Minggu, 03 Januari 2010

Menteri Pengkhianat

Duhulu kala hiduplah seorang raja bernama Kasyta Syat. Dia dikenal sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana. Negerinya penuh kedamaian dan kemakmuran. Menterinya yang bernama Rusyat Rusy adalah seorang yang licik, sering memancing ikan di air yang keruh, sering pula mempraktekkan politik belah bambu (sebagian golongan diangkat tinggi-tinggi dan sebagian yang lain diinjak-injak martabat dan hak-haknya). Kendati begitu, selama ini baginda masih mentolerir perilaku kotornya itu.
Pada suatu hari Rusyat Rusy berkata kepada baginda:
"Wahai Baginda, perilaku rakyat kita telah sampai titik yang runyam. Mereka mulai berani menginjak-injak kewibawaan kita. Itu semua disebabkan kita terlalu naembela kepentingan mereka, sementara mereka jarang kita beri pelajaran dan peringatan. Demi terciptanya tatanan yang harmonis, seluruh pemimpin dari tingkat desa samapai wilayah dan pusat harus secepatnya kita beri penataran khusus atau diklat mengenai berbagai aspek hukum, khususnya bidang perdata dan pidana, di mana materi penataran itu harus secepatnya disosialisasikan melalui para pejabat itu. Dan mereka sendiri yang akan mengawasi pelaksanaannya, agar para hakim tidak terlalta banyak menanggung beban."
Mendengar laporan ini baginda segera saja bertitah:
”Itu merupakan tindakan bijaksana. Dan kau saya beri tugas untuk merealisir dan mengkoordinasi seluruh rencana itu," begitu baginda menyerahkan urusannya bulat-bulat.
Maka Rusyat Rusy segera membuat undangan peraataran ke seluruh pejabat dari pusat sampai daerah dan desa-desa. Namun ternyata semua kebijakan itu hanya sebagai taktik yang kotor untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya dengan cara mengelabuhi raja. Sebab pada surat undangan itu, di pojok kiri bawah tertulis NB. Untuk pejabat eselon satu harus membayar sekian. Pejabat wilayah harus membayar sekian dan seterusnya. Padahal gaji para pejabat itu pada akhir bulan hanya berupa bon dan ketika tanggal muda gajinya telah butut untuk membayar utang. Apalagi pejabat di desa-desa, boleh dikatakan sering makan angin. Pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban, atau dijadikan sapi perah hingga kehidupan mereka megap-megap. Lebih parahnya ternyata uang yang banyak itu hanya masuk ke kantong Rusyad Rusy, si menteri bejat bersama para kroninya. Kerajaan hanya kebagian kabar dan malah kas negara ikut terkuras.
Pada suatu saat, raja berkeinginan untuk memperbaiki kesejahteraan para prajurit yang menjadi tulang punggung kekuatan negaranya. Baginda segera memanggil bendahara untuk meminta laporan mengenai saldo yang selama ini belum dipergunakan. Betapa terperanjatnya sang raja, karena kas negara telah kosong. Selidik punya selidik ternyata seluruh uang tadi dikorupsi oleh si menteri. Hati baginda amat galau, darahnya mendidih, seakan bumi sudah tidak layak lagi sebagai tempat berpijak.
Untuk menenangkan pikirannya yang kalut itu, baginda pun pergi ke sebuah kawasan hutan yang rindang, melihat pemandangan yang mempesona dan memperhatikan para penggembala yang begitu asyik merawat domba-dombanya.
Nun jauh di sebelah sana terlihat pua sebuah tenda yang terpancang di sebuah lembah. Hati baginda tertarik untuk mendekatinya, barangkali ada seseorang yang sedang beristirahat di mana akan dapat diajak berbincang-bincang ringan mengenai kehidupan sehari-hari. Tidak jauh dari tenda itu dilihatnya banyak domba yang sedang menderum. Anehnya, didapati pula bangkai seekor anjing yang dijerat pada sebuah tiang.
Ketika itu pula baginda bertemu seorang pemuda keluar dari tenda itu. Maka segera saja baginda mengucapkan salam padanya dan dijawabnya dengan begitu ramah. Sesaat kemudian baginda dipersilakan bersinggah di tenda itu untuk melepas lelah. Ketika itulah hati baginda yang kalut itu mulai mencair, apalagi si pemuda itu ternyata membawa bekal makanan yang cukup dan dilengkapi dengan susu domba yang mengundang selera. Maka seluruh makanan yang ada, oleh pemuda itu dihidangkan di depan tamunya dengan harapan baginda akan menikmatinya kendati berupa makanan pedesaan. Pemuda itu pun mempersilakan baginda untuk segera mencicipi, namun baginda malah mengatakan:
“Aku tidak akan mencicipi makanan ini sebelum kau ceritakan lebih dahulu bagaimana anjing penjaga domba itu kau siksa begitu rupa sampai mati?"
"Baiklah Baginda, akan kuceritakan semuanya, namun mari kita cicipi makananku ini biar ceritaku nanti bisa lengkap. Begini wahai baginda, anjingku ini kupercaya sepenuhnya untuk menjaga domba-domba itu, namun sayangnya dia bersahabat dengan seekor serigala hingga sering aku lihat tidur dan pergi bersamanya. Pada akhir-akhir ini aku lihat domba-domba itu berkurang begitu banyak. Setelah aku teliti ternyata serigala itulah yang memangsanya satu demi satu setiap hari. Sedangkan anjing itu diam saja, tidak bereaksi sedikit pun untuk menghalangi terkaman serigala itu. Dari kejadian ini aku segera menyimpulkan bahwa anjing itu berubah menjadi pengkhianat yang menyebabkan aku bangkrut tidak kepalang tanggung. Maka segera saja anjing ini aku jerat lehernya kemudian aku tendang dan aku gantung di tiang itu sampai mati.
Mendengar penuturan yang demikian, sang raja pun memperoleh pelajaran yang cukup berharga untuk mencari jalan penyelesaian terhadap masalah yang menimpanya. Dia lantas membuat kiasan (analogi) bahwa, "R.akyatku itu bagaikan domba-dombaku. Untuk itu mereka perlu aku tanya sendiri mengenai segala kesulitan yang menimpa mereka akhfir-akhir ini."
Setelah pertemuannya dengan penggembala itu dianggap cukup, baginda pun berpamitan pulang. Beliau seakan telah mendapatkan jawaban yang melegakan kekalutan pikirannya. Ketika telah sampai di istana, maka baginda segera mengadakan kunjungan mendadak ke desa-desa, mengadakan dialog langsung dengan para penduduk beserta para pejabat desa. Sekarang tahulah baginda, ternyata menterinya yang bernama Rusyat Rusy itu telah berkhianat kepadanya sehingga menyengsarakan seluruh rakyat.
Berhubung penyelewengan menteri itu telah sampai pada titik yang parah sehingga membahayakan stabilitas keamanan, maka baginda segera memutuskan agar para algojo kerajaan segera menggantung menteri durhaka itu. Para algojo itu secepat kilat melaksanakan titah rajanya di mana menteri itu segera diseret dart digantung hingga menemui ajalnya dengan menjulurkan lidah tanpa ada kesempatan untuk mencari suaka ke luar negeri.
Itulah balasan setimpal bagi para pengkhianat yang ingin menyengsarakan rakyat kecil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar