Kamis, 31 Desember 2009

Kondisi Hati

Hati para kekasih Allah itu seringkali dalam menggapai kedekatannya kepada Tuhan harus dengan sebuah media yang dianggapnya efektif. Sebagaimana lagu dan syair ketuhanan. Jadi mediator yang paling berkesan, malah sering bukan melalui Al-Qur’an atau pun dengan mendengarkan pidato dan nasihat-nasihat yang lain.
Dikisahkan dari Abul Hasan Ad-Darraj bahwa pada suatu hari aku berangkat dari Baghdad bertandang ke kota Ray menuju rumah Syeikh Yusuf bin Husein Ar-Razy yang berupakan seorang ulama terkenal, di mana selama ini aku belum pernah sekalipun melihat sosok tubuhnya atau pun mendengarkan fatwa-fatwanya secara langsung. Namun setelah sampai di kota Ray, aku pun segera bertanya pada masyarakat kota itu mengenai keberadaan beliau. Betapa mengherankan, orang-orang mengatakan:
“Untuk apa kamu bertandang dan mengunjungi seorang penyandang predikat zindiq?,” begitu ucap mereka.
Dari informasi masyarakat itu dadaku terasa sesak sekali sehingga segera saja aku berkehendak untuk segera kembali ke Baghdad. Namun hati kecilku memberontak, sebab perjalanan yang telah aku tempuh memang begitu jauh, akankah aku harus kembali tanpa membawa hasil apa-apa? Selanjutnya, perjalanan aku teruskan saja sembari bertanya di sepanjang jalan mengenai keberadaan Yusuf bin Husein. Pada akhirnya aku pun dapat menemukan alamatnya dengan jelas sehingga aku berhasil memasuki halaman rumahnya. Setelah aku mengucapkan salam beberapa kali, ternyata rumah itu dalam keadaan kosong sehingga aku segera mencari informasi pada tetangga sebelah rumah itu, mereka mengatakan bahwa ia sekarang sedang berada di masjid. Segera saja aku menuju masjid yang dimaksud. Benar saja ia berada di masjid itu dalam keadaan sedang duduk di mihrab menghadapi seorang lelaki yang membawa sebuah mushhaf, dan Yusuf bin Husein sendiri asyik membaca mushhaf. Pandanganku segera aku arahkan ke sosok tubuhnya. Ternyata ia merupakan seorang yang begitu tampan, dengan janggut yang sangat indah. Maka segera saja aku ucapkan salam kepadanya, dan segera mendapat jawaban yang memuaskan.
“Anda berasal dari mana?” begitu Syeikh Yusuf bin Husein memulai pembicaraan.
“Dari Baghdad, tuan!,” sahut Abul Hasan.
“Apa yang mendorong dirimu berpayah-payah datang ke sini?,” sambung Syeikh Yusuf lagi.
“Hanya untuk berziarah dan mengucapkan salam kepada tuan,” tukas Abul Hasan lagi.
“Bagaimana pendapatmu jika saja ada seseorang yang mengatakan kepadamu:
“Segeralah engkau pergi dari depan Yusuf bin Husein! Jika saja engkau mau memperturutkan perintahku, engkau akan aku beri hadiah sebuah rumah lengkap dengan pelayannya sekali.” Adakah tawaran itu bisa menghentikan langkahmu untuk datang di hadapanku,” begitu ucap Syeikh Yusuf seakan menanggung beban yang begitu berat.
“Untunglah aku tidak mendapat ujian seberat itu. Dan jika saja Allah mengujiku seperti itu, aku sendiri belum mengerti bagaimana aku harus menentukan sikap,” sergah Abul Hasan kembali.
“Adakah kau bisa bepuisi?,” tanya Syeikh Yusuf.
“Ya, aku bisa kendati tidak begitu pandai,” tukas Abul Hasan lagi.
“Coba, segera lantunkan!,” Syeikh Yusuf mendesak.
“Akupun berucap:
Engkau pasang penyekat antara Aku.
Padahal jika saja bulat tekadmu
Engkau ‘kan robohkan penghalang itu
Aku usahakan bertemu denganmu
Namun ucapanmu hanyalah andaikan
Alangkah rapuhnya sebuah ucapan
Jika yang keluar itu hanya andaikan
“Ketika mendengar puisi ini, segera saja Syeikh Yusuf menutup mushhafnya, dan setelah aku lihat ternyata kedua belah pipinya telah dipenuhi cucuran air mata. Sebuah tangis yang betul-betul mengundang iba, sehingga jubahnya basah kuyup karenanya.”
“Wahai saudaraku, dalam puisi itu engkau memperolok penduduk Ray yang telah menuduhku sebagai seorang zindiq (kafir). Sebenarnya sejak pagi tadi sampai sekarang ini aku telah berusaha membaca mushhaf secara sungguh-sungguh dengan harapan hatiku akan timbul sebuah intuisi (wijdan), dan ternyata belum dapat aku usahakan dan air mataku juga masih terasa kesat. Namun setelah engkau bacakan puisi itu, seakan kiamat telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupanku.”
Menurut Al-Ghazaly, kendati sebuah hati itu telah dipenuhi oleh cinta Allah (hubb lillah), belum tentu pemicunya itu harus dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, malah sering lebih manjur dipicu dengan melantunkan sebuah syair atau pun mendendangkan lagu. Hal ini tiada lain karena dalam syair atau pun lagu itu sengaja digubah dengan rima yang seimbang atau pun cengkok-cengkok syahdu dan bahasa yang sangat menyentuh perasaan. Sedangkan kalimat yang ada dalam Al-Qur’an kendati mengandung i’jaz di mana manusia tidak akan mampu untuk menandinginya, namun kebanyakan susunannya keluar dari uslub kalimat yang dibiasakan oleh kebanyakan orang. Hal ini yang menjadi penyebab tangis Syeikh Yusuf tadi, ketika itu lubuk hatinya dipenuhi tanda tanya, mengapa ketika dibacakan Al-Qur’an hatinya belum juga mencair dan merasa nikmat yang dibuktikan dengan aliran air mata. Namun anehnya setelah mendengar sebuah puisi yang nota bene tidak akan dicatat sebagai ibadah ketika membacanya, namun hatinya begitu cepat tanggap dan tersentuh perasaannya? Syeikh Yusuf menangisi kebimbangannya itu.
Pernah pada suatu kali ada seseorang yang bertandang ke rumah Syeikh Israfil selaku guru Dzin Nun Al-Mishriy. Ketika itu Syeikh Israfil didapati sedang asyik menggali tanah dengan jari-jarinya sembari dengan samar mendendangkan sebuah lagu sya’ir. Setelah menyadari datangnya seorang lelaki itu, ia segera mendongakkan kepala seraya mengatakan:
“Adakah kau bisa mendendangkan sebuah lagu yang mengantarkan kepada Tuhan?”
“Tidak, suaraku tidak mendukung wahai guru!,” begitu jawab lelaki itu.
“Kalau demikian dadamu kosong, kau tidak memiliki sebuah hati,” begitu guru itu memojokkan.
Hal ini jelas mengisyaratkan bahwa syair atau pun lagu-lagu indah akan bisa menggerakkan sebuah hati dengan begitu cepat bisa mendekat kepada Allah, dan belum tentu sarana-sarana yang lain akan bisa berfungsi sedemikian rupa melampaui lagu-lagu atau syair tersebut. Namun kebanyakan orang jika mendendangkan lagu cinta dan sejenisnya, hati mereka hanya bertaut sesama makhluk atau lawan jenis yang mereka gandrungi. Betapa jika saja kecintaan seperti itu di arahkan kepada Allah, tentulah banyak pribadi-pribadi yang menjadi auliya’ dan kekasih Allah. Sayang memang… ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar