakan bagian anak yatim, menyuruh kami menjauhkan diri dari orang-orang jahat, tidak berlaku jahat, menyuruh melakukan shalat, membayar zakat dan berpuasa . Maka kami mempercayainya, dan menerima ajarannya. Dan karena ini, orang-orang dari suku kami menyiksa kami agar kami kembali menyembah berhala dan melakukan hal-hal buruk lainnya. Karena itulah kami datang ke negara baginda berharap baginda akan melindungi kami dari mereka."
Sesudah berkata demikian, Ja’far pun membacakan sebagian ayat Al-Quran surat Maryam yang berkisah tentang nabi Isa Alaihissalam. Dan sesudahnya dia berhenti, menunggu reaksi dari sang Raja Najasyi.
Ternyata sang Raja sedang tertunduk dengan mata membasah. Rupanya dia merasa terharu dengan pembacaan ayat Al-Quran yang dilantunkan Ja’far dengan baiknya. Kemudian dia berkata kepada Ja’far:
"Sesungguhnya, lelaki yang mengajak kalian kepada keesaan Tuhan itu benar-benar seorang Nabi. Dan sungguh tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian kecuali hanya sedikit. Maka, tinggallah kalian dengan aman di negeri kami sebagai tamu yang kami hormati."

Baginda lantas menoleh kepada Amr bin Ash seraya berkata:
"Pulanglah engkau ke negerimu, karena sesungguhnya mereka ini benar dan kami menerima mereka sebagai tamu-tamu kami. Bawalah hadiah-hadiahmu kembali bersamamu."
Terkejutlah Amr bin Ash beserta rombongan dengan keputusan Raja Najasyi. Dalam kegagalan argumentasi itu, mereka kembali ke Mekah, sementara Ja’far dan rombongan kaum Muslimin yang hijrah bersamanya dapat hidup damai di negeri Habasyah hingga Rasulullah memanggil mereka untuk berhijrah ke Madinah beberapa tahun berikutnya .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar