Minggu, 03 Januari 2010

Sedekah Keluarga Ali

Fathimah sudah menjalani hidup yang penuh kesulitan dan cobaan. Pada saat itu dakwah tengah dihadang tekanan kaum kafir Quraisy yang tidak hanya menyakiti hati namun juga secara terang-terangan menyiksa fisik Nabi dan umat Islam.
Fathimahlah satu-satunya anak yang belum menikah dan karena itu sangat dekat dengan kedua orangtuanya. Fathimah ikut menjalani masa pemboikotan yang memunculkan penderitaan dan kelaparan yang belum tuntas semua itu dijalani, sang bunda, Khadijah pun meninggal dunia.
Kepergian Khadijah menjadikan hubungan Fathimah dan ayahnya, Rasulullah Saw semakin erat. Fathimahlah yang mengurusi ayahnya hingga dia dikenal dengan julukan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Beban dakwah yang dulu disharing Rasulullah pada Khadijah dengan sepenuh ketulusan kini diambil alih oleh Fathimah.
Penderitaan kaum muslimin berkurang ketika mereka hijrah ke Madinah. Di sini Rasulullah menikah dengan Aisyah dan Fathimah pun tak lagi banyak mengurusi ayahnya. Apalagi tak lama kemudian, Ali melamarnya dan Fathimah pun pindah ke rumah suaminya. Namun kedekatan hubungan mereka masih begitu erat sehingga Rasulullah tak pernah lupa untuk memeluk dan mencium putrinya ini setiap kali Fathimah menemuinya.
Sebagai anak dari pemimpin umat, nabi yang ditaati dan panglima perang yang seringkali memperoleh banyak rampasan perang, Fathimah justru dididik untuk memikirkan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
Ketika suatu kali, Ali yang tak mampu mengupah seorang pembantu namun sungguh tak tega melihat Fathimah terkelupas kulit tangannya karena menggiling gandum. Akhirnya Ali mengajak Fathimah menghadap Rasulullah untuk meminta satu saja tawanan untuk menjadi pembantu mereka, Rasulullah menjawab:
"Demi Allah, aku tidak akan memberikannya kepada kalian sementara orang-orang miskin banyak yang lapar. Maka aku akan menjual tawanan itu dan uangnya untuk mereka."
Sejak itu, Fathimah pun menjalani hidupnya dalam kondisi sebagaimana yang diajarkan ayahnya, dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri dan keluarganya sendiri.
Suatu Kali, Hasan dan Hussein - kedua cucu kembar Rasulullah dari pernikahan putri bungsunya Fathimah Binti Muhammad dengan Ali Bin Abi Tholib - sakit keras. Kondisi Hasan dan Hussein tersebut sangat mengenaskan. Saat Rasulullah datang menjenguknya, Umar yang ikut bersama Rasulullah memberi saran kepada Fathimah dan Ali untuk berpuasa nazar.
"Berpuasa nazarlah untuk kedua anakmu, insya Allah Allah berkenan menyembuhkan penyakitnya." Saran Umar.
"Insya Allah aku akan berpuasa nazar selama tiga hari sebagai rasa syukurku kepada Allah," sambut Ali segera.
"Aku juga akan berpuasa nazar sebagai syukurku," timpal Fathimah
"Kami juga..." Hasan dan Hussein masih terbaring sakit, tak mau kalah.
Beberapa hari kemudian, Hasan Hussein sembuh dari penyakitnya. Sesuai mereka kepada Allah, Fathimah, Ali, Hasan Hussein pun melaksanakan puasa nazar dengan penuh keikhlasan.
Sebenarnya, saat berpuasa itu Fathimah dan Ali sama sekali tidak mempunyai makanan sehingga tak ada yang dapat mereka makan saat berbuka puasa nanti. Karena itulah, maka Ali segera keluar rumah. Ia pergi ke rumah seorang kenalannya yang bernama Syam'un. Syam'un adalah seorang pengusaha tenun bulu domba. Ali berharap, ada pekerjaan yang didapatnya di sana.
"Apakah ada pekerjaan untukku wahai Syam'un?" tanya Ali.
"Ya, ada. Banyak bulu domba yang belum dipintal," Jawab Syam'un.
"Dapatkah engkau memberi tiga takar gandum sebagai upahnya?" tanya Ali. Ia berharap, gandum itu dapat digunakan untuk berbuka puasa bagi keluarganya.
"Baiklah. Engkau dapat membawanya sekarang," jawab Syam'un lagi.
Ali pun segera membawa sebagian bulu domba yang akan dipintal beserta tiga takar gandum sebagai upahnya.
Sesampainya di rumah, Ali menceritakan tentang pekerjaan yang ia dapat. Mendengar hal itu, Fathimah sangat gembira. Dengan sungguh sungguh, Fathimah memintal bulu-bulu domba. Saat sepertiga bagian bulu domba itu selesai ia pintal, Fathimah mengambil satu takar gandum sebagai upahnya. Ia segera memasaknya untuk makanan berbuka.
Maghribpun tiba, selesai melakukan shalat maghrib, Ali dan keluarganya segera bersiap berbuka puasa. Namun, baru saja makanan itu akan masuk ke mulut mereka tiba-tiba datang ke rumah mereka seorang miskin yang terlihat sangat kelaparan. Fathimah segera memberikan makanan itu untuk orang miskin itu. Kini tak ada lagi makanan di rumah mereka. Akhirnya mereka berbuka hanya dengan segelas air. Demikian pula saat sahur tiba, segelas air minum saja yang masuk ke perut keluarga bersahaja itu.
Esok harinya, kembali Fathimah melanjutkan aekerjaannya memintal bulu domba. Setelah sepertiga bagian selesai ia kerjakan, kembali Ali mengambil satu takar gandum untuk dimasaknya. Dan saat berbuka tiba, kembali mereka didatangi seseorang. Kali ini seorang anak yatim yang kelaparan. Melihat kondisi anak .atim itu, Fathimah sangat kasihan. Iapun memberikan makanan itu kepada sang yatim. Anak itu sangat berterima kasih dengan budi baik Fathimah. Kembali mereka berbuka dengan segelas air putih.
Dan keesokan harinya, dengan penuh kesungguhan kembali Fathimah memintal bulu domba yang tinggal sepertiga lagi. Akhirnya pekerjaannya memintal bulu domba selesai sudah, hingga gandum yang masih tersisapun dimasaknya. Ia berharap, makanan yang dimasaknya kali ini dapat mengganjal perut anak dan suaminya yang sudah sangat kelaparan. Namun, tampaknya harapan Fathimah masih terus diuji Allah. Seorang tawanan yang sudah berhari-hari tidak makan, datang ke rumahnya dalam keadaan sangat kelaparan. Makanan itupun kembali diberikan Fathimah untuknya. Fathimah hanya menaruh harapannya kepada Allah, semoga Allah menolong kedua anaknya yang kelaparan.
Esoknya, Ali membawa kedua anaknya menghadap Rasulullah. Keadaan Hasan dan Hussein sangat memprihatinkan, badan mereka gemetar menahan lapar. Melihat keadaan kedua cucunya, Rasulullah sangat sedih. Diajaknya mereka menemui Fathimah yang keadaannya sama saja dengan kedua anaknya. Dipeluknya mereka dengan penuh rasa haru, dari bibirnya yang mulia terucap sebuah do'a, "Ya Allah..., tolonglah keluargaku ini..."
Do'a Nabi Muhammad memang selalu dikabulkan Allah. Allah berkenan menolong keluarga beliau. Amal kebajikan mereka karena mendahulukan kepentingan orang lain, diterima Allah dengan penuh keridhaan-Nya. Ayat Allahpun turun mengenai mereka. Sebuah ayat dalam Al-Qur-an surat Ad-Dhahr ayat 1-9 yang berbunyi:
"Mereka telah memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan, semata-mata mengharap keridhaan Allah"
Subhanallah!, suatu hadiah yang tak ternilai, yakni kebajikan mereka terus tertulis sepanjang zaman, dalam ayat-ayat Al-Qur-an. Pengorbanan Fathimah dan keluarganya memang luar biasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar