Senin, 04 Januari 2010

Taubatnya Si Jago Rayu

Pada suatu hari seorang shahabat Anshar yang bernama Khawwat bin Jubair mendekati sekumpulan gadis-gadis yang begitu cantik menurut ukuran dirinya. Pemuda itu memang terkenal jago rayu dan suka bercengkerama dengan mereka. Memang tampaknya dia tercipta dengan jiwa seperti itu, kendati pemuda lain ketika berdekatan dengan wanita, belum berkata apa-apa kadang keringat dingin yang keluar lebih dulu.
Maka ketika Khawwat bercengkerama dengan para gadis dari Bani Ka’ab yang berada di tepian jalan kota Makkah, tiba-tiba saja Rasulullah Saw muncul dan beliau memang tahu persis ulah pemuda ini. Segera saja Rasulullah menyapa:
“Wahai Abu Abdillah, kenapa kau begitu dekat dengan para gadis itu?.” “Anu, wahai Rasulullah, mereka memilinkan tali sebagai kendali ontaku yang selama ini selalu lepas,” begitu alasannya dibuat-buat.
Setelah dijawab demikian itu Rasulullah pun berlalu untuk melanjutkan maksud dan memenuhi kebutuhannya. Namun setelah Rasulullah kembali melintasi jalan itu, padahal jeda waktu sudah cukup begitu lama, ternyata Khawwat masih tampak bertengger di dekat para gadis itu (ada maunya). Kali ini Rasulullah juga menyapa lagi:
“Wahai Abu Abdillah, adakah ontamu yang nakal itu belum diikat lehernya?.”
“Kali ini aku,” kata Khawwat, “Hanya diam saja menahan malu. Malah pada setiap jumpa dengan Rasulullah, aku segera melarikan diri karena tidak tahan lagi menahan malu.
Setelah aku ikut hijrah menyusul beliau ke Madinah, pada suatu hari aku memasuki masjid beliau untuk melakukan shalat sekedarnya. Dan ketika itu Rasulullah bertepatan berada di masjid pula. Maka setelah melihatku, segera saja beliau duduk di belakangku menunggu aku selesai melakukan shalat. Hatiku sudah merasakan, saat ini jelas aku akan dipelonco oleh beliau. Untuk menghindari sikap Rasulullah itu, aku pun memanjangkan bacaan shalat sehingga memakan waktu yang cukup lama. Namun beliau sangat cerdik.
“Segerakanlah shalatmu, sebab aku telah cukup lama menunggumu!,” begitu kata Rasulullah.
Betul saja, ketika aku telah mengucapkan salam, beliau langsung mengatakan:
“Wahai Abu Abdillah, adakah ontamu yang nakal itu belum diikat lehernya?.”
Mendapat ucapan seperti ini, ternyata rasa maluku tidak terbendung sehingga aku hanya diam seraya mengulum senyum yang sebenarnya tidak tertahankan lagi. Beliau lantas beranjak pergi setelah aku hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata. Rasa malu itu ternyata tetap berlanjut, sehingga setiap berjumpa Rasulullah aku selalu melarikan diri. Sialnya (untungnya) pada suatu hari ketika aku pun berjumpa dengan beliau. Ketika itu beliau menunggang seekor keledai dengan dua belah kaki yang diarahkan pada samping kiri. Tidak terduga, beliau pun segera mengatakan:
“Wahai Abu Abdillah, adakah ontamu yang nakal itu belum diikat lehernya?.”
Dengan rasa malu yang tidak tertahankan lagi aku segera mengatakan:
“Demi Dia Yang telah mengutusmu dengan hak, onta itu sudah tidak nakal lagi semenjak aku masuk Islam, wahai Rasulullah.”
Segera saja beliau berteriak:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar. Ya Allah, berilah petunjuk hamba-Mu Abu Abdillah.”
Dan ternyata ke-Islam-an Abu Abdillah tampak begitu baik berkat do’a Rasulullah tersebut.
(HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari riwayat Zaid bin Aslam dari Khawwat bin Jubair).


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar