Senin, 04 Januari 2010

Lima Syarat Berbuat Maksiat

Di suatu masa hiduplah seorang lelaki yang zalim dan suka melakukan kemaksiatan. Bertahun-tahun ia hidup bergelimang dosa, sampai suatu ketika ia mulai berpikir akan nasibnya. "Bagaimana kalau aku meninggal nanti? Apa yang dapat kupertanggungjawabkan di hadapan Allah?
Tak lama lelaki itu mulai berpikir untuk bertobat, tetapi hatinya masih diliputi keraguraguan. Sebab, berbuat dosa sudah menjadi kebiasaannya. Di tengah kebimbangan itu, menghadaplah ia pada Ibrahim bin Adham, seorang ulama di daerahnya. Ibrahim adalah ulama yang luas ilmunya dan dalam pemahamannya. Ia dikenal juga dengan sebutan Abu Ishaq.
“Wahai Abu Ishaq," sapa sang lelaki, “Aku adalah seorang laki-laki yang telah banyak berbuat dosa dan kemaksiatan. Cobalah nasehati aku agar aku bisa mendapat keselamatan."
Ibrahim menatap lelaki di hadapannya. Ia tahu bahwa lelaki ini tengah bimbang. Ia ingin bertobat tetapi belum mampu menghindari diri dari perbuatan maksiat yang telah menjadi kebiasaannya.
"Begini saja wahai saudaraku," nasehat Ibrahim dengan lembut, "Ada lima perkara yang harus engkau ikuti bila engkau ingin agar perbuatan maksiatmu tidak menghancurkanmu."
"Apakah lima perkara itu?" tanya sang lelaki heran.
“Pertama, jika engkau ingin berbuat maksiat, maka janganlah engkau makan dari rezeki-Nya."
Lelaki itu terdiam dan menjawab.
“Lho, bagaimana mungkin? Bukankah semua yang ada di bumi ini adalah rezeki dari-Nya?" Ibrahim tersenyum. "Nah, bagaimana mungkin engkau terus mengambil rezeki dari-Nya sementara engkau juga berbuat durhaka pada-Nya?"
Lelaki itu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan pertanyaannya:
“Apa perkara kedua?"
"Janganlah menempati negeri-Nya bila ngin berbuat maksiat." kata Ibrahim.
"Tetapi, di mana lagi aku akan tinggal? Bukankah semua tempat di seluruh jagat, baik di barat maupun di timur adalah negeri-Nya?"jawab sang lelaki.
"Jadi, apakah pantas bagimu mengambil rezeki dari-Nya, mendiami bumi milik-Nya tetapi engkau terus saja berbuat durhaka kepada-Nya?" sahut Ibrahim.
“Ya mmang amt tidak pantas,” sahut lelaki itu..
“Baiklah, apa perkara yang ketiga?"tanya lelaki itu pula.
Bila engkau ingin berbuat maksiat di negeri-Nya dengan terus mengambil rezeki dari-Nya, maka lakukanlah di suatu tempat yang terjauh dari pandangan-Nya," kata Ibrahim lagi.
Lelaki itu terperangah seraya mengatakan:
"Wahai Abu Ishaq, di mana pula ada tempat seperti itu. Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati manusia?”
Ibrahim menjawab pula dengan lembut:
"Jadi, saudaraku, bagaimana mungkin engkau memakan rezeki-Nya, mendiami negeri-Nya, lalu berbuat durhaka kepada-Nya. Sementara Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala perbuatan dan niat manusia?"
Lelaki itu mengangguk-angguk. Baiklah Abu Ishaq, apa yang keempat?"
"Apabila datang malaikat maut padamu, katakan padanya: tunggu dulu, beri tangguh sebentar padamu agar kamu sempat bertobat dan beramal saleh," kata Ibrahim.
"Ah, tentu saja malaikat maut tidak akan menuruti permintaanku," ujar sang lelaki.
“Nah, kalau engkau tahu bahwa engkau tidak dapat menangguhkan datangnya maut untuk bertobat, bagaimana engkau bisa berharap selamat dari perbuatan durhaka kepada-Nya?" sahut Ibrahim.
"Engkau benar," kata lelaki itu. "Teruskan, apa perkara yang kelima." Sambung lelaki itu seakan kehausan.
Ibrahim menatap sang lelaki lekat-lekat lalu berkata:
"Bila nanti malaikat Zabaniyah telah datang di hari kiamat untuk membawamu masuk ke dalam neraka, janganlah kamu turuti keinginannya."
“Wahai Abu Ishaq, tentu saja malaikat itu tidak akan membiarkan diriku berbuat begitu."
"Nah saudaraku, dengan mengetahui semua ini, bagaimana engkau bisa berharap dapat selamat bila terus berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah?"
Sang lelaki menegakkan wajahnya dan tersenyum puas.
“Abu Ishaq, aku puas dengan nasehatmu. Engkau saksikan kini bahwa aku bertobat kepada Allah dan akan meninggalkan kemaksiatan untuk selama-lamanya."
Ibrahim bin Adham tak dapat menahan keharuannya mendengar persaksian tobat lelaki yang sebelumnya dikenal sebagai orang yang zalim dan suka berbuat maksiat. Dan sampai akhir hidupnya, sang lelaki itu menjadi orang yang saleh dan tak pernah lagi durhaka kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar