Sabtu, 02 Januari 2010

Budak yang Menyembunyikan Identitasnya

Ketika Ibnul Mubarak berada di Makah, kebetulan sekali saat itu Makah terlanda paceklik hebat, hujan tidak pernah turun, udara betul-betul terasa memanggang bumi, padahal penduduk kawasan itu telah beberapa kali mengadakan shalat istisqa’ dan berdoa memohon hujan turun.
Syahdan pada kali yang terakhir ini seluruh penduduk berbondong-bondong menuju Arafah untuk memohon hujan selama satu minggu penuh. Kami pun ikut kesana dengan pakaian seadanya dan membawa serta anak-anak yang masih balita dan ternak sebagaimana anjuran dalam agama.
Yang mengherankan, ada seorang hitam yang sudah tidak bertenaga lagi. Aku perhatikan dia baik-baik, tampaklah dia melakukan shalat dua raka’at, aku pun ikut shalat di dekatnya. Ketika sujud itu aku merangkak lebih dekat lagi. Saat itulah aku mendengar dia berdoa dengan jelas:
“Wahai Tuhan!, akan tidak kuangkat kepalaku sebelum Engkau menurunkan hujan kepada hamba-hamba-Mu,”demikian dia bermohon.
Sejenak kemudian, awan yang menyeruak di langit itu bergulung-gulung dan menyatu kemudian kilat bersahut-sahutan dan turunlah hujan dengan lebatnya. Demi menyaksikan peristiwa ini, dia segera beringsut dan beranjak pergi. Menyaksikan peristiwa ini hatiku penasaran sekali, ingin rasanya mengetahui keberadaannya lebih dekat. Segera saja aku ikuti dia dalam jarak yang tidak begitu jauh, yang akhirnya aku lihat dia memasuki sebuah rumah yang menjadi agen penjualan budak. Hati ini tambah penasaran dan perasaanku seakan diaduk-aduk, sudah barang tentu dia seorang budak belian.
Selanjutnya aku ingin sekali memberi pertolongan terhadapnya dengan apa saja yang aku perkirakan akan meringankan beban hidupnya, terutama dia akan aku beli kemudian aku merdekakan.
Pada hari yang baik, aku sengaja berkunjung ke rumah agen budak itu. Setelah salam aku ucapkan kepada empunya rumah, aku dipersilakan duduk dan ditanya maksud kedatanganku. Maka aku utarakan tujuanku itu.
“Sesungguhnya aku ingin membeli seorang budak saja agar dia membantu kesibukanku di rumah,” begitu alasanku.
Dengan segera tuan rumah itu menunjukkan tiga puluh budak yang kekar-kekar di mana aku lihat si hitam tadi tidak ada dalam kumpulan itu. Lantas aku tanyakan:
“Masih adakah yang lain?”
Maka tuan rumah itu segera mengatakan:
“Ya, masih ada satu lagi, namun tampaknya dia tidak bisa dimanfaatkan tenaganya, apalagi dia sangat pelit bicara.”
Segera saja aku ingin ditunjukkan kepadanya, maka dia mengeluarkan budak yang aku maksudkan itu, ternyata memang dia yang aku cari.
“Berapa harganya yang satu ini?” tanyaku.
“Dua puluh tujuh dinar,” jawabnya.
“Namun khusus untuk Anda akan kupotong harganya menjadi sepuluh dinar saja,” sambungnya lagi.
“Tidak, budak ini harus aku beli dengan harga layak, aku tidak ingin ada pemotongan harga,” sergahku.
Setelah uang pembayaran aku serahkan kepada tuan rumah itu, hamba itu segera aku tarik tangannya aku bawa pulang. Dan ketika telah sampai di rumah, dia bertanya kepadaku:
“Wahai tuan, mengapa tuan membeliku, padahal sebagaimana tuan saksikan sendiri, aku sudah tidak mampu lagi melayani segala keperluan tuan dengan sebaik-baiknya?”
Dengan mengatur napas sedemikian rupa dan dengan rendah hati aku mengatakan:
“Maksudku membeli Anda itu tiada lain agar Anda tidak menjadi hamba lagi bahkan Anda aku angkat menjadi penasihat diri saya sendiri,” begitu kataku.
Tampak dia terperangah seraya bertanya:
“Mengapa tuan bermaksud dan berbuat sedemikian itu?”
“Aku telah mengetahui siapa Anda, terutama dalam peristiwa istisqa’ kemarin di mana Allah telah memperkenankan permohonan Anda, begitu tinggi kemuliaan Anda di sisi-Nya,” sambung Ibnul Mubarak.
“Setelah semuanya menjadi jelas, adakah Anda ingin memerdekakanku?” tanya budak itu lagi.
“Anda sekarang merdeka dengan ikhlas karena Allah,” sambungku.
Dalam kesempatan inilah aku mendengar suara tanpa rupa yang mengatakan:
“Wahai Ibnul Mubarak!, berbahagialah Anda, Allah telah berkenan mengampuni dosa-dosa Anda,” suara itu terdengar jelas sekali.
Setelah itu aku lihat hamba tadi mengambil air wudhu diteruskan dengan shalat dua raka’at. Dalam doanya itu aku dengar dia mengatakan:
“Alhamdulillah, ya Allah, Engkau telah memerdekakan diriku dari perbudakan dunia yang kecil ini, semoga Engkau merdekakan pula diri ini dari dari perbudakan neraka yang dahsyat dihari pembalasan nanti.”
Selanjutnya aku lihat dia berwudhu dan shalat lagi dua raka’at kemudian menengadahkan tangan seraya berdoa:
“Ya Allah. Engkau telah mengetahui bahwa diriku ini telah aku payahkan untuk beribadah kepada-Mu selama tiga puluh tahun secara intensif. Padahal Engkau dan aku telah terikat janji bahwa ibadah itu akan terus aku lanjutkan sampai matiku selama Engkau selalu menutupi keadaanku dari penglihatan orang-orang di sekitarku. Karena rahasia ini telah terkuak, aku bermohon kepada-Mu agar segera saja Engkau mengambil ruhku.”
Belum sampai doa itu berakhir, dia langsung pingsan. Dalam keadaan seperti itu aku telah berusaha agar dia siuman, namun ternyata dia telah mati. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selanjutnya aku menyibukkan diri untuk merawat jenazahnya hingga selesai pemakaman. Namun karena kondisi tidak memungkinkan, kafan yang aku pergunakan tidak begitu layak. Dan ketika hari mulai larut malam, aku segera tidur pulas. Ketika itulah aku bermimpi melihat seseorang yang sangat tampan dengan pakaian yang begitu bagus, didampingi seseorang yang agak besar dan tampan pula sebagaimana lelaki pertama. Orang itu mengatakan:
“Adakah Anda tidak malu kepada Allah!”
Setelah itu dia berlalu begitu saja, namun untunglah aku sempat bertanya:
“Siapa Anda?”
“ Saya Muhammad Rasulullah dan ini nabi Ibrahim moyangku,” jawabnya.
Dengan gemetaran aku mengatakan:
“Bagaimana aku tidak mempunyai rasa malu, dari konsekuensi rasa malu itu telah banyak sekali shalat sunnah yang aku kerjakan wahai Rasulullah,” jawabku berusaha membela diri.
“Telah mati seorang kekasih Allah di mana kamu tidak memberi kafan sebaik-baiknya,” jawab Rasulullah.
Setelah keesokan harinya, segera saja kuburnya itu aku gali kembali dan aku tambah kafan yang lebih baik dan aku shalatkan lagi kemudian aku kuburkan sebagaimana semula.
Abul Qasim Al-Hakim ditanya:
“Lebih baik mana antara orang yang berbuat maksiat kemudian bertaubat dari segala kemaksiatannya, ataukah orang kafir yang masuk Islam dengan melepaskan segala bentuk budaya kafirnya?”
Beliau menjawab:
“Orang yang bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan akan tetap lebih utama, karena orang kafir itu sebelum memeluk Islam akan merupakan orang lain, dia tidak pernah mengenal Tuhan Yang Esa. Sebaliknya orang yang berbuat maksiat itu tetap mengenal Tuhan sebagai sesembahannya. Dengan demikian orang kafir yang memeluk Islam itu hanya berpindah dari orang lain kepada orang arif yaitu mereka yang mengenal Tuhan. Namun orang yang berlaku maksiat itu ketika telah bertaubat akan berpindah dari orang arif kepada sang kekasih atau dapat disebut ahbab sebagaimana firman Allah:
“Allah sangat menyintai mereka yang bertaubat.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar