Jumat, 01 Januari 2010

Srikandi Tentara Islam

Namanya Khaulah binti Azur, adik seorang anggota ABI (Angkatan Bersenjata Islam). Dan dia sendiri merupakan anggota barisan kavaleri dari para wanita yang menjadi tentara Islam. Namun sebelum kepribadiannya itu terbentuk, Dhirara, seorang kakaknya yang telah mendahului menjadi tentara Islam itu selalu bercerita mengenai berbagai kemenangan yang berhasil diraih oleh Tentara Islam dalam berbagai peperangan melawan musuh-musuh mereka.. Ketika mendengar cerita-cerita kakaknya ini, hati Khaulah seakan tak dapat ditahan untuk segera ikut ke medan perang, ikut bertempur di gelanggang pertempuran demi menegakkan kalimat Allah.
Pada suatu hari, ketika sang kakak sedang bersiap-siap untuk berangkat ke medan perang melawan pasukan Romawi, dengan langkah mantap, Khaulah segera mendekati sang kakak untuk menyampaikan keinginan hatinya. Dhirara segera menatap wajah adiknya itu. Ia segera menyadari mengenai keinginan keras dan kemantapan niat yang tergambar pada raut wajah sang adik. Demi menjunjung tinggi kalimat Allah, ia relakan sang adik ikut ke medan perang, kendati hatinya agak cemas akan keselamatan adik satu-satunya yang sangat dicintai itu.
Di medan pertempuran, Khaulah mendapat tugas bersama wanita-wanita lainnya sebagai juru rawat, mengatur urusan dapur umum dan sebagainya. Dengan penuh ketabahan, Khaulah melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya, kendati hatinya sebetulnya tidak merasa puas atas tugas yang dipikulkan ke pundaknya itu. Sebab keinginan yang dibawanya bukanlah untuk bertugas di garis belakang, namun ingin ikut di garis depan dengan pedang di tangan kanan dan perisai di tangan kiri, bertarung menyerang musuh dalam kecamuk perang.
Ketika tentara Isam terlibat pertempuran sengit di daerah Shahura, Khaulah dengan sejumlah wanita Islam lainnya mengalami nasib malang, tertawan musuh. Mereka lalu dibawa tentara Romawi ke suatu perkemahan khusus untuk menahan para tawanan wanita dengan penjagaan yang cukup ketat. Dalam kemah penampungan itu, Khaulah duduk termenung memikirkan nasib diri dan kawan-kawannya yang bersama-sama menjadi tawanan. Ia membenci dirinya sendiri, kenapa harus menjadi tawanan, padahal ia pergi ke medan perang itu untuk berperang, bukan untuk menjadi tawanan.
Namun tiba-tiba saja Khaulah bangkit dari duduknya. Di benaknya telah mengkristal sebuah rencana. Di luar kemah jumlah penjaganya hanya sedikit. Tambahan pula mereka hanyalah para prajurit yang lemah. Yang masih kuat telah kembali ke medan perang untuk menghadapi Tentara Islam. Dalam tahanan itu, Khaulah merencanakan adanya pemberontakan. Maka rencana itu segera disebarkan pada kawan-kawannya sehingga mereka pun menyepakati buah pikiran Khaulah itu.
Segera saja diatur sebuah siasat. Dan di bawah pimpinan Khaulah itu mereka mulai beraksi. Para wanita itu segera berlarian mencabuti tiang-tiang kemah untuk dijadikan senjata darurat melawan penjaga. Sebentar saja kemah penampungan wanita itu menjadi ribut. Para penjaga kalangkabut menahan serangan para tawanan dengan tiba-tiba. Oleh karena keteguhan hati dan keberaniannya, para pahlawan wanita itu berhasil merampas senjata para penjaga dan mendesak mereka sehingga buyar menyelamatkan diri masing-masing. Dan yang tak sempat menyelamatkan diri, terkapar di tanah oleh pedangnya sendiri.
Sekejap kemudian, para srikandi itu telah berloncatan ke punggung-punggung kuda musuh yang berada di sekitar perkemahan itu. Dengan dipimpin Khaulah pula mereka berderap maju ke medan tempur diiringi suara takbir yang membahana, menghantam musuh dari belakang.
Tentara Romawi yang tadinya merasa bahwa kemenangan akan segera diraih oleh mereka karena melihat pasukan Islam kacau balau, tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara takbir yang menggetarkan hati mereka. Keberanian dan mentalitas pasukan tentara Romawi langsung meluncur jatuh ketika menyaksikan para srikandi Islam menyerbu mereka dari belakang. Sementara itu di hadapan mereka didapatinya tentara Islam yang kini semangatnya kembali menyala-nyala setelah mendengar kumandang takbir dari pasukan wanita Islam. Tentara Romawi menjadi kacau balau. Mereka tidak mampu lagi menahan serangan tentara Islam dari muka dan dari belakang. Tentara Romawi kalangkabut tak berdaya. Kemudian mereka yang ingin selamat segera lari tunggang langgang, sementara yang tidak sempat menyelamatkan diri, nyawanya melayang atau menjadi tawanan Tentara Islam. Peperangan pun berakhir dengan kemenangan di pihak Tentara Islam.
Demikianlah kisah mengenai Khaulah, seorang pahlawan putri Tentara Islam dalam perang Muktah. Ia merupakan salah seorang wanita Islam pertama yang kepahlawanannya menjadi lambang abadi di hati semua wanita Islam ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar