Minggu, 03 Januari 2010

Ketaatan Keluarga Khalifah

Setelah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat, Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai penggantinya. Umar adalah menantu Sulaiman yang pada masa remajanya sangat gemar memperhatikan penampilan. Pakaiannya keren-keren, parfum yang dipakainya wangi dan mahal, begitu pula segala pernak-pernik kehidupannya sehari-hari termasuk perhiasan dan kendaraannya selalu merupakan benda terbaik yang ada di negerinya. Namun, setelah melewati masa dewasa, kepribadian Umar mengalami perubahan. Tak hanya menjadi lebih matang, Umar pun mulai bersikap bijaksana. Dia menyadari bahwa hukum Allah adalah di atas segalanya dan hidup di dunia ini tak akan abadi. Karena itu pemikiran dan akhlak Umar pun berubah. Dia menjadi lebih santun, shaleh dan banyak manfaat pada orang lain.
Setelah pengukuhan dirinya sebagai khalifah, mulailah Umar menjalankan fungsinya sebagai khalifah dengan pertama-tama meneliti soal kekayaan keluarga khalifah. Pada saat itu sudah berlaku sebuah tradisi bahwa setiap keluarga khalifah yang wafat akan membawa pakaian-pakaian dan perhiasan khalifah yang wafat itu dan membagikannya. Setiap pakaian yang belum pernah digunakan akan diberikan kepada khalifah pengganti, sementara pakaian-pakaian yang sudah pernah dipakai diambil oleh keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.
Pakaian-pakaian yang ditinggalkan para khalifah tentu saja begitu banyak dan sangat bagus. Begitu pula pakaian yang dimiliki almarhum Sulaiman bin Abdul Malik terlihat begitu indah, dan gemerlap karena terbuat dari bahan-bahan kualitas terbaik
Beberapa hari sesudah penobatan Umar bin Abdul Azis sebagai khalifah seorang kerabat istrinya datang membawa pakaian dan perlengkapan sehari-hari almarhum Sulaiman itu ke hadapan Umar bin Abdul Aziz dan berkata:
"Wahai Khalifah, ini adalah pakaian almarhum Sulaiman yang merupakan bagian kami dan yang ini adalah pakaian yang menjadi milik Anda,” begitu kata kerabat istrinya itu seraya menunjukkan dua tumpukan yang sudah dipisahkannya. Umar melihat pada segala pakaian, perhiasan dan segala perangkat busana itu dengan pandangan tak suka. Segera saja ia menyahut:
"Mengapa harus seperti itu?"
"Oh, bagian ini adalah pakaian yang sudah pernah digunakan almarhum Khalifah Marwan sehingga menjadi bagian kami. Sementara, pakaian-pakaian ini yang belum pernah digunakan menjadi milik Anda," jelasnya karena mengira Umar tidak memahami cara pembagian yang sudah membudaya itu.
"Tidak, itu tidak benar," jawab Umar tegas. Pakaian-pakaian yang belum dipakai ini bukan milikku. Bahkan pakaian-pakaian dan segala perlengkapan itu, yang sudah dipakai pun, bukan milik kaban. Ini semua adalah milik umat. Masukkan semua harta ini ke Baitul Maal, untuk dijual dan uangnya bisa dimanfaatkan oleh umat."
Terkejutlah para kerabat kekhalifahan karena ternyata sosok khalifah baru ini begitu tegas dan sangat berhati-hati dalam hal mengelola harta umat. Tak cukup memberantas budaya berfoya-foya, Umar bin Abdul Aziz juga menemui istrinya, dan berkata:
"Wahai istriku, aku tahu engkau memiliki banyak perhiasan yang engkau dapatkan dari masa pemerintahan ayahmu, sementara aku dan perhiasan-perhiasan itu tak mungkin berada dalam satu rumah. Maka, pilihlah oiehmu, apakah engkau mau berpisah dengan perhiasanmu itu dan memberikannya kepada baitul maal, ataukah engkau memilih berpisah dari diriku," ucap Umar lembut namun tegas.
Tak membutuhkan waktu untuk berpikir lama, Fathimah pun menjawab:
"Wahai suamiku, aku tentu saja memilih untuk mendampingi dirimu dan berpisah dengan harta ini, bahkan kalaupun seandainya aku memiliki lebih banyak harta lagi dari yang kumiliki ini."
Maka, diberikanlah seturuh perhiasan Fathimah untuk menjadi bagian dari harta umat di baitul maal. Keluarga Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun kemudian hidup sangat bersahaja dan memberikan keberkahan pada pemerintahannya yang dikenal adil, bersih dari korupsi, bersih dari persekongkolan jahat dan mampu menentramkan hidup rakyat lahir dan batin.
Ketika kemudian Umar bin Abdul Aziz wafat, penggantinya adalahYazid bin Abdul Malik, saudara Fathimah. Baru beberapa waktu berselang dari penobatannya sebagai khalifah, Yazid pun menemui Fathimah dan berkata:
"Aku tahu Umar telah memintamu menyerahkan segala harta perhiasanmu pada baitul maal, nah kalau engkau menginginkannya aku akan menyerahkannya kembali padamu."
Kali ini pun Fathimah tidak memerlukan waktu panjang untuk menjawab tawaran saudaranya itu. Fathimah menjawab, "Demi Allah, aku tidak pemah mengkhianati suamiku di masa hidupnya dan tidak pula bermaksud mengkhianatinya di masa wafatnya. Aku tidak menginginkan perhiasan itu dan biarkan harta itu menjadi milik umat di baitul maal."
Begitulah keteguhan keluarga Khafifah Umar bin Abdul Aziz yang telah menjadikan kecintaan kepada Allah di atas segalanya, sehingga mereka tidak lagi mau memautkan hati mereka pada godaan harta dan kesewenangan jabatan di dunia. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar