Senin, 04 Januari 2010

Pelajaran dari Seorang Tawanan

Seorang laki-laki datang dengan keadaan terbelenggu. Ia adalah tawanan yang dijadikan budak oleh Uqbah bin AI Harits bin Amir, seorang kafir Quraisy. Uqbah membawa tawanan itu ke rumah saudarinya, Mawiyah. Wanita itu tidak pernah menyangka bahwa kehadiran tawanan itu di rumahnya kelak akan membawanya pada keimanan.
Tawanan itu adalah Khubaib bin Adi, seorang Muslim yang sangat taat pada Allah dan Rasulullah. Pria ini ditangkap oleh kaum musyrikin Quraisy saat menjalankan perintah Rasulullah untuk memata-matai kota Mekkah. Khubaib berangkat bersama 9 orang sahabat lainnya. Pergerakan pasukan mata-mata ini diketahui oleh kaum kafir Quraisy, yang segera mengirim seratus pemanah ulung untuk menangkap pasukan itu. Pertempuran terjadi di sebuah bukit di luar kota Mekkah. Delapan orang pasukan Muslim syahid clan 2 orang menjadi tawanan.
Selama menjadi tawanan di rumahnya, Mawiyah terus mengamati perilaku Khubaib. Semakin ia mengamati, semakin tampak olehnya, betapa Khubaib bin Adi memiliki kemuliaan akhlak dan keindahan ibadahnya. Sikap itu perlahan menyadarkan Mawiyah tentang kebenaran ajaran Islam. Malam hari, ia bersama para wanita yang lain menyaksikan Khubaib melaksanakan shalat tahajud dan mendengarkan bacaan Al-Quran yang dilantunkannya. Hati Mawiyah dan wanita-wanita itu tersentuh, mereka meneteskan air mata demi mendengar keindahan dan kebenaran bacaan yang di kumandangkan oleh Khubaib dalam shalatnya itu.
Keterpesonaan Mawiyah semakin menjadi saat peristiwa ajaib terjadi di hadapannya. Mawiyah melihat di tangan Khubaib ada setangkai besar anggur yang ranum. Padahal di kota Mekkah tak ada anggur yang tumbuh.
“Itu pasti anggur pemberian Allah," ucapnya dalam hati.
Setiap hari, ada saja peristiwa yang membuat Mawiyah semakin yakin akan kebenaran dan kemuliaan ajaran Islam.
Suatu ketika, Mawiyah mengabarkan kepada Khubaib bahwa dirinya akan dibunuh pada akhir bulan suci. Berita itu tidak membuat Khubaib cemas, ia tetap tenang dan terlihat ketawakalannya kepada Allah. Ia hanya minta satu hal pada Mawiyah.
"Berikan kepadaku sesuatu yang dapat aku gunakan untuk bercukur." Mawiyah memenuhi permintaan Hubaib. Ia mengutus anak angkatnya, Abu Husain, untuk memberikan sebilah pisau cukur kepada Khubaib. Mawiyah sedikit khawatir karena bisa saja Khubaib menggunakan pisau itu untuk melarikan diri atau membalas dendam. Namun kepercayaannya pada Khubaib yang telah tumbuh selama ini, membuat Mawiyah tenang. Didengarnya Khubaib berkata kepada anak angkatnya itu:
"Tidakkah ibumu khawatir akan tipuanku?"
Mawiyah yang mendengar perkataan Khubaib kemudian berkata:
"Khubaib, aku mempercayaimu dengan penjagaan Allah, sehiongga aku memberikan alat itu kepadamu. Aku yakin bahwa pisau itu tidak akan engkau pergunakan untuk membunuh anakku."
Khubaib pun segera menyambung:
"Aku tidak akan membunuhnya, tipuan tidak diperbolehkan dalam agama kami.
Mndengar jawaban ini, Mawiyah semakin merasakan keagungan dan kebenaran agama yang dianut oleh Khubaib. Akhirnya Khubaib pun syahid dibunuh kafir Quraisy. Namun ketinggian akhlak dan ketaatannya pada Allah dan Rasul tetap membekas dalam diri Mawiyah, sehingga selang beberapa waktu setelah kematian Khubaib, Mawiyah pun memeluk Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar