Kamis, 31 Desember 2009

Pengaruh Kezaliman

Seseorang yang menjadi bawahan sebuah rezim yang berbuat zalim, mestilah dirinya berhadapan pada beberapa alternatif di bawah ini. Pertama, seseorang berusaha mendekati mereka. Hal ini merupakan suatu sikap yang amat buruk. Kedua, mereka yang mendekat kepadanya. Kondisi seperti ini keburukannya berada di bawah yang pertama. Ketiga, mereka tidak pernah mengenalnya dan dia juga tidak pernah mengenal mereka. Sikap ini yang dipandang paling selamat. Sebagaimana sinyalemen Rasulullah Saw. mengenai para penguasa zalim itu:
“Barang siapa membuang mereka jauh-jauh, maka dia akan selamat. Dan barang siapa menjauhi mereka, dia akan selamat atau minimal dapat diharapkan keselamatannya. Namun barang siapa yang jatuh dalam dunia mereka, maka ia dari kelompok mereka.”
(HR.At-Thabrani dari Ibnu Abbas).
Berkata pula sahabat Abu Dzarr kepada Salamah:
“Wahai Salamah, janganlah sekali-kali dirimu mendekat pada pintu-pintu penguasa, sebab jika saja kau memperoleh duniawi dari mereka, mereka mestilah telah berhasil menggarong agamamu dalam intensitas yang lebih banyak lagi.”
Pada suatu kesempatan, Umar bin Abdul Aziz memecat seorang pegawai yang pernah menjadi bawahan Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafy selaku panglima yang terkenal zalim itu. Namun segera saja orang tersebut menolak seraya mengatakan:
“Aku menjadi bawahannya tidaklah begitu lama, juga hanya diserahi untuk membenahi masalah-masalah ringan.”
“Cukup memberi pengaruh buruk bagimu dalam menjadi bawahan itu sehari atau dua hari,” sahut Umar dengan tegas sehingga orang tersebut langsung dilepas dari jabatannya.
Dan ketika Az-Zuhry selaku seorang ulama yang cukup harum namanya itu menjadi pegawai istana, maka segera saja seorang kawannya menasihati:
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
“Wahai Az-Zuhry, semoga Allah menyelamatkan diriku dan dirimu dari berbagai fitnah, sebab dalam kondisi bagaimana pun seseorang yang telah mengenalmu itu sekarang lebih patut untuk mendoakan dirimu kepada Allah agar rahmat dan kasih sayang-Nya selalu tercurahkan kepadamu. Kalau dicermati, sekarang dirimu itu telah renta, padahal berbagai nikmat Allah telah banyak kau peroleh, baik itu berupa kefahaman mengenai Kitab Allah atau sunnah-sunnah Nabi-Nya. Mestinya dalam menghadapi pribadi seperti dirimu selaku seorang ulama itu Allah akan mengikat janji sebagaimana apa yang telah disitir dalam Al-Qur’an:
“Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya.” (Ali Imran: 187 ).
Ketahuilah bahwa sikapmu itu minimal akan membuat senang dan membahagiakan kegundahan penguasa zalim, ini pada akhirnya akan menyeret melegalkan perbuatan aniaya tersebab engkau telah menjadi backing terhadap mereka yang sering tidak menunaikan perkara hak atau tidak meninggalkan kebatilan. Dengan demikian ketika mereka bisa menjaringmu, maka mereka akan menjadikanmu sebagai tumpuan, mereka akan mengitari dirimu dengan berbagai perbuatan aniaya semisal lembu yang berputar di sekitar penggilingan. Tidak cukup itu saja, mereka akan menjadikanmu sebagai jembatan yang dipergunakan untuk menyebarangkan bencana kepada masyarakat. Dirimu dipakai pula sebagai tangga untuk mendongkrak kebiadaban mereka. Bahkan engkau akan segera diperalat untuk menebarkan keraguan pada para ulama lain yang berseberangan dengan penguasa zalim itu. Di samping akan dipasang sebagai pemimpin orang-orang bodoh untuk menghapus kesan buruk diri mereka. Betapa ringan bagi mereka dalam menanggung berbagai kebutuhan hidupmu. Namun betapa besar pengorbananmu. Hasil mereka sangat besar dalam mendulang kredibilitasmu, namun mereka menyusupkan kehancuran terhadap dirimu, utamanya terhadap eksistensi agamamu. Adakah engkau tidak khawatir jika masuk dalam sinyalemen Allah dalam sebuah ayat:
Maka datanglah kepada mereka sebuah generasi yang jelek. Mereka menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan syahwat. Maka mereka kelak akan menemui kehancuran (QS. Maryam: 59 ).
Padahal posisimu ketika hidup sekarang ini adalah masih terikat kontrak untuk beribadah kepada Dia Yang tidak pernah berbuat bodoh. Dia selalu Yang mengawasimu dan tidak pernah lupa. Aku ingatkan, segeralah sembuhkan penyakit yang telah berjangkit pada agamamu itu, aku lihat agamamu sekarang ini telah terserang penyakit kronis. Kemudian persiapkan bekalmu menuju kawasan yang kekal, sebab tampaknya waktu bepergian telah begitu dekat.
Tiadalah akan samar bagi Allah mengenai apa pun yang berada di langit dan di bumi (QS. Ibrahim: 38).
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Begitu pula apa yang dilakukan oleh Hammad bin Salamah. Pada suatu hari Muhammad bin Shalih bertandang ke rumahnya. Dan setelah pintu diketuk, ia dipersilakan masuk ke dalam rumah yang hanya berisi selembar tikar sebagai tempat duduknya dan mushhaf yang ketika itu sedang dibaca serta sebuah almari kecil sebagai tempat kitab-kitabnya dan sebuah bejana tempat air wudhu. Sejenak kami beramah tamah, namun tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk orang. Dan ketika dibuka si tuan rumah, ternyata yang datang adalah seorang putra kerajaaan, yakni Muhammad bin Sulaiman (bin Abdul Malik). Segera saja tuan rumah mempersilakan untuk masuk dan duduk bersama-sama. Lantas Sulaiman mengatakan:
“Wahai guru!, mengapa setiap aku berjumpa dengan tuan guru, hati ini mesti dilanda gusar dan ketakutan,” begitu Sulaiman membuka pertayaan.
“Itu tiada lain karena Rasulullah Saw. pernah mengatakan:
“Jika seorang alim itu hanya mencari ridha Allah ketika mengamalkan ilmunya, maka segala sesuatu akan merasa takut dan gentar terhadapnya. Namun jika saja bermaksud hendak mengumpulkan berbagai harta benda, maka ia akan takut menghadapi segala sesuatu.”
Kemudian Muhammad bin Sulaiman menyodorkan uang sejumlah empat puluh ribu dirham seraya mengatakan:
“Wahai guru, silakan tuan mempergunakan uang tersebut untuk keperluan tuan.”
Tanpa diduga, Hammad bin Salamah mengatakan :
“Hendaklah uang itu segera engkau kembalikan pada orang yang telah engkau rugikan.”
“Demi Allah uang itu dari hasil bagian warisanku, bukan dari arah yang tidak terang,” begitu Muhammad merengek agar uang itu diterima.
“Aku tidak membutuhkannya,” sambung Hammad lagi.
“Kalau begitu silakan tuan mengambil, kemudian tuan bagikan kepada mereka yang membutuhkan,” sahut Sulaiman masih mendesak pula.
“Jika aku yang harus membagikannya, aku khawatir jika diprotes mereka yang tidak mendapat bagian dengan perkataan: “Ternyata Hammad tidak adil dalam membagi kendati dalam bidang yang lain dia tampak mumpuni.” Bagaimana kalau hal itu terjadi? Dengan demikian dia akan terkena dosa, sedangkan saya yang menjadi penyebabnya. Untuk itu segeralah uang itu engkau singkirkan dari tempat ini,” begitu sergah Hammad tak kalah sengit.
Begitulah para ulama salaf dalam menjaga kehormatan, baik yang menyangkut agamanya atau pun harga dirinya sendiri sehingga mereka tampak begitu agung dan mulia serta disegani berbagai lapisan masyarakat ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar