Senin, 04 Januari 2010

Pertolongan Sang Femimpin

Sesosok bayangan tampak melewati rumah-rumah penduduk. Ia adalah seoang laki-laki yang tengah berjalan seorang diri di kegelapan malam. Saat itu malam gelap gulita, hanya sinar bintang di langit yang mengiringi langkah kakinya. Namun ia tetap bersemangat menapaki malam. Padahal, tidur mungkin hal yang paling nikmat untuk dilakukan orang saat itu. Tetapi, kenapa laki-laki itu lebih memilih berkeliling pada malam hari. Siapakah dia?
Dia adalah Umar Bin Khathab, Amirul Mukminin, pemimpin negara, saat itu. Bagi kebanyakan orang mungkin aneh bila ada seorang pemimpin negara yang berjalan seorang diri. Di malam hari pula! Tetapi, begitulah Umar. Ia memang seorang pemimpin yang adil dan shaleh. Ia begitu takut akan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Sang Hakim Agung, Allah SWT. Karena itu, Umar ingin mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung. Dan bagi Umar, malam adalah waktu yang tepat untuk mengetahui keadaan rakyat yang sesungguhnya.
Umar berjalan mengitari setiap sudut kota. Matanya awas mengamati keadaan di sekelilingnya. Sampai suatu ketika, telinganya yang tajam mendengar suara rintihan. Umar bergegas mencari sumber suara itu, yang ternyata berasal dari sebuah gubuk. Di sana dilihatnya seorang laki-laki Badui sedang duduk dengan wajah diliputi kebingungan. Apa yang tedadi? tanya Umar dalam hati.
Suara rintihan tiba-tiba terdengar lagi dari dalam gubuk tadi. Rupanya itu adalah rintihan seorang wanita yang akan melahirkan. Kini tahulah Umar, laki-laki itu adalah suami dari wanita di dalam gubuk. Ia kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat sendirian menghadapi istrinya yang akan melahirkan. Apalagi mereka berdua hanyalah musafir yang tengah beristirahat di tengah perjalanan.
Umar bergegas pulang dan menemui istrinya, Ummi Kaltsum bin Abi Thalib seraya mengatakan:
"Ada kesempatan pahala dari Allah bagi kita! Maukah engkau meraihnya?" tanya Umar.
"Tentu saja!" jawab Ummi Kaltsum senang.

"Seorang musafir perempuan akan melahirkan. Dan tak seorangpun yang menolongnya!" kata Umar menjelaskan.
"Saya bersedia menolongnya,” ujar istrinya.
Mereka pun segera menyiapkan perbekalan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk wanita yang akan melahirkan, termasuk makanan dan pakaian. Dan setelah semuanya siap, Umar dan isterinya pun berangkat. Tanpa mencari seorang pembantu, Umar memikul sendiri segala barang yang ada di bahunya, termasuk sebuah periuk untuk memasak.
Sesampainya di gubuk tadi, Ummi Kaltsum segera masuk untuk menolong wanita yang akan melahirkan itu. Sementara Umar, langsung memasang tungku dan memasak makanan. Umar sendiri, sang pemimpin itu, memasak makanan untuk rakyatnya!
Lelaki Badui yang semula kebingungan, kini memperhatikan dengan seksama segala yang dilakukan laki-laki yang tak dikenalnya itu. Rasa heran bercampur syukur seketika memenuhi relung hatinya. Wajahnya kelihatan gembira dan bahagia.
"Ah, laki-laki ini lebih pantas menjadi khalifah dibanding Umar bin Khattab' katanya dalam hati.
Tak lama kemudian, terdengar tangis bayi dari dalam gubuk. Rupanya, sang ibu telah melahirkan dengan selamat. Dan terdengar jelas suara Ummi Kaitsum mengatakan:
"Wahai Amirul Mu'minin! Sampaikan berita gembira pada sahabatmu itu. Ia telah dianugerahi anak laki-laki.”
Mendengar ucapan itu, laki-laki musafir tadi sangat kaget. Ia mundur beberapa langkah karena malu. Tak diduganya bahwa laki-laki yang berada di hadapannya ternyata Khalifah, Sang Pemimpin. Dengan tergagap dicobanya menyebut nama Sang Khalifah. Namun rasa galau di hatinya, bercampur dengan kebahagiaan, takjub dan bingung, membuat bibimya tak sanggup digerakkan dengan sempurna.
Apa yang dialami laki-laki itu tentu saja tak luput dari penglihatan Umar. Maka ia pun mengisyaratkan pada sang lelaki agar tetap tenang dan tidak usah merasa khawatir. Lalu Umar membawa makanan yang sudah matang dalam periuk ke pintu gubuk.
"Wahai Ummi Kaltsum," panggil Umar "Berikan makanan ini kepada sang Ibu!"
Setelah sang ibu merasa kenyang, Umar lantas memberikan makanan dalam periuk itu kepada orang Badui serya mengatakan:
"Makanlah! Anda tentu lelah dan lapar," kata Umar pula.
Setelah semuanya beres, Umar dan istrinyapun pergi. Sebelum pergi ia me nyempatkan diri berkata kepada sang musafir:
"Jika hari telah pagi, datanglah kepada saya di Kota Madinah. Saya akan memberi Anda dengan uang dari Baitul Mal untuk bekal bagi Anda dan untuk bayi Anda sebagai haknya ... !"
Subhanallah..., betapa bersyukumya laki-laki Badui itu. Allah telah memberinya seorang pemimpin yang sangat bijaksana.
"Semoga Allah meridhaimu wahai pemimpin!"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar