Senin, 04 Januari 2010

Menghargai Rezeki Allah

Ja’far bin Nashr mengatakan:
“Pada suatu kesempatan Al-Junaidi menyuruhku untuk membelikan buah tin al-waziri. Dan ketika saat berbuka telah tiba, ia meraih satu buah kemudian dimasukkan dalam mulutnya, namun sejenak kemudian ia memuntahkannya seraya menangis dan mengatakan:
“Bawalah pergi buah ini!”.
Ja’far hanya tertegun melihat sikap gurunya itu. Sejenak kemudian Ja’far bertanya:
“Mengapa tuan tidak memakannya?.”
“Dalam relung hatiku terdengar suara:“Adakah kau tidak malu!, selama ini kau telah meninggalkannya dengan ikhlas karena demi memperoleh ridha-Ku, namun mengapa kini kau harus kembali lagi?.” begitu suara itu mengatakan.
Mendengar keterangan seperti ini, Ja’far hanya bisa tertegun dan terpaku di tempatnya sampai beberapa saat.
Begitu pun pada suatu hari Shalih Muri mengatakan kepada sahabatnya yang bernama Atha’ As-Salami:
“Aku akan membahagiankanmu dengan suatu makanan. Aku harap janganlah kemauanku ini kau tolak!,” demikian kata Shalih Muri.
“Silahkan akan aku terima dengan senang hati,” jawab Atha’ berbinar.
Kemudiian Shalih Muri segera membuat adonan sawiq yang dicampur dengan minyak samin dan madu dan segera di panggang di atas tungku dengan bau yang mengundang selera. Dan setelah masak, mereka pun menyantap bersama, namun masih tersisa lebih banyak. Dan ketika keesokan harinya, Atha’ diajaknya lagi untuk bersama-sama makan. Namun kali ia dia menolak dengan keras ajakannya itu. Hal ini yang menyebabkan Shalih Muri memperolok kawannya itu. Maka dengan halus Atha’ menjawabnya:
“Aku kemarin telah memakan dengan cukup, dimana sekarang ini sebenarnya nafsuku telah aku rayu sedemikian rupa agar segera memperturutkan ajakanmu, namun bagaimana lagi, aku selalu teringat sebuah ayat:
Ditenggaknya nanah itu, namun hampir-hampir saja ia tidak bisa menelannya (Ibrahim:17).
Mendengar jawaban ini, air mata Shalih Muri seakan tumpah ruah. Sejenak kemudian ia mengatakan:
“Memang kau, Atha’!, berada pada suatu martabat, sedangkan aku dalam martabat yang lain.”
Syeikh Sari As-Saqathi mengatakan:
“Nafsuku sejak tiga puluh tahun ini selalu bermaksud untuk memperoleh ketela pohon yang dicelupkan pada nira, namun selama itu pula belum pernah aku perturutkan”.
Begitu pula pernah seorang Abid memberi beberapa potong roti kawannya agar segera dimakan. Namun sang kawan itu masih membolak-balik untuk memilih mana yang dikehendaki. Segera saja si Abid itu mengatakan:
“Kau jangan bersikap seperti itu. Adakah kau tidak menyadari bahwa sepotong roti itu telah mengandung berbagai hikmah yang tersamar di dalamnya. Makanan itu telah begitu banyak memerlukan tenaga. Pada mulanya ia memerlukan awan yang mengandung air, lantas air itu harus ditumpahkan pada bumi yang subur, kemudian angin harus meniup dengan cukup. Lantas memerlukan tenaga hewan untuk membajak dan para pembajaknya. Diperlukan juga tukang tanam dan mereka yang akan memanen dan mengolahnya. Sekarang telah sampai di depanmu. Anehnya kau masih membolak-balik dengan sikap yang tidak memuaskan. Periksalah sebuah hadits:
“Sebuah roti itu tidak akan menjadi bulat, tidak pula disodorkan ke depanmu terkecuali telah melintasi tiga ratus enam puluh tenaga. Pada mulanya malaikat Mikail harus menakar air yang akan diturunkan ke bumi dari simpanan rahmat di sisi Allah, kemudian malaikat yang menghela awan, lantas tenaga matahari dan rembulan serta cakrawala dan para malaikat di persada ini. Dibutuhkan pula binatang-binatang untuk membajak, dan yang paling terakhir adalah seorang tukang roti.”


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar