Kamis, 31 Desember 2009

Kehancuran Umat Nabi Isa As.

Pada suatu hari Nabi Isa berkehendak umntuk mengembangkan ajaran yang dibawanya ke daerah Antiokia. Untuk maksud itu, beliau memanggil dua orang sahabat pilihan dari kaum hawariyin, yaitu orang-orang pilihan diantara para sahabatnya. Segera saja kedua orang itu berangkat menuju Antiokia, namun sebelum memasuki gerbang kota, keduanya melihat seorang yang sudah berumur sedang menggembalakan kawanan domba, ia bernama Habib An-Najjar. Segera saja terjadi dialog antara keduanya setelah mengucapkan salam.
“Siapa gerangan anda berdua, tampaknya dari negeri yang cukup jauh.” begitu Habib mengawali pembicaraan.
“Betul, memang kami sengaja datang dari negeri seberang sebagai utusan Ruhullah Nabi Isa, untuk mengajak penduduk negeri ini dari menyembah berhala kepada Tuhan yang Esa”. jawab kedua hawariyin.
“Kalau begitu tentulah ajakan kalian itu diperkuat dengan suatu ayat atau mukjizat barangkali.” sahut Habib An-Najjar lagi.
“Memang betul kami datang dengan membawa ajaran yang hak ditopang dengan ayat untuk memperkuat ajaran tersebut. Diantaranya kami bisa menyembuhkan orang sakit, kendati sangat sulit disembuhkan, dapat pula menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan orang buta asal dan mereka yang terkena vetiligo (belang). Kesemuanya atas seizin dan kehendak Allah semata.” jawab keduanya panjang lebar agar Habib tertarik untuk mengikuti agama yang diridhai Allah.
“Oh, kebetulan sekali’ “sergah orang tua itu”, anak saya sendiri mengalami sakit menahun yang sampai kini belum tersembuhkan. Kalau saja kalian bisa menyembuhkannya, saya akan dengan suka rela beriman dan memeluk agama yang anda sampaikan.”
Mereka pun segera pergi ke rumah Habib An-Najjar dengan menggiring seluruh kawanan domba itu untuk menemui anaknya. Dan setelah memasuki rumah itu, mereka mendapai anak tersebut tergolek lemas di atas balai kusam dan mengenaskan. Kedua hawariyin itu pun lantas mengusap-usap sekujur tubuh anak terasebut dengan membaca do’a yang telah diajarkan oleh Nabi Isas As. Selang beberapa saat kemudian, anak itu langsung bisa berdiri dan merasakan kesehatannya telah pulih kembali. Untuk membuktikan kebenaran janjinya itu, Habib beserta keluarganya dengan suka cita menyatakan beriman dan mengikuti ajaran Nabi Isa.
Peristiwa ini begitu cepat tersiar ke seluruh penjuru Antiokia sehingga banyak sekali orang berbondong-bondong mencari kesembuhan dan menyatakan keimanannya. Tidak luput pula baginda raja Aftichis juga mendengar berita itu, padahal selama ini mayoritas penduduk kota dan rajanya masih aktif menyembah berbagai berhala (pagan).
Pada suatu hari, baginda memanggil dua ahli dakwah itu untuk menghadap di kerajaan. Dan setelah keduanya memperhatikan undangan tersebut, maka baginda segera menanyakan identitas keduanya, yang kemudian dijawab pula dengan tutur kata yang santun dan penuh kedamaian bahwa keduanya merupakan utusan Nabiyullah Isa As. untuk mengajak seluruh penduduk dari menyembah berhala yang tidak bisa melihat, tidak pula bisa mendengar menuju berbakti kepada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar.
“Adakah kami ini memiliki Tuhan selain tuhan-tuhan yang selama ini telah kami yakini dan telah kami sembah.” tanya baginda keheranan.
“Betul baginda, Tuhan yang wajib kita sembah adalah Tuhan yang telah memberi nikmat kepada kita sehingga kita ada dan hidup di dunia ini, Tuhan baginda dan Tuhan moyang baginda pula.” begitu jawab dua hawariyin ini dengan landai dan penuh kebijaksanaan..
Ketika dialog ini terjadi, telah banyak sekali masyarakat yang mengerumuni dan menyaksikan jalannya tanya jawab. Namun tanpa diduga, mereka ternyata tidak menghendaki ajaran ini, malah kedua hawariyin itu diseret keluar istana kemudian disiksa sedemikian rupa dengan seizin raja itu, keduanya lantas dijebloskan dalam penjara.
Berita atas kandasnya jalan dakwah ini segera didengar pula oleh Nabi Isa. Untuk menyelamatkan keduanya, beliau lantas mengutus seorang pimpimnan kaum hawariyin yang cakap dan lebih handal lagi dalam menebar ajaran kedamaian ini, Syam’un namanya. Maka berangkatlah Syam’un menuju penjara Antiokia dengan menyamar sebagai seorang pengunjung. Sebelum itu Syam’un telah mempersiapkan bekal yang cukup berupa roti yang dimasukkan dalam karung yang cukup besar, kemudian ia menemui sipir penjara seraya mengatakan :
“Adakan tuan memperbolehkan saya untuk memberikan makanan ini pada para tahanan. Maksud saya agar mereka hari ini lebih bahagia, sementara ransum makanan mereka untuk hari ini bisa saja dikurangi untuk hari esok. Lebih tegasnya saya ingin bersedekah kepada mereka”. begitu Syam’un menguraikan maksudnya.
“Oh, silahkan saja kalau ingin berbuat baik”. Sahut seorang sipir penjara.
Maka masuklah Syam’un dalam penjara itu dengan membagi-bagikan makanan yang telah dibawanya ke seluruh penghuni penjara hingga sampai pada dua orang kawannya. Dengan berbisik-bisik Syam’un menanyakan keadaan keduannya.
“Kalian terlalu berambisi, “kata Syam’un”, agar dakwah yang kalian ajarkan itu cepat diterima, sehingga kalian melupakan prinsip berhati-hati. Yang demikian ini menyerupai seorang wanita ketika mudanya belum dikaruniai seorang anak. Namun ketika umurnya beranjak tua, ia baru bisa hamil dan melahirkan seorang anak yang cukup tampan. Tampaknya wanita itu tidak sabaran, ia ingin agar anaknya tumbuh secara cepat, maka anak tersebut diperlakukan sebagai orang dewasa, sehingga porsi makanannya pun disesuaikan dengan orang dewasa. Pada akhirnya anak tersebut bukan tumbuh normal, namun malah kematian yang didapat, sebab pencernaanya tidak mampu mengolah makanan itu, anda berdua semisal itu. Untuk itu pada waktu yang akan datang nanti pola dakwah kalian harus segera dibenahi agar bisa berhasil dengan memuaskan.” begitu Syam’un menasehati kedua anak buahnya dan diterima dengan hati yang lapang pula.
Setelah pertemuan tersebut, Syam’un segera berpamitan keluar dari penjara seraya mengatakan bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan keduanya dari kuburan hidup itu. Maka ia segera bergegas menuju ke rumah seorang menteri untuk mencapai maksud tersebut. Didekatinya menteri itu dengan berbagai upaya, terutama dengan memperlihatkan berbagai keistimewaan yang diberikan oleh Nabi Isa. Dalam waktu yang tidak begitu lama, menteri itu pun beriman kepada ajaran yang dibawa Nabi Isa. Dengan kepiawaiannya dalam menyampaikan dakwah pula, Syam’un meminta agar menteri tersebut sudi menginformasikan keadaan dirinya kepada baginda raja. Pada suatu hari Syam’un pun dipangguil untuk menghadap sang baginda untuk mengadakan ramah tamah ringan. Hal ini merupakan sebuah pintu yang akan mendekatkan dirinya kepada raja, dan terbukti memang akhirnya hati baginda merasa ceria berdekatan dengan Syam’un. Maka pada suatu hari, Syam’un mengutarakan isi hatinya :
“Wahai baginda, “Syam’un mulai mengutarakan maksudnya”, aku dengar baginda telah memenjarakan dua orang yang mengajak baginda kepada suatu keyakinan yang tidak sesuai dengan agama baginda, adakah kabar demikian itu betul adanya ?”.
“Yang demikian itu memang betul, tiada lain karena aku sendiri juga tidak senang, dan didukung pula oleh mayoritas publik negeri ini. Saya kira itu sudah sesuai dengan undang-undang yang berlaku.” begitu jawab raja menjelaskan.
“Demi rasa keadilan, alangkah bijaksananya jika baginda mengoreksi lebih dahulu mengenai keyakinan yang dibawa. Adakah mungkin akan sesuai dengan logika dan bisa diterima jiwa yang bersih.” sambung Syam’un lagi menjulurkan pancingan.
“Oh, tampaknya jalan pikiranku belum sampai di situ, malah dahulu sebelum keduanya dipenjara, kemarahanku dahulu yang mula-mula tampil. Mungkin akan lebih bijaksana jika sekarang putusan pemenjaraan itu ditinjau ulang”. jawab baginda yang mulai memberi angin segar kepada Syam’un.
“Kalau baginda tidak keberatan, bolehkah keduanya dihadirkan kesini, kemudian kita teliti pendapat dan keyakinan keduanya. Siapa tahu mungkin ada manfaat untuk pengetahuan kita.” sahut Syam’un lagi.
Baginda ketika itu pula menyetujui ajakan Syam’un. Maka keduanya pun dihadirkan di hadapan baginda, namun Syam’un berpura-pura tuidak mengenal kedua bawahannya itu agar baginda tidak mencurigai berkomplot yang pada akhirnya akan menggagalkan seluruh maksud Syam’un, dan malah mungkin akan menjadi petaka.
“Siapa yang menyuruh kalian berdua datang di negeri ini dan apa keperluannya.” tanya Syam’un kepada kedua kawannya di hadapan baginda.
“Kami telah diperintahklan Allah Yang telah menjadikan seluruh makhluk dan tidak ada serikat bagi-Nya”. jawab keduanya agak kaku.
“Coba terangkan sedikit saja dari berbagai sifat-Nya ?”.kejar Syam’un lagi.
“Dia merupakan Tuhan yang berbuat apa saja dan menetapkan apa pun yang dikehendaki. Tidak akan ada seseorang yang akan mampu menghalangi kemauan-Nya.” begitu keduanya menerangkan sifat Allah agar hati baginda tergiring untuk bertauhid.
“Adakah kalian membawa bukti atau apapun yang bisa menguatkan dakwaan kalian itu.” sergah baginda menggali sebuah bukti.
“Apa saja yang menjadi kehendak baginda, insya Allah kami akan sanggup melaksanakan.” sahut keduanya dengan penuh keyakinan.
Seketika itu baginda menitahkan agar seorang pemuda yang buta sejak lahir dihadirkan, padahal kelopak matanya telah mengatup erat seakan tidak tampak belahan sama sekali. Kedua hawariyin itu segera mengadakan terapi, kemudian melaksanakan doa bersama. Di tempat itu pula kedua belah kelopak mata pemuda itu terbelah, kemudian keduanya mengambil tanah yang dibentuk bulat dan dengan kepiawaiannya dimasukkan kedalam rongga mata. Dalam waktu sekejap pemuda itu bisa melihat dengan sempurna. Begitu baginda melihat keajaiban ini, ia merasa takjub yang tiada habis-habisnya. Pada kesempatan itulah, Syam’un berbisik kepada baginda :
“Wahai baginda, hendaknya keduanya ditanya, tuhan baginda yang mana yang telah membuat keajaiban seperti ini dan menyembuhkan kebutaan sejak lahir. Dengan demikian baginda nanti bisa menentukan mana tuhan yang lebih patut untuk dihormati di antara tuhan-tuhan baginda.” begitu pancing Syam’un.
“Wahai Syam’un, “kata baginda”, antara kau dan aku sebenarnya sudah tidak perlu adanya rahasia yang perlu ditutupi. Engkau sendiri telah tahu bahwa tuhan-tuhanku tidaklah akan mampu menyembuhkan penyakit seperti ini, tegasnya memang mereka tidak melihat, tidak juga mendengar, apalagi memberi manfaat atau mendatangkan mudharat.
Sebelum peristiwa ini terjadi, sudah biasa Syam’un keluar masuk rumah berhala kerajaan bersama baginda. Pada kesempatan tersebut, biasanya Syam’un melaksanakan shalat yang diiringi do’a yang cukup panjang, namun apa yang dilakukannya adalah untuk menyembah Allah SWT., bukan berbakti pada patung-patung itu. Hal ini dilakukan sebagai kamuflase (tutup diri) agar Syam’un tampak mengikuti agama baginda.
“Sebenarnya aku sekarang “ kata baginda” masih dalam masa berkabung tersebab kematian anak saudaraku yang sampai kini belum aku makamkan karena masih menunggu ayahnya pulang dari bepergian yang jauh. Adakah kalian bisa menghidupkannya ?. Jika saja maksud ini bisa terlaksana, aku dan seluruh keluarga kerajaan akan menyatakan beriman dihadapan kalian. Adakah permintaanitu mengada-ada ?”. tanya baginda.
Kedua hawariyin itu segera memohon untuk ditunjukkan mengenai keberadaannya, lantas mereka pun segera menuju rumah anak yang telah mati itu. Didapatinya mayat anak itu telah membujur kaku dengan kulit yang telah membiru dan bau yang mulai menyeruak. Di samping mayat itulah keduanya segera berdo’a dengan menengadahkan kedua belah tangannya dan melantangkan bacaannya. Sementara itu Syam’un mengamini dari belakang dengan hatinya agar tidak tampak oleh baginda. Beberapa saat kemudian anak itu bangkit dengan seizin Allah seraya mengatakan :
“Sudah tujuh hari ini akau mati dalam keadaan kafir, dan selama itu aku telah dimasukkan dalam lembah-lembah neraka. Dengan demikian aku nasehatkan, hendaknya baginda dan seluruh rakyat segera beriman kepada Allah. Selain itu baru saja aku melihat pintu-pintu langit yang terbuka lebar. Aku pun sempat melihat, di balik pintu itu ada seorang pemuda yang sangat tampan memberi pertolongan kepada tiga orang”.
Mendengar kalimat yang terakhir iniu, baginda segera saja menyergah :
“Siapa ketiga orang itu ?”.
“Tiada lain mereka adalah Syam’un dan kedua orang di depannya itu”. begitu sahut anak yang baru hidup tersebut.
Mendengar keterangan ini, baginda malah bertambah-tambah keheranannya, dan tampaknya malah memberi pengaruh positif mengenai keimanan hati baginda. Dan ketika Syam’un telah mendapat kesempatan emas ini, ia segera m engajak baginda untuk memeluk agama yang diridhai Allah. Kemudian atas hidayah Allah pula, baginda menyatakan keimanannya dihadapan para utusan Nabi Isa Ruhullah ini.
Beberapa hari kemudian, baginda mengumumkan agar seluruh rakyat segera beriman kepada Allah sebagai Tuhan dan kepada Nabi Isa sebagai utusan-Nya. Dari ajakan ini banyak mereka yang berbondong-bondong menggapai ridha Allah, namun masih banyak pula yang memilih tetap engkar. Maka kepada kaum yang engkar, Allah mengirim petaka berupa hentakan dari teriakan Jibril As. sehingga mereka menemui ajalnya ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar