Selasa, 29 Desember 2009

Baju Besi Nabi Daud As.

Baju Besi Nabi Daud As.



Pada suatu hari nabi Daud As. mengadakan perjalanan inspeksi ke seluruh pelosok desa dengan mengenakan pakaian ala kadarnya sebagai penyamaran. Beliau ingin mengetahui, bagaimana tanggapan rakyatnya selama beliau memegang tampuk kerajaan. Hal ini dimaksudkan untuk membenahi apa pun yang dipandang perlu oleh masyarakat. Padahal suatu kekurangan seseorang itu tidak akan disadari oleh diri sendiri, kendati orang lain bisa melihat dengan jelas. Di suatu jalan beliau bertemu dengan lelaki tua, dimana nabi Daud segera mengajaknya menepi untuk sekedar berbincang-bincang. Dan pada akhirnya beliau sempat mengajukan pertanyaan:
“Bagaimana tanggapan tuan mengenai kecakapan Daud dalam mengelola pemerintahan kerajaan ini?. begitu tanya beliau dengan menyamarkan identitasnya.
“Aku tidak begitu senang dengan sikap beliau itu, mengapa seorang raja sehari-harinya banyak berkutat dengan urusan ibadah mengalahkan peribadahan seorang pendeta saja. Bagaimana urusan rakyat bisa lancar jika saja pemimpinnya begitu!”. demikian ucap lelaki tua itu.
Jawaban seperti ini dirasakan nabi Daud tidak adil, sebab kendati dirinya banyak ibadah, namun tidak mengurangi perhatiannya kepada urusan rakyat.
Kemudian beliau meneruskan perjalanan lagi seraya mengucapkan salam perpisahan kepada orang tua itu. Dan setelah cukup lama, beliau menjumpai seorang lagi untuk berbincang-bincang seperlunya, dimana dalam sela-sela pembicaraan itu beliau sempat bertanya mengenai sikap Daud dalan mengelola kerajaan. Maka beliau pun mendapat jawaban:
“Mestinya raja Daud itu memperhatikan pula menengai berbagai tempat hiburan agar masyarakat mendapat refresing dari kekalutan mereka. Akan lebih baik jika hiburan-hiburan yang telah dilarang agama dulu, kini dibuka kembali agar seluruh penjuru negeri tampak semarak begitu. Biar desa-desa tidak kelihatan sepi”.
“Wah, wah, ini jelas mengarah kepada kemungkaran”. begitu nabi daud bergumam dalam hati.
Segera saja beliau beranjak untuk meneruskan perjalanan kembali, dan belum begitu berselang lama akhirnya berjumpa dengan seorang lelaki yang sudah cukup tua pula. Maka kali ini beliau juga mengajak berbincang-bincang sehingga sempat pula memancing sebuah tanggapan atas tahta dirinya di kerajaan Bani Israel ini. Tampaknya lelaki itu menjawab dengan bijaksana.
“Daud merupakan seorang raja idola dan figur yang rajin beribadah. Urusan kerajaan selalu dilaksanakan dengan baik. Kepentingan rakyat pun diperhatikan begitu cermat. Namun sayangnya satu…”. lelaki itu berhenti berucap dengan raut tampak agak takut.
“Apa tuan sayangnya!”. begitu sahut nabi Daud dengan penyamaran yang belum terbongkar.
“Perasaanku tidak begitu bebas!”. demikian lelaki itu mengeluh.
“Utarakanlah biar aku juga mendapat ilmu dari pendapat tuan yang akan aku dengar sekarang ini”. desak nabi Daud lebih lanjut.
Akhirnya lelaki itu mengatakan pula:
“Sayangnya beliau dan keluarganya masih menggunakan gaji dari kerajaan untuk menopang hidupnya sehari-hari. Padahal jika saja beliau mempunyai sumber nafkah dari keringatnya sendiri, betapa kewibawaan beliau akan bertambah mantap”.
Mendapat keterangan seperti ini, nabi Daud tertegun dibuatnya. Dan setelah beranjak pulang, beliau segera berganti pakaian dan langsung memasuki mihrab bersujud kepada Allah dengan panjang sampai beberapa minggu. Pada akhirnya Allah memberi mukjizat kepada beliau, dimana sebuah lempengan besi ketika berada di tangannya akan meleleh sehingga tinggal membentuk barang yang sesuai dengan keinginan beliau. Maka beliau pun membuat baju perang yang ketika itu memang sangat dibutuhkan masyarakat. Baju-baju itu dijualnya dengan harga yang terjangkau, dimana hasilnya untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Dan setelah produksinya itu berjalan lancar, gaji dari kerajaan yang selama ini diterimanaya, kini beliau tidak mau mengambil lagi, bahkan diserahkan kepada bendahara agar dikembalikan untuk kemashlahatan masyarakat. Maka terbebaslah beliau dari beban psikologis yang selama ini telah membelenggunya.
Dalam suatu kesempatan Luqman Al-Hakim bertandang ke rumah Nabi Daud bertepatan ketika Nabi daud membuat baju besi. Hal ini yang membuat Luqman begitu takjub. Sedangkan untuk bertanya mengenai kegunaannya, seketika itu pula hikmah dalam hatinya mencegah sehingga dalam waktu yang cukup lama Luqman hanya terdiam. Dan setelah Nabi Daud selesai membuatnya, beliau pun bangkit untuk mengenakan dan mencobanya seraya mengatakan:
“Memang baju besi ini layak betul dipakai untuk berperang”.
Segera saja Luqman menyahut:
“Diam itu memang banyak mengandung hikmah, namun betapa sedikit mereka yang melakukannya”.
Dalam arti kendati Luqman tidak bertanya, ternyata pada akhirnya ia mendapat jawaban juga. Apalagi suatu pertanyaan kadang membuat sakit hati mereka yang ditanya.

o0o

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar