Minggu, 03 Januari 2010

Kesabaran yang Teruji

Sebelum Siti Hajar menikah dengan nabi Ibrahim As. ia adalah khadimat (pesuruh) pada keluarga Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Melihat Siti Hajar memiliki perilaku dan budi pekerti yang luhur, Siti Sarah yang belum juga memiliki seorang anak, merelakan suaminya menikahi Siti Hajar. Pasca pernikahan ini, setelah menunggu berpuluh tahun, keinginan keluarga Nabi Ibrahim untuk memiliki generasi penerus dikabulkan Allah SWT, dengan kelahiran Ismail dari rahim Siti Hajar. Tetapi, baru saja beberapa saat berbahagia sebagai ayah, datang perintah Allah pada Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail pergi meninggalkan Palestina.
Di bawah sinar matahari yang sangat terik, sampailah keluarga kecil itu di sebuah lembah yang tandus. Dengan menguatkan hati, nabi Nabi ibrahim menurunkan istri dan anaknya dari kendaraan dan berjalan meninggalkan mereka. Melihat suami tercinta pergi tanpa mengajaknya, Siti Hajar bergegas fnienyusul.
"Wahai suamiku, akan ke mana engkau pergi? Mengapa tak mengajak kami serta?" rajuknya.
Mendapat pertanyaan ini Nabi ibrahim tak membuka suara dan tetap rneneruskan langkahnya.
"Apa dosa kami, Tegakah kau tinggalkan kami di tempat yang gersang dan tak berpenghuni ini?" suara Siti Hajar semakin menghiba.
Meski tak tega, Nabi ibrahim menetapkan langkahnya. Melihat Siti Hajar terus mengejarnya, Nabi ibrahim berhenti dan menjawab:
"Sesungguhnya semua yang aku lakukan adalah perintah Allah:"
Mendengar perkataan suami tercinta, Siti Hajar terdiam.
"Kalau begitu, pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” jawab Siti Hajar mantap.
Sebelum nabi Nabi ibrahim pergi, Siti Hajar memohon kepadanya untuk berdo'a demi keselamatan dirinya dan Ismail. Maka berdo'alah nabi Nabi ibrahim:
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau, ya Rabb kami, teguhkanlah hati mereka dengan mendirikan shalat, jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Tetapi ujian dari Allah belumlah usai. Setelah bekal makanan dan minuman habis sedangkan air susunya pun kering, tangis keras si kecil Ismail yang kehausan dan kelaparan membuat Siti Hajar kebingungan. Ia berusaha keras mencari sumber air ke sana ke mari untuk menghilangkan dahaga buah hatinya. Fatamorgana padang pasir membuatnya bolak-balik antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi air tak ditemuinya. Hatinya mulai kecut, terlebih mendengar tangis Ismail yang semakin menjadi. Ketika hatinya sudah pasrah pada ketentuan Allah, sekonyong-konyong memancarlah air dari sela-sela jemari kaki anaknya. Siti Hajar segera berlari menuju Ismail. Akhirnya Siti Hajar dan Ismail bisa menghilangkan dahaga dan mampu bertahan hidup. Dan lama-kelaman daerah itu menjadi ramai dikunjungi berbagai suku dan berkembang menjadi kota Makah.
Sejarah juga mencatat kesabaran Siti Hajar ketika harus merelakan Ismail menjadi korban dengan cara disembelih ayahnya sendiri. Meski sempat tak rela, keimanannya yang tinggi pada Allah semakin terlihat ketika ia yakin bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari-Nya. Kesabarannya pun berbuah kebaikan, wahyu Allah yang turun berikutnya memerintahkan untuk mengganti Ismail dengan domba. Maka selamatlah Ismail dari kematian, dan kelurga yang taat dan penuh kesabaran itupun hidup bahagia sampai akhir hayatnya. Bahkan dari garis keturunan Ismail, bermunculanlah generasi-generasi terbaik umat manusia.






Kesabaran yang Teruji


Sebelum Siti Hajar menikah dengan nabi Ibrahim As. ia adalah khadimat (pesuruh) pada keluarga Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Melihat Siti Hajar memiliki perilaku dan budi pekerti yang luhur, Siti Sarah yang belum juga memiliki seorang anak, merelakan suaminya menikahi Siti Hajar. Pasca pernikahan ini, setelah menunggu berpuluh tahun, keinginan keluarga Nabi Ibrahim untuk memiliki generasi penerus dikabulkan Allah SWT, dengan kelahiran Ismail dari rahim Siti Hajar. Tetapi, baru saja beberapa saat berbahagia sebagai ayah, datang perintah Allah pada Ibrahim untuk membawa Hajar dan Ismail pergi meninggalkan Palestina.
Di bawah sinar matahari yang sangat terik, sampailah keluarga kecil itu di sebuah lembah yang tandus. Dengan menguatkan hati, nabi Nabi ibrahim menurunkan istri dan anaknya dari kendaraan dan berjalan meninggalkan mereka. Melihat suami tercinta pergi tanpa mengajaknya, Siti Hajar bergegas fnienyusul.
"Wahai suamiku, akan ke mana engkau pergi? Mengapa tak mengajak kami serta?" rajuknya.
Mendapat pertanyaan ini Nabi ibrahim tak membuka suara dan tetap rneneruskan langkahnya.
"Apa dosa kami, Tegakah kau tinggalkan kami di tempat yang gersang dan tak berpenghuni ini?" suara Siti Hajar semakin menghiba.
Meski tak tega, Nabi ibrahim menetapkan langkahnya. Melihat Siti Hajar terus mengejarnya, Nabi ibrahim berhenti dan menjawab:
"Sesungguhnya semua yang aku lakukan adalah perintah Allah:"
Mendengar perkataan suami tercinta, Siti Hajar terdiam.
"Kalau begitu, pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” jawab Siti Hajar mantap.
Sebelum nabi Nabi ibrahim pergi, Siti Hajar memohon kepadanya untuk berdo'a demi keselamatan dirinya dan Ismail. Maka berdo'alah nabi Nabi ibrahim:
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau, ya Rabb kami, teguhkanlah hati mereka dengan mendirikan shalat, jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Tetapi ujian dari Allah belumlah usai. Setelah bekal makanan dan minuman habis sedangkan air susunya pun kering, tangis keras si kecil Ismail yang kehausan dan kelaparan membuat Siti Hajar kebingungan. Ia berusaha keras mencari sumber air ke sana ke mari untuk menghilangkan dahaga buah hatinya. Fatamorgana padang pasir membuatnya bolak-balik antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi air tak ditemuinya. Hatinya mulai kecut, terlebih mendengar tangis Ismail yang semakin menjadi. Ketika hatinya sudah pasrah pada ketentuan Allah, sekonyong-konyong memancarlah air dari sela-sela jemari kaki anaknya. Siti Hajar segera berlari menuju Ismail. Akhirnya Siti Hajar dan Ismail bisa menghilangkan dahaga dan mampu bertahan hidup. Dan lama-kelaman daerah itu menjadi ramai dikunjungi berbagai suku dan berkembang menjadi kota Makah.
Sejarah juga mencatat kesabaran Siti Hajar ketika harus merelakan Ismail menjadi korban dengan cara disembelih ayahnya sendiri. Meski sempat tak rela, keimanannya yang tinggi pada Allah semakin terlihat ketika ia yakin bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari-Nya. Kesabarannya pun berbuah kebaikan, wahyu Allah yang turun berikutnya memerintahkan untuk mengganti Ismail dengan domba. Maka selamatlah Ismail dari kematian, dan kelurga yang taat dan penuh kesabaran itupun hidup bahagia sampai akhir hayatnya. Bahkan dari garis keturunan Ismail, bermunculanlah generasi-generasi terbaik umat manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar