Kamis, 31 Desember 2009

Rahib di Tangan Ibrahim al-Khawash

Ibrahim al-Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Tuhan. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Mekah tanpa berkendara dan kafilah alias sendiri dan jalan kaki. Pada suatu kali, tiba-tiba aku tersesat jalan dan kemudian aku berhadapan dengan seorang rahib Nasrani Pada perjumpaan itulah dia menawarkan persahabatan yang membuatku terpesona. Ia mengatakan:
“Wahai pemeluk agama yang hanif, bolehkah aku bersahabat denganmu!”
Ibrahim segera menjawab, "Ya, aku terima baik permintaanmu itu, dan aku tidak akan menghalangi kehendakmu.”
Kini dua orang trokoh itu tampak berjalan bersama selama tiga hari tanpa meminta makanan sehingga rahib itu merasa lapar yang tidak bisa ditawar lagi. Dalam kondisi ini, sang rahib mengatakan:
“Sebenarnya aku tidak ingin engkau mengetahui bahwa diriku sedang dilanda lapar yang hebat, adakah engkau memiliki sesuatu sekedar untuk mengganjal perutku yang melilit ini!”
Mendengar permintaan rahib itu, segera saja Ibrahim memohon kepada Allah dengan mengatakan: "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau mempermalukan diriku di hadapan musuh-Mu ini. Untuk itu, hendaklah Engkau memperpekanankan segala permohonanku,” begitu ia bermunajat.
Belum sampai Ibrahim berhenti dalam doanya, tiba-tiba turunlah setalam hidangan dari langit berisi dua bungkus roti, minuman, daging panggang dan kurma. Makanan yang supa sekali dengan hidangan yang pernah turun pada kaum Hawariyin, yakni ummat pilihan nabi Isa As. Ketika mereka dalam kondisi kelaparan dan membutuhkan sekali makanan untuk sekedar mengisi perut. Hal ini yang mebuat sang rahib terkaget-kaget. Namun dengan tenangnya, Ibrahim segera mengajak rahib untuk mencicipi makanan itu. Keduanya pun memakannya dengan lahap sekali sehingga merasa kenyang. Lebih aneh lagi, setelah keduanya selesai memakan, hidangan itu tidak tampak kurang, kini malah mulai naik menuju ke langit lagi. Betul-betul mirip dengan apa yang dialami nabi Isa As. Jangan-jangan jika sang rahib itu mengingkari karamah yang dimiliki Ibrahim, ia sendiri akan dihukum sebagaimana ummat nabi Isa yang telah menjadi babi atau kera itu.
Sesudah itu aku pun meneruskan perjalanan,” kata Ibrahim lebih lanjut, “Setelah tiga hari tiada makanan dan minum, aku pun berkata kepada rahib itu: "Wahai rahib, sekarang hendaklah engklau ganti berdo’a untuk mendatangkan makan dengan jalan bermunajat kepada Allah juga sebagaimana apa yang aku lakukan.”
Segera saja rahib itu ke Kiblat dan bermunajat kepada Allah. Tidak berselang lama, tiba-tiba turun setalam hidangan dari langit, persis yang telah diturunkan kepadaku. Hal ini yang membuatku heran alang kepalang, adakah doa orang yang masih musyrik bisa mencapai derajat sebagaimana makbulnya doa orang yang bertauhid. Dari itulah aku mengatakan kepada sang rahib itu:
“Demi kemuliaan dan keagungan Allah, aku tidak akan mau makan sebelum engkau memberitahukan perubahan fantastis yang ada pada dirimu.”
Sang rahib pun mengatakan: Wahai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, aku merasakan terjadi pergolakan hebat dalam jiwaku. Ketika itulah tiba-tiba aku menjadi seorang hamba yang diberi karunia besar berupa makrifat kepada Allah, segera saja aku memeluk agama Islam. Kini aku sangat menyadari bahwa selama ini ternyata aku telah membuang-buang waktu dan menyia-nyiakan umur dalam kesesatan, semua itusekarang telah aku enyahkan dan segera mendekatkan diri kepada Allah. Terbukti dengan jalan demikain, Dia tidak menyia-nyiakan do’aku. Ini semua tersebab berkahmu yang telah diberikan Allah kepadaku.
Mendengar keterangan seperti ini, betapa Ibrahim sangat gembira. Saking gmbiranya, segera saja menciumi kening rahib itu yang sekarang telah seagama dengannya.
Kemudian kami,” kata Ibrahim lebih lanjut, “Meneruskan perjalanan dengan beriringan sehingga sampai di Mekah. Di sana kami masih ada kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji, setelah itu kami bari berniat kami tinggal barang beberapa hari lagi. Suatu ketika, rahib itu tiada menghilang dari pengawasanku, lalu aku mencarinya di Masjidil Haram, di sana aku aku mendapati dia sedang melakukan shalat dengan khusyu’ di sisi Ka’bah. Setelah selesai, rahib itu mengatakan:
“Wahai Ibrahim, sesungguhnya aku telah merasakan bahwa kehidupanku akan segera berakhir. Aku berpesan, hensdaklah engkau merawat persahabatan kita sampai nanti kita bertemu di muka Allah SWT.”
Setelah pesannya itu, tiba-tiba dia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan pulang ke rahmatullah. Hal ini amat dirasakan berat oleh Ibrahim, namun segera saja menyadari bahwa semua itu telah sesuai dengan keputusan dari langit. Seseorang tidak akan bisa mengubah yang demikian itu, tinggallah Ibrahim mengungkapkan syukur sebesar-besarnya atas keislaman yabng dikaruniakan Allah kepada hamba yang dipilih-Nya. Seterusnya Ibrahim pun segera mengurus pemandian, kafan dan pengebumiannya.
Setelah Isya’ tampak masih banyak orang yang berthawaf mengelilingi Ka’bah, sedangkan Ibrahim sendiri tampaknya segera merebahkan diri melepas lelah dalam mengurs janazah siang tadi. Kini ia pun tertidur dengan pulas, dalam tidur itu ia bermimpi melihat si rahip dengan pakaian yang amat mempesona, ia tampak tampan sekali. Hal ini yang memancing Ibrahim untuk bertanya:
“Bukankah engkau merupakan sahabatku kemarin, bagaimana tindakan Allah terhadapmu setelah engjkau kini menghadap-Nya?”
Dengan wajah berseri-seri rahib itu menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang amat banyak, namun aku mendapat ampunan-Nya, semua itu tersebab aku berbaik sangka (husnu zhan) kepada-Nya. Dengan demikian martabatku diangkat begitu tinggi, aku menjadikan seolah-olah telah bersahabat denganmu dalam tengganmg weaktu yang amat lama. Persahabatan itu pun diabaduikan Allah dari dunia sampai di akhirat.”
Itulah akhir sebuah kehidupan yang berujung pada husnul khatimah yang di akhirat kelak akan kekal berada di durga-Nya. Namun semua itu berangkat dari sebuah hati yang selamat, qalbin salim, hati yang menghadap Allah dengan segala prestasi yang amat tinggi.
Para ulama mengatakan bahwa hati kita itu sebagai tanah, dan iman seseorang kita misalkan sebagai biji yang akan ditanam. Sedangkan berbagai ibadah dan taat merupakan media yang akan mengolah hati atau tanah tersebut, yang mencakup pengairan dan pemupukan dan penyiangan. Dengan demikian hati yang selalu bergelimang duniawi akan sebagaimana tanah tandus dan kering, dimana sebuah biji akan sulit untuk tumbuh normal.
Kemudian hari kiamat nanti kita misalkan sebagai waktu panen, dimana seseorang tidak akan boleh menuai terkecuali terhadap apa yang telah ditanmam. Dengan demikian biji sebuah amal itu tidak akan bisa tumbuh normal terkecuali biji yang telah diproses dengan ramuan iman. Padahal sebuah iman tidaklah bisa memberi manfaat secara maksimal jika saja hati itu mengandung penyakit, sebagaimana sebuah biji tidak akan bisa tumbuh pada tanah tandus.
Dengan demikian jika saja seseorang telah memilih sebuah tanah yang cukup subur, kemudian ia menanami dengan benih pilihan serta diairi dan dipupuk dan dirawat dari berbagai rumput pengganggu. Setelah itu, ia menunggu dengan mengharap anugerah Allah agar bnisa panen dengan memuaskan, maka harapannya dapat kita sebut sebagai raja’.
Namun jika ia bercocok tanam pada tanah tandus dengan biji jelek dan tanpa mau merawat atau memupuk, kemudian ia menunggu dan mengharap agar bisa panen memuaskan. Maka harapan itu kita namakan ghurur (tertipu). Dan jika ia menebarkan biji yang berkualitas baik,a namun untuk mengairi, ia hanya menunggu air hujan yang agak sulit diharapkan turunnya, kemudian ia mengharap panen. Sikap yang demikian itu kita namakan tamanni.
Dengan demikian jika saja seorang hamba itu telah menyemai bibit iman dalam hatinya. Ia pun mengairi dengan berbagai ibadah, tidak tertinggalkan hati itu selalu dibersihkan dari berbagai penyakit, sebagaimana riya’, takabur, sum’ah dan sebagainya. Kemudian ia menunggu dengan sabar sampai waktu ajalnya tiba dengan penuh berharap atas rahmat Allah sehingga bisa menggapai husnul khatimah, itulah yang namanya raja’ secara hakiki, sebagaimana sinyalemen Allah SWT: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mereka yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang berharap (raja’) mendapat rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang (Al-Baqarah : 218). ◙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar