Kamis, 31 Desember 2009

Kewaspadaan Rasulullah Saw

Setelah Madinah dikosongkan dari Banu Nadhir, dan setelah peristiwa Badar Terakhir dan sesudah ekspedisi-ekspedisi Ghatafan dan Dumat al-Jandal berlalu, tiba waktunya kaum Muslimin sekarang merasakan hidup yang lebih tenang di Madinah. Mereka sudah dapat mengatur hidup, sudah tidak begitu banyak mengalami kesulitan berkat adanya rampasan perang yang mereka peroleh dari peperangan selama itu, meskipun dalam banyak hal kejadian ini telah membuat mereka lupa terhadap masalah-masalah pertanian dan perdagangan. Tetapi di samping ketenangan itu Rasulullah Saw selalu waspada terhadap segala tipu-muslihat dan gerak-gerik musuh. Mata-mata selalu disebarkan ke seluruh pelosok jazirah, mengumpulkan berita-berita sekitar kegiatan masyarakat Arab yang hendak berkomplot terhadap dirinya. Dengan demikian ia selalu dalam siap-siaga, sehingga kaum Muslimin dapat selalu mempertahankan diri.
Tidak begitu sulit orang menilai betapa perlunya harus bersikap waspada dan berhati-hati selalu setelah kita melihat adanya segala macam tipu-muslihat Quraisy dan yang bukan Quraisy terhadap kaum Muslimin, juga karena negeri-negeri masa itu - juga sesudah itu sebagian besar dalam perkembangan sejarahnya masing-masing mereka itu merupakan sekumpulan republik-republik kecil, yang satu sama lain berdiri sendiri-sendiri. Mereka masing-masing menggunakan sistem organisasi yang lebih dekat pada cara-cara kabilah. Hal ini memaksa mereka harus berlindung pada adat-lembaga dan tradisi yang ada, yang tidak mudah dapat kita bayangkan seperti halnya pada bangsa-bangsa yang sudah teratur. Dalam hal ini Rasulullah Saw pun sebagai orang Arab sangat waspada mengingat nafsu hendak membalas dendam yang ada dalam naluri orang-orang Arab itu besar sekali. Baik Quraisy maupun Yahudi Banu Qainuqa' dan Yahudi Banu Nadhir, demikian juga kabilah-kabilah Arab Ghatafan, Hudhail dan kabilah-kabilah yang berbatasan dengan Syam, mereka saling menunggu, bahwa Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya itu akan binasa. Kalaupun mereka akan mendapat kesempatan, masing-masing berharap akan dapat mengadakan balas dendam terhadap laki-laki yang sekarang datang mencerai-beraikan masyarakat Arab dengan kepercayaan mereka itu. Laki-laki yang pergi keluar Mekah, mengungsi dalam keadaan tidak berdaya, tidak punya kekuatan, selain iman yang telah memenuhi jiwanya yang besar itu, dalam waktu lima tahun sekarang orang ini sudah kuat, sudah mempunyai kemampuan, sehingga kota-kota dan kabilah-kabilah Arab yang terkuat sekalipun, merasa segan kepadanya.
Orang-orang Yahudi adalah musuh Rasulullah Saw yang paling tajam memperhatikan ajaran-ajaran dan cara berdakwahnya. Dengan kemenangannya itu merekalah yang paling banyak memperhitungkan nasib yang telah menimpa diri mereka. Mereka di negeri-negeri Arab sebagai penganjur-penganjur ajaran tauhid (monotheisme). Mengenai penguasaan bidang ini mereka bersaingan sekali dengan pihak Kristen. Mereka selalu berharap akan dapat mengalahkan lawannya ini. Dan barangkali mereka benar juga mengingat bahwa orang-orang Yahudi ialah bangsa Semit yang pada dasarnya lebih condong pada pengertian monotheisme. Sementara ajaran trinitas Kristen suatu hal yang tidak mudah dapat dicernakan oleh jiwa Semit. Dan sekarang Rasulullah Saw, orang yang berasal dari pusat Arab dan dari pusat orang-orang Semit sendiri, menganjurkan ajaran tauhid dengan cara yang sungguh kuat dan mempesonakan sekali, dapat menjelajahi dan merasuk sampai ke lubuk hati orang, dan mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Sekarang ia sudah begitu kuat, dapat mengeluarkan Banu Qainuqa' dari Madinah, mengusir Banu Nadhir dari daerah koloni mereka. Dapatkah mereka membiarkannya terus begitu, dan mereka sendiri pergi ke Syam atau pulang ke tanah air mereka yang pertama, ke Baitul-Maqdis (Yerusalem) di Negeri yang Dijanjikan – Ardhil Mi'ad - (Palestina), ataukah mereka harus berusaha menghasut orang-orang Arab itu supaya dapat membalas dendam kepada Rasulullah Saw.
Rencana hendak menghasut orang-orang Arab adalah yang paling terutama menguasai pikiran pemuka-pemuka Banu Nadhir. Untuk melaksanakan rencana itu, beberapa orang dari kalangan mereka pergi hendak menemui Quraisy di Mekah. Mereka terdiri dari Huyay bin Akhtab Sallam bin Abi al-Huqaiq dan Kinana bin al-Huqaiq, bersama-sama dengan beberapa orang dari Banu Wa'il Hawadha bin Qais dan Abu 'Ammar. Ketika oleh pihak Mekah, Huyay ditanya mengenai golongannya itu ia menjawab: "Mereka saya biarkan mondar-mandir ke Khaibar dan ke Madinah sampai tuan-tuan nanti datang ke tempat mereka dan berangkat bersama-sama menghadapi Rasulullah Saw dan sahabatsahabatnya.”
Ketika oleh mereka ditanya tentang Quraizhah, ia menjawab:
“Mereka tinggal di Madinah sekedar mau mengelabui Rasulullah Saw. Kalau tuan-tuan sudah datang mereka akan bersama-sama dengan tuan-tuan.” Pihak Quraisy jadi ragu-ragu akan maju, atau mundur saja. Mereka dengan Rasulullah Saw tidak berselisih apa-apa, selain ajarannya tentang Tuhan. Bukan tidak mungkinkah bahwa dia juga yang benar, sebab makin hari ajarannya itu ternyata makin kuat dan tinggi juga. Yahudi lebih mengutamakan paganisme daripada Islam.
“Tuan-tuan dari golongan Yahudi," kata pihak-Quraisy. “Tuan-tuan adalah ahli kitab yang mula-mula dan sudah mengetahui pula apa yang menjadi pertentangan antara kami dengan Rasulullah Saw. Soalnya sekarang: manakah yang lebih baik, agama kami atau agamanya.”
“Tentu agama tuan-tuan yang lebih baik, sebab tuan-tuan lebih benar dari dia.”
Dalam hal ini firman Tuhan dalam Qur'an menyebutkan
“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah diberi sebahagian kitab? Mereka percaya kepada sihir dan berhala dan mereka berkata kepada orang-orang kafir: 'Jalan mereka lebih benar dari orang yang beriman.' Mereka itulah yang dikutuk oleh Tuhan. Dan barangsiapa yang dikutuk Tuhan, maka baginya takkan ada penolong.” (QS. 4: 51-52).
Dalam posisi orang-orang Yahudi menghadapi Quraisy ini dengan sikap lebih mengutamakan paganisme mereka daripada tauhid Rasulullah Saw. Seharusnya mereka itu tidak boleh sampai terjerumus ke dalam kesalahan yang begitu kotor, dan jangan pula berkata dengan terus-terang di depan pemuka-pemuka Quraisy, bahwa cara menyembah berhala itu lebih baik daripada tauhid seperti yang diajarkan Islam, meskipun hal itu akan mengakibatkan permintaan mereka tidak akan dipenuhi. Oleh karena orang-orang Israil sejak berabad-abad lamanya atas nama nenek-moyang dahulu kala sebagai pengemban panji tauhid (monotheisme) di antara bangsa-bangsa di dunia, dan telah pula mengalami berbagai macam penderitaan, pembunuhan dan penindasan hanya karena iman mereka kepada Tuhan Yang Tunggal itu, yang mereka alami dalam berbagai zaman selama dalam perkembangan sejarah, maka sudah seharusnya mereka itu bersedia mengorbankan hidup mereka, mengorbankan segala yang mereka cintai dalam menghadapi dan menaklukan kaum musyrik itu. Apalagi dengan minta perlindungan kepada pihak penyembah berhala, itu berarti mereka telah memerangi diri sendiri serta menentang ajaran-ajaran Taurat yang meminta mereka menjauhi penyembah-penyembah berhala dan dalam menghadapi mereka supaya bersikap seperti menghadapi musuh.
Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang sepaham dengan dia, yang telah mengatakan kepada Quraisy bahwa paganisme mereka lebih baik daripada tauhid Rasulullah Saw dengan maksud supaya mereka sudi memeranginya, dan yang akan mereka laksanakan setelah sekian bulan disiapkan, tampaknya tidak cukup sampai di situ saja. Malah orang-orang Yahudi itu pergi lagi menemui kabilah Ghatafan yang terdiri dari Qais 'Ailan, Banu Fazara, Asyja' Sulaim, Banu Sa’ad dan Asad, serta semua pihak yang ingin menuntut balas kepada Muslimin. Mereka ini aktif sekali mengerahkan orang supaya menuntut balas dengan menyebutkan bahwa Quraisy juga ikut serta memerangi Rasulullah Saw. Paganisme Quraisy mereka puji dan mereka menjanjikan, bahwa mereka pasti akan mendapat kemenangan.
Kelompok-kelompok yang sudah diorganisasikan oleh pihak Yahudi itu kini berangkat hendak memerangi Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Dari pihak Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan sudah disiapkan 4000 orang prajurit, tiga ratus ekor kuda dan 1500 orang dengan unta. Pimpinan brigade yang disusun di Darun Nadwah diserahkan kepada Utsman bin Talha. Ayah orang ini telah mati terbunuh dalam memimpin pasukan di Uhud. Banu Fazara yang dipimpin oleh 'Uyainah bin Hishn bin Hudhaifa telah siap dengan sejumlah pasukan besar dan 100 unta. Sedang Asyja' dan Murrah masing-masing membawa 400 prajurit. Pihak Murrah dipimpin oleh Al-Harits bin 'Auf dan dari pihak Asyja' oleh Misiar ibn Rukhaila. Menyusul pula Sulaim, biangkeladi peristiwa Bi'ir Ma'una, dengan 700 orang. Mereka itu semua berkumpul, yang kemudian datang pula Banu Sa'ad dan Asad menggabungkan diri. Jumlah mereka kurang lebih semuanya menjadi 10.000 orang. Semua mereka itu berangkat menuju Madinah di bawah pimpinan Abu Sufyan. Setelah mereka sampai, selama dalam perang, pemuka-pemuka kabilah itu saling bergantian pimpinan, masing-masing sehari mendapat giliran.
Berita keberangkatan mereka ini sampai juga kepada Rasulullah Saw dan kaum Muslimin di Madinah. Mereka merasa gentar. Ya, sekarang seluruh kabilah Arab sudah bersatu sepakat hendak menumpas dan memusnahkan mereka, sudah datang dengan perlengkapan dan jumlah manusia yang besar, suatu hal yang dalam sejarah peperangan Arab secara keseluruhannya belum pernah terjadi. Apabila dalam perang Uhud Quraisy telah mendapat kemenangan atas mereka, ketika mereka keluar menyongsong keluar Madinah, padahal baik jumlah perlengkapan maupun jumlah manusia jauh di bawah pasukan sekutu ini, apa lagi yang dapat dilakukan kaum Muslimin sekarang dalam menghadapi jumlah pasukan yang terdiri dari beribu-ribu rnanusia itu - barisan berkuda, unta, persenjataan serta perlengkapan lainnya?! Tidak ada jalan lain, hanya bertahan di Yatsrib yang masih perawan ini, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Ubay.
Salman al-Farisi adalah orang yang banyak mengetahui seluk-beluk peperangan, yang belum dikenal di daerah-daerah Arab. Ia menyarankan supaya di sekitar Madinah itu digali parit dan keadaan kota diperkuat dari dalam. Saran ini segera dilaksanakan oleh kaum Muslimin. Ketika menggali parit itu Nabi Saw juga dengan tangannya sendiri ikut bekerja. Ia turut mengangkat tanah dan sambil terus memberi semangat, dengan menganjurkan kepada mereka supaya terus melipatgandakan kegiatan. Pihak Muslimin sudah membawa alat-alat yang diperlukan, terdiri dari sekop, cangkul dan keranjang pengangkut tanah dari tempat orang-orang Yahudi Quraizhah yang masih berada di bawah pihak Islam. Dengan bekerja giat terus-menerus penggalian parit itu selesai dalam waktu enam hari. Dalam pada itu dinding-dinding rumah yang menghadap ke arah datangnya musuh, yang jaraknya dengan parit itu kira-kira dua farsakh, diperkuat pula. Rumah-rumah yang ada di belakang parit itu dikosongkan. Wanita dan anak-anak ditempatkan dalam rumah-rumah yang sudah diperkuat, dan di samping parit dari arah Madinah ditaruh pula batu supaya di waktu perlu dapat dilemparkan sebagai senjata.
Tatkala pihak Quraisy dan kelompok-kelompoknya itu datang dengan harapan akan menemui Rasulullah Saw di Uhud, ternyata tempat itu kosong. Mereka meneruskan perjalanan ke Madinah; tapi mereka dikejutkan oleh adanya parit. Di luar dugaan semula, mereka heran sekali melihat jenis pertahanan yang masih asing bagi mereka itu. Dibawa oleh perasaan jengkel, mereka pun menganggap bahwa berlindung di balik parit semacam itu adalah suatu perbuatan pengecut yang belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arabi Pasukan Quraisy dan sekutu-sekutunya lalu bermarkas di Mujtama’ As-yal di daerah Ruma, dan pasukan Ghatafan serta pengikut-pengikutnya dari Najd, bermarkas di Dzanab Naqama. Sedang Rasulullah Saw sekarang berangkat dengan tiga ribu orang Muslimin, dengan membelakangi bukit Salu’ dan dijadikannya parit itu sebagai batas dengan pihak musuh. Di tempat inilah ia bermarkas dan memasang kemahnya yang berwarna merah.
Pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya melihat, bahwa tidak mungkin mereka menerobos parit itu. Dengan demikian selama beberapa hari mereka hanya saling melemparkan anak panah. Abu Sufyan sendiri dengan pengikut-pengikutnya pun yakin bahwa akan sia-sia saja mereka lama-lama menghadapi kota Yatsrib dengan paritnya itu, karena tidak akan dapat mereka menerobosnya
Pada waktu itu sedang terjadi musim dingin yang luarbiasa disertai angin badai yang bertiup kencang, sehingga sewaktu-waktu dikawatirkan hujan lebat akan turun. Kalau orang-orang Mekah dan orang-orang Ghatafan dengan mudah saja dapat berlindung dalam rumah-rumah mereka di Mekah atau di Ghatafan, maka kemah-kemah yang mereka pasang sekarang di depan kota Yatsrib itu sama-sekali takkan dapat melindungi mereka. Di samping itu tadinya memang mereka mengharap akan memperoleh kemenangan secara lebih mudah, tidak perlu susah-payah seperti pada waktu di Uhud. Mereka akan kembali pulang dengan menyanyikan lagu-lagu kemenangan serta menikmati adanya pembagian barang-barang jarahan dan rampasan perang. Jadi apalagi kalau begitu yang masih menahan Ghatafan buat kembali pulang?! Mereka ikut melibatkan diri dalam perang itu hanya karena pihak Yahudi pernah menjanjikan mereka dengan buah-buahan hasil pertanian dan perkebunan Khaibar, apabila mereka memperoleh kemenangan. Tetapi sekarang mereka melihat untuk memperoleh kemenangan itu tampaknya tidak mudah, atau setidak-tidaknya sudah di luar kenyataan. Dalam musim dingin yang begitu hebat rupanya diperlukan kerja keras yang luarbiasa yang akan membuat mereka lupa segala buah-buahan berikut kebun-kebunnya itu!
Sebaliknya pihak Quraisy yang hendak menuntut balas karena peristiwa Badar dan kekalahan-kekalahan lain sesudah Badar, pada suatu waktu masih akan dapat mengejar dengan harapan parit itu tidak akan selamanya berada dalam genggaman Rasulullah Saw dan selama pihak Banu Quraizhah masih bersedia memberikan bantuan kepada penduduk Yatsrib, yang akan memperpanjang perlawanan mereka sampai berbulan-bulan. Bukankah lebih baik pihak Ahzab itu kembali pulang saja? Ya! Akan tetapi mengumpulkan kembali kelompok-kelompok itu nanti buat memerangi Rasulullah Saw lagi bukanlah soal yang mudah. Sebenarnya orang-orang Yahudi itu, terutama Huyay bin Akhtab sebagai pemimpin mereka, sekali itu telah berhasil mengumpulkan kabilah-kabilah itu untuk membalas dendam golongannya dan golongan Banu Qainuqa' terhadap Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Apabila kesempatan itu sudah hilang, maka jangan diharap ia akan kembali, dan bilamana Rasulullah Saw mendapat kemenangan dengan ditariknya pihak Ahzab itu, maka bahaya besar akan mengancam pihak Yahudi.

Semua itu sudah diperhitungkan oleh Huyay bin Akhtab. Ia kuatir akan akibatnya. jalan lain tidak ada. Ia harus mempertaruhkan nasib terakhir. Kepada pihak Ahzab itu ia membisikkan, bahwa ia sudah dapat meyakinkan Banu Quraizhah supaya membatalkan perjanjian perdamaiannya dengan Rasulullah Saw dan pihak Muslimin, dan selanjutnya akan menggabungkan diri dengan mereka, dan bahwa begitu Banu Quraizhah melaksanakan hal ini, maka dari suatu segi terputuslah semua perbekalan dan bala bantuan kepada Rasulullah Saw itu, dan dari, segi lain jalan masuk ke Yatsrib akan terbuka. Quraisy dan Ghatafan merasa gembira atas keterangan Huyay itu. Huyay sendiri cepat-cepat berangkat hendak menemui Ka'ab bin Asad, orang yang berkepentingan dengan adanya perjanjian Banu Quraizhah itu. Tetapi begitu mengetahui kedatangannya itu Ka'ab sudah menutup pintu bentengnya, dengan perhitungan bahwa pembelotan Banu Quraizhah terhadap Rasulullah Saw dan membatalkan perjanjiannya secara sepihak kemudian menggabungkan diri dengan musuhnya, adakalanya memang akan menguntungkan pihak Yahudi kalaupun pihak Muslimin yang dapat dihancurkan. Tetapi sebaliknya sudah seharusnya pula mereka akan habis samasekali bila pihak Ahzab itu yang mengalami kekalahan dan kekuatan mereka hilang dari Madinah. Sungguh pun begitu Huyay terus juga berusaha, hingga akhirnya pintu benteng itu dibuka.
“Ka'ab, sungguh celaka,” katanya kemudian, “Saya datang pada waktu yang tepat dan membawa tenaga yang tepat pula. Saya datang membawa Quraisy dan Ghatafan dengan pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka. Mereka sudah berjanji kepadaku, bahwa mereka tidak akan beranjak sebelum dapat mengikis habis Rasulullah Saw dan kawan-kawannya itu.”
Tetapi Ka'ab masih juga maju mundur. Disebutnya kejujuran serta kesetiaan Rasulullah Saw kepada perjanjian itu. Ia kuatir akan akibatnya atas apa yang diminta oleh Huyay itu. Tetapi Huyay masih terus menyebut-nyebut bencana yang dialami orang-orang Yahudi karena Rasulullah Saw itu, dan juga bencana yang akan mereka alami sendiri nanti bilamana Ahzab tidak berhasil mengikisnya. Diuraikannya juga kekuatan pihak Ahzab itu serta perlengkapan dan jumlah orangnya. Yang sekarang masih merintangi mereka untuk menumpas semua orang-orang Islam dalam sekejap mata itu, hanyalah parit itu saja. Sekarang Ka’ab sudah mulai lunak.
“Kalau pasukan Ahzab itu berbalik?" tanyanya kemudian. Di sini Huyay memberikan jaminan, bahwa kalau Quraisy dan Ghatafan sampai kembali dan tidak berhasil menghantam Rasulullah Saw ia pun akan tinggal dalam benteng itu dan akan tetap bersama-sama dalam seperjuangan. Dalam hati Ka'ab nafsu Yahudinya sudah mulai bergerak-gerak. Permintaan Huyay itu diterimanya, perjanjian dengan Rasulullah Saw dan kaum Muslimin mulai dilanggarnya dan ia sudah keluar dari sikap kenetralannya.
Berita-berita penggabungan Quraizhah dengan pihak Ahzab itu sampai juga kepada Rasulullah Saw dan sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkejut dan kuatir juga akan akibat yang mungkin terjadi. Rasulullah Saw segera mengutus Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin Aus dan Sa'ad bin 'Ubadah, pemimpin Khazraj, disertai pula oleh Abdullah bin Rawahah dan Khawat bin Jubair dengan tujuan supaya mempelajari duduk perkara yang sebenarnya. Bilamana mereka kembali pulang, hendaknya dapat memberikan isyarat kalau memang hal itu benar, supaya jangan nanti sampai mematahkan semangat orang.
Tetapi sesampainya para utusan itu ke sana, mereka melihat keadaan Quraizhah justeru lebih jahat lagi dari apa yang pernah mereka dengar semula. Diusahakan juga oleh utusan itu supaya mereka mau menghormati perjanjian yang ada. Tetapi Ka'ab berkata kepada mereka, supaya orang-orang Yahudi Banu Nadhir dikembalikan ke kampung halaman mereka. Ketika itu Said bin Mu'adz - yang juga bersahabat baik dengan pihak Quraizhah - mencoba meyakinkan supaya jangan sampai mereka mengalami nasib seperti yang pernah dialami oleh Banu Nadhir, atau yang lebih parah lagi dari itu. Pihak Yahudi sekarang mau terus melancarkan serangan kepada Rasulullah Saw.
“Siapa Rasulullah itu!?" kata Ka'ab, ‘”Kami dengar Rasulullah Saw tidak terikat oleh sesuatu persahabatan atau perjanjian apa pun!” Kedua belah pihak itu lalu saling adu mulut.
Utusan-utusan Rasulullah Saw pulang. Mereka melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Bencana besar kini mengancam. Kekuatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Madinah kini melihat pihak Quraizhah telah membukakan jalan bagi Ahzab, yang akan memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar khayal dan illusi saja. Terbukti Banu Quraizhah sekarang sudah memutuskan segala bantuan dan bahan makanan kepada mereka. Juga terbukti sekembalinya Huyay bin Akhtab yang memberitahukan kepada mereka, bahwa Quraizhah telah tergabung dengan pihak Quraisy dan Ghatafan - jiwa mereka sudah berubah dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Soalnya lagi pihak Quraizhah telah memperpanjang waktu selama sepuluh hari lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan persiapan, asal Ahzab selama sepuluh hari itu benar-benar mau menyerbu kaum Muslimin. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka telah menyusun tiga buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah pasukan di bawah pimpinan Ibn al-A'war as-Sulami didatangkan dari jurusan sebelah atas wadi, pasukan yang dipimpin oleh 'Uyaina bin Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit. Dalam peristiwa inilah ayat berikut ini turun:
“Tatkala mereka datang kepadamu dari jurusan atas dan bawah, dan pandangan mata sudah jadi kabur, hati pun naik menyekat di kerongkongan (sangat gelisah), ketika itu kamu berprasangka tentang Tuhan, prasangka yang salah belaka. Saat itulah orang-orang yang beriman mendapat cobaan dan mereka mengalami keguncangan yang hebat sekali. Dan ingat! ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya itu berkata: Apa yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kami hanyalah tipu daya belaka. Juga ketika ada satu golongan diantara mereka itu berkata: "Wahai penduduk Yatsrib! Tak ada tempat buat kamu. Kembalilah kamu pulang." Dan ada sebagian dari mereka itu yang meminta ijin kepada Nabi seraya berkata: 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.' Tetapi sebenarnya tidak terbuka. Hanya saja mereka itu ingin melarikan diri." (QS. Al-Ahzab: 10-13).
Tetapi buat penduduk Yatsrib masih dapat dimaafkan kalau mereka sampai begitu takut dan hati mereka terguncang karenanya. Mereka yang masih dapat dimaafkan itu ialah yang berpendapat: Dulu Rasulullah Saw menjanjikan kami, bahwa kami mendapat harta kekayaan Kisra dan Kaisar Romawi. Tetapi sekarang orang sudah merasa tidak aman lagi sekalipun hanya akan pergi ke kebun. Pandangan mata mereka yang jadi kabur pun dapat dimaafkan. Demikian juga mereka yang merasa sangat gelisah dalam ketakutan dapat juga dimaafkan. Bukankah maut juga yang sekarang sedang menari-nari di depan matanya, menjilat-jilat menyala keluar dari mata pedang yang di tangan Quraisy dan Ghatafan, menyusup-nyusup ke dalam hati sebagai ancaman, dan juga yang datang dari rumah-rumah Banu Quraizhah yang berkhianat itu? Sungguh celaka orang-orang Yahudi. Sungguh patut sekali kalau Rasulullah Saw mengikis habis saja Banu Nadhir itu daripada hanya sekedar membiarkan mereka pergi dalam keadaan berkecukupan, serta membiarkan Huyay dan antek-anteknya menghasut masyarakat dan kabilah-kabilah Arab supaya menghantam kaum Muslimin. Ya, sungguh suatu bencana besar, suatu ancaman besar. "Tak ada daya upaya kalau tidak dengan Allah juga.”
Dari segi moril pihak Ahzab sudah merasa begitu tinggi, sehingga ada beberapa orang ksatria dari Quraisy yang sudah berani maju ke depan, seperti 'Amr bin 'Abdi Wudd, 'Ikrimah bin Abi Jahl dan Dhirar bin al-Khattab. Mereka langsung menyerbu parit itu, mereka menuju ke suatu bagian yang agak sempit. Dipacunya kuda mereka itu sehingga mereka dapat menyeberangi parit dan sampai di Sabkha yang terletak antara parit dengan bukit Salu'. Ketika itu juga Ali bin Abi Talib keluar dengan beberapa orang dari kalangan Muslimin, terus cepat-cepat merebut sebuah rongga dalam parit yang telah diserbu oleh pasukan berkuda mereka. Ketika itu 'Amr bin 'Abd. Wudd memanggil-manggil.
“Siapa berani bertanding!”
Setelah ajakannya itu disambut oleh Ali bin Abi Talib, ia berkata lagi dengan congkak sekali:
“Oh kemenakanku! Aku tidak ingin membunuhmu!”
“Tapi aku ingin membunuhmu,” sahut Ali.
Kemudian duel itu terjadi, dan Ali berhasil membunuhnya. Saat itu juga pasukan berkuda pihak Ahzab lari kocar-kacir, sehingga mereka terbentur sekali lagi ke dalam parit sambil lari terus tanpa melihat kekanan-kiri.
Tatkala matahari sudah terbenam, ketika itu datang pula Naufal bin Abdullah bin al-Mughirah dengan menunggang kudanya hendak menyeberangi parit itu, tapi saat itu juga ia mendapat pukulan hebat sehingga ia berikut kudanya itu mati dan hancur di tempat tersebut. Dalam hal ini Abu Sufyan menyampaikan tawaran hendak menebus mayat kawannya itu dengan seratus ekor unta, tetapi itu oleh Rasulullah Saw ditolak, seraya berkata:
“Ambillah mayat itu. Barang yang kotor tebusannya kotor juga.”
Dengan cara yang berlebih-lebihan pihak Ahzab sekarang mulai lagi hendak mengobarkan api permusuhannya dengan maksud menakut-nakuti dan melemahkan jiwa kaum Muslimin. Orang-orang Quraizhah yang bersemangat mulai turun dari benteng-benteng dan kubu-kubu mereka. Mereka memasuki rumah-rumah di Madinah yang terdekat pada mereka. Maksud mereka mau menakut-nakuti penduduk.

Pada waktu itu Shafian binti Abdul Muttalib sedang berada dalam Fari', benteng Hassan bin Tsabit. Juga Hassan ketika itu di sana dengan kaum wanita dan anak-anak. Waktu itu ada seorang orang Yahudi yang mondar-mandir sekeliling benteng itu seraya mengatakan:
“Kalian lihat bukan?,” kata Shafia kepada Hassan, "Orang Yahudi itu mondar-mandir sekeliling benteng kita. Sungguh aku tidak mempercayainya. Ia akan menunjukkan rahasia kita kepada pihak Yahudi. Sedang Rasulullah dan sahabat-sahabat sedang sibuk. Turunlah kau dan bunuh orang itu.
“Semoga Tuhan mengampunimu, Shafia,” jawab Hassan, “Engkau tahu, aku bukan orang yang akan melakukan itu.”
Mendengar itu Shafia langsung mengambil sebatang tongkat. Ia turun dari benteng itu dan orang Yahudi tadi dipukulnya Sampai ia menemui ajalnya.
“Hassan, turunlah dan lucuti dia. Sayang dia laki-laki; kalau tidak aku sendiri yang akan melakukannya,” seru Shafia lagi.
"Shafia, tidak perlu aku melucuti dia," jawab Hassan. Penduduk Madinah masih dalam ketakutan, hati mereka masih gelisah selalu. Dalam kondisi itu yang selalu menjadi pikiran Rasulullah Saw adalah bagaimana caranya mencari jalan keluar, harus ada suatu taktik. Dikirimnya utusan kepada pihak Ghatafan dengan menjanjikan sepertiga hasil buah-buahan Madinah untuk mereka asal mereka mau pergi meninggalkan tempat itu.
Usaha gemilang yang perlu dicatat dengan tinta emas adalah penyebaran intrik dari pihak Muslim yang dilancarkan oleh Nu’aim pada kalangan Ahzab dan Quraizhah. Pihak Ghatafan sendiri sebenarnya sudah mulai jemu. Mereka sudah memperlihatkan perasaan muak, karena begitu lama mereka mengadakan pengepungan dengan segala jerih payah yang mereka hadapi selama itu. Soalnya hanyalah karena mau memenuhi ajakan Huyay bin Akhtab dan orang-orang Yahudi yang menjadi pengikutnya. Di samping itu, Nu'aim bin Mas'ud, dengan perintah Rasul telah pergi hendak menemui pihak Quraizhah, yang ketika itu belum mengetahui bahwa dia sudah masuk Islam. Pada zaman jahiliah ia bergaul rapat sekali dengan pihak Quraizhah. Diingatkannya kembali hubungan dan persahabatan mereka masa dahulu itu. Kemudian disebut-sebutnya juga bahwa mereka telah mendukung Quraisy dan Ghatafan dalam menghadapi Rasulullah Saw, sedang baik Quraisy maupun Ghatafan mungkin tidak akan tahan lama tinggal di tempat itu. Kedua kabilah ini tentu akan berangkat pulang, dan mereka akan ditinggalkan sendirian menghadapi Rasulullah Saw yang tentunya nanti akan menghajar mereka pula. Oleh karena itu dinasehatinya supaya mereka jangan mau ikut golongan itu sebelum mendapat jaminan beberapa orang sebagai sandera dari kedua golongan itu. Dengan demikian Quraisy dan Ghatafan tidak akan meninggalkan mereka. Quraizhah merasa puas dengan keterangan Nu'aim itu. Ini merupakan intrik yang amat jitu.
Selanjutnya ia (Nu’aim) pergi lagi kepada Quraisy dengan membisikkan, bahwa sebenarnya pihak Quraizhah merasa menyesal sekali atas tindakannya melanggar perjanjian dengan Rasulullah Saw dan bahwa mereka sekarang berusaha hendak mengambil hatinya dan mengadakan tali persahabatan lagi dengan jalan hendak menyerahkan pemimpin-pemimpin Quraisy kepadanya supaya dibunuh. Oleh karena itu lalu disarankannya, bahwa bilamana nanti pihak Yahudi mengutus orang meminta jaminan berupa pemimpin-pemimpin mereka, jangan dikabulkan. Seperti terhadap Quraisy, kemudian Nu'aim melakukan hal yang sama pula terhadap Ghatafan. Keterangan Nu'aim ini telah menimbulkan keraguan dalam hati Quraisy dan Ghatafan.
Pemimpin-pemimpin mereka segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui Ka'ab, pemimpin Banu Quraizhah dengan pesan: "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung orang itu. Menurut hemat kami besok kamu harus sudah menyerbu Rasulullah Saw dan kami dibelakangmu.
Tetapi utusan Abu Sutyan itu kembali dengan membawa jawaban pemimpin Quraizhah: "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun.”
Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Benar juga kata Nu'aim kalau begitu. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak Quraizhah: "Cari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok, sebab besok Rasulullah Saw harus sudah diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Rasulullah Saw sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar, dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Rasulullah Saw."
Pernyataan Abu Sufyan itu oleh Quraizhah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.
Mendengar permintaan semacam itu Abu Sufyan lebih yakin lagi akan keterangan yang telah diberikan Nu'aim itu. Terpikir olehnya sekarang apa yang harus diperbuatnya. Ketika hal ini dibicarakan dengan pihak Ghatafan ternyata mereka juga masih maju-mundur hendak memerangi Rasulullah Saw. Mereka terpengaruh oleh janji yang pernah diberikan kepada mereka, bahwa sepertiga hasil buah-buahan kota Madinah nanti untuk mereka, tapi janji tersebut belum terlaksana karena masih mendapat tantangan dari Sa’id bin Mu'adz dan pemuka-pemuka Madinah, baik kalangan Aus dan Khazraj maupun dari sahabat-sahabat Rasulullah.
Namun yang amat menggembirakan, pada malam harinya angin topan bertiup kencang sekali, disertai oleh hujan yang turun dengan lebatnya. Bunyi petir menderu-deru dan sambung-menyambung. Tiba-tiba angin topan itu bertiup kencang sekali dan periuk-periuk tempat mereka masak terbalik belaka. Sekarang timbul rasa takut dalam hati. Terbayang oleh mereka bahwa kaum Muslimin akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang dan menghantam mereka. Ketika itu Tulaihah bin Khuailid tampil seraya berteriak: "Rasulullah Saw telah mendahului menyerang kita. Selamatkan dirimu! Selamatkan!”
"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan kita yang terdiri dari kuda dan unta sudah binasa, Banu Quraizhah sudah tidak menepati janjinya lagi dengan kita, bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat. Maka lebih baik pulang sajalah. Saya pun akan berangkat pulang.”
Di tengah-tengah angin yang masih bertiup kencang, rombongan itu berangkat dengan membawa perbekalan seringan mungkin, diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya. Keesokan harinya sudah tidak seorang juga yang dijumpai oleh Rasulullah Saw di tempat itu. Ia pun lalu kembali pulang ke Madinah bersama-sama umat Islam yang lain. Mereka bersama-sama menyatakan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah, karena mereka telah terhindar dari segala mara bahaya, orang-orang beriman itu tidak sampai terlibat dalam pertempuran. ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar