Sabtu, 02 Januari 2010

Nasib Anak Seorang Khalifah

Di kota Baghdad tersebutlah seorang lelaki yang bernama Abdullah Ibn Faraj yang terkenal dengan ibadahnya. Pada suatu hari dia mencari seorang tukang yang akan disuruhnya membuat beberapa keranjang sebagai tempat rumput yang akan dijual di pasar. Setelah bertanya pada para tetangga kiri-kanan, akhirnya ditunjukkan kepada seorang pemuda yang terkenal sangat santun dan begitu tampam
Pagi-pagi Abdullah segera mencari ke rumahnya, namun para tetangganya mengatakan bahwa dia hanya seminggu sekali pulang ke rumah. Dengan demikian tuan harus menunggu hari yang tepat untuk bertemu dengannya. Para tetangga itu pun memberi tahu hari tertentu di mana si pemuda tadi pulang.
Setelah mengetahui informasi itu, pada suatu hari Abdullah bertandang lagi ke rumahnya.
“Dengan mengucapkan salam,” kata Abdullah, “aku memasuki rumahnya dan segera disambut dengan tangan terbuka. Betul saja dia berada di rumah sedang mengerjakan pembuatan keranjang begitu banyak tersusun rapi. Aku tatap seluruh ruangan dan sudut-sudut namahnya, tidak tampak olehku perabot rumah tangganya yang berarti kecuali hanya sebuah meja kecil dan bambu-bambu yang sudah diraut beserta tali-tali yang masih tersisa. Dan tidak pula aku temtikan orang lain selain pemuda itu, begitu sepi tampaknya. Dan setelah berbasa-basi seperlunya lantas aku utarakan maksudku:
"Maukah Anda membuatkan keranjang berapa pun banyaknya?" tawarku kepadanya.
"Ya aku mau, dan kebetulan sekali sebentar lagi aku selesai dan mempunyai waktu luang yang cukup," jawabnya memberi harapan padaku.
"Berapa upah borongannya untuk satu hari," sahuthu lagi.
"Satu dirham lebih satu daniq (seperenam dirham)," jawabnya lagi.
Setelah transaksi itu aku setujui, langsung saja dia aku ajak ke rumahku dan hari itu pula pembuatan keranjang telah dimulai.
Ia mengerjakannya begitu cepat di mana hasil satu hari saja bagaikan perolehan pekerjaan tiga orang. Melihat cara kerjanya yang begitu sigap, aku segera berpikir dan berniat, begitu dia menyelesaikan pekerjaan satu hari, sebelum pulang akan langsung aku berikan upahnya. Maka di hari itu pula dia aku beri dua dirham dua daniq demi melihat perolehannya. Hal ini kumaksudkan agar dia lebih giat dan puas dalam bekerja. Namun dia malah terperanjat seraya mengatakan:
"Berapa ini?"
"Dua dirham dua daniq," jawabku.
"Tuan telah merusak transaksi, bukankah aku telah mengatakan satu dirham satu daniq," sergahnya.
"Aku tidak akan mau lagi mengambil upah darimu," sambungnya lagi.
Dengan penuh penyesalan, akhirnya hanya aku sodorkan satu dirham satu daniq, namun tetap saja dia tidak mau menerima. Terpaksa aku masukkan ke saku bajunya, ternyata dia tetap menolak dan terus ngeloyor pamit, aneh! Tertegun aku menyaksikan kejadian ini, kemudian aku kembali masuk rumah menemui isteriku dan aku ceritakan kejadian itu kepadanya. Tampak isteriku begitu khawatir hingga mengatakan:
"Hari-hari ini kita harus banyak memohon ampun kepada Allah, jangan-jangan Allah menimpakan bencana di rumah tangga kita tersebab ulah bapak yang merusak transaksi itu."
Betapa hatiku menjadi galau, terus saja aku teringat pemuda itu dan menyesal tiada henti-hentinya.
Pada suatu pagi, akhirnya aku menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah pemuda itu lagi, namun para tetangganya mengatakan sekarang dia dalam sakit keras. Dengan meminta bantuan tetangga itu pula aku minta dibukakan pintu untuk bertemu dengannya dan ternyata aku berhasil masuk. Tampaknya dia sakit liver, perutnya telah membengkak. Lantas aku ucapkan salam padanya seraya aku katakan:
"Aku membutuhkanmu, wahai anak muda! Kau sendiri tentunya telah maklum mengenai pahala membahagiakan hati orang Muslim. Lebih tegasnya, aku senang sekali kau berada di rumahku sehingga ada yang merawat sakitmu itu," bujukku.
"Tuan betul-betul menghendaki itu?" sahutnya. "Ya, aku sangat bahagia bila kau menerimanya," tukasku lagi.
"Kalau demikian bolehlah aku dibawa ke rumah tuan, namun dengan tiga syarat."
Mendengar jawaban ini hatiku terasa lega, tetapi segera aku tanyakan:
"Apa tiga syarat itu?"
"Pertama, tuan jangan memberi makanan kepadaku selagi aku belum memintanya lebih dahulu."
"Ya," jawabku. "Terus apa lagi?" sambungku. . "Kedua, jika aku mati, baju luarku dan jubahku ini harus diikutkan sebagai kafan," sambungnya lagi.
"Ya!" jawabku. "Lantas?!"
"Yang ketiga ini merupakan syarat yang paling berat, nanti saja setelah berada di rumah tuan akan aku sebutkan," sahutnya lagi.
Menjelang Zhuhur segera aku carikan delman untuk membawa dia ke rumahku. Dan tahap pertama ini telah terlampaui dengan biasa-biasa saja. Keesokan harinya, dia memanggilku:
"Wahai tuan Abdullah, hendaklah engkau kemari!"
“Ada apa, bagaimana perkembangan sakitmu?" tanyaku.
"Sekarang akan aku sebutkan syarat yang ketiga. Tampaknya ajalku akan segera tiba," ucapnya agak tersendat.
"Bukalah kantung saku yang ada di sebelahku ini," pintanya lagi.
Dengan segera kantung saku itu aku buka, dan aku dapatkan sebuah cincin bermata zamrut hijau yang begitu indah sekali. Ia pun mengatakan:
"Jika saja aku telah mati dan tuan telah menguburkanku, tolonglah cincin ini diserahkan pada Baginda Raja Harun Ar-Rasyid dan katakan pula kepadanya bahwa pemilik cincin ini berpesan kepadamu, janganlah baginda sampai terjemput maut dalam keadaan bergelimang dengan harta benda sebagaimana keadaan baginda selama ini, di mana akan menuai penyesalan pada akhirnya," ia ucapkan kalimat ini dengan terbata-bata.
Betapa kalimat ini aku rasa sebuah amanat yang begitu berat, salah-salah aku yang akan menanggung segala resikonya, namun apa pun yang terjadi aku akan melaksanakannya.
Di malam harinya pemuda itupun menghembuskan nafasnya yang terakhir bertepatan aku menungguinya. Pada keesokannya langsung aku kebumikan sebaik-baiknya. Dan setelah prosesi pcmakaman itu selesai, segera saja aku melaksanakan pesan pemuda itu dengan mencari tahu, hari apa Baginda Harun Ar-Rasyid itu keluar istana. Sebelum itu telah aku menulis kisah pemuda itu pada beberapa lembar kertas hingga mengenai keberadaan cincin yang akan kuserahkan itu.
Setelah mengetahui saat yang tepat untuk bisa menemui Baginda, maka segera aku berusaha menemui para pengawal di gerbang istana dan menyerahkan seluruh tulisan itu pada mereka agar diserahkan pada baginda. Setelah itu aku disuruh mereka untuk menunggu di sebuah pos penjagaan. Dalam situasi ini, sungguh perasaanku teraduk-aduk antara khawatir terkena marah, dijatuhi hukuman ataupun malah diterima dengan baik. Tampak Baginda memasuki istana kemudian memibaca kisah tulisanku itu lalu menyuruh seorang pengawal untuk memanggilku. Dengan hati yang aku tabahkan, segera saja aku mcnghadapnya. Ketika itu Baginda langsung bertanya:
"Apa maksudmu menulis kisah seperti ini, lalu kau suruh aku untuk membaca?"
Dengan tidak aku jawab, cincin itu segera aku serahkan pada baginda. Ditatapnya cincin itu, kemudian bertanya:
"Dari mana kau dapatkan cincin ini?"
"Dari seorang pemuda pembuat keranjang," jawabku.
Pada kesempatan. itu aku lihat rona wajahnya berubah seketika kemudian air matanya mengalir membasahi pipi hingga turun ke janggutnya yang tebal itu sampai membasahi baju kebesarannya scraya meratap:
"Oh, tukang keranjang, betapa nasibmu begitu sengsara. Aku bersalah nak!”
Tiba-tiba sala Baginda mendekati aku kemudian aku dipeluknya erat-erat. Dalam situasi ini aku katakan pula bahwa pembuat keranjang itu menyampaikan salam kepada Baginda dan meminta pertolongan kepadaku untuk menyerahkan cincin ini pada Baginda seraya berpesan:
“Janganlah engkau nieninggal dunia dalam keadaan bergelimang dengan harta dan kemegahan dunia ini, engkau akan menyesal pada akhirnya."
Mendengar ucapanku ini Baginda Harun al-Rasyid segera berdiri lalu jongkok dan membenturkan kepalanya ke lantai beberapa kali bagaikan ayam disembelih saja layaknya. Mungkin saja tukang keranjang itu anaknya, pikirku. Dia lantas terduduk dan menangis panjang. Setelah agak reda, dia minta diambilkan air untuk membasuh wajahnya kemudian bertanya kepadaku lagi, "Bagaimana kau bisa mengenalnya?"
Akupun mengatakan apa adanya dan aku ceritakan semuanya sampai tuntas, baik mengenai sakitnya ataupun kematiannya. Setelah mendengar ceritaku ini, sang Raja Harun al-Rasyid pun menangis lagi sejadi-jadinya, aku sendiri sampai kasihan melihatnya. Tangisnya begitu panjang mendalu-dalu, betul-betul begitu sulit dihentikan. Belum sampai reda tangisnya, dia pun menceritakan kepadaku mengenai riwayat cincin itu.
"Begini tuan! Ketika aku masih menjadi pangeran dan putera mahkota, seolah-olah telah ada komitinen di lingkungan kerajaan Abbasiyah ini bahwa seorang putera mahkota itu tidak diperbolehkan kawin lebih dahulu dan harus menunggu sampai dia diangkat menjadi raja. Pada saat itulah aku jatuh cinta pada seorang gadis yang begitu jelita. Aku amat khawatir terjerumus dalam dosa besar yang akan menyebabkan murka Allah yang tiada henti. Akhirya gadis itu aku nikahi secara diam-diam dan alhamdulillah aku mendapatkan putera pertama darinya.
Demi keselamatan bersama, dia aku suruh pergi sementara menuju Basrah dengan bekal yang cukup serta aku sematkan cincin ini di jari manis isteriku itu. Tak lupa aku berpesan kepadanya:
"Jika aku telah dianghat menjadi khalifah, segerah dinda datang menemuiku, tapi sekarang rahasiakan dulu keberadaan dinda agar tidak berpengaruh buruk mengenai masa depan kita."
Namun kehendak Allah berjalan lain. Ayahku Al-Mahdi mempunyai seorang gadis pilihan sendiri sebagai pendamping hidupku, Zubaidah namanya. Aku tidak mampu menolak keputusannya itu. Dan setelah tampuk kekhalifahan itu betul-betul telah berada di tanganku, sebenarnya aku telah berusaha sekuat tenaga mencari ibu dari anakku ini namun berita yang aku terima selalu mengatakan bahwa keduanya telah meninggal dunia hingga aku tidak mengerti bahwa anakku ini masih hidup.
"Sekarang di mana kau makamkan anakku, wahai Abdullah?" tanya baginda.
" Aku makamkan di pekuburan Ibnul Mubarak," jawabku.
"Aku sangat membutuhkan bantuanmu, yahni nanti setelah Maghrib tunggulah aku di gerbang istana, aku akan berziarah ke kubur anakku dengan menyamar saja," sambung Baginda lagi.
"Apa yang menjadi kehendak Baginda, sekuat kemamptaar,aican hamba laksanakan," jawabku.
Setelah usai shalat Maghrib, aku segera berangkat menuju gerbang istana. Dan beberapa saat kemudian baginda tampak keluar dengan menyamarkan diri dan tanpa iringan pengawal seorang pun. Secepatnya kami berangkat menelusuri jalan-jalan sempit kota Baghdad. Dalam perjalanan itu Baginda selalu merangkulku hingga sampai di pemakaman. Di sana dia tumpahkan tangisnya semalam suntuk hingga fajar menyingsing seraya mcngatakan:
"Wahai anakku! Kau begitu sayang pada ayahmu. Kau nasihati ayahmu, baik ketika masih hidup ataupun setelah mati"
“Melihat duka nestapa yang begitu dalam, hatiku pun larut dalam perasaan itu hingga air mata ini tak mampu aku tahan. Dan setelah fajar menyingsing, kami pun kembali bersama-sama,” begitu kata Abdullah.
Ketika sampai di pintu gerbang kerajaan, baginda mengatakan kepadaku:
"Tuan! Kau akan kuberi gaji tetap dari kerajaan dan namamu akan aku tulis dalam daftar pegawai yang menerima gaji, setiap bulan akan mendapat gaji sepuluh ribu dirham. Kemudian jika aku telah wafat, khalifah setelahku akan aku beri wasiat untuk melangsungkan gajimu itu hingga akan sampai ke anak turunmu. Semua itu demi jasamu yang telah merawat anakku sampai penguburannya," kata khalifah Harun al-Rasyid.
Setelah memasuki pintu gerbang, dia pun mengatakan lagi, "Perhatikan dan camkanlah baik-baik atas maksud baikku ini, wahai Abdullah!"
"Insya Allah!" jawabku.
Dan setelah itu aku tidak pernah lagi kembali ke kerajaan, apalagi mengambil gaji yang dijanjikan itu.
Demikian kisah tentang khalifah Harun al-Rasyid dan putranya yang pernah dituturkan oleh Abdullah Ibn Faraj. Mudah-mudahan dari kisah yang singkat ini kita bisa memperoleh pelajaran yang berharga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar