Senin, 04 Januari 2010

Terjerembab Di Atas Atap

Dikisahkan oleh Ishaq bin Khalaf bahwa pada suatu malam yang terang benderang dengan cahaya rembulan di tanggal purnama, Daud Ath-Thaiy begitu terpana melihat pemandangan malam yang begitu menakjubkan sehingga ia segera saja naik ke atas loteng yang menjorok tepat di atas atap rumah tetangganya. Di situ dia bertafakur panjang mengenai berbagai ayat kauniyah yang menghampar di langit dan di bumi.
Namun tidak terasa air matanya bercucuran. Tidak itu saja, akhirnya ia mengalami ekstase (tidak sadarkan diri) yang cukup lama. Tragisnya ketika dalam kondisi demikian itu ia tidak merasakan pula ketika tubuhnya terguling hingga terperosok dan terpelanting tepat di atas atap rumah tetangga itu. Keruan saja tuan rumah yang sedang tidur nyenyak terkejut alang kepalang sehingga dengan sigap ia menyambar pedangnya dengan tidak menyadari bahwa tubuhnya dalam keadaan bugil.
Tuan rumah itu pun menoleh ke kiri dan ke kanan, jangan-jangan rampok telah mendobrak pintu rumahnya. Setelah cukup lama memperhatikan kondisi rumahnya, ia mencoba mendengarkan sumber suara itu dari atap rumah. Segera saja ia keluar dan memusatkan pandangan ke sana. Ternyata setelah lama di amati, didapatkan sosok tubuh yang tidak lain, Daud Ath-Thaiy, tetangganya sendiri yang ketika itu sedang merintih kesakitan. Maka segera saja tuan rumah memberikan pertolongan dengan memasang tangga untuk menurunkan Daud. Dan setelah bantuan darurat itu itu selesai, tuan rumah menanyakan:
“Siapa yang telah melemparmu sampai di atas atap hingga gentingku banyak yang pecah?.”
“Aku tak mengerti!,” jawab Daud dengan menahan sakitnya goresan di tubuhnya. Aneh!.
Masih terdapat sebuah kisah lagi. Seorang lelaki yang sudah cukup tua yang bernama Abu Syuraih tampak melenggang di sebuah jalan. Namun sejenak kemudian ia tampak membebatkan baju luarnya di kepala kemudian segera menepi dari jalan dan duduk dengan menangis panjang. Seorang karibnya segera mendekati, dikhawatirkan ia mengalami gangguan kesehatan yang mendadak. Maka segera saja Abu Syuraih mengatakan:
“Ketika aku berjalan tadi, aku berpikir betapa sebagian banyak umurku begitu cepat pergi menghilang, sedangkan amal-amal kebajikanku terasa begitu sedikit, padahal rasa-rasanya maut akan segera menjemputku. Itulah yang menyebabkan air mataku tidak bisa aku tahan sehingga aku segera menepi dari jalan agar tidak terjadi perihal yang tidak aku inginkan,” begitu jaawab Abu Syuraih.
Thawus mengatakan bahwa pada suatu hari kaum hawariyyin para pengikut setia Nabi Isa itu bertanya kepada beliau:
“Wahai Ruhullah, masih adakah di muka bumi ini pribadi-pribadi yang akan menyamai kemuliaanmu, atau minimal di bawahnya sedikit?.”
“Oh masih, masih. Yaitu mereka yang ucapannya selalu berupa dzikir, diamnya tidak lepas dari berfikir mengenai keagungan Allah dan apa yang dilihatnya selalu dijadikan sebagai ibrah. Itulah orang yang akan menyamai pribadiku,” begitu jawab Nabi Isa.
■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar