Sabtu, 02 Januari 2010

Abu Hanifah Menjadi Harimau

Abu hanifah merupakan salah seorang dari imam empat madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang telah berjasa besar atas kemajuan Islam di persada ini. Nama aslinya adalah Nu’man bin Tsabit bin Zauthi, yang dilahirkan pada tahun, 80 Hijriah di Kufah, Iraq. Beliau amat memperhatikan pengetahuan agama sehingga beliau pun menimba pada guru-guru yang terkenal dari kalangan tabi’in, sebagaimana Syeikh Hammad bin Abi Sulaiman, ‘Atha’ bin Abi Rabah, Nafi’ selaku maula (hamba yang dimerdekakan) Ibnu Umar. Pada waktu beliau hidup itu terjadi peralihan kekuasaan dari dinasti Umayah ke dinasti Abasiyah. Dan beliau menghidupi kleluarganya dengan bekerja keras, terutama dengan berdagang sutera, yang memang ketika itu jalur perdagangan sutera sudah membentang antara Timur Tengah sampai ke Cina. Beliau terkenal berwajah tampan, dengan tutur kata yang amat santun, namun amat tegas ketika situasi menghendaki yang demikian. Hal inilah yang disaksikan oleh Ja’far bin Rabi’ selaku muridnya yang menimba ilmu selama lima tahun. Ia mengatakan:
“Selama lima tahun aku telah menimba ilmu kepada Syeikh Abu Hanifah. Selama itu pula yang aku saksikan, beliau merupakan figur pendiam. Tetapi jika saja permasalahan agama diajukan, beliau segera menguraikan dengan amat mempesona.”
Abdullah bin Mubarak mengatakan kepada Sufyan ats-Tsauri:
“Wahai Abu Abdillah, betapa Abu Hanifah terbukti merupakan figur yang sangat menjauhi mengumpat (ghibah) sehingga aku tidak pernah mendengar beliau mengumpat, kendatipun kepada musuh-musuhnya.”
Mendengar jawaban ini, Syeikh Sufyan ats-Tsauri mengatakan dengan tersenyum:
“Itulah figur yang cerdas. Beliau tidak mau jika amal-amal kebajikan yang telah dilakukan dengan susuah payah harus ditransfer menuju orang yang diumpat, sebab mengumpat memang menyebabkan amal kebajikan berpindah kepada pihak korbannya.”
Sikap seperti ini jelas menunjukkan kealiman hati beliau. Jadi, di samping alim dengan pengetahuan agama yang dalam istilah disebut ilmu mu’amalah, beliau juga alim terhadap ilmu mukasyafah (pengetahuan mengenai kondisi jiwa). Sebagai bukti, ketika Marwan bin Muhammad tampil menjadi khalifah, ia menyuruh gubernurnya yang bernama Yazid bin Hubairah agar pergi menemui Abu Hanifah untuk dijadikan sebagai hakim agung. Anehnya, tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Abu Hanifah sehingga sang gubernur mengancam akan mencambuknya. Ancaman ini dijawab oleh Abu Hanifah dengan ‘silakan!’ Hal ini yang membuat sang gubernur naik pitam sehingga Abu Hanifah mendapat cambukan yang amat menyakitkan.
Setelah publik mendengar kabar sedemikian ini, nama Abu Hanifah bukannya merosot, namun malah melejit dan harum semerbak. Sementara, nama pihak kerajaan menjadi cemar!.
Sayangnya, ketika beliau hidup, di daulah Islam banyak pujangga yang disusupi orang-orang yang membenci Islam, yang pada akhirnya budaya adiluhung kaum Muslimin harus berhadapan dengan mereka yang menghendaki hancurnya Islam dari dalam yang sedikit demi sedikit menggerogoti akidah dan syari’ah, apalagi di hari Nairuz.
Ahli sya’ir ketika itu, juga dapat dikatakan melampaui batas dan menjurus pada hedonisme atau kesenangan duniawi semata. Banyak para wanita yang mengenakan pakaian pria dan sebaliknya sehingga perilaku mereka dapat dikatakan keluar dari koridor agama, meremehkan akidah dan tidak mengindahkan lagi terhadap syari’at bahkan kaum atheis dari bekas-bekas budak yang terdiri dari orang Persia mulai berani menyebarkan pahamnya dengan menghina kebudayaan Muslimin dan menganggap kebudayaan Persia lebih modern. Tragisnya lagi kelompok terakhir ini menyusupkan agama Zoroaster pada kehidupan publik dan apa pun yang akan mampu menentang agama, baik itu berupa akidah, tindakan atau pun publikasi. Hal inilah yang menggusarkan Baginda Al-Mahdi (Abbasiah), dimana setelah mengadakan penyisiran dan mengetahui adanya penyusupan pula dan pengaruh dari agama Hindu, Budha dan Zoroaaster, baginda segera mengadakan tindakan seperlunya. Dalam masa ini banyak ahli Sya’ir yang harus berhadapan dengan kebijaksanaan kerajaan, sebagaimana Ibnul Muqaffa’ Shalih bin Abdil Qudus dan Bisyar bin Barad.
Ketika Abu Hanifah belum dewasa, pernah pada suatu hari seorang lelaki yang bernama Mulhid dari golongan Dahriyin (atheis) menghadap kepada Syeikh Hammad bin Abi Sulaiman selaku guru Abu Hanifah Ra. Tiada lain tujuannya adalah mendebat para ulama mengenai keberadaan Tuhan yang tidak bertempat pada suatu tempat, juga tidak bisa diraba dan tidak pula dapat dicerna panca indra. Sudah banyak para ulama yang harus bertekuk lutut di hadapannya, sehingga sikapnya bertambah congkak menambah tebal keberaniannya.
“Siapa lagi yang akan aku habisi pendapatnya di hari ini,” begitu kata Mulhid.
“Masih ada, itulah Syeikh Hammad.” jawab para ulama yang baru saja dikalahkan.
Dengan langkah mantap akhirnya Mulhid menghadap pada seorang Khalifah 1 agar kiranya Baginda sudi memanggil Syeikh Hammad untuk diajak berdebat dengan disaksikan Baginda sendiri. Maka Baginda pun memanggil Syeikh Hammad, namun dia masih berjanji bahwa ia akan segera datang pada keesokan harinya. Pagi-pagi sekali dengan tanpa diduga Abu hanifah datang menemui Syeikh Hammad yang dilihatnya dalam keadaan susah memikirkan jalan keluar terbaik untuk menghadapi penyelewengan Mulhid yang seakan tidak terbendung itu. Hal ini kalau dibiarkan dengan tanpa ada yang bisa menghentikan kebohongannya itu, jelas akan merusak keyakinan masyarakat yang selama ini terkenal religius. Maka Abu Hanifah segera bertanya kepada gurunya itu.
“Wahai guru, mengapa hari ini aku melihat guru dalam keadaan begitu susah, adakah aku bisa membantu apa yang sedang menjadi beban pikiran guru,” begitu Abu Hanifah menawarkan bantuan kendati ketika itu dia masih belum dewasa..
“Wahai muridku, bagaimana aku tidak susah menghadapi sebuah tantangan si Mulhid yang telah berhasil mengalahkan para ulama yang lain. Malah tadi malam aku bermimpi buruk pula. Jangan-jangan menjadi pertanda kekalahanku,” begitu tutur sang guru mengutarakan keluhannya.
“Mimpi bagaimana wahai guru!” desak Abu Hanifah lagi.
“Dalam tidur itu aku melihat,” kata Syeikh Hammad, “sebuah rumah yang cukup luas dengan berbagai hiasan yang indah, di dalamnya terlihat ada sebuah pohon yang sedang berbuah. Tetapi tiba-tiba saja muncul seekor babi dari pojok rumah itu dan langsung memakan buah pohon tersebut sampai tandas, bahkan daun-daun dan rantingnya dilahapnya pula sehingga tinggal batangnya saja. Anehnya sejenak kemudian dari batang pohon itu keluar seekor harimau yang segera menerkam babi tersebut dan melahapnya tiada bersisa.”
“Alhamdulillah,” sahut Abu Hanifah, “aku telah diberi ilmu Allah sehingga akan bisa menafsirkan mimpi tuan. Mimpi guru itu betul-betul akan membawa nasib baik pada diri kita, dan akan selalu membuat sial pihak musuh. Dengan demikian jika saja guru memberi izin diriku untuk menafsirkannya, akan segera aku tafsirkan. Namun jika guru berkehendak lain, aku akan selalu menurut apa yang menjadi maksud guru,” begitu Abu Hanifah menawarkan dengan penuh santun.
“Cobalah kau tafsirkan, bagaimana takwil mimpi tersebut,” begitu desak sang guru.
Abu Hanifah pun segera menguraikan takwilnya:
“Rumah yang luas dengan hiasannya yang cantik itu adalah negeri dan agama Islam itu sendiri, sedangkan pohon yang berbuah itu adalah para ulamanya, dan batang yang masih tersisa itu adalah tuan guru sendiri, sedangkan babi ngepet itu wujud si Mulhid, kemudian harimau yang menerkam, insya Allah diri saya sendiri. Langkah lebih lanjut, hendaknya tuan guru pergi bersama saya, di mana dengan kehadiran dan niat tuan yang tulus, aku akan bertindak melawan dan mendesak si Mulhid.”
Mendapat dorongan Abu Hanifah seperti ini, Syeikh Hammad langsung bangkit semangatnya, kemudian pergi bersama Abu Hanifah menuju Masjid Jami’ memenuhi undangan Khalifah untuk membungkam mulut Mulhid yang selama ini nyerocos tidak terkendali. Segera saja Abu Hanifah memasuki Masjid dan mengambil sebuah tempat duduk untuk gurunya, sedangkan dia sendiri duduk di bawah seraya mengangkat kedua terompahnya dan kedua terompah gurunya. Masjid itu pun lantas di penuhi oleh hadirin yang akan menyaksikan pertandingan akbar antara pihak hak dan puak batil, dimana pertarungan ini diwasiti oleh Khalifah. Setelah semuanya dirasakan siap, si Mulhid segera naik mimbar seraya mengatakan:
“Siapa yang akan menjawab pertanyaanku?” begitu dia menantang para hadirin.
“Anda jangan menentukan siapa yang akan menjawab, namun dari para hadirin ini jika ada yang menjawab, entah itu anak-anak atau orang tua, dialah yang akan berhadapan dengan Anda,” begitu Abu Hanifah kecil membalas dengan sengit pula.
“Hai anak kecil, adakah kau berani menghadapi aku dengan umurmu yang masih bau kunyit itu, padahal telah banyak ulama yang berserban besar, berpakaian terhormat dan berlengan komprang harus bertekuk lutut di hadapanku. Kamu sendiri anak kecil dan belum kering dari berkhitan, berani-beraninya berdebat!” begitu Mulhid mulai panas mendengar balasan Abu Hanifah.
“Adakah kau sanggup menjawab persoalan yang aku ajukan, atau hanya hangat-hangat tahi ayam, ingin sekali-kali mencoba!” lanjut mulut Mulhid lagi.
“Silakan kau bertanya dan aku yang akan sanggup menjawab dengan mendapat pertolongan Allah,” tantang Abu Hanifah lagi.
“Apakah Tuhan itu ada? begitu pertanyaan Mulhid yang pertama dilontarkan.
“Betul, benar dan haqqul yakin,” jawab Abu Hanifah tegas.
“Kalau begitu, di mana Dia sekarang,” lanjut Mulhid.
“Dia tidak bertempat,” balas Abu Hanifah singkat.
“Bagaiamana sesuatu yang wujud namun tidak memerlukan tempat?” sahut Mulhid lagi.
“Pertanyaanmu itu sebenarnya telah terjawab dengan apa yang berada pada tubuhmu sendiri,” sambung Abu Hanifah lagi.
“Apa itu?” lanjut Mulhid lagi.
“Apakah pada tubuhmu itu ada nyawanya (ruh),” sergah Abu Hanifah.
“Betul, benar ada,” sahut Mulhid pula.
“Di mana ia berada? Apakah bertempat di kepalamu, atau di perutmu atau di kakimu?” lanjut Abu Hanifah lagi.
Mendapat berondongan bertanyaan ini si Mulhid kebingungan bagai lutung hilang sarungnya. Kemudian Abu Hanifah meraih segelas susu yang sejak tadi dihidangkan oleh kerajaan, kemudian mengatakan:
“Apakah susu di gelas ini mengandung lemak?”
“Benar, wahai bocah!” sahut Mulhid kembali.
“Kalau demikian, di mana letak lemak itu, apakah di bagian atas atau di bagian bawah,” lanjut Abu Hanifah dengan garang.
Ternyata si Mulhid itu kebingungan lagi, seakan tidak mengerti lagi arah utara dan selatan. Maka Abu Hanifah pun melanjutkan ucapannya:
“Sebagaimana ruh itu tidak diketahui tempatnya, atau lemak pada susu itu juga tidak bisa dimengerti tempatnya, demikian pula Allah tidak akan dapat ditentukan tempatnya di jagad raya ini,” demikian tutur Abu Hanifah menohok ulu hati dengan telak.
“Kalau begitu, apakah ada barang yang maujud sebelum Allah dan sesudahnya, hayo!,” begitu lanjut Mulhid yang ternyata langkahnya belum mati.
“Sebelum Allah dan sesudahnya tidak ada apa-apa. Apa yang aku utarakan ini ada dasarnya. Tiada lain berada pada tubuhmu sendiri,” sahut Abu Hanifah membuat Mulhid terperangah.
“Apa itu?” sergah Mulhid tergesa-gesa.
“Coba buka dan lihat telapak tanganmu. Ada apa sebelum ibu jari dan sesudah kelingking?” tangkis Abu Hanifah lebih lanjut.
“Nggak, tidak ada apa-apa” jawab Mulhid tampak mulai ngeper.
“Demikian pula sebelum dan sesudah Allah tidak akan pernah ada apa-apa,” tancap Abu Hanifah membuat Mulhid semakin nyungsep.
“Masih ada satu persoalan lagi yang perlu kau jawab,” lanjut Mulhid lagi kendati sudah megap-megap.
“Akan terus aku jawab, insya Allah,” begitu sahut Abu Hanifah.
“Kalau Allah itu ada, sekarang sedang mengapa Dia, sedang berbuat apa pula?” tanya Mulhid masih tampak kurang ajar.
“Situasi dan kondisi sekarang ini memang terbalik,” sergah Abu Hanifah, “Mestinya orang yang bertanya itu berada di bawah, kalau perlu di deretan kursi berbaur dengan para hadirin di belakang. Dan akan lebih layak jika si penjawab berada di atas mimbar sebagai penghormatan, yakni diriku. Dengan demikian jika saja kau mau turun dari mimbar, kemudian aku ganti yang naik, aku akan sanggup menjawab pertanyaan yang kau kemukakan itu,” begitu Abu Hanifah masih melancarkan diplomasi yang jitu.
Akhirnya si Mulhid pun mengalah turun dari mimbar menuju sebuah kursi, sedangkan Abu Hanifah dengan cepat naik ke atas mimbar dan dengan petah mengatakan:
“Sekarang pertanyaanmu aku jawab, bahwa Allah sekarang sedang menurunkan martabat si penyandang kebatilan dari atas mimbar menuju kursi di bawah terompahku, kemudian Dia menaikkan martabat si penyandang hak dari tempat bawah menuju panggung kehormatan, begitu, tahu.”
Mendapat jawaban seperti ini, tepuk tangan para hadirin tidak terbendung lagi mengelu-elukan diplomasi Abu Hanifah. Sedangkan si Mulhid betul-betul tak berdaya semisal wayang kulit yang kehilangan kayu penjepitnya, loyo dan melur.
Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar