Sabtu, 02 Januari 2010

Semuanya Terserah Allah

Seseorang yang telah mencapai martabat begitu tinggi di sisi Allah maka ketika bangun pagi hatinya akan mengatakan:
“Apa yang akan diperbuat Allah terhadapku hari ini.”
Dalam arti dia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada ketentuan Allah. Akan lain dengan hati orang kebanyakan, pada lazimnya ketika bangun pagi, dia akan mengatakan:
“Apa yang saya perbuat hari ini.”
Sikap seperti ini tiada lain karena merasa dirinyalah yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Berlawanan sekali dengan hati seorang sufi yang begitu bersih dari segala keruwetan hidup dan akan selalu menurut kepada kehendak Allah, terserah Dia, baik dimuliakan atau dihinakan, sebagaimana apa yang dituturkan oleh Abdur Rahmnan Ash-Shaqli yang terkenal dengan sebutan Abul Qasim.
Pada suatu hari aku berjumpa dengan seorang lelaki di padang pasir Maraj Ad-Dibaji dengan tidak membawa bekal apapun. Lantas dia aku dekati seraya aku ucapkan salam padanya lalu aku tanya:
“Tuan, bolehkah saya bertanya, hendak ke mana kiranya tuan pergi?”
“Aku tidak tahu,” jawab lelaki itu membingungkan.
“Aneh, kenapa masih ada seseorang yang pergi menuju suatu tempat, namun ketika ditanya, jawabannya “tidak tahu,” sergah Abul Qasim.
“Begini, skeptis itu karena pengalamanku sendiri, di mana pada suatu saat aku mau pergi ke Makah, namun tiba-tiba saja aku terdampar sampai di Tharsus. Dan pernah juga aku bermaksud ke Tharsus namun terbukti aku terdampar sampai Abadan. Sekarang ini aku berniat ke Makah, tetapi tidak yakin apakah aku bisa sampai di sana,” jawab lelaki itu panjang lebar.
“Mengapa tuan bersikap paserah seperti ini?” tanya Abul Qasim meminta keterangan lebih lanjut.
“Itu semua memang telah berdasar pengalamanku yang jelas-jelas kurasakan selama ini, dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman yang lain,” sambung si sufi.
“Bagaimana tuan mendapatkan makanan?” tanya Abul Qasim lagi.
“Aku tidak mengerti pula,” jawab si sufi seraya menggelengkan kepala.
“Ceritakanlah sedikit pengalaman tuan kepadaku mengenai hal ini,” pinta Abul Qasim.
“Aku hanya memperturutkan kehendak Allah. Sekali waktu Dia menjadikan aku lapar dan sekali waktu aku diberi makan sampai kenyang. Kadang dimuliakan dan kadang dihinakan. Acapkali seolah-olah Dia mengatakan:
“Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih zuhud dari pada dirimu, namun sering pula mengatakan:
“Kamu itu pencuri.”
Sering pula Dia memberi tempat tidur yang mewah, rambutku pun mengkilap tersapu minyak dan mataku begitu berbinar dengan celak. Tetapi sering pula aku harus terusir dengan keras hingga hanya tidur di pekuburan,” tutur si sufi lagi.
“Semoga tuan bercucuran rahmat Allah. Siapa gerangan yang berbuat seperti itu?” tanya Abul Qasim.
“Allah Azza wa Jalla,” jawabnya singkat.
“Aku memerlukan penjelasan lebih lanjut,” desak Abul Qasim.
“Aku merupakan orang yang gemar mengembara di siang hari, dan jika malam telah tiba, perjalanan itu segera aku hentikan untuk bersiap-siap mencari tempat menginap di manapun ada tempat yang layak untuk maksudku itu. Ketika itulah kadang aku memasuki sebuah perkampungan. Acapkali penduduknya langsung menaruh curiga melihat tampangku dan banyak pula yang menuduhku sebagai pencuri yang harus segera diusir. Pernah pula aku memasuki masjid, segera saja pengurus masjid itu mengusirku seraya mengatakan:
“Pergi dari sini, ini bukan tempat untuk tidur.”
Dalam menanggapi ucapan seperti itu segera ku jawab:
“Ya, terima kasih.”
Selanjutnya aku harus pergi terbuang di pekuburan. Ketika esoknya aku pun singgah di suatu desa. Di saat penduduknya melihatku, mereka berbisik-bisik:
“Betapa mulia kita, sekarang ini desa kita dimasuki oleh seorang yang begitu terhormat, ahli zuhud dan banyak kebajikannya pula hingga mereka berebut menawarkan tempat singgah untukku. Biasanya setelah shalat isya’ akan ada beberapa orang yang mengajakku pergi ke rumahnya untuk memberiku jamuan dengan berbagai makanan yang lezat, minyak rambut dipersiapkan dan diriku betul-betul diperhatikan hingga tempat tidurku disiapkan begitu rupa. Pendeknya apa saja kebajikan yang mampu diperbuat, seakan dicurahkan seluruhnya padaku. Itulah sikap dan kondisiku menghadapi kehendak Allah.
“Kapan tuan kembali ke Baghdad?” tanya Abul Qasim dengan menjelaskan bahwa dirinya juga penduduk Baghdad seraya menjelaskan alamatnya.
“Aku tidak bisa memastikan,” jawab lelaki sufi itu.
Anehnya, ketika Abul Qasim telah kembali ke Baghdad, pada suatu hari pintu rumahnya diketuk seseorang, dan setelah dibuka ternyata lelaki sufi itu. Dalam kesempatan ini keduanya berbincang-bincang panjang lebar lagi.
“Bagaimana tindakan Allah terhadap tuan sekarang ini,” tanya Abul Qasim.
“Akhir-akhir ini aku sering dipukuli dengan parah. Aku dituduh pula oleh-Nya sebagai pencuri, lihat inilah punggungku memar bekas pukulan dan deraan cemeti,” kata lelaki itu.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya Abul Qasim.
“Pada suatu hari aku dibuat lapar yang dahsyat oleh-Nya. Ketika itu perjalananku telah sampai di pasar Abyar di sana berjajar keranjang mentimun yang di sampingnya berserakan mentimun busuk sebagian atau yang pahit terbuang begitu saja. Aku pun memunguti yang terbuang itu untuk aku makan dengan cara membuang yang busuk. Tetapi sialnya, ketika itu si pemilik datang seraya mengatakan:
“Ini malingnya, tertangkap kamu sekarang. Sebenarnya telah lama kau aku intai namun baru kali ini kau tertangkap basah, rasakan ini.”
Pemilik itu pun memukuli pinggang saya dengan cemeti sampai puas. Anehnya ketika itu tiba-tiba saja datang seorang penunggang kuda. Begitu turun, dia langsung memukuli pemilik mentimun itu seraya mengatakan:
“Ngawur kau, itu seorang sufi, ahli zuhud pula.”
Menyaksikan peristiwa itu aku hanya terbengong-bengong, betapa begitu cepat antara tuduhan sebagai pencuri dan penghormatan terhadap ahli sufi. Lucunya lagi si pemilik mentimun itu akhirnya mengajakku ke rumahnya. Dan setelah sampai di sana, aku dimuliakan begitu rupa kemudian dia meminta maaf sebesar-besarnya atas kekeliruan sikapnya itu. Setelah itu aku pun pergi menemui dirimu sekarang ini.


Setelah peristiwa itu, “kata Ubbad lagi” ,surat Ats-Tsauri selalu berada di sisi Baginda dan dibacanya setiap kali selesai menjalankan shalat maktubah sampai Baginda wafat di tahun, 193 H. atau 808 M.
Semoga amal-amal kebajikannya diterima Allah dengan mendapatkan balasan yang setimpal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar