Jumat, 01 Januari 2010

Umar bin Khathab Pulang Ke Haribaan Ilahi

Amr bin Maimun mengatakan: “Ketika kami melaksanakan shalat berjamaah, kebetulan kami berada pada shaf paling depan sehingga antara diriku dan Umar bin Khathab tidak terhalangi apa pun terkecuali Abdullah bin Abbas. Seperti biasa, ketika shalat akan dimulai, Umar selalu menyuruh hadirin agar merapatkan barisan. Dan setelah dilihatnya sudah tidak ada barisan lagi yang bersela, beliau akan segera maju untuk memimpin shalat. Pada biasanya ketika shalat Shubuh, Umar seringkali membaca surah Yusuf pada rakaat pertama. Kebijaksanaan ini dimaksudkan agar mereka yang masih ketinggalan bisa menemukan keutamaan shalat berjamaah.
Syahdan, ketika baru saja mengucapkan takbir pertama, Abu Lu’luah selaku budak Mughirah bin Syu’bah menikam perutnya dari belakang. Seketika itu bacaan Umar terhenti, selanjutnya ia mengatakan:
“Aku telah diserang seekor anjing galak.”
Akan halnya Abu Lu’luah sendiri segera kabur ke belakang dengan membawa pisau bermata dua seraya menikam setiap orang yang di depannya sehingga mereka yang menjadi korban mencapai tiga belas orang, sembilan orang di antaranya tidak dapat lagi ditolong nyawanya. Ketika para jamaah telah menyadari bahwa Abu Lu’luah telah melakukan kebiadaban terhadap seorang Khalifah yang terkenal sangat adil ini, ia segera melemparkan burnus (kopyah) yang menjadi tutup kepalanya, kemudian melakukan bunuh diri setelah mengetahui bahwa dirinya mesti tertangkap dan di adili dengan jalan qishas.
Agar shalat hadirin tidak terganggu dan untuk menutupi seakan tidak terjadi suatu tindak kriminal, segera saja Umar meraih tangan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin meneruskan shalat yang terhenti beberapa saat itu. Sedangkan para jamaah yang di dekat Umar, dengan jelas sekali melihat kejadian ini dengan mata kepalanya. Namun mereka yang di belakang tidak menyadari apa yang terjadi berhubung tertutup pandangannya oleh mereka yang berada di depan. Memang para jamaah cukup banyak pada periode ini. Para hadirin yang di belakang itu hanya merasakan telah kehilangan suara Umar sehingga mereka beberapa kali mengucapkan tasbih sebagai peringatan jika terjadi kesalahan-kesalahan ketika berjamaah. Abdurrahman dalam memimpin shalat ini begitu singkat. Surah yang dibacanya pendek-pendek sekali sehingga membuat tanda tanya para hadirin.
Ketika shalat telah usai, Umar mengatakan pada Ibnu Abbas:
“Coba Anda periksa, siapa yang telah berusaha membunuh saya.”
Segera saja Ibnu Abbas memeriksa ruangan dan berlari menuju serambi masjid dan kembali lagi menuju Umar seraya mengatakan:
“Ternyata yang telah menghabisimu itu budak Mughirah bin Syu’bah.”
“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang telah mengakhiri hidupku tidak di tangan orang Islam sendiri,” begitu Umar memuji kebesaran Allah.
“Sebenarnya aku telah berusaha sekuat tenaga untuk selalu menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar. Sedangkan Anda dan bapak Anda begitu tertarik jika saja di Madinah ini banyak hamba sahaya yang kekafirannya masih mendominasi kehidupan sehari-harinya,” sambung Umar lagi.
Ketika itu Abbas, selaku ayah Abdullah bin Abbas memang banyak memelihara budak-budak muallaf yang masih berkebudayaan kafir. Setelah mencermati arah pembicaraan Umar ini, Ibnu Abbas segera mengatakan:
“Jika Khalifah berkehendak melenyapkan mereka, aku sanggup untuk bertindak,” begitu tukas Ibnu Abbas lagi.
Mendengar jawaban Ibnu Abbas ini, Umar terperangah seraya mengatakan:
“Adakah Anda akan membunuh mereka setelah mereka mengikuti kebudayaan kalian dan sanggup melaksanakan shalat menghadap kiblat kalian, sanggup pula melaksanakan haji sebagaimana haji kalian!,” begitu tangkis Umar dengan sengit.
Sejenak kemudian, Umar segera ditandu menuju rumahnya untuk dirawat sebaik-baiknya. Sedangkan ummat Islam ketika itu seakan terpana dan tertegun menyaksikan peristiwa tragis ini, berhubungan kondisi keamanan negeri selama itu aman-aman saja.
Dalam menanggapi musibah yang menimpa diri Khalifah ini, sebagian orang ada yang berpendapat, luka yang beliau derita tidak begitu parah, namun banyak pula yang berpendapat ‘kondisinya sangat kritis.’ Mendengar berbagai pendapat itu, sebagian orang segera menuangkan minuman nabidz (minuman dari buah kurma atau anggur) dan segera diminumkan ke mulut Umar. Namun sejenak kemudian nabidz itu pun keluar dari perutnya hingga membasahi pakaiannya. Lantas diambilkan susu dan diminumkan lagi, ternyata keluar dari perutnya lagi. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ususnya telah terputus dan dapat dipastikan beliau akan segera wafat. Dalam kondisi yang demikian itu datanglah seorang pemuda seraya mengatakan:
“Wahai Amirul Mukminin, bahagiakan dirimu dengan mendapat kegembiraan dari Allah SWT. Ingatlah, engkau telah mencapai beberapa martabat yang sangat menentukan, di antaranya telah menjadi sahabat Rasulullah Saw., termasuk golongan yang masuk Islam pada masa permulaan dan memegang tampuk khalifah dengan bersikap adil, yang terakhir ini tampaknya engkau akan mati syahid,” begitu pemuda itu membahagiakan Umar.
Namun bagaimana reaksi beliau?
“Aku harap semua itu akan menjadi keseimbangan dosa-dosaku, dalam arti semoga tidak akan ada adzab dari dosa-dosaku, begitu pula jika saja tidak ada pahala juga tidak apa-apa,” begitu jawab Umar dengan penuh tawadhu’ menyikapi posisi dirinya.
Mendengar jawaban demikian itu, pemuda tadi langsung beranjak pergi dengan kain kedodoran yang menyentuh tanah. Segera Umar mengatakan pada sahabat yang di dekatnya:
“Suruhlah permuda itu untuk kembali ke sini.”
Setelah pemuda itu menghadap lagi, Umar menasehati: “Wahai saudaraku, angkatlah sedikit kain yang engkau kenakan. Yang demikian itu lebih menjaga kebersihan dan lebih patut mendorong ke arah takwa, dan sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Rasulullah Saw.”
Pemuda itu segera membetulkan kainnya kemudian berpamitan seraya mengucapkan terima kasih.
Umar pun segera menyuruh putranya, yakni Abdullah bin Umar untuk menghitung seluruh hutangnya yang telah jatuh tempo. Mendapat perintah itu, orang banyak segera mengadakan perhitungan seluruh tanggungannya, dan setelah seluruhnya dijumlah, hutang itu sekitar 86 ribu dirham. Setelah mengetahui jumlah itu, Umar mengatakan: “Hendaknya hutang itu diambilkan dari harta keluarga Umar. Namun jika saja tidak mencukupi, hendaknya diambilkan pula dari Bani Adiy bin Ka’ab. Dan jika belum mencukupi pula, hendaknya diambilkan dari golongan Quraisy. Jangan sampai melampaui ke tiga golongan itu. Kemudian katakan bahwa harta itu merupakan pembayaran Umar terhadap seluruh hutangnya.
Selanjutnya Umar pun mengatakan kepada putranya lagi:
“Sekarang berangkatlah ke rumah Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. dan sampaikan salam ‘Umar’ padanya, jangan engkau katakan salam dari Amiril Mukminin, sebab kali ini aku bukan amir (penguasa) lagi. Katakan pula bahwa Umar bin Khathab memohon izin, ia sangat menginginkan jika jenazahnya dimakamkan berdekatan dengan dua pendahulunya, yakni Rasulullah dan Abu Bakar,”1 begitu pesan beliau.
Maka bergegaslah Abdullah menuju rumah ‘Aisyah Ra. kemudian memohon izin untuk masuk, namun ia sangat tertegun, didapatinya ‘Aisyah Ra. sedang duduk dalam keadaan menangis. Dengan hati yang di tabahkan, Abdullah pun menyampaikan salam dan pesan ayahnya itu. Sejenak kemudian Ummul Mukminin segera menjawab:
“Sebenarnya aku sendiri menghendaki untuk dikuburkan berdekatan dengan Rasulullah dan ayahku sendiri, namun kali ini aku sungguh akan mengalah demi kemuliaan Umar bin Khathab,” begitu jawab ‘Aisyah Ra melegakan.
Setelah mendapat jawaban ini, Abdullah pun bergegas pulang dan segera disongsong oleh orang banyak yang berada di Rumah Umar Ra. Mereka mengatakan:
“Itu dia, Abdullah telah datang, bagaimana hasilnya?”
Perkataan hadirin ini pun di dengar oleh Umar Ra. sehingga beliau mengatakan:
“Cepat suruh ke sini dia!”
Setelah Abdullah memasuki rumah, Umar Ra. pun segera dibangkitkan dengan disangga punggung seorang laki-laki, kemudian beliau mengatakan:
“Bagaimana hasilnya, wahai anakku?”
“Sungguh sangat membahagiakan hati ayah, wahai Amiril Mukminin. Saiyidatina ‘Aisyah telah memberi izin.”
“Alhamdulillah, tiadalah sesuatu yang selama ini menjadi ganjalan pikiranku terkecuali tempat pemakaman diriku itu, yang sekarang telah ada titik terangnya.” begitu sahut Umar Ra. Kemudian beliau mengatakan lagi:
“Wahai Abdullah, jika saja saya telah mati, hendaklah jenazahnya diperlihatkan pada Ummul Mukminin, kemudian kau harus memohon izin lagi kepadanya mengenai pemakaman diriku ini. Jika saja beliau memberi izin, maka laksanakan pemakaman itu, namun jika beliau tidak mengizinkan, cepat-cepat saja jenazahku dibawa ke pemakaman umum,” begitu pesan Umar lebih lanjut.
Setelah hari agak siang, Hafshah binti Umar, selaku Ummul Mukminin pula, ia datang dengan diiringi beberapa wanita. Ketika itu orang banyak segera berdiri memberi penghormatan padanya. Segera saja Hafshah memasuki rumah untuk bertemu dengan ayahnya. Tampak Hafshah Ra. menumpahkan tangisnya di dekat ayahnya, namun segera saja banyak orang yang memasuki itu sehingga terpaksa Hafshah segera beranjak untuk memberi kesempatan pada mereka agar mendekat, namun tangis Hafshah Ra. belum reda, suaranya masih dapat didengar sayup-sayup.
Dalam keadaan genting ini, masyarakat banyak yang mengatakan: “Katakanlah suatu wasiat terhadap kami, wahai Amiril Mukminin. Tegasnya mengenai masalah kekhalifahan?”
“Menurut pendapat saya, yang berhak menduduki jabatan itu tiada lain mereka yang menjadi sahabat Rasulullah Saw, di mana ketika beliau wafat, mereka telah mendapat martabat diridhai oleh beliau. Di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair, Thalhah, Sa’ad bin Ubadah dan Abdur Rahman. Ucapanku ini aku saksikan pada putraku sendiri, Abdullah, namun ia tidak akan aku suruh memegang tampuk kekhalifahan ini, saksikan itu. Jika saja tampuk itu nanti berhasil dipegang oleh Sa’ad, itu memang sudah tepat. Namun jika saja masyarakat tidak menghendakinya, hendaknya dipilih mana yang lebih baik. Sebab kendati Sa’ad itu pernah aku pecat, namun bukan tersebab penyelewengan atau pun ketidakmampuannya. Aku wasiatkan kepada khalifah yang akan memerintah setelah aku wafat, hendaknya ia betul-betul memperhatikan pada kaum Muhajirin kelompok pertama. Hendaklah ia menyadari akan keutamaan dan kemuliaan mereka. Aku wasiatkan pula pada khalifah penggantiku, hendaklah ia memperhatikan kaum Anshar, yaitu mereka yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin. 2 Hendaklah khalifah baru itu berterima kasih terhadap kaum Anshar yang berbuat kebajikan dan memberi ampunan terhadap mereka yang melakukan kesalahan. Aku wasiatkan pula, hendaklah diperhatikan betul-betul berbagai kota yang telah berada dalam wilayah Islam, sebab walaupun bagaimana, mereka adalah penyangga Islam itu sendiri, serta menjadi gudang-gudang penyimpanan harta dan sangat membantu dalam mempertakuti musuh. Sebaiknya pula harta yang diambil dari berbagai kota itu harus dengan seizin mereka dan harta yang tidak dibutuhkan lagi. Aku wasiatkan pula, hendaklah berbuat baik pada para penduduk padang pasir (A’rab) sebab mereka merupakan cikal bakal orang-orang Arab di kemudian hari dan menjadi tulang punggung Islam itu sendiri. Hendaklah harta yang diambil dari mereka itu sesuatu yang di luar hajat mereka, di mana harta itu pada akhirnya harus dikembalikan pada orang-orang fakir dari mereka. Aku wasiatkan pula, hendaknya khalifah baru itu betul-betul melaksanakan tugas yang telah dibebankan Allah dan Rasul-Nya, menepati janji-janjinya dalam mengemban tugas memperbaiki orang Islam, dan berperang bersama mereka, serta tidak membebani mereka terhadap apa pun yang di luar kemampuan,” begitu wasiat Umar Ra. panjang lebar dengan disaksikan orang banyak.
Setelah beliau wafat, maka jenazahnya kami usung sampai di depan rumah Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra. Ketika itulah Abdullah bin Umar mengucapkan salam kemudian memohon izin mengenai pemakaman jenazah ayahya. Segera saja Ummul Mukminin mempersilakan untuk dimakamkan di dekat Rasulullah Saw. dan Abu Bakar Ra.
Rasulullah pernah mengatakan:
“Jibril As. pernah mengatakan padaku: “Hendaklah Islam menangis atas kepergian Umar.”
Berkata Ibnu Abbas: “Ketika Umar telah ditaruhkan di keranda, segera saja masyarakat melakukan shalat janazah dengan do’a rahmat yang begitu panjang. Aku sendiri termasuk di antara mereka. Prosesi ini tampak berjalan normal-normal saja, namun sejenak kemudian pundakku ditepuk oleh seseorang. Setelah aku menoleh, ternyata dia Ali bin Abi Thalib Ra. Kemudian Ali pun maju untuk mendo’akan rahmat pada janazah, kemudian ia mengatakan:
“Aku belum pernah menjumpai seseorang, di mana amal-amalnya lebih aku cintai untuk menghadap ke haribaan Allah, selain engkau wahai Umar. Demi Allah, selama ini aku memang telah memprediksi bahwa dirimu akan dimakamkan di dekat Rasulullah dan Abu Bakar. Indikasi itu telah aku ketahui dari beberapa sabda Rasululah. Seringkali Rasulullah dalam hadits-haditsnya mengatakan: “Ketika itu aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar….
Ketika itu aku keluar rumah bersama Abu Bakar dan Umar….dan lain-lain. Dengan demikian aku berkeyakinan bahwa Allah akan menyandingkanmu dengan keduanya,” begitu kesaksian Ali bin Abi Thalib.
Selamat jalan wahai Khalifah yang terkenal adil, orang kafir Quraisy merasa gentar ketika engkau masuk Islam. Selamat jalan wahai mertua Rasulullah Saw, dan pemakai gelar Amiril Mukminin pertama kali. Semoga kami engkau akui sebagai mereka yang pernah menyintaimu, amin. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar