Kamis, 31 Desember 2009

Tahun-tahun Kesedihan Rasulullah Saw.

Melihat penderitaan Rasullah Saw. dan kaum Muslimin yang terisolir di Syi’ib (kawasan di kaki gunung) dari komunitas kaumnya, maka karena sudah tidak tahan lagi, Zuhair bin Umaiyah beserta kawan-kawannya dari pihak Quraisy sendiri sepakat untuk mencabut piagam pemboikotan yang kejam itu. Mula-mula Abu Jahal memprotes tidak menyetujui, namun pada akhirnya mengalah dan bungkam berhadapan dengan sikap Zuhair yang keras dan tegas dan didukung oleh lima orang kawannya.
Sejak itu kaum Muslimin terlepas dari pemboikotan dan boleh kembali ke tengah masyarakat, boleh mengadakan jual beli atau perkawinan dan berbagai aktivitas lainnya setelah tiga tahun mengalami kehidupan di celah gunung dengan menanggung kelaparan dan penderitaan.
Tetapi orang-orang Quraisy kembali merasa jengkel dengan kegiatan Rasulullah Saw. yang menyebarkan dakwah Islam seperti sediakala, bahkan lebih giat lagi. Permusuhan dan dendam lama tidak dapat dielakkan lagi. Orang-orang Quraisy terus menerus mengganggu dan merintangi perjuangan Rasulullah Saw. Pada hari-hari selanjutnya, pihak Quraisy mendapatkan angin segar ketika tahun itu juga Rasulullah kehilangan dua orang yang sangat dicintainya dan yang selalu mendukung perjuangannya..
Peristiwa menyedihkan ini terjadi beberapa bulan setelah terhapusnya piagam pemboikotan, yakni pada tahun ke 10 dari Kenabian. Abu Thalib yang telah berumur 87 tahun, selaku paman yang dihormatinya dan selalu melindunginya meninggal pada tanggal, 12 Ramadhan 620 M. Belum lagi habis kesedihannya, tiga hari kemudian, yakni tanggal, 15 Ramadhan, 10 Kenabian, Siti Khadijah selaku isteri yang sangat dicintainya juga meninggal dunia dalam usia 65 tahun. Maka tahun itu disebut ‘Amul Huzni atau tahun kesedihan.
Tidak mengherankan jika kaum Quraisy semakin menjadi-jadi dalam menghalangi dakwah beliau. Namun Rasulullah semakin menabahkan hatinya dan semakin membaja tekadnya, sebab beliau telah meyakinkan bahwa yang diperjuangkan itu sebuah kebenaran. Bukan memperjuangkan perut, pangkat atau pun kekuasaan.
Lihatlah ketika Abu Lahab, Hakam bin Ash dan Uqbah bin Abi Muith menimpakan kotoran-kotoran di tubuh Rasulullah Saw. ketika beliau melakukan shalat. Perlakuan seperti itu dihadapinya dengan sabar tanpa dendam. Pada kesempatan yang lain ketika beliau sedang shalat juga, beliau dicekik lehernya hingga matanya terbelalak. Untung segera ada Abu Bakar yang menolongnya. Pernah pula seorang pandir dari suku Quraisy mencegat Rasulullah di tengah jalan, kemudian menyiramkan abu panas ke tubuh Rasulullah, namun beliau hanya diam dan terus berjalan pulang. Dan ketika sampai di rumah, seorang putrinya yang bernama Fatimah membersihkannya sambil menangis. Namun Rasulullah malah menghibur putrinya itu dengan kalimat yang amat terkenal :
“Janganlah menangis, anakku, Allah akan melindungi ayahmu.”
Karena berbagai tekanan dahsyat kaumnya itu, akhirnya beliau mempunyai inisiatif untuk pergi ke Thaif, menemui kabilah Tsaqif untuk mencari dukungan dan harapan agar mereka sudi menerima Islam. Thaif terletak kira-kira 60 Km. di arah timur laut kota Makkah. Kabilah Tsaqif itu sendiri masih termasuk famili yang dekat dengan Rasulullah. Kekuasaan di Thaif ketika itu dipegang oleh tiga orang dari anak Amr bin Umair bin Auf Ats-Tsaqafi. Mereka adalah Kinanah yang bergelar Abu Yalil, Mas’ud dengan gelar Abu Kulal dan Habib.
Rasulullah Saw. pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Namun setelah sampai di sana, harapan beliau tinggal harapan belaka, sebab mereka menolak dengan cara yang kasar sekali. Mereka mendustakan Rasulullah. Dengan angkuhnya pula, mereka bersumpah akan melepas kelambu Ka’bah dan melemparkannya jika benar Allah telah mengutusnya. Kendati sampai puncak pergolakan itu, Rasulullah masih berharap kebaikan hati mereka agar kedatangannya itu dirahasiakan. Sebab jika saja orang-orang Quraisy mendengarnya pasti akan mengejeknya habis-habisan.
Permintaan Rasulullah itu ternyata juga tidak diperhatikan oleh mereka. Bahkan mereka menyoraki beliau dan melemparinya dengan batu. Kaki Rasulullah pun mengucurkan darah dengan derasnya hingga kesulitan berjalan. Sementara itu Zaid bin Haritsah juga menderita luka yang parah. Ketika itulah Jibril As datang diutus Allah menawarkan apa yang dikehendaki Rasulullah Saw. niscaya akan segera diperkenankan-Nya. Karena berliau berjiwa besar, ketika itu malah berdo’a:
“Ya Allah, berilah petunjuk kaumku, karena sesungguhnya mereka itu belum mengerti.”
Pada akhirnya Rasulullah duduk beristirahat di dalam kebun milik dua orang bersaudara, Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin rabi’ah. Kedua bersaudara itu sangat terharu melihat nasib yang menimpa Rasulullah Saw. Maka segera mereka mengutus sahayanya yang bernama Addas yang beragama Nasrani itu untuk memberikan buah anggur kepadanya. Setelah terjadi percakapan sebentar, Addas sangat tertarik dan menghormati Rasulullah Saw sekalipun tidak masuk Islam.
Sebelum Utbah dan Syaibah melihat Rasulullah berlindung dalam kebun mereka, Rasulullah telah mengucapkabn sebuah do’a yang terkenal dengan do’a Thaif:
“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuan dan kehinaanku di hadapan para manusia. Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah pelindungku. Kepada siapa hendak Kau serahkan diriku. Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku. Asalkan saja Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak akan peduli, sebab sesungguhnya sangat luas nikmat yang telah Engkau limpahkan padaku. Aku berlindung kepada Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya telah membawa kebaikan dunia dan akherat dari pada murka-Mu yang Engkau timpakan padaku. Eengkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya selain dengan Engkau pula.”
Setelah satu bulan di Thaif dengan menanggung penderitaan dan penghinaan, Rasulullah dan Zaid bin Haritsah kembali ke Makkah.
Rangkaian seluruh peristiwa ini mendekati tahun ke 11 Kenabian. Pada akhirnya beliau mendapatkan kehormatan dan mengalami peristiwa dahsyat yang sangat menentukan dalam sejarah Islam, yaitu Isra’ dan Mi’raj ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar