Senin, 04 Januari 2010

Menangis 300 Tahun

Dikisahkan oleh Wahab bin Munabbih bahwa ketika Nabi Adam As. diturunkan dari surga menuju bumi ini, maka tangisnya tidak pernah berhenti. Kemudian Allah bertanya kepada beliau pada hari yang ke tujuh, kendati ketika itu beliau tidak berani lagi mendongakkan kepala:
“Wahai Adam, mengapa Aku lihat kau begitu susah?.”
“Wahai Tuhanku, sungguh aku terkena bencana yang begitu besar, disamping menyandang kesalahan yang berat dan terlempar dari kerajaan-Mu. Kini aku terhina setelah mendapatkan kemuliaan, kini aku harus bersusah payah setelah mendapatkan kenikmatan, dan kini aku dilanda bahaya setelah berada di kawasan keselamatan. Dan berada di daerah sirna setelah bertempat di surga. Dengan demikian telah sepatutnya jika aku menangis, Tuhanku!,” begitu jawab Nabi Adam.
“Wahai Adam, bukankah kau telah Aku jadikan sebagai manusia pilihan-Ku. Telah Aku tempatkan pula di surga-Ku, kemudian Aku beri keistimewaan dengan berbagai kemuliasan. Tidak tertinggalkan, Aku pun mempertakuti dirimu mengenai murka-Ku!. Bukankan Aku telah menciptakanmu dengan tangan-Ku sendiri, kemudian Aku meniupkan ruh-Ku kepadamu serta Aku sujudkan para malaikat di hadapanmu. Namun ternyata kau telah menyalahi kehendak-Ku, juga telah melalaikan janji-Ku, malah kau seakan menantang datangnya murka-Ku. Demi kemuliaan-Ku, andaikan saja kau telah berhasil memenuhi bumi itu dengan anak turunmu yang begitu rajin beribadah, kemudian mereka pada suatu kali melakukan kedurhakaan kepada-Ku, mereka akan segera Aku turunkan martabatnya dan Aku anggap sebagai pelaku maksiat dan para pendurhaka”.
Mendengar kalimat wahyu ini, tangis Nabi Adam tidak pernah berhenti lagi sampai tiga ratus tahun lamanya.
Manshur bin Ammar mengatakan:
“Ketika kami melintasi daerah Kufah, pada tengah malam aku mendengarkan suara seorang Abid yang memanjatkan do’a dengan suara yang cukup jelas:
“Wahai Tuhan, demi kemulian-Mu, ketika aku berlaku maksiat, sedikit pun tidak terbetik dalam hati bahwa aku ingin melawan-Mu. Begitu pula ketika aku berlaku durhaka, hal itu bukanlah tersebab kebodohanku mengenai posisi kemuliaan-Mu, bukan pula karena menghinakan pandangan-Mu.
Namun semua itu tersebab nafsuku yang selalu menghiasi kedurhakaan itu sehingga tampak bagus. Kemauan nafsu itu Malah didukung pula oleh sikap celakaku, di samping tirai-Mu yang selalu menutup segala keburukanku. Hal itulah yang menyebabkan aku durhaka dengan berbagai kebodohanku. Dan dengan perbuatanku pula aku menyalahi perintah-Mu.
Kalau saja Engkau tidak sudi menyelamatkan diriku, maka kepada siapa lagi aku mencari keselamatan. Dengan tali siapa pula aku harus berpegang jika saja tali kasih-Mu telah Engkau putuskan dariku. Betapa malu jika nanti aku harus menghadap di haribaan-Mu jika saja terdengar perintah kepada mereka yang begitu ringan dosa-dosanya,“Segeralah kalian melintas”. Namun terhadap mereka yang berat dosanya akan dikatakan pula,“Segeralah kalian menceburkan diri.”
Adakah aku nanti bisa melintas bersama mereka yang ringan itu, atau malah terperosok bersama mereka yang berat dosanya. Betapa celaka diri ini, sebab ketika umur bertambah tua, maka bertambah banyak pula dosa-dosanya. Dengan demikian bilakah aku bisa menggapai taubat. Sampai kapan pula aku bergelimang dengan berbagai dosa. Adakah aku tidak mempunyai rasa malu lagi kepada Tuhan.


■■■

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar