Jumat, 01 Januari 2010

Takluknya Umar Bin Khathab

Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar agama berhala, maka kaum Muslimin menyembunyikan keimananannya. Apabila mereka akan melakukan salat, mereka pergi ke celah-celah gunung di Mekah. Keadaan serupa ini berjalan selama tiga tahun, sementara Islam tambah meluas juga di kalangan penduduk Mekah. Wahyu yang datang kepada Rasulullah Saw selama itu makin memperkuat iman kaum Muslimin.
Yang menambah pula dakwah itu berkembang sebenarnya karena teladan yang diberikan Rasulullah Saw sangat baik sekali, penuh bakti dan penuh kasih-sayang, sangat rendah hati dan penuh kejantanan, tutur-katanya lemah-lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan. Pandangannya terhadap orang yang lemah, terhadap piatu, orang yang sengsara dan miskin adalah pandangan seorang bapak yang penuh kasih, lemah-lembut dan mesra. Malam haripun dalam beliau bertahajud, malam beliau tidak cepat tidur, membaca wahyu yang disampaikan kepadanya, renungannya selalu tentang langit dan bumi, mencari pertanda dari segenap wujud ini, permohonannya selalu dihadapkan hanya kepada Allah. Dia. yang menyinarkan hidup semesta ini ke dalam dirinya dan ke dalam jantung kehidupannya sendiri, adalah suatu teladan yang membuat mereka yang sudah beriman dan menyatakan keislamannya, makin besar cintanya kepada Islam dan makin kukuh pula imannya. Mereka sudah berketetapan hati meninggalkan anutan nenek-moyang mereka dengan menanggung segala siksaan kaum musyrik yang hatinya belum lagi disentuh iman.
Saudagar-saudagar dan kaum bangsawan Mekah yang sudah mengenal arti kesucian, sudah menyadari arti kebenaran, pengampunan dan arti rahmat, mereka beriman kepada ajaran Rasulullah Saw. Semua kaum yang lemah, semua orang yang sengsara dan semua orang yang tidak punya, beriman kepadanya. Ajaran Rasulullah Saw sudah tersebar di Mekah, orang sudah berbondong-bondong memasuki Islam, pria dan wanita.
Orang banyak bicara tentang Rasulullah Saw dan tentang ajaran-ajarannya. Akan tetapi penduduk Mekah yang masih berhati-hati, yang masih tertutup hatinya, pada mulanya tidak menghiraukannya. Mereka menduga, bahwa kata-kata beliau tidakkan lebih dari kata-kata pendeta atau ahli-ahli pikir semacam Quss, Umayyah, Waraqah bin Naufal dan yang lain. Orang pasti akan kembali kepada kepercayaan nenek-moyangnya; yang akhirnya akan menang ialah Hubal, Lata dan 'Uzza, begitu juga berhala Isaf dan Na'ila yang selalu diadakan kurban di hadapannya. Mereka lupa bahwa iman yang murni tak dapat dikalahkan, dan bahwa kebenaran pasti akan mendapat kemenangan.
Waktu itu 'Umar bin Khattab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia antara tiga puluh dan tiga puluh lima tahun. Tubuhnya kuat dan tegap, penuh emosi dan cepat naik darah. Kesenangannya berfoya-foya dan minum-minuman keras. Tetapi terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.
Akan tetapi sesudah ia mengetahui, bahwa mereka sudah hijrah ke Abisinia (habasyah - Ethiophia) dan mengetahui pula rajanya - Negos - memberikan perlindungan kepada mereka, iapun merasa kesepian berpisah dengan mereka itu. Ia merasakan betapa pedihnya hati, betapa pilunya perasaan mereka berpisah dengan tanah air.
Tatkala itu Rasulullah Saw sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi Talib sepupunya, Abu Bakr bin Abi Quhafah dan Muslimin yang lain. Pertemuan mereka ini diketahui Umar. Ia pun pergi ke tempat mereka, ia mau membunuh Rasulullah Saw. Dengan demikian bebaslah orang Quraisy dan kembali mereka bersatu, setelah mengalami perpecahan, sesudah harapan dan berhala-berhala mereka hina. Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. Setelah mengetahui maksudnya, Nuiaim berkata:
"Umar, engkau menipu diri sendiri. Kau kira keluarga Abdi Manaf. akan membiarkan dirimu bebas sesudah membunuh Rasulullah Saw? Tidak, lebih baik engkau pulang saja ke rumah dan perbaiki keluargamu sendiri."
Pada waktu itu Fatimah, saudaranya, beserta Sa'id bin Zaid suami Fatimah sudah masuk Islam. Tetapi setelah mengetahui hal ini dari Nu'aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang membaca al-Qur'an. Setelah mereka merasa ada orang yang sedang mendekati, orang yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan kitabnya. Segera saja Imar mengatakan:
"Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?"
Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara lantang: "Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad dan menganut agamanya!" katanya sambil menghantam Sa'id keras-keras. Fatimah yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Kedua suami isteri itu jadi panas hati.
"Ya, kami sudah Islam! Sekarang lakukan apa saja sesukamu," kata mereka.
Tetapi Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Ia menyesal. Dimintanya kepada saudaranya supaya kitab yang mereka baca itu diberikan kepadanya. Setelah dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia merasa menyesal sekali atas perbuatannya itu. Bergetar hatinya setelah membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang luarbiasa dan agung dirasakan, ada suatu seruan yang begitu luhur. Kini sikapnya jadi lebih bijaksana. Ia pun keluar dengn membawa hati yang sudah lembut dengan jiwa yang tenang sekali. Ia langsung menuju ke tempat Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya yang sedang berkumpul di kaki bukit Shafa. Ia minta ijin akan masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam. Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam Islam, maka kaum Muslimin telah mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat.
Dengan Islamnya Umar ini kedudukan kaum Quraisy menjadi melemah. Sekali lagi mereka mengadakan pertemuan guna menentukan langkah lebih lanjut. Sebenarnya peristiwa ini telah memperkuat kedudukan kaum Muslimin, telah memberikan unsur baru berupa kekuatan yang luarbiasa yang menyebabkan kedudukan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin dan kedudukan mereka terhadap kaum Quraisy sudah tidak seperti dulu lagi. Keadaan kedua belah pihak ini kemudian diteruskan oleh suatu perkembangan politik baru, penuh dengan peristiwa-peristiwa, dengan pengorbanan-pengorbanan dan kekerasan-kekerasan baru lagi, yang sampai menyebabkan terjadinya hijrah dan munculnya Rasulullah Saw sebagai politikus di samping Rasulullah Saw sebagai Rasul. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar