Sabtu, 02 Januari 2010

Sebatan Guru yang Mengesankan

Kisra merupakan gelar raja-raja Parsi sebelum kekuasaan mereka dilibas tentara Muslim. Sebagaimana Firaun adalah gelar raja-raja Mesir, sehingga ada Firaun Amenhothep, Tutankhamon, Ramses, dan Firaun Akhenathon, sebagaimana ada kisra Anusyirwan, kisra Yazdajird dan lainnya.
Dikisahkan bahwa ketika seorang Kisra berkuasa, Baginda memilih seorang guru yang begitu terkenal untuk mendidik seorang putra mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukannya setelah wafat. Guru itu pun segera datang dan melaksanakan tugas yang dibebankan kepada dirinya dengan sebaik-baiknya, mengingat yang di didik merupakan putra orang nomor satu di Persia dan yang akan memegang tampuk kerajaan kelak di kemudian hari. Setelah beberapa tahun berlangsung, akhirnya pendidikan yang diberikan kepada putra mahkota itu tampak berhasil memuaskan.
Pada suatu hari anak tersebut dipanggil oleh sang guru untuk datang di rumahnya, namun anehnya baru saja datang, putra kerajaan satu-satunya itu langsung disebat dengan cemethi begitu rupa sehingga merasakan sakit yang luar biasa. Padahal selama ini ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Segala kewajibannya sebagai seorang murid, ia penuhi dengan sebaik-baiknya. Tak pelak lagi putra mahkota itu pun berpikir panjang dan menggerutu tak habis-habisnya. Hal ini berlangsung sampai ayahandanya mangkat, yang kemudian langsung digantikan dirinya. Peristiwa penyebatan ini betul-betul menjadi ganjalan pikirannya, kendati ia telah memegang tampuk kekuasaan. Bukan karena rasa sakitnya, namun apa maksud sang guru bertindak sedemikian rupa di mana sampai kini ia belum bisa menyingkap rahasianya.
Untuk menghilangkan kekalutannya itu, pada suatu hari ia memanggil sang guru dengan penuh hormat. Dan setelah sampai di kerajaan dan terjadi perbincangan yang begitu hangat, maka di sela-sela itu, ia menanyakan maksud sebatan yang dilakukan sang guru dulu ketika ia masih belajar. Maka guru itu pun mengatakan:
“Sadarilah olehmu wahai Baginda, setelah Baginda mendapatkan ilmu pengetahuan yang begitu tinggi, aku menyadari bahwa sebentar lagi Baginda akan memegang tampuk kekuasaan setelah ayahanda Baginda mangkat, maka sebatan yang aku lakukan dulu tidak lain bermaksud agar Baginda merasakan sakitnya siksaan atau sebuah tindakan yang zalim, di mana aku harapkan dari tindakan itu Baginda tidak akan berbuat zalim dan berlaku sewenang-wenang kepada orang lain, sebagaimana tindakanku dulu, sehingga kerajaan ini bersih dari segala penyelewengan. Tiada lain kekuasaan merupakan sebuah amanah yang harus di laksanakan dengan sebaik-baiknya. Begitu maksud tindakanku dulu Baginda!”
Mendengar keterangan seperti ini, Baginda betul-betul berterima kasih, tidak lupa memohon doa restu dari gurunya, kiranya diri Baginda dapat menjalankan roda pemerintahan itu dengan sebaik-baiknya. Tiada lupa memberikan beberapa bingkisan sebagai hadiah kepada sang guru yang telah berpayah-payah mendidik sehingga menjadi manusia yang penuh arti dalam menghadapi kehidupan dunia ini.
Begitu Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitsami menuturkan dalam Az-Zawajir ‘an Iqtiraafil Kabair

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar