Senin, 04 Januari 2010

Syeikh Hanbali Menyaksikan Janazah

Diriwayatkan dari Ali bin Musa Al-Haddad bahwa pada suatu hari ia bersama Syeikh Muhammad bin Hanbal dan Syeikh Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari untuk menyaksikan pemakaman seorang janazah. Maka setelah pemakaman selesai, datanglah seorang lelaki buta membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di samping kubur baru itu. Segera saja Syeikh Muhammad bin Hanbal mengatakan:
“Wahai lelaki, membaca Al-Qur’an di samping kubur merupakan bid’ah. Untuk itu hendaknya kau hentikan.” begitu beliau mengatakan.
Setelah kami keluar dari pemakaman itu, Syeikh Muhammad bin Qudamah mengatakan kepada Syeikh Muhammad bin Hanbal:
“Wahai Abu Abdillah (Muhammad bin Hanbal), bagaimana penilaian tuan terhadap Mubasysyir bin Ismail Al-Halabi?.”
“Ia merupakan pribadi tsiqqah (dapat dipercaya).” begitu jawab Muhammad bin Hanbal.
“Adakah kau pernah menuliskan sesuatu (ilmu) darinya.” sambung Muhammad bin Hanbal lagi.
“Benar, aku pernah menuliskan,” tukas Syeikh Muhammad bin Qudamah.
“Aku mendapat berita (akhbarani),” kata Muhammad bin Qudamah, “Dari Mubasysyir bin Ismail, dari Abdur Rahman bin ‘Ala’ bin Al-Lajjaj, dari ayahnya, bahwaasannya ayah Abdur Rahman itu telah berpesan padanya jika saja ia telah wafat dan telah dikuburkan, hendaknya dibacakan pembukaan surah Al-Baqarah dan penutupnya. Malah ayah Abdur Rahman mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) berwasiat yang demikian itu.
Mendengar keterangan yang demikian itu Syeikh Muhammad bin Hanbal segera mengatakan:
“Wahai Muhammad bin Qudamah, segeralah kau kembali menemui lelaki buta itu, hendaklah ia meneruskan pembacaannya.”
Kemudian pada kesempatan yang lain, Muhammad bin Ahmad Al-Marwazi mengatakan:
“Aku pernah mendengar Syeikh Muhammad bin Hanbal mengatakan:
“Jika saja kalian memasuki pemakaman, hendaklah membaca fatihah, mu’awidzatain dan surah ikhlash. Jadikanlah pahala semua bacaan itu untuk penghuni kubur di pemakaman itu, dimana pahalanya akan sampai pada mereka,” begitu kata Syeikh Muhammad bin Hanbal.
Demikian keterangan yang dapat kami ambil dari Ihya’ Ulumid Din karya Syeikh Abu Hamid Al-Ghazali, juz IV hal. 476.
Abu Qilabah mengatakan: “Pada suatu hari aku bepergian dari Syam menuju Bashrah. Di tengah perjalanan itulah aku beristirahat di sebuah lembah untuk menunaikan shalat malam dua raka’at dengan mengambil air wudhu di sekitar itu pula. Kemudian aku taruhkan kepalaku di atas sebuah kubur dan tertidur pulas. Ketika itu pula aku bermimpi melihat para penghuni kubur mengadu kepadaku dengan mengatakan:
“Wahai Abu Qilabah, kau telah menyakitkan kami semenjak malam ini. Aku melihat apa yang kalian tidak bisa melihat, hanya saja kami tidak bisa bertindak. Perhatikan wahai Abu Qilabah, bahwasannya dua raka’at yang telah engkau lakukan adalah lebih baik dari pada dunia dan segala isinya. Semoga Allah membalas kebaikan dari kami terhadap penduduk dunia. Bacakanlah salam dari kami kepada mereka, sebab dari mereka pula kami sering mendapatkan cahaya sebesar gunung.” begitu ucapan penghuni kubur pada Abu Qilabah.
Semoga bermanfaat!.
■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar